Skip to content

Bisakah Tarif Listrik tidak Naik?

Agustus 2, 2010

Ir Eriko Sotarduga BPS, Anggota Komisi VI D.

Pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 07/2010 tentang Penyesuaian Tarif Tenaga Listrik yang disediakan PT PLN (persero) sebesar rata-rata 10%. Penyesuaian tarif listrik tersebut dilakukan dalam rangka memenuhi kekurangan subsidi listrik sebesar Rp4,8 triliun sebagai dampak penetapan kebijakan subsidi listrik dalam APBN-P 2010 yang diperkirakan sebesar Rp55,1 triliun.

Perhitungan kebutuhan subsidi listrik 2010 dihitung berdasarkan realisasi pendapatan PLN Februari 2010 yang di dalamnya sudah mencakup penerapan kebijakan-kebijakan yang sudah diterapkan sejak 2005, antara lain Dayamax Plus (untuk pelanggan bisnis, industri dan kantor pemerintah), dan tarif multiguna. Dari hasil berbagai kebijakan tambahan tersebut, realisasi rata-rata rekening yang dibayar oleh seluruh pelanggan pada Februari 2010 menjadi Rp671/kwh.

Penyesuaian tarif listrik 2010 dilakukan dengan mengambil acuan realisasi rata-rata rekening Februari 2010 tersebut. Dengan tarif listrik yang baru, rata-rata rekening yang akan dibayar pelanggan secara keseluruhan sebesar Rp735/kwh, atau mengalami penaikan rata-rata 10% dari rekening seluruh pelanggan pada Februari 2010. Akibatnya, harga yang harus dibayar tiap pelanggan dapat berbeda-beda.

Dari hasil simulasi yang telah dilakukan pemerintah dan PLN, ada pelanggan yang mengalami penaikan tagihan lebih besar, tetapi ada juga pelanggan yang mengalami penurunan. Dengan berlakunya tarif listrik 2010, kebijakan-kebijakan Dayamax Plus dan tarif multiguna dicabut.

Kalangan industri paling terkena dampak penaikan tarif listrik ini karena pemerintah tetap tidak menaikkan tarif listrik untuk pelanggan golongan 450-900 volt-ampere (VA). Para pengusaha tidak mau menelan begitu saja perhitungan yang disodorkan PLN dan memilih melakukan simulasi. Hasilnya ternyata sangat mencengangkan. Nilai rekening yang harus dibayar pengusaha melonjak hingga 35%-55% sehingga penaikan itu jelas membebani pelaku usaha.

Forum Asosiasi Nasional yang merupakan gabungan dari lebih dari 25 asosiasi, antara lain Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Asosiasi Bakery Indonesia, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), dan Asosiasi Pusat Belanja Indonesia (APBI), kemudian mengadu kepada DPR karena merasa dipermainkan pemerintah.

Sedikitnya ada tiga perbedaan penghitungan antara PLN dan pengusaha. Pertama, pelanggan industri memasukkan beban dalam penghitungan tagihan rekening listrik. Kedua, perbedaan basis penghitungan tarif tenaga listrik oleh pelanggan industri. Faktor ketiga, asumsi penggunaan faktor ‘K’ (koefisien) untuk penghitungan tarif waktu beban puncak (WBP) dan tarif luar waktu beban puncak (LWBP).

Ironisnya, pemerintah dan PLN mengakui adanya kesalahan dalam penghitungan tarif listrik tersebut. Setelah melewati dialog yang alot, pemerintah dan pengusaha telah sepakat menerapkan tarif dasar listrik baru yang telah direvisi berlaku Agustus 2010. Pemerintah berjanji penaikan tarif listrik industri rata-rata berada di kisaran 10%-15% dari tagihan rekening listrik terakhir. Penaikan tarif listrik industri maksimal sebesar 18%.

Pelajaran berharga
Gonjang-ganjing penaikan tarif listrik yang terjadi dalam beberapa hari belakangan ini memberikan pelajaran berharga. Pertama, manajemen pemerintah dan PLN masih lemah. Fakta itu terlihat dari pengakuan pemerintah dalam penghitungan penaikan tarif listrik. Kondisi itu sangat memprihatinkan karena kebijakan tarif listrik sangat memengaruhi hajat hidup orang banyak.

Di sisi lain, meskipun sudah ada kesepakatan patokan penurunan dan penaikan tertinggi sebesar 18%, kebijakan itu pun masih belum dirinci secara detail untuk tiap kategori pelanggan. Untuk itu, pelaksanaan Permen Nomor 07/2010 selayaknya dibatalkan karena seharusnya dikeluarkan keputusan presiden yang disetujui DPR sebagai fungsi legislasi.
Penulis melihat dibutuhkan waktu yang agak panjang, sedikitnya satu tahun ke depan, untuk menyelaraskan tarif tersebut berdasarkan aturan atau regulasi yang benar. Untuk kepentingan penyelarasan ini, patut diperhatikan komunikasi yang intens antara asosiasi pengusaha, PLN, dan pemerintah.

Kedua, kebijakan penaikan tarif listrik terlalu fokus pada kepentingan internal pemerintah dan PLN serta mengabaikan kepentingan eksternal, yakni kelompok usaha serta masyarakat secara umum. Pada awal Februari 2010, Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh menegaskan pemerintah tidak akan menaikkan tarif listrik karena kondisi masyarakat masih susah. Ternyata, pernyataan tersebut tidak terbukti dengan adanya penaikan tarif listrik saat ini, padahal kondisi masyarakat saat ini pun masih sulit.

Penaikan tarif listrik otomatis bakal mengerek angka inflasi. Menurut perhitungan Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono, di Bandung, Selasa (20/7), pengaruh penaikan tarif listrik pada awal Juli akan mendorong inflasi pada Juli ini menjadi sekitar 1%. Inflasi sekitar 1% itu selain disumbang penaikan tarif listrik yang naik sekitar 18% juga karena dorongan dampak penaikan tarif listrik terhadap harga pangan. Sampai akhir tahun, dengan pengaruh kenaikan harga pada masa puasa dan Lebaran, inflasi akan berada di sekitar 5,8% sampai 6%.

Bertambahnya angka inflasi ini akan menyusahkan masyarakat karena kenaikan barang tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan. Akhirnya, meskipun penaikan tarif listrik hanya berlaku bagi kelompok industri, masyarakat kecil juga yang akan menjadi korban karena harga barang makin tak terjangkau.

Bahkan, pekerja terancam kehilangan penghasilan apabila perusahaan gagal melakukan penyesuaian keuangan terhadap penambahan pengeluaran akibat penaikan tarif listrik. Pada kondisi kesulitan keuangan, pengusaha akan lebih memilih mengikuti hukum alam, yakni melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Posisi pengusaha kian terjepit karena saat ini dihadapkan pada persaingan global yang sangat ketat, terutama dengan China, pascapemberlakuan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) pada awal tahun ini. Penaikan tarif listrik bakal menekan daya saing produk Indonesia. Maka, jangan heran apabila banyak pengusaha tidak mau lagi memproduksi barang dan beralih menjadi pedagang belaka. Itu artinya bahwa penaikan tarif listrik akan menimbulkan efek baru, yakni meningkatnya jumlah pengangguran di dalam negeri.

Ketiga, PLN gagal melakukan efisiensi. PLN juga beralasan penaikan tarif listrik terpaksa dilakukan untuk menutupi kekurangan subsidi dan masih jomplangnya antara harga jual listrik dan angka produksi. Padahal, kekurangan tersebut bisa ditutupi lewat efisiensi yang dilakukan PLN, terutama dalam pemakaian bahan bakar untuk pembangkit.

Efisiensi bahan bakar bisa menutupi subsidi listrik sebesar Rp7,4 triliun yang menjadi alasan pemerintah menaikkan tarif listrik. Efisiensi itu dapat dilakukan, misalnya, dengan adanya penambahan pasokan gas minimal 100 juta kaki kubik per hari (mmscfd) dan penerapan kewajiban pasok ke dalam negeri (domestic market obligation/DMO) minimal sesuai besaran royalti 13,5%. Apabila hal itu dilakukan, tidak kurang ada penghematan sebesar Rp7 triliun. Artinya, tarif listrik tidak perlu naik.

Sayangnya, PLN terkesan ogah melakukan efisiensi karena menurut mereka opsi penambahan gas dan DMO batu bara sulit direalisasikan pada 2010. Akibatnya, PLN menilai penaikan tarif listrik hanya satu-satunya jalan untuk menambal kekurangan subsidi. (*)

Sumber: Media Indonesia (28 Juli 2010)

2 Komentar leave one →
  1. Agustus 2, 2010 10:36 am

    wah kalau pln berpikiran kayk gitu trs, bisa2 tdl bakal naik terus dan rakyak makin susah

  2. Agustus 12, 2010 10:21 am

    Kalau kenaikan PLN itu sepadan dengan pelayanan yang kita terima, kenapa tidak dukung program pemerintah? kalau toh imbasnya kembali lagi untuk kesejahteraan rakyat. Mampir juga ke site kami http://bit.ly/cbRNVl

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: