Skip to content

Satpol PP Bersenjata

Juli 12, 2010

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sudah menjadi musuh bersama. Musuh para pengasong hingga pedagang kaki lima. Seteru para pemilik lapak hingga aktivis yang berdemonstrasi mengkritisi kebijakan pemerintah. Satpol PP tidak disukai karena sering mempertontonkan kekerasan, sok main kuasa, arogan, dan melakukan pungutan liar. Dengan seragam dan atribut semimiliter, serta pentung dan tameng, Satpol PP lebih kerap memamerkan watak militeristik daripada sipil. Padahal Satpol PP murni sipil yang dibentuk untuk mengawal peraturan daerah (perda).

Tetapi dalam praktik, Satpol PP mengejar, menendang, mementung, dan mengeroyok warga hingga babak belur. Puncak kebencian terhadap Satpol PP terjadi pertengahan April lalu. Saat itu Satpol PP menghadang warga yang memprotes pembongkaran makam Mbah Priok di Koja, Jakarta Utara, yang diyakini keramat.
Satpol PP dengan garang dan sadis menginjak-injak warga. Korban pun berjatuhan. Sejumlah orang tewas, ratusan luka-luka, dan puluhan mobil dibakar.

Sejak tragedi Koja, muncul desakan agar Satpol PP ditinjau kembali bahkan dibubarkan. Komnas HAM merekomendasikan kepada Menteri Dalam Negeri untuk mengevaluasi secara menyeluruh Satpol PP.  Eh, alih-alih melaksanakan rekomendasi Komnas HAM, yang keluar malah peraturan untuk mempersenjatai Satpol PP. Pemberian senjata api kepada Satpol PP itu diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Satpol PP yang dilengkapi dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 26 Tahun 2010. Isinya, Satpol PP dapat menggunakan senjata api, namun bukan dengan peluru tajam. Hanya peluru gas dan peluru hampa.

Kita prihatin dengan keputusan itu karena jelas-jelas melawan pikiran publik. Mempersenjatai Satpol PP adalah pikiran sesat. Satpol PP semestinya dibubarkan, bukan dipersenjatai. Kita punya polisi, mengapa harus ada Satpol PP?

Terus terang harus kita katakan bahwa kebanyakan anggota Satpol PP tidak memiliki kompetensi teknis, emosional, dan psikologis untuk memegang senjata api. Tentara yang terlatih saja masih ada yang main tembak serampangan, apalagi Satpol PP. Di sisi lain, bahkan makin sering terjadi baku tembak antara tentara dan polisi.

Kita sungguh cemas dengan niat pemerintah memberikan senjata api kepada Satpol PP karena sangat berisiko. Mereka bisa petantang-petenteng seperti koboi jalanan main gertak di tengah kota.

Pembentukan Satpol PP dimaksud agar pendekatan terhadap masyarakat dilakukan dengan cara-cara sipil, cara-cara humanis. Tanpa senjata saja Satpol PP sudah petentengan dengan kekuasaannya, apalagi jika Satpol PP diberi senjata api.

Pemerintah sepertinya kurang puas jika Satpol PP hanya main gebuk sehingga sekarang ingin meningkat main dor. Sangat besar bahaya memberi Satpol PP senjata, karena itu hendaknya jangan dilaksanakan. Pemerintah tidak usah malu mencabut keputusannya.

Sumber: Media Indonesia (9 Juli 2010)

2 Komentar leave one →
  1. Juli 17, 2016 3:44 pm

    Tau loe

  2. Juli 17, 2016 3:45 pm

    Anjing yg tulis kuk gini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: