Skip to content

Inovasi Populis dari Solo

April 20, 2011

Sonya Hellen Sinombor

Sekitar lima tahun silam, saat masih kerja serabutan, Sartono (42), warga Kampung Priyobadan, RT 1 RW 4 Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, Jawa Tengah, selalu pusing mencari biaya pengobatan jika anak sulung dan putri kembarnya sakit.

Saat telah diterima sebagai pegawai honorer di sebuah dinas di Pemerintah Kota Solo pun, tiga tahun lalu, dia masih galau kalau ada anggota keluarganya yang sakit. Keluarga itu tak sanggup membayar biaya pengobatan.

Sejak dua tahun lalu, perasaan khawatir itu sirna, sejak keluarganya mengantongi kartu Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta (PKMS) dari Pemkot Solo. Dua bulan lalu, salah satu putri kembarnya terkena demam berdarah, dan harus dirawat di Puskesmas Jayengan. Sartono yang sehari-hari menjadi petugas kebersihan dan portir loket di Gedung Wayang Orang Sriwedari, sama sekali tidak mengeluarkan sepeser pun.

”Kalau enggak ada kartu PKMS, saya enggak bisa bayangkan berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk pengobatan anak saya selama lima hari,” ujarnya saat ditemui, Kamis (17/3).

Tak hanya kesehatan, biaya pendidikan anak sulungnya di SMA juga mendapat bantuan dari pemerintah setempat. ”Dengan gaji saya sekarang tentu berat untuk mengongkosi anak di SMA. Untunglah anak saya dapat bantuan pendidikan,” papar Sartono.

PKMS adalah bantuan pengobatan yang diberikan Pemkot Solo kepada warga Kota Solo, terutama keluarga miskin. Mekanisme itu dibuktikan dengan kartu keluarga/kartu tanda penduduk.

PKMS dimulai sejak 2008 dan diberikan kepada warga yang tidak terjangkau program asuransi kesehatan (Askes) PNS, askes swasta, Jamkesmas, serta asuransi kesehatan lainnya.

Dengan menggunakan kartu PKMS, warga Solo mendapat bantuan pengobatan gratis, termasuk rawat inap (standar pelayanan Jamkesmas) di seluruh puskesmas dan 10 rumah sakit pemerintah/ swasta di Kota Solo. Sejak 2008, miliaran rupiah dikucurkan untuk PKMS. Hingga kini total 208.428 jiwa terjangkau dengan PKMS.

Bidang pendidikan juga mendapat jatah yang besar dari APBD Kota Solo. Sejak 2008, Pemkot Solo membantu biaya pendidikan siswa dari keluarga miskin melalui sekolah gratis. Dua tahun terakhir juga dikucurkan dana Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Solo (BPMKS), sebanyak Rp 21 miliar per tahun. Hingga 2010, sebanyak 43.000 siswa mendapat bantuan pendidikan dari Pemkot Solo.

Selama tiga tahun terakhir, anggaran pendidikan bagi warga Kota Solo terus meningkat. Pada tahun 2009 sebesar Rp 336,3 miliar, tahun 2010 meningkat menjadi Rp 441,8 miliar, dan 2011 sebesar Rp 471,5 miliar.

Bidang kesehatan dan pendidikan, merupakan prioritas utama serta mendapat porsi terbesar anggaran belanja publik dari APBD Kota Solo, sejak periode pertama (2005-2010) hingga periode kedua (2010-2015) kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo, Joko Widodo (Jokowi) dan FX Hadi Rudyatmo (Rudy).

Revitalisasi pasar

Selain pendidikan dan kesehatan, Pemkot Solo tak berhenti menata pedagang kaki lima (PKL) dan merevitalisasi pasar-pasar tradisional di Kota Solo. Dalam kurun waktu lima tahun, Pemkot Solo berhasil menata 5.817 PKL serta merevitalisasi 15 pasar tradisional, dari 37 pasar tradisional di Kota Solo.

Selain nyaris tanpa konflik, kebijakan penataan ribuan PKL dan revitalisasi pasar-pasar tradisional menuai pujian dan penghargaan dari pemerintah dan berbagai kalangan. Kota Solo menjadi model dan percontohan bagi kota-kota di Tanah Air. PKL dan pasar tradisional yang selama ini tidak banyak disentuh kota-kota lain, dalam empat tahun terakhir justru menjadi lumbung pendapatan Kota Solo.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Solo dari retribusi pelayanan pasar yang sebelumnya hanya Rp 7,8 miliar, sejak tahun 2007 jumlahnya terus naik signifikan. Tahun 2007 pemasukannya tercatat Rp 9,9 miliar. Lalu tahun 2008 menembus angka Rp 10,2 miliar, seterusnya Rp 11,7 miliar (2009), dan Rp 12,5 miliar (2010). Pada tahun 2011 pemkot menargetkan pendapatan dari retribusi pasar sekitar Rp 20 miliar.

Jokowi menegaskan, dengan pasar tertata, otomatis jumlah kios/los dan pedagang diketahui pasti, mudah dikontrol, sehingga pendapatan retribusi yang masuk jelas. Pasar Klithikan Notoharjo misalnya. Pasar yang menampung 989 PKL dari kawasan Monumen Banjarsari, kini penyumbang terbesar pendapatan dari retribusi pelayanan pasar. Satu tahun pendapatan pasar ini sekitar Rp 400 juta.

Saat ini, pasar tersebut menjadi pusat perdagangan berbagai barang bekas, terutama onderdil dan aksesori mobil dan sepeda motor, serta barang-barang elekronik. Lebih dari 1.000 kios kini berdagang di pasar tersebut. Geliat perekonomian di pasar ini membuka akses lapangan pekerjaan bagi penduduk sekitar pasar.

Sugiyanto (35), juru parkir di pasar tersebut, menyebutkan ada 44 warga kelurahannya yang menjadi juru parkir dan penjaga keamanan di pasar tersebut. ”Dulu saya narik becak sehari, pendapatan tak menentu. Sekarang sehari saya pasti bawa pulang minimal Rp 25.000,” ujar warga Kelurahan Semanggi itu.

Pemkot Solo juga menunjukkan keberpihakannya terhadap pedagang klontong di Solo, dengan menolak hadirnya minimarket waralaba di Kota Solo. ”Dua tahun terakhir ada 80 pengusaha mengajukan permohonan izin. Tapi kami tolak. Ada 12 yang telanjur lolos. Kalau tidak dikontrol, hal ini bakal menghancurkan usaha toko klontong,” ujar Jokowi.

Kerja keras aparat pemerintah setempat dalam menata kota, infrastruktur, dan sarana publik lainnya, mengantar Kota Solo menjadi salah satu kota destinasi wisata. Selain menjadi kota pertunjukan seni budaya, Solo langganan tuan rumah pertemuan tingkat nasional dan internasional.

”Kalau kota tertata bagus, kota jadi laku dan efeknya ke mana-mana. Pariwisata jalan karena banyak kegiatan. Okupansi hotel naik, dulu hanya 30 persen sekarang di atas 90 persen. Investor berbondong-bondong datang. Sekarang saja ada 13 investor hotel antre. Bukan cuma hotel, taksi, becak, perajin batik, restoran, pun kena dampaknya,” ujar Jokowi.

Dampak ekonomi itu terlihat pada pendapatan asli daerah (PAD) Kota Solo. Sejak 2007 hingga 2010, PAD dari pajak hotel dan restoran meningkat 50-80 persen. Pajak hotel tahun 2007 tercatat Rp 4,3 miliar, dan tahun 2010 mencapai Rp 7,6 miliar. Pendapatan pajak restoran juga naik, dari Rp 6 miliar pada tahun 2007 pada tahun 2010 mencapai Rp 9,6 miliar.

Pangkas anggaran

Bagaimana Kota Solo meraih semua keberhasilan tersebut? Jokowi menegaskan, semua itu bermula dari kesadaran akan kecilnya PAD dan APBD dari Kota Solo. Menyiasati kondisi itu, Pemkot Solo melakukan inovasi anggaran dan manajemen fokus. Tujuannya, agar pemanfaatan anggaran berdampak ke semua bidang, terutama untuk peningkatkan kesejahteraan rakyat.

Berangkat dari pemikiran itu, anggaran-anggaran belanja pemerintah di sejumlah dinas yang dinilai tidak perlu langsung dipangkas. Bahkan ada dinas dalam satu tahun anggaran tidak dapat sama sekali.

”Anggaran kecil-kecil kami stop. Kalau bagi rata, tidak kelihatan fisiknya. Mana yang prioritas itu yang diberi anggaran. Kalau buat program harus besar sekalian, diorganisasikan, dan targetnya harus terukur jelas,” ujar Jokowi yang menerima Bung Hatta Anti Corruption Award 2010

Selain menyiapkan sistem, Jokowi juga menyiapkan konsep makro yang dituangkan dalam cetak biru yang memuat berbagai rencana Kota Solo secara rinci. Membangun kepercayaan, juga menjadi kunci sukses Kota Solo.

Guna mengetahui persoalan-persoalan yang dihadapi warganya, duet Jokowi-Rudy dan aparatnya, rutin berkeliling kampung dengan bersepeda. ”Dengan turun ke lapangan, masalah langsung diketahui dan segera dicari solusinya,” kata Jokowi.

Sumber: Kompas (Senin, 21 Maret 2011)

One Comment leave one →
  1. afid permalink
    November 19, 2011 5:38 pm

    mau nanya mas, kalau mau cari daftar pendapatan kota solo dari tahun 2008-2010 kemana ya pak?? atau mungkin mas.nya bisa mbantu,,terima kasih sebelumnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: