Skip to content

Perjalananku

Teluk Bintuni, Papua Barat

Ini kisah tentang perjalanan saya ke dan dari Kab. Teluk Bintuni, Prov. Papua Barat. Dari sebuah nanggroe di sisi paling barat Indonesia, saya akhirnya bisa menjejakkan kaki di sudut paling ujung timur Indonesia. Bagi saya ini sebuah petualangan yang sarat makna, terlepas dari diskusi panas yang selalu terjadi di antara orang Papua ketika bertemu orang Aceh tentang hak untuk merdeka…

Saat transit sebentar di Sorong, setelah terbang dari Makassar dengan pesawat Merpati Boeing 737-200, saya sempat menikmati semangkuk Pop Mie hangat dan segelas kopi panas (kata si penjual, itu kopi Toraja). Nikmat nian… Ternyata harganya lebih murah daripada di bandara Soekarno-Hatta… Perbedaan lainnya: ada tulisan berbunyi DILARANG MAKAN PINANG! (Hehehe..bukan dilarang merokok, lo!) Soalnya, orang yang makan pinang suka meludah sembarangan sehingga meninggalkan warna merah yang sulit dibersihkan. Ini salah satu keunikan Papua, bung!

Perjalanan ke Teluk Bintuni merupakan bagian dari upaya untuk belajar dan memahami bagaimana pemerintah daerah berjuang untuk mampu melaksanakan peraturan tentang pengelolaan keuangan yang dibuat oleh pemerintah pusat. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, baik SDM maupun sarana-prasarana, ada gairah yang membuncah untuk mensejajarkan diri dengan daerah di luar Papua yang relatif lebih cepat menyesuaikan diri. Dari berbagai penjuru, melalui laut, darat dan udara, para aparatur daerah berkumpul di kota Teluk Bintuni untuk berdiskusi dalam acara sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan tentang penatausahaan dan akuntansi keuangan daerah.

Di Teluk Bintuni, kita menginap di Penginapan yang struktur bangunannya menggunakan kayu besi, sekitar 800 meter dari perkantoran Pemda Kab. Teluk Bintuni. Penginapan Kabira merupakan yang terbaik di kota kecil ini. Selain memiliki 8 kamar, ada juga paviliun atau rumah di sekitar penginapan yang disewakan dengan fasilitas lengkap (TV, AC, kipas angin, peralatan dapur termasuk gas, kopi, teh, dan mie sedap). Kamar di lantai dua bertarif 300ribu rupiah sangat menyenangkan karena dipasangi AC (di luar panas banget). Persis di depan kamar, ada ruang tamu dengan TV berparabola dan sofa besar (enak untuk nonton sambil tiduran dan menikmati makanan ringan).

Kota Teluk Bintuni sendiri merupakan sebuah kota kecil dengan jumlah penduduk sekitar 3.000-an jiwa. Hanya satu jalan raya yang membentang arah timur-barat. Di sepanjang jalan, terutama pusat kota, banyak rumah makan dengan menu utama ikan bakar. Kebanyakan penjual makanan berasal dari Sulawesi Selatan dengan tarif sekali makan paling murah 20.000 rupiah.Nikmatnya Kepiting Bintuni Selain ikan bakar, kepiting di sini juga cukup terkenal karena “kebesaran”nya. Maksudnya, wujud kepitingnya cukup besar, kadang bisa satu kilo per ekor. Kalau dimasak dengan bumbu saos tiram, wuih…maknyus tenan! Untuk menemukan kepiting yang segar dan montok, kita tinggal menunggu anak-anak kecil yang membawa kepiting dengan menggunakan galah di bahunya. Harganya 8.000 rupiah per ekor (kalau di pasar sekitar 10.000 rupiah). (Waktu pulang ke Jogja, saya bawa 22 ekor kepiting sebagai oleh-oleh. Kabarnya kalau di bandara internasional ndak bakalan lolos… Tapi karena di bandara Teluk Bintuni dan Manokwari tidak ada pemindai atau scanner, akhirnya para tetangga saya juga ikut merasakan nikmatnya kepiting Papua. Hehehehe…) Selain itu, ada juga daging rusa yang dijual d pasar: ada yang berbentuk dendeng, daging segar (di-friser-kan), dan bakso. Ternyata ada tujuan wisata kuliner juga di Bintuni… (Sekedar catatan: di Teluk Bintuni uang pecahan Rp500 tidak laku, walaupun berjumlah 10 koin sehingga total nilainya 5.000 rupiah).

Alat transportasi utama di kota ini adalah ojek sepeda motor. Biasanya sekali jalan ongkosnya 5000 rupiah, jauh dekat. Mobil yang hilir mudik hanya mobil pemda (umumnya dobel gardan), kecuali beberapa Jeep Wilis yang merupakan alat transportasi dari teluk Bintuni ke Manokwari-ibukota provinsi Papua Barat-dengan waktu tempuh sekitar 12 jam melewati rimba raya Papua. Tak jarang di tengah perjalanan bertemu dengan serombongan kijang dan rusa. Kalau ada yang bawa senjata berburu, maka di tengah hutan akan dilaksanakan acara rusa guling bakar. Bagi pemilik jiwa petualang, tidak salahnya mencoba rute ini.

Jalan keluar-masuk utama kota Teluk Bintuni adalah lewat udara dengan menggunakan pesawat kecil milik Merpati. Jumlah penumpang sekitar 15 orang. Pesawat ini tidak terbang setiap hari, hanya 3 kali seminggu. Waktu terbang masih berada di bawah awan, sehingga sangat tergantung pada kondisi cuaca. Kalau cuaca lagi tidak bersahabat, kita bisa “terkurung” beberapa hari di kota Teluk Bintuni.

Perjalanan ke pedalaman Papua memang menantang sekaligus menyenangkan. Selain bisa melakukan wisata kuliner, kita juga menemukan banyak hal-hal baru yang barangkali telah hilang dari budaya perkotaan. Masih terdapat keluguan, kejujuran, dan kebersamaan di kota kecil ini. Di kota ini, saya menemukan sebuah makna lain dari kehidupan. Misalnya, meskipun mayoritas penduduk memeluk agama Katolik dan Kristen, penganut agama Islam bisa hidup berdampingan dengan harmonis. Bahkan bisa dikatakan, penggerak perekonomian, terutama untuk sandang dan pangan, adalah kaum minoritas ini.

Tentang malaria, awalnya memang mengkuatirkan karena masalah ini masih belum terpecahkan di Papua. Untuk itu, beberapa hari sebelum berangkat, saya sudah minum beberapa butir pil kina. Namun, setelah beberapa hari di Teluk Bintuni (bahkan sampai beberapa hari setelah tiba di Jogja) telingga terasa berdenging terus dan pendengaran terganggu. Setelah dicari informasinya di internet, ternyata itu efek dari pil kina yang telah saya telan sebelumnya.

Hidup memang akan terus berjalan, mengalir seperti air. Hanya saja seberapa jauh kita bisa menikmati keleluasan dan kemudahan yang telah diberikan oleh Allah SWT selama hidup di bumi. Perjalanan dari satu bagian ke bagian bumi yang lain adalah sebuah penafsiran dari kata HIJRAH. Hijrah berarti belajar tentang apa saja, berjalan kemana saja, bersahabat dengan siapa saja, dan bersyukur kepada-NYA kapan dan dimana saja. Semoga perjalanan berikutnya ke negeri lain di bumi segera terlaksana. Amin.

Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat

Ini cerita tentang perjalanan ke Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat. Waktu saya masih SD, keinginan untuk ke Mentawai sudah muncul, tepatnya setelah membaca sebuah buku cerita tentang kehidupan masyarakat suku pedalaman di Pulau Siberut. Kabarnya, warna kulit mereka putih seperti orang Cina, bermata agak sipit, dan hidup secara nomaden.

Perjalanan ke Tuapejat, ibukota Kabupaten Kepulauan Mentawai, semestinya menggunakan pesawat kecil SMAC (kalau ndak salah singkatan dari Sabang-Merauke Aircraft Carter). Hehehe…ada yang memplesetkan SMAC = Siapa Mati Atau Cacat. Ternyata, SMAC lagi tidak terbang, lagi masuk hanggar (bengkel). Jadilah perjalanan ke Mentawai lewat laut dengan kapal KMP Ambu-Ambu.

Kegiatan di Mentawai adalah berdiskusi dengan aparatur daerah terkait pengelolaan keuangan daerah, dalam hal ini bersama-sama berupaya memahami dengan baik apa yang diatur dalam Permendagri No.13/2006, dengan fokus pada penatausahaan keuangan daerah. Pemahaman atas regulasi ini melalui kegiatan bimbingan teknis barangkali tidak sepenuhnya efektif, namun karena keterbatasan yang ada untuk tahap awal langkah inilah yang ditempuh. Kegiatan Bintek dilaksanakan di aula pendopo bupati, persis di belakang rumah dinas Bupati Kepulauan Mentawai yang tidak ditempati lagi karena mengalamai kerusakan cukup parah akibat gempa bumi beberapa waktu lalu.

Meski terpisah puluhan mil dari kota Padang, suasana bumi Minangkabau masih terasa. Umumnya PNS di kabupaten ini berasal dari Padang sehingga biasanya pada akhir pekan melakukan “eksodus” ke daratan pulau Sumatera, sementara Minggu malam arahnya berbalikan. Karenanya, pada waktu-waktu tsb sangat sulit memperoleh tempat nyaman di kapal, yakni kamar atau kursi kelas eksekutif. Tidur di dek beralaskan ambal atau koran sudah menjadi hal biasa bagi para PNS yang secara rutin bolak-balik Padang-Tuapejat, demi keluarga, anak, dan suami/istri yang dengan tabah menjalani hidup di Padang demi keberlanjutan pendidikan anak-anaknya.

Seperti lazimnya kabupaten baru yang lain, Kepulauan Mentawai masih tertinggal jauh dibanding daerah lain di Sumatera Barat. Jalan raya yang membelah wilayah di Pulau Sipora, tempat kota Tuapejat berlokasi, tidak diaspal sama sekali. Beberapa potong jalan sudah dibeton, namun tidak tuntas. Kabarnya kontraktornya “melarikan diri”. Mahalnya harga pasir kali sebagai bahan utama pengaspalan, karena harus “diimpor” dari Padang dan dibawa ke Tuapejat dengan KMP Ambu-Ambu, menjadi kendala untuk menyediakan ruas jalan yang layak. Pemkab Kepulauan Mentawai nyaris menyerah menghadapi persoalan infrastruktur dan sarana prasarana ini. Kabarnya, jalan ini adalah jalan provinsi, sehingga anggaran pemeliharaan dan pembangunannya ada dalam APBD Provinsi Sumatera Barat. Namun, Provinsi Sumbar sepertinya tidak merasa perlu memperbaiki jalan yang membelah Pulau Sipora ini.

Dibutuhkan kerja keras dan bantuan dari luar untuk membangun Kepulauan Mentawai. Potensi pariwisata berupa pantai berpasir putih dan ombak laut yang cocok untuk berselancar (surfing) perlu dikenalkan ke seluruh dunia, khususnya melalui dunia maya (internet). Hasil studi banding yang telah dilakukan seharusnya telah melahirkan konsep kepariwisataan yang terpadu dan komprehensif. Sementara ikan hasil tangkapan nelayan tradisional yang melimpah-ruah menjadi daya tarik sendiri jika dikemas lebih baik. Ikan asin Mentawai sudah terkenal enaknya…

Iklan
51 Komentar leave one →
  1. hirman permalink
    Juni 17, 2008 3:32 pm

    Wah penuh tantangan juga perjalanannya Pak !

  2. Sabrina Sihombing permalink
    Juli 2, 2008 6:38 am

    Thanks ya atas download2nya…. thanks a lot.

  3. fadli abdullah-bireuen permalink
    Juli 7, 2008 9:21 am

    salut deh bang..bangga deh

  4. ceyung permalink
    Juli 7, 2008 12:07 pm

    Menarik sekali catatan perjalanannya. Cerita lagi tentang daerah-daerah lainnya dong. Ini kan baru satu dari 400 lebih kabupaten di negara kita tercinta. Pasti pernah ke daerah lain juga kan?. Paling tidak dari tempat asal (Aceh) dan tempat tinggal sekarang (Yogya).

    Ceyung

  5. Mahmudi permalink
    Juli 8, 2008 2:54 pm

    Selamat menjelajah Nusantara Bang Sukriy. Semakin jauh berjalan semakin banyak yang dilihat, sehingga semakin mengerti tentang Indonesia tercinta…

    Salam

  6. Juli 8, 2008 4:32 pm

    Aku koq nggak pernah diajak ya? Bukan temannyakah?

  7. Hermeindito Kaaro permalink
    Juli 10, 2008 1:24 pm

    Congratulation ….. selamat Pak Syukriy …. ,

    Situsnya sangat OK, juga sesi ini sangat menarik

    semoga info ini berguna bagi perkembangan tanah air, bagi kawan-kawan dalam dan luar negeri yang berminat untuk mencari tahu lebih jauh pelosok Indonesia.

    Btw, jangan lupa perjalanan penting “di Yogya” harus segera dituntaskan.

    Salam Sejahtera
    Dito

  8. dedi permalink
    Juli 11, 2008 9:28 am

    Wah asyik sekali bisa wisata pendidikan bang he…he…Sekali-kali nyaingi pak bondan dongk (wisata kuliner)he…he…

  9. BUDI S PURNOMO permalink
    Juli 15, 2008 11:42 am

    Wah asik banget petualangannya

  10. Sandra Utama permalink
    Juli 18, 2008 5:25 pm

    Assalamualaikum,…..

    Terima kasih atas seluruh infonya, sangat berguna sekali….
    kok nggak ada cerita perjalanan di Kab. Purbalingga…. kan kita mau juga di masukin sebagai pelengkap cerita….

    Wassalam

    Tolong kirim resep bikin kue ML dong

  11. pauline pattyranie permalink
    Juli 31, 2008 10:31 am

    Mantap pak!!! cerita2 pengalamannya sangat informatif. Keep going!

  12. frida purwaningtyas permalink
    Agustus 7, 2008 1:42 pm

    salah satu bagian favorit saya di blog ini….. nunggu cerita lainnya niy..nanti lama2 bisa jadi buku cerita tuch…

    sory Pak, agak telat niy bukanya… jadi inget dulu secara tidak sengaja satu pesawat ke Bandar Lampung. surprisee….. sebelumnya ndak ngimpi ketemu dosen di luar kota Yogyakarta…

    nanti mo jalan2 kemana lagi Pak??… saya tunggu cerita seru selanjutnya ya Pak…

    frida.

  13. edfan darlis permalink
    Agustus 8, 2008 2:34 pm

    friend, kalau namanya jalan-jalan, saya ingin betul diajak. insya Allah saya akan lanjut S3 ke Unibraw. target paling lambat awal 2010. doakan ya… trus bisa ajak saya ikut jalan2.

  14. Agustus 9, 2008 10:21 pm

    Rekan-rekan semua, thanks atas apresiasinya… Perjalanan memang akan terus berlanjut, tapi (seperti “diperingatkan” oleh Dr. Hermeindito) saya mungking menguranginya dalam beberapa bulan ke depan karena harus menuntaskan tugas yang belum selesai: menyelesaikan disertasi. Ini “mahakarya” yang terasa berat untuk dipurnakan. Sepertinya selalu ada yang kurang sehingga diperbaiki terus. Mohon do’anya, ya… Terima kasih.
    Kepada Bung Edfan, selamat menjadi pejuang fisabilillah… Semoga tabah menjalani. Amin.

  15. aisonhaji permalink
    Agustus 16, 2008 8:53 pm

    Semoga study mas Syukriy lancar meskipun sering jalan – jalan ha ha ha. Asal ndak lupa bawa laptop kemana – mana dan langganan akses internet by hp ndak masalah hi hi hi (tapi rekening melonjak saya ndak ikut – ikut lho). Kalau udah lulus saya mau lho diundang syukuran, atau syukuran-nya di kantor saya saja ?! Sekalian saya ajak lihat – lihat progress implementasi pengelolaan keuangan daerah di surabaya ha ha ha, mungkin Mas Syukriy bisa memberikan masukan penyempurnaan, trims.

  16. Indah Fatmawati permalink
    Agustus 20, 2008 11:48 am

    Buat aku halaman perjalanan ini yang paling asyik. Seneng baca ceritanya. kayak baca panduan perjalanan, he he he….. Jalan-jalan lagi ya biar lengkap….sukses Pak Syukriy.

  17. syukriy permalink*
    Agustus 20, 2008 2:15 pm

    Terima kasih, mas Aisonhaji dan mbak Indah… Jalan-jalan memang mengasyikan, apalagi gratis! Hehehe… Tetapi ternyata opportunity-costnya juga besar, ya…itu tadi: ada yang mesti tercecer…
    Tentang “kebocoran anggaran” karena mengakses internet (saya biasanya pakai IM3), memang terasa lumayan bebannya… Tapi, saya berpikiran positif saja: setiap insan ada rejekinya, setiap belanja ada sumber pembiayaannya…
    Ibarat proses penyusunan APBD: tentukan dulu belanjanya, sumber pendanaannya menyusul… 🙂 Wallahu’alam…

  18. Agustus 20, 2008 5:31 pm

    hahahaa…. ngeblog juga niye pak…
    tetap suka dengan gaya pak syukri yang cool dan terkonsep. udah pernah liat blogku???
    hahaha pasti terkejut melihat sisi melowku pak..

  19. syukriy permalink*
    Agustus 21, 2008 3:39 pm

    Memang surprise setelah membuka blognya mbak Ika. Kayaknya ndak pernah merasa tua, ya? -:? Style blog mbak Ika mantap, tuh….
    Oya, ini memang blog agak semi-serius. Hehehehe…biar bisa bersosialisasi lebih luas, lah. Soalnya banyak teman-teman yang kesulitan menemukan ajang dan teman diskusi sekalian sumber referensi, khususnya bagi yang lagi tertarik ke sektor publik. Biar saya juga bisa tahu seberapa banyak orang yang memilih jalan ini…jalan sektor publik. Hehehehe….

  20. Agustus 24, 2008 9:42 am

    jadi pengin jalan2 apa lagi ada wisata kulinernya … hehehehe…

  21. Agustus 24, 2008 12:45 pm

    #Bung Fendi.
    Terima kasih atas kunjungannya. Jalan2 memang hobi sebagian besar dari kita. Setidaknya kita jadi tahu betapa luas bumi yang diciptakan Allah ini. Tipe dan karakter orang yang sangat beragam, termasuk “makanan” dan “pakaiannya”.

  22. Sandra Utama permalink
    Agustus 25, 2008 11:20 am

    ngomong kapan ke mentawai nya pak?…. nggak ada tanggalnya?

  23. fajri permalink
    Agustus 26, 2008 10:14 am

    bang..
    sekali-kali ngajak kita donk…

    great N nice blog brother

    good luck

  24. September 13, 2008 4:07 pm

    gimana suasana di mentawai pak??
    trimakasih pak,,bapak mo berpartisipasi dan memberikan kotribusinya buat mentawai…
    moga apa yang bapak kerjakan tidak sia-sia.. Tuhan Memberkati.

    Syukriy
    Terima kasih atas kunjungannya. Mentawai adalah sebuah Daerah yang unik. Senang sekali sudah bisa berkunjung ke sana dan berdiskusi dengan teman-teman di Pemda. Memang banyak hal yang harus dibenahi, tapi saya senang karena Bapak Bupati memiliki niat baik, kebijaksanaan, dan kearifan untuk membangun Daerah ini. Dibutuhkan kerja keras dari aparatur daerah untuk memahami dan melaksanakan peraturan perundang-undangan yang wajib dipatuhi oleh Daerah. Memang tidak semua peraturan dimaksud sudah sempurna dan untuk itu kita bisa berdiskusi membuat kebijakan daerah (Perda atu Perkada) yang sesuai dengan kebutuhan Daerah…

  25. boy permalink
    November 5, 2008 10:51 am

    pak syukriy, sy mau nanya untuk biaya hidup di daerah bintuni khususnya yg deket dengan plant LNG Tangguh kira2 berapa ya..? Terima kasih sebelumnya atas jawabannya.

  26. syukriy permalink*
    November 5, 2008 1:57 pm

    @Boy
    Wah, angka pastinya saya ndak tahu. Cuma kalau sehari-hari cukup besar, apalagi kalau dibandingkan dengan biaya hidup di Jogja.

  27. amaduq01 permalink
    November 6, 2008 1:29 am

    weleh2
    bang..bang..
    ente ternyata sudah berhasil keliling dari Sabang sampai Merauke donk kalo gitu…!!!

    Kapan aku bs gt..
    masak harus nunggu jadi buronan Densus dulu
    hik hik hik

  28. November 6, 2008 5:48 pm

    @amaduq01
    Perjalanan ini terasa sangat menyenangkan….(kayak lagu Ebiet G. Ade) 🙂
    Namanya: “perjalanan mencari nafkah”. Kalau dengan biaya sendiri ndak bakalan kuat, mas. Syukur, ada yang mengundang dan mengajak jalan-jalan…

  29. Steven Lamban permalink
    November 25, 2008 10:22 am

    Kalau ada waktu, mampirlah ke Kab. Boven Digoel….

  30. syukriy permalink*
    November 25, 2008 11:13 am

    @Steven Lamban
    Wah…saya sangat ingin menjelajahi Papua, pak. Dulu rencananya mau ke Oksibil, ibukota Kabupaten Pegunungan Bintang, tapi ndak jadi karena cuaca kurang bagus.
    Kapan saya bisa diundang ke Kab. Boven Digoel, pak Steven?

  31. Oxa Nainggolan permalink
    Desember 1, 2008 8:19 pm

    pak,saya baca tulisan bapak,saya beranggapan bahwa bpk seorang koncultan pemda?
    saya mahasiswa di salah satu PTS di jakarta, saya sedang meneliti tentang perlunya catatan kaki lap keuangan pemda,apakah bapak bisa bantu saya?
    trimakasih telah membaca surat saya.

  32. Desember 2, 2008 11:19 pm

    Terima kasih atas suratnya, lae Oxa.
    Saya memang berinteraksi sangat intens dengan teman-teman dari Pemda, terutama terkait diskusi tentang pengelolaan keuangan daerah (perencanaan, penatausahaan, dan akuntansi). Diskusi bisa melalui pelatihan, bimbingan teknis atau pworkshop yang diadakan di Jakarta, Yogyakarta, atau kota lain.

    Tentang catatan kaki (footnote) untuk laporan keuangan pemda memang perlu didiskusikan lebih jauh urgensi dan kemanfaatannya. Bisa jadi yang dimaksud catatan kaki ini sama dengan catatan atas laporan keuangan (CaLK) yang memang merupakan bagian tidak terpisahkan dari pelaporan keuangan Pemda, yakni sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBD selama satu tahun.
    Kalau ada footnote, maka memungkinkan sekali muncul ide untuk membuat catatan akhir (end-note). Lalu, apa maknanya footnote atau endnote ini jika SAP (PP No.24/2005) sudah mewajibkan SKPD selaku entitas akuntansi dan SKPKD selaku entitas pelaporan untuk menyusun CaLK? Jika CaLK sudah cukup informatif bagi users laporan keuangan, maka endnote barangkali tidak memiliki manfaat infomatif apa-apa.

  33. Oxa Nainggolan permalink
    Desember 3, 2008 8:56 am

    trimakasih pak atas pengetahuan yg bpk berikan,
    mungkin di masa2 yg akan datang kita bs bekerja sama.dengan bimbngan bapak tentunya.
    c’u

  34. Oxa Nainggolan permalink
    Desember 4, 2008 10:59 pm

    pak masalah footnote yang bapak ceritakan kemarin itu sama saja dengan CaLK.menurut dosen saya, tapi bagaimana format membuat CaLK berdasar SAP.bs Bapak ceritakan? trimasih

    pak klo nanti bapak perlu asisten di jakarta,bapak boleh menghubungi saya .saya siap membatu bapak, kehormatan saya bisa menjadi asisten bapak, saya juga tdk sedang sibuk kuliah jadi bisa. 021-91959013
    itu no saya pak!

  35. muhammad tohir permalink
    April 16, 2009 3:34 pm

    bapak Syukri yang terhormat:
    Saya mhs S2 UNSRI butuh kuisioner mengukur efektivitas pengendalian keuangan dan Kinerja,dimana artikel yang ditulis Bapak Hindri Asmoko yang berjudul : Pengaruh Pengganggaran Berbasis Kinerja terhadap Efektivitas Pengendalian .Saya mohon bantuan bapak untuk mengirimkan kuisioner tsb Ke email: thr_mtsa1.29plg@yahoo.com terima kasih

  36. April 17, 2009 6:03 am

    @muhammad tohir
    Mohon ma’af, pak. Saya tidak mengenal Bapak Hindri Asmoko.
    Terima kasih.

  37. riswan permalink
    Mei 7, 2009 12:33 pm

    Pak syukriy,

    Terima kasih atas infromasinya, saya kebetulan mendapat tawaran kerja di daerah bintuni. Apakah perlu makan pil kina lagi jika kontrak kerja selama 12 bulan.

    riswan.

  38. Mei 7, 2009 3:29 pm

    @Riswan
    Saya kira minum pil kina wajib hukumnya kalau ke Papua. Cuma, telinga menjadai agak terganggu (berdengung) karena pengaruh pil kina ini.
    Kontrak di LNG Tangguh, ya pak?

  39. Mei 19, 2009 5:47 pm

    Perjalanan yg sangat menyenangkan, sebaiknya akan banyak lagi orang indonesia melakukan perjalanan menelusuri indahnya Indonesia dg ragam budaya, adat istiadat dan keberagaman kearifan lokal yg sangat kaya, kebayakan dari kita hanya mengenal ke indahan Singapore, Malaysia dan sebagainya…..Daerah daerah di Indonesia tdk kalah hebatnya dg Negara lain.
    pertanyaannya , Seberapa cintakah kita terhadap Negara Kita sendiri ?
    Selamat menikmati keindahan Indonesia Pak Syukriy dan nanti buatlah buku pintar buat anak cucu kita tentang INDONESIA.
    salam dari Irwanto

  40. Steven Lamban permalink
    Juni 26, 2009 8:10 am

    Boleh..bapak bisa berikan pelatihan dalam bidang apa untuk Pemerintah Daerah, nanti kami usulkan dalam RKA 2010 Dinas Komunikasi dan Informatika kab. Boven Digoel.

  41. Gisella M Mayaut permalink
    Agustus 14, 2009 12:18 pm

    bapak Syukri yang terhormat:
    Saya seorang mahasisiwi S1 UNPATTY butuh kuisioner mengukur efektivitas pengendalian keuangan dan Kinerja,dimana artikel yang ditulis Bapak Hindri Asmoko yang berjudul : Pengaruh Pengganggaran Berbasis Kinerja terhadap Efektivitas Pengendalian .Saya mohon bantuan bapak untuk mengirimkan kuisioner tsb Ke email: gsell_lovely@yahoo.com
    terima kasih atas perhatian bapak….

  42. November 30, 2009 1:08 pm

    BAGUS SEKALI

  43. Mei 1, 2010 12:57 pm

    makasih infonya………….asik banget perjalanannya

  44. Januari 27, 2012 6:54 pm

    saya pada bulan november-desember 2011 pertama kali menginjakan kaki di bumi papua barat, tujuan ke teluk bintuni,,pertama mneginap di penginapan kabira,, dan waktu pulang hotel yuni…bumi papua memang betul penuh dengan potensi alamnya namun keberadaan penduduk disana nbelum bisa mengoptimalkan Sumber daya alam..mereka hanya mrngandalkan kemampuan bernelayan berburu dan menokok sagu…kami bersama dengan perusahaan BP mengadakan survey sosial ekonomi…selama 52 hari bnyak pengalman yang kami dapat, dari awal didesa tomage sampai ke desa taroi,, penuh sensasi alam yang mayoritas laut…sayab mengunungi sekitar 10 desa di distrik bintuni dan sumuri

  45. Januari 27, 2012 7:09 pm

    kpd bpk syukri saya mau bagi cerita ttg distrik bintuni….saya bersama satu team dari Pusat Styudi kebijakan dan kependudukan UGM kerja sama dengan peruhsaan BP mengadakan survey sosial ekonomi….selain pengalaman berinteraksi dengan penduduk asli ppapua…(kadang kagak mudeng bhasa mereka) namun mayoritas mereka bisa bahas nasional….pengalaman lain …adanya nyamuk agas yang sangat gatal n membekas bila menggigit….masih banyak burung kakak tua yang liar hidup dipepohonan…terus bisa melihat langsung buaya di sungai yang menuju ke desasorondouni…dengan memakai longboat wow perjalanan mengasyikkan bahkan memngerikan….

  46. Mei 1, 2012 11:39 am

    bintuni emank keren…….. berbagi pengalaman emank paling seru aplg cerita tentang bintuni. .

  47. Mei 17, 2012 9:20 pm

    @jeanne manibuy ~ Bupati Teluk Bintuni memiliki nama belakang Manibuy juga. Ada hubungan saudara, bu?

  48. Juni 19, 2014 7:55 am

    Apakah Anda membutuhkan pinjaman untuk membantu Anda membayar tagihan atau Anda membutuhkan uang untuk memulai bisnis Anda sendiri hubungi kami hari ini karena kami memberikan pinjaman sebagai pinjaman tingkat bunga 2% Untuk informasi lebih lanjut tentang pinjaman Anda harus mengisi aplikasi pinjaman membentuk sehingga kami dapat melangkah lebih jauh dengan transfer kredit.

    KREDIT APLIKASI MENGISI DAN RETURN.

    Nama
    Jumlah
    Lamanya
    Seks
    Nomor Telepon
    negara

    Harapan untuk mendapatkan respon mendesak Anda.

    Terima kasih.

  49. asido permalink
    April 17, 2015 10:41 pm

    Salam Homat…

  50. Durri permalink
    April 4, 2017 11:32 am

    perjalanan ke Teluk Bintuni ini dilakukan tahun berapa ya?

    Bulan ini saya rencananya akan ke Teluk Bintuni. Ada saran cara ‘ternyaman’ untuk mencapai teluk Bintuni?

    Terima kasih

Trackbacks

  1. LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT (LSM) | Sajotoprima's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: