Skip to content

Piala Dunia, Sepak Bola Indonesia, dan APBD

Juni 21, 2010

Hampir semua orang mengakui bahwa sepak bola adalah olah raga paling polpuler di muka bumi ini, meskipun untuk Indonesia belum memberikan warna terang sebagai pengenal dan alat promosi. Di Indonesia, bulutangkis lebih “berjasa” menjual nama Indonesia, meskipun aktor yang berjuang mati-matian di dalamnya adalah warga kelas dua (baca: keturuan China atau Tionghoa). Kesamaan sekaligus perbedaan untuk kedua jenis olah raga ini adanya dalam hal dukungan Pemerintah! Perbedaannya: Indonesia hanya bisa bermimpi untuk tampil di Piala Dunia sepak bola, entah sampai kapan…

Dalam perhelatan sepak bola dunia, khususnya Piala Dunia, bangsa Indonesia adalah penonton terbanyak dari kelompok negara-negara yang tidak berpartisipasi setelah India. Dari sisi bisnis-kapitalis, orang Indonesia termasuk “penyumbang” terbesar dengan ikut berpartisipasi sebagai “penyelenggara” nonton bareng (nobar) di cafe, stadion, lapangan terbuka, dan kantor (dengan alasan lembur), membeli asesoris asli dan palsu (kaos, bola, stiker, mug, boneka, minuman berkarbonasi yang mensponsori, dlsb). Secara tersirat, hal ini sebenarnya menunjukkan adanya “potensi” untuk pendanaan sepak bola yang luar biasa dari para penggila bola individu di Indonesia.

Kontroversi Sumber Dana dari APBD

Pada awalnya, otonomi daerah dipandang sebagai salah satu faktor yang akan mendukung bangkitnya sepak bola Indonesia melalui pendanaan di APBD. Pemda dipandang cukup mampu untuk mendanai sepak bola di daerah, setidaknya dengan mendukung satu klub lokal untuk berkompetisi di tingkat nasional yang penyelenggaraannya dikelola oleh PSSI. Bukankah dalam konsep desentralisasi fiskal, sebagai bagian dari otonomi daerah, Pemda diberi kewenangan untuk mengelola keuangannya sendiri?

Namun, pada kenyataannya Kementerian Dalam Negeri kemudian “melarang” penggunaan APBD untuk mendanai persepakbolaan di daerah. Dalam beberapa Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri), terutama Permendagri No.59/2007 tentang Perubahan atas Permendagri No.13/2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dan rangkaian Permendagri tentang pedoman penyusunan APBD, dinyatakan bahwa bantuan keuangan tidak boleh diberikan secara terus menerus atau rutin dan tidak bersifat wajib, termasuk untuk klub sepak bola. Oleh karena itu, Pemda kemudian mensiasati dengan cara mengalokasikan secara bergantian: ke klub, ke organisasi kemasyarakatan (disebut PSSI dan KONI), dan ke SKPD yang Tupoksinya berhubungan dengan pembinaan olah raga daerah. Sebagian auditor BPK juga merekomendasikan cara seperti ini.

Hal ini dipertegas dengan pernyataan Mendagri Gamawan Fauzi yang menyatakan tidak akan mencabut peraturan menteri yang melarang pemerintah daerah mengalokasikan dana untuk klub-klub olahraga dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) secara langsung. “Akan diberikan secara tidak langsung,” kata Gamawan kepada Tempo (23/4/2010).

Menurut Mendagri, Pemda hanya boleh mengalokasikan anggaran untuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Selanjutnya KONI yang mengatur berapa anggaran untuk klub sepak bola dan cabang olahraga lain. Rata-rata alokasi APBD untuk klub sepak bola sekitar Rp 16 miliar, bahkan untuk klub divisi utama ada yang melebihi nilai itu, sehingga memberatkan APBD. Alokasi itu mengakibatkan anggaran untuk masyarakat menjadi kecil: “Anggaran untuk rakyat kecil, untuk 25 pemain bola besar”. Gamawan menampik peraturan ini menghambat prestasi sepakbola dalam negeri. Menurut dia, prestasi olahraga tidak bertitik pada cabang sepakbola. “Untuk mengangkat prestasi tidak semua harus bermain bola,” katanya.

Dari segi jumlah, alokasi untuk klub sepak bola daerah memang cukup besar. Satu klub rata-rata mendapat dana APBD antara Rp10 miliar–30 miliar selama satu musim. Dana tersebut dianggap lebih tepat digunakan untuk biaya pendidikan, kesehatan, dan pembangunan ekonomi yang berkenaan langsung dengan kesejahteraan rakyat. Lahirnya aturan tersebut membuat banyak klub mengalami krisis keuangan hebat. Permendagri ini muncul setelah mengetahui harga pemain Liga Super sangat mahal.

Di sisi lain, para pecinta sepak bola yang fanatik mendukung sebuah klub melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan pendanaan, termasuk dengan mensiasati sumber dana dari APBD. Sejak tahun 2009, PSSI sudah merencanakan untuk mengeluarkan rancangan pembiayaan klub sepak bola sebagai referensi bagi klub yang menggunakan dana APBD. Rancangan itu memuat standar kebutuhan klub dalam belanja pemain, akomodasi, konsumsi, serta pembiayaan lain yang bersifat realistis.

Seluruh isi rancangan pembiayaan klub tersebut bertujuan memacu pengelolaan klub secara transparan dan profesional. ’’Setelah surat rancangan pembiayaan klub ini lahir, kami yakin tidak akan terjadi penghamburhamburan dana APBD dalam sepak bola di Indonesia. Semua pengeluaran klub sudah diatur secara rasional dan sesuai kebutuhan,” kata Direktur Kompetisi Badan Liga Indonesia (BLI) Joko Driyono. Namun, sayangnya sampai saat ini, “referensi” dimaksud belum kunjung terbit.

Risiko Korupsi dalam Penggunaan Dana APBD

Penggunaan dana dari APBD untuk klub sepak bola selalu mengandung risiko yang besar. Beberapa penyebabnya adalah:

  • Ketidaklengkapan atau ketidakjelasan regulasi dan pengaturan secara teknis pengelolaan dana yang bersumber dari APBD oleh “pihak luar”. Kebanyakan Pemda tidak mengatur secara ekplisit dan tegas penggunaan dana yang bersumber dari APBD ini, terutama di dalam Perda dan peraturan kepala daerah.
  • Ketidakpahaman atau pengabaian atas peraturan dan mekanisme pengelolaan keuangan daerah oleh penerima dana, sehingga menjadi temuan ketikda dilakukan pemeriksaan terhadap pengelolaan keuangan daerah oleh BPK dan kejaksaan/polisi.
  • Ketidaksinkronan antara peraturan di daerah dengan peraturan dari Pusat (Permendagri).

Beberapa kasus korupsi sehubungan dengan dana untuk klub sepak bola yang menjerat pejabat daerah mulai bermunculan. Misalnya di Kabupaten Palalawan, Riau terkait dugaan korupsi dana bantuan KONI Pelalawan sebesar Rp4 miliar (Riau Mandiri, 6/3/2010). Bantuan untuk KONI Pelalawan tersebut yang terealisasi hanya Rp530 juta ditambah Rp1,5 miliar untuk PS Pelalawan. Jika dijumlahkan sekitar Rp2,030 miliar, sedangkan sisanya Rp1,970 miliar tidak diketahui kemana digunakan. Ironisnya, uang senilai Rp4 miliar tersebut sudah dicairkan semuanya. LSM IMD yang melaporkan kasus tersebut ke Kejaksaan Tinggi Riau beranggapan bahwa hal tersebut nyata-nyata melanggar Peraturan Menteri Dalam Negeri No 59/2007 dan SE Mendagri No 900/26/SJ/2007. Yang diperiksa oleh Kejati termasuk Ketua DPRD Pelalawan Agustiar dalam kapasitasnya sebagai Sekretaris KONI Pelalawan.

================================================

Tulisan Terkait:

PSSI Bakal Keluarkan Rancangan Pembiayaan Klub Bola (Harian Umum Pakuan, Senin, 27 Juli 2009).
Kejati Kantongi Dua Nama Tersangka Korupsi KONI (Riau Mandiri, Sabtu 6 Maret 2010).

3 Komentar leave one →
  1. Juli 9, 2010 6:10 am

    Tsamina mina eh, eh
    Waka waka eh, eh
    Tsamina mina zangalewa
    This time for Africa

    salam kenal ya…

  2. Agustus 30, 2010 8:46 am

    saya sangat malu melihat klub klub indonesia yang masih seperti ini terus, kenapa sebagian besar klub indonesai masih menggunakan APBD.setiap tahunya miliaran uang rakyat mengalir ke klub, tapi prestasi minim. sebenarnya indonesia mempunyai potensi sangat besar dalam mengelola sepka bola sebagai bisnis ,klub klub indonesia punya fans yang sangat luar biasa ,itu adalah modal utama untuk membangun kerajaan bisnis sepak bola.bukan tidak mungkin klub klub indonesia go public dengan masuk dalam BEI ‘ tapi sayang para kepala daerah tak berpikir sejauh itu,mereka hanya punya jalan instan dengan mengemis uang rakyat.tapi gimana ya ketua PSSI ja korupsi

  3. Agustus 30, 2010 8:48 am

    hubungi saya ke nomor ni ;081934240173. bila ingin tau cra mengelola bisnis sepak bola

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: