Skip to content

Istri Pejabat Itu Bukanlah Pejabat

Mei 26, 2010

Tubagud Januar Soemawinata (Universitas Nasional)

ADA sindiran berjudul ‘Suami-suami Takut Istri’. Nampaknya, hal ini menjadi benar karena kebanyakan pejabat takut istrinya. Ini berbahaya, bagi sang pejabat yang beristri kurang penuh imamnya dan separuh moral pengabdiannya kepada bangsa dan Negara. Sebab, sifat manusia yang sedang berkuasa cenderung ingin menumpuk harta dan kekayaan serta menyalahgunakan kekuasaan (abuse of power). Apalagi, yang tidak tahan terhadap godaan setan. Maklum, meski awalnya sang suami adalah sosok pejabat yang jujur dan amanat, tapi lama kelamaan bias menjadi curang dan khianat akibat penagruh sang istri yang mendampinginya.

Pengaruh istri sangatlah besar bagi seorang pejabat. Kalau sang istri memiliki sifai yang rakus dan serakah, maka ia bisa mendorong suaminya untuk menyimpang dari kewenangan jabatannya. Tak pelak, suami pun terjerumus korupsi jika menuruti istri yang kemaruk harta dan ‘surga dunia’. Akhirnya, suami melakukan KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) yang diharamkan era reformasi. Suap dari mana pun selalu di nanti-nanti.  Sebaliknya, bagi pejabat yang beristri cukup imam dan memiliki moral lumayan, pastilah ia selalu mencagah suaminya apabila hendak melangkah kedalam kesalahan. Melarang suami menerima suap dan berbuat korup. Karena sadar bahwa jabatan adalah amanat kepercayaan yang diberikan rakyat serta titipan Tuhan.

Menilik istri-istri sang pejabat, marilah kita tengok perilaku Almarhumah Hasri Ainun Habibie, istri mantan Presiden BJ Habibie. Sebagai Ibu Negara dia sadar bahwa istri pejabat bukanlah pejabat yang ikutan mengatur tugas suaminya. Saat menjadi istri Presiden, Ainun tidak pernah campur tangan terhadap tugas negara dari BJ Habibie. Ia hanya melayani kebutuhan fisik maupun batin yang diperlukan sang suami. Bahkan, di mata Wakil Presiden Hamzah Haz, Ainun Habibie adalah seorang yang tidak pernah lelah membantu perjuangan suaminya. Almarhumah selalu setia mendampingi suami meskipun sudah tak lagi menjadi pejabat negara. “Beliau seorang wanita yang senantiasa mendampingi suami. Beliau juga terus membantu perjuangan Bapak. Tidak hanya saat Bapak menjabat menjadi Presiden atau pun Wakil Presiden,” ucap Hamzah usai melayat di rumah duka Jalan Patra Kuningan XIII, Jakarta, Selasa (25/5/2010), seperti dikutip detik.com.

Hamzah pun mengenang kala laporan pertanggungjawaban BJ Habibie ditolak oleh MPR pada 1999. Ainun memberikan support yang luar biasa. “Saat itu saya menjadi menteri beliau,” kata Hamzah yang menjadi Menteri Negara Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di kabinet Presiden BJ Habibie.  Lantas bagaimana dengan istri pejabat sekarang? Nampakntya, tidak hanya mengatur sanag suami, malah menempatkan dirinya sebagai pejabat. Inilah istri yang lupa daratan dan mabuk kekuasaan. Suaminya diperalat untuk menyalahgunakan jabatan. Siapa pun orang yang ingin mendapat jabatan, harus mendekatai sang istri dulu untuk direkomendasikan kepada suaminya yang menjadi pejabat. Alhasil, suaminya tak bisa menempatkan pejabat profesional sesuai the right man on the right place (orang yang tepat pada jabatan yang tepat) akibat hanya menurut sang istri. Terlebih, apabila dia masuk kategori ‘Suami-suami takut istri”.

Hendaklah, para istri pejabat meniru kesahajaan dan moralitas Almarhumah Hasri Ainun. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) pun menilai sosok istri Habibie ini santun dan keharmonisan dalam membangun rumah tangga dapat dijadikan contoh bagi pejabat negara. “Pak Habibie dan almarhumah contoh keluarga yang harmonis, ini bisa menjadi contoh yang baik untuk pejabat negara. Saya sangat terharu dengan contoh keluarga almarhumah,” kata JK saat melayat ke rumah duka. Semasa hidupnya sosok Ainun Habibie di mata ketua Palang Merah Indonesia sangat dihormati karena kesantunannya. “Melihat sosok beliau, saya menghormati almarhumah. Bukan karean beliau sebagai Ibu Negara tapi karena beliau ibu yang menjadi harapan dan dambaan setiap orang. Beliau sangat lemah lembut,” imbuhnya.

Ketua Umum Partai Hanura Wiranto pun menilai, sosok Ainun Habibie adalah pendamping suami yang baik. “Ia adalah pendamping suami yang baik dengan cara-cara yang baik,” tutur Wiranto usai melayat di rumah duka. Tak hanya berjasa ketika maish hidup, setelah meninggal pun Hasri Ainun Habibie menyumbangkan jasa untuk kemaslahatan umat, yakni kornea matanya didonorkan kepada orang yang matanya buta, dan kini pun dia sudah langsung bisa melihat. Semasa hidupnya, Ainun Habibie memang berharap fatwa donor mata ‘naik derajat’ dari diperbolehkan menjadi dianjurkan. Menkum HAM Patrialis Akbar menilai usulan itu harus diapresiasi. “Kita sangat menghormati dan menghargai itu. Ini adalah bentuk pemikiran beliau terhadap kemanusiaan. Tentu kita ingin pemikiran ini bisa disebarluaskan,” ujar Patrialis di rumah duka.

Patrialis melihat Ainun adalah teladan yang patut dicontoh. “Beliau hamba Allah yang salehah. Sudah berpuluh kali khatam Al Quran. Kita sangat kehilangan sosok seorang teladan,” ungkap mantan politisi PAN ini. Ainun tercatat sebagai sarjana kedokteran dari UI. Sebelum menikah dengan Habibie, dia bekerja di RSCM. Semasa hidup, dia aktif di Yayasan Bank Mata dan Yayasan Beasiswa Orbit. Meski pernah menjadi seorang ibu negara, namun tidak membuat sosok istri mantan Presiden BJ Habibie, Ainun Habibie merasa congkak, arogan dan sombong. Bahkan sampai akhir hayatnya, almarhumah tidak pernah mencampuri urusan pribadi keluarganya dengan urusan negara. Tidak seeperti sebagian istri pejabat kita, mereka suka mencampuri urusan suaminya dan bahkan ikut menempatkan diris ebagai pejabat. Padahal, istri pejabat bukanlah seorang pejabat pula?!

Sikap Ainun Habibie yang tyak pernah mencampuri usuran jabatan suaminya ini diakui oleh artis Dinma Mariana, sehingga istri mantan Presiden Habibie ini bias dijadikan suri tauladan dalam bersikap. “Dia (Hasri Ainun) juga selalu mengikuti suaminya dan tidak pernah mencampuri urusan negara dengan urusan pribadi, itu terjadi saat suami beliau menjadi menteri dan Presiden,” ujar artis Dina Mariana saat ditemui usai pemakaman Ibu Ainun Habibie di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa (25/05) siang. Ketua PARFI Yenny Rachman pun menilai Almarhumah Hasri Ainun sebagai istri pejabat yang memiliki sifat yang sederhana dan rendah hati serta bisa menjadi panutan bagi masyarakat. Beliau itu mencerminkan ibu yang tidak tamak, rendah hati, ramah ya. Orangnya juga sangat sederhana, benar-benar sosok ibu yang patut kita contoh. Saya mengagumi sosok beliau saat jadi ibu negara,” ungkapnya saat pemakaman, seperti dikutip sebuah situs berita.

Nampaknya, belum ada ibu negara yang berpendidikan tinggi seperti dia yang peduli benar-benar pada sesamanya.Yayasan- yayasan yang didirikannya benar-benar dibuat untuk membantu sesama bukan sebagai kedok cuci uang buat kepentingan politik. Manfaatnya sudah banyak yang merasakan, paling tidak orang-orang kurang mampu yang memiliki keinginan dan kemampuan untuk sekolah tinggi. Bahkan, sebelum meninggal dia pun berwasiat kepada para tamu yang melayat untuk lebih mempedulikan yayasan-yayasannya dan menyumbangkan uang yang biasa dibeli untuk karangan bunga untuk disumbangkan buat yayasannya. Habibie pun buat para wartawan adalah peletak demokrasi sesungguhnya, karena dialah maka kita pers bebas menulis seperti sekarang dan tidak lagi takut diintimidasi untuk menyuarakan kebenaran.Sayang beliau tidak mau lagi terjun ke dunia politik pasca dilengserkan oleh Amien Rais Cs yang pada akhirnya diduga juga tidak berbeda ambisi kekuasannya dengan orde baru. Akibat permainan politik dari orang-orang yang hanya mengejar kekuasaan duniawi itulah,maka pengorbanan banyak  dari bangsa ini seperti hilang tiada bekas.

Selamat jalan Ibu Ainun, semoga diampuni segala dosamu dan diterima semua amal ibadahmu. Engkaulah istri pejabat tauladan yang mengerti dan paham bahwa istri pejabat itu bukanlah pejabat. Paslanya, istri pejabat yang punya sikap jelek, akan menyuruh suaminya memanfaatkan jabatannya. Keruk kekayaan sana sini, rebut jabatan di tingkatan mana pun untuk diiduduki oleh sanak keluarga, famili dan kerabatnya.  Nepotisme di jabatan politik, ekonomi maupun jabatan struktural apa pun yang menghasilan keuntungan. Suami tak berdaya akibat takut istri, jabatannya dibuat barang jualan. Pejabat yang benar, adalah yang berani membentak istrinya tatkala disuruh berbuat korup dan melakukan KKN. Sebab, suami adalah kepala keluarga sekaligus pemimpin bagi istrinya, sehingga akan dimintai pertanggungjawaban di dunia maupun di akhirat kelak. Lantas bagaimana dengan para istri pejabat kita sekarang? Silakan menilai sendiri!  (*)

Sumber: Jakartapress.com.

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. jutaajrullah permalink
    Juni 16, 2010 10:59 am

    Istri pejabat memang bukan pejabat, tapi seringkali jadi “stakeholder” pejabat.. 😀

  2. sesuatu... permalink
    Februari 2, 2012 1:31 pm

    Lantas bagaimana dengan istri pejabat sekarang? Nampakntya, tidak hanya mengatur sanag suami, malah menempatkan dirinya sebagai pejabat. Inilah istri yang lupa daratan dan mabuk kekuasaan. Suaminya diperalat untuk menyalahgunakan jabatan. Siapa pun orang yang ingin mendapat jabatan, harus mendekatai sang istri dulu untuk direkomendasikan kepada suaminya yang menjadi pejabat. Alhasil, suaminya tak bisa menempatkan pejabat profesional sesuai the right man on the right place (orang yang tepat pada jabatan yang tepat) akibat hanya menurut sang istri. Terlebih, apabila dia masuk kategori ‘Suami-suami takut istri”.

    saya ingin menutip dari tulisan diatas…..sungguh mengerikan sekali…akan dibawa kemana negara ini…????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: