Skip to content

Trauma oleh Patwal Presiden

Juli 17, 2010

Redaksi Yth. (Surat Pembaca Kompas edisi 16 Juli 2010)

Trauma oleh Patwal Presiden

Sebagai tetangga dekat Pak SBY, hampir saban hari saya menyaksikan arogansi Patroli dan Pengawalan (Patwal) iring-iringan Presiden di jalur Cikeas-Cibubur sampai Tol Jagorawi. Karena itu, saya—juga mayoritas pengguna jalan itu—memilih menghindar dan menjauh bila terdengar sirene Patwal. 

Namun, kejadian Jumat (9/7) sekitar pukul 13.00 di Pintu Tol Cililitan (antara Tol Jagorawi dan tol dalam kota) sungguh menyisakan pengalaman traumatik, khususnya bagi anak perempuan saya. Setelah membayar tarif tol dalam kota, terdengar sirene dan hardikan petugas lewat mikrofon untuk segera menyingkir. Saya pun sadar, Pak SBY atau keluarganya akan lewat. Saya dan pengguna jalan lain memperlambat kendaraan, mencari posisi berhenti paling aman.

Tiba-tiba muncul belasan mobil Patwal membuat barisan penutup semua jalur, kira-kira 100 meter setelah Pintu Tol Cililitan. Mobil kami paling depan. Mobil Patwal yang tepat di depan saya dengan isyarat tangan memerintahkan untuk bergerak ke kiri. Secara perlahan, saya membelokkan setir ke kiri. Namun, muncul perintah lain lewat pelantam suara untuk menepi ke kanan dengan menyebut merek dan tipe mobil saya secara jelas. Saat saya ke kanan, Patwal di depan murka bilang ke kiri. Saya ke kiri, suara dari pelantam membentak ke kanan.

Bingung dan panik, saya pun diam menunggu perintah mana yang saya laksanakan. Patwal di depan turun dan menghajar kap mesin mobil saya dan memukul spion kanan sampai terlipat. Dari mulutnya terdengar ancaman, “Apa mau Anda saya bedil?” Setelah menepi di sisi paling kiri, polisi itu menghampiri saya. Makian dan umpatan meluncur tanpa memberi saya kesempatan bicara.

Melihat putri saya ketakutan, saya akhirnya mendebatnya. Saya jelaskan situasi tadi. Amarahya tak mereda, malah terucap alasan konyol tak masuk akal seperti “Dari mana sumber suara speaker itu?”, atau “Mestinya kamu ikuti saya saja”, atau “Tangan saya sudah mau patah gara-gara memberi tanda ke kiri”. Permintaan saya dipertemukan dengan oknum pemberi perintah dari pelantam tak digubris.

Intimidasi hampir 10 menit yang berlangsung tepat di depan Kantor Jasa Marga itu tak mengetuk hati satu pun dari anggota Patwal lain yang menyaksikan kejadian itu. Paling tidak, menunjukkan diri sebagai pelayan pelindung masyarakat. Karena dialog tak kondusif, saya buka identitas saya sebagai wartawan untuk mencegah oknum melakukan tindak kekerasan. Ia malah melecehkan profesi wartawan dan tak mengakui perbuatannya merusak mobil saya. Identitasnya tertutup rompi. Oknum ini malah mengeluarkan ocehan, “Kami ini tiap hari kepanasan dengan gaji kecil. Emangnya saya mau kerjaan ini?” Saat rombongan SBY lewat, ia segera berlari menuju mobil PJR-nya, mengikuti belasan temannya meninggalkan saya dan putri saya yang terbengong-bengong.

Pak SBY yang kami hormati, mohon pindah ke Istana Negara sebagai tempat kediaman resmi presiden. Betapa kami saban hari sengsara setiap Anda dan keluarga keluar dari rumah di Cikeas. Cibubur hanya lancar buat Presiden dan keluarga, tidak untuk kebanyakan warga.

HENDRA NS Cibubur

11 Komentar leave one →
  1. syukriy permalink*
    Juli 17, 2010 3:39 pm

    Sebuah keberanian kadang muncul karena keterpaksaan di saat sudah merasa tak mampu lagi menahan sebuah penderitaan. Seorang warga negara biasa ternyata tak selalu takut untuk mengkritik pemimpin yang tidak memperdulikan kesengsaraan orang lain sebagai akibat arogansi kekuasaan yang ditunjukkan oleh pasukan pengawalnya.

    Seorang pemimpin mungkin tak pernah tahu apa yang terjadi “di bawah” karena selalu mendapat laporan ABS (asal bos senang) dari para pejabat “penjilat” di bawahnya, tak terkecuali para pengawal yang selalu mengatakan “semua berjalan lancar dan terkendali”.

    Namun, seorang pemimpin yang cerdas semestinya tidak hanya mempunyai satu saluran informasi untuk mendapatkan masukan yang berimbang, bukan sekedar saluran yang dibuat untuk menjaga citra belaka tetapi tidak pernah dimanfaatkan secara optimal. Baru ketika keadaan mendesak, dibentuk tim atau satuan tugas yang bekerja dengan kuota waktu dan lintas fungsi sehingga menimbulkan persoalan baru.

    Seorang pemimpin selayaknya tegas dan memberi teladan akan sebuah keberanian dalam bersikap dan bertindak, tidak semata-mata berdiri pada aturan main yang sebenarnya dibuatnya sendiri. Aturan main seolah-olah pamali untuk dirombak karena mendukung status qu0 yang membuatnya selalu pada posisi nyaman.

    Seorang pemimpin yang baik tak akan marah ketika rakyatnya berteriak kesakitan karena harga dirinya terinjak-injak, apalagi sampai memerintahkan anak buahnya yang memiliki kewenangan dan senjata untuk membungkam suara-suara yang memilukan itu.

    Kita tunggu apa yang akan dilakukan oleh pemimpin kita yang sekarang ini…..

  2. Juli 17, 2010 10:59 pm

    Sudah, lupakan saja … Supaya selamat, saat orang-orang waras dan berkuasa lewat, ayo cepat menyingkir sejauh mungkin … Yang tua sudah karuan warasnya, kasihan anak-anak yang tak berdosa, selamatkan mereka🙂

  3. lachan permalink
    Juli 18, 2010 12:19 am

    itulah klbhn y ngra qt yg trcnta ini.. yg kuat yg bkuasa.. n qt yg lmh,, mndur aj deh pak.. klo mw slmt!!

  4. Juli 18, 2010 9:45 am

    seperti hukum rimba, yang besar menindas yang kecil…. hm…

  5. Juli 18, 2010 11:37 am

    peratutan di langgang oleh si pembuat…

  6. Juli 18, 2010 5:16 pm

    sungguh tindakan yang tercela dan tidak pantas
    terlebih itu dilakukan oleh orang2 di lingkungan presiden
    salam

  7. Juli 18, 2010 5:22 pm

    itu patwalnya, bagaimana kalo….

  8. Juli 19, 2010 10:48 am

    patwal yg aneh…?!?!
    komplen gaji kecil kok kerakyat..?!
    kalo mo gaji gede ya jd businessman, bukannya jd patwal..
    sungguh aneh…

    salam kenal
    http://genbiz.noeloe.net

  9. anjas permalink
    Juli 20, 2010 7:26 am

    kelakuan Patwal/ Polisi Lalu Lintas memang biasa arogan, sy bareng anak saya juga punya pengalaman buruk berhadapan dengan Polantas…

    Kejadiannya pagi hari pukul 07.00 sy naik motor bonceng anak di depan, saat mau belok / balik arah tiba2 dimaki-maki sama polisi yq sembunyi dibalik rerimbunan pepohonan, padahal biasanya di lokasi itu untuk krndaraan roda 2 boleh memutar, mendapat makian dan hardikan itu tentu saja saya keder dan malas mendebat ….

    Akhirnya saya tidak jadi memutar dan menepi sambil mengamati lokasi tadi, dan ternyata banyak pengendara lain yg memutar di lakasi tersebut (karena biasanya memang boleh), dan setiap ada yang hendak memutar maka Polantas berwajah garang yg bersembunyi diseberang jalan dibalik rerimbunan pohon langsung muncul, berteriak, memaki, menghardik, sehingga pengendara tersebut batal memutar…

    kejadian tersebut terjadi berulang kali (saya hitung sampai 6 kendaraan yg mendapat perlakuan tersebut). Sy jadi sedih melihat kebodohan Polantas tersebut, bukannya dengan berteriak, menghardik, memaki tersebut dia mengeluarkan banyak energi, disamping mendapat banyak dosa…

    kenapa tidak memasang rambu dilarang belok (yang sifatnya sementara), pasti para pengendara paham, atau menaruh motor Patwal di tempat memutar sebagai penghalang…

    Saya jadi paham kenapa untuk masuk polisi harus bayar ratusan juta, krn polisi ternyata nggak harus punya otak…..

  10. Juli 20, 2010 9:09 am

    ga patwal, ga satpol….sama2 arogan….kalo salah saling menyalahkan….saling membela diri

  11. danan permalink
    Oktober 13, 2010 12:20 pm

    ….biar pada sadar bahwa…1.mobil patwal / motor dibeli pake uang rakyat. 2. gaji para aparat yg mengawal jg pake uang rakyat. 3. bijaksanalah sedikit ini bukan masalah skala prioritas PEJABAT NEGARA…oke dan sah2 saja…memang ada aturannya utuk hal itu tapi dalam pelaksanaanya cobalah dengan jalan / cara yg simpatik…rakyat tau kog kalo buat PIMPINAN NEGARA/ PEJABAT NEGARA…apa sih yg enggak….ya ga sih?….ingat anda dari rakyat untuk rakyat…dan suatu saat akan menjadi rakyat lagi…anda sopan dan bijaksana rakyat akan jauh lebih menghargai anda, kalo ada ungkapan yg saya baca tadi” gaji kami kecil…kepanasan dll”…sudah ga usah diomong jualan bakso aja dari pada jadi patwal….ingat petugas itu ada sumpah nya untuk menjalankan tugas atau amanah yg diberikan kepada negara…JANGAN MENGELUH karna itu adalah PENGABDIAN bagi NEGARA……, mari smua dengan bijak menyikapinya….rakyat tau kog ada KEISTIMWAAN atau skala PRIORITAS bagi kepentingan negara…..hanya saja …jgn arogan….itu saja….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: