Skip to content

Polisi Tukang Peras

Agustus 4, 2010

Peras-memeras ternyata masih saja akrab di negeri ini. Tidak hanya memeras dalam arti positif, seperti memeras susu sapi, tetapi juga memeras dalam arti kiasan, yaitu memaksa orang lain memberikan uang atau barang dalam jumlah tertentu, jika yang bersangkutan ingin selamat atau ingin dilayani kepentingan mereka. Pernyataan mantan anggota Dewan Pertimbangkan Presiden (Wantimpres) Jimly Asshiddiqie, kemarin, secara tegas menyebutkan bahwa perbuatan memeras dalam arti negatif masih marak di Indonesia.

Jimly, salah seorang calon pimpinan KPK, dalam seminar bertema “Lumpuhnya Sistem Keadilan: Tantangan Penegakan HAM dan Peran Advokat untuk Kepentingan Publik”, di Jakarta, kemarin, dengan gamblang mengungkapkan pandangannya terkait pemerasan. Ketika bicara soal mafia peradilan, dia menyatakan bahwa kasus itu melibatkan banyak orang dari berbagai level peradilan. Menurut dia, tingkatan mafia yang pertama adalah di level kepolisian. Polisi, katanya, identik dengan tukang peras.

“Mafia pertama isinya tukang peras, tukang peras pertama itu polisi. Tapi ini polisi di Afrika,” katanya. Apa yang diungkapkan mantan Ketua Mahkaman Konstitusi ini, meski diselingi seloroh, dapat kita pahami dan tentunya tidak mengenakkan, terutama bagi pihak kepolisian. Namun (rupanya) itulah fakta. Reformasi, perubahan yang dilakukan secara ekstrem, belum menyentuh pelaku tindakan peras-memeras.

Tidak hanya polisi yang sering dikeluhkan masyarakat terkait peras-memeras di Nusantara ini. Setidaknya dari berbagai pemberitaan media massa terungkap, jaksa, hakim, pegawai negeri sipil yang berkaitan dengan pelayanan publik, bahkan juga wartawan, terlibat dalam berbagai kasus peras- memeras. Apabila polisi, jaksa, dan hakim melakukan pemerasan berhubungan dengan hukum atau tindakan mafia hukum, maka para PNS/urusan pelayanan publik peras- memeras terkait dengan urusan perizinan.

Karena itu, tudingan Jimly seharusnya tidak hanya memerahkan kuping para anggota polisi, jaksa, hakim, dan pihak-pihak yang sering diduga terlibat dalam mafia hukum. Tetapi, pihak-pihak lain, seperti pejabat pemerintah dan anggotanya yang terlibat dalam pelayanan umum seharusnya juga mengoreksi diri, apakah mereka telah memberikan pelayanan sebagaimana harusnya? Ataukah justru ikut dalam lingkaran pelaku pemerasan terhadap orang-orang yang mengurus perizinan?

Jika di lingkungan mafia hukum Jimly menyebutkan bahwa makin banyak kasus, maka akan makin banyak korban yang diperas, maka terkait di pelayanan umum sudah menjadi rahasia umum pula bahwa makin banyak pihak yang membutuhkan pelayanan/perizinan (kepentingan publik), makin terbuka pula peluang bagi pejabat/petugas pelayanan umum untuk memeras atau sering juga disebut meminta upeti.

Jadi terkait pemerasan, apakah yang berhubungan dengan hukum, atau pelayanan umum, polanya sama, yang dikorup bukan lagi uang negara, melainkan mereka melakukan pemerasan, menarik upeti dari masyarakat. Apabila di bidang hukum peras- memeras berhubungan dengan kasus, maka di jalur pelayanan umum yang jadi sasaran adalah masyarakat yang mengurus berbagai surat, misalnya urusan KTP, IMB, bahkan sampai pada urusan pajak yang baru-baru ini mencuatkan kasus besar yang melibatkan pegawai Ditjen Pajak, Gayus Tambunan.

Negeri ini sedang sakit. Presiden hingga aparat terbawah di Nusantara ini boleh saja berkoar tidak ada tempat bagi koruptor, pemeras, serta aparat dan pegawai yang kotor, tetapi faktanya di lapangan masih sering terjadi keluhan dan fakta yang mencengangkan. Seorang pegawai kesehatan di dinas kesehatan kota/kabupaten, misalnya, tiba-tiba kaya mendadak karena memetik upeti dari pengusaha pemilik klinik, apotek, klinik, praktik dokter dan lainnya. Bahkan seorang cleaning service memiliki beberapa rumah mewah karena kolusi dengan pejabat pajak. Jadi, bukan bermaksud membela polisi, jaksa, hakim dan lainnya, urusan peras- memeras di negeri ini merupakan penyakit kronis yang membutuhkan keseriusan pemimpin negeri ini mengobatinya.

Sumber: Editorial Suara Karya (4 Agustus 2010)

One Comment leave one →
  1. alpioo2 permalink
    September 17, 2010 11:52 am

    artikel ini berbicara fakta bukan hanya “pepesan” belaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: