Skip to content

Skandal Century: Alpa atau Sengaja

Maret 1, 2010

Selain menuai kritik atas tingkah polah tak elok sebagian anggotanya, ada catatan keberhasilan Panitia Khusus Hak Angket Bank Century: menemukan bahwa pengawasan bank di Indonesia amburadul. Berbilang tahun Century, bank milik keluarga Robert Tantular, digangsir pemiliknya tanpa pence- gahan berarti Bank Indonesia. Panitia Khusus–berdasarkan pasokan data dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan–menguak aneka modus “penjarahan” yang membuat kas bank itu keropos. Penyelamatan bank “kurus kering”ini pada November 2008 dengan Rp 6,7 triliun oleh pemerintah menim- bulkan kalibut berkepanjangan.

Akibat Bank Indonesia tidak mengendus permainan pemilik Century itu cukup parah. Nasabah “kakap”dibujuk menanamkan duit dalam Antaboga. Investasi “abal-abal” ini mudah ditebak ujungnya: ratusan nasabah gigit jari. Lebih dari Rp 1,4 triliun dana nasabah Antaboga menguap. Keluarga Robert Tantular diduga juga telah menggangsir banknya dengan menciptakan pinjaman dan kredit pembiayaan ekspor fiktif melalui kerja sama dengan pihak lain.

Sungguh keterlaluan jika benar setelah penyela- matan pun brankas Century masih juga bobol. Diduga, pada 14 November 2008, ketika Bank Indonesia mengucurkan fasilitas pendanaan jangka pendek senilai Rp 689,4 miliar untuk menolong Century, duit justru mengalir ke sejumlah rekening yang berkaitan dengan keluarga Tantular. Ditengarai tipu-menipu dijalankan, umpamanya, memakai “rekening tidur” nasabah dengan memalsukan data simpanan untuk kemudian dicairkan oleh pemilik bank. Bisa jadi cara lain adalah memecah rekening perusahaan-perusahaan yang diduga terkait dengan Robert Tantular agar dana yang dikucurkan Bank Indonesia itu cair.

Perilaku ini seperti epilog sejarah panjang penjarahan bank oleh pemilik dibantu pengelolanya. Kejahatan itu bahkan sudah dimulai ketika mereka memiliki Bank CIC–cikal bakal Century bersama Pikko dan Danpac. Bank ini diketahui banyak mengalirkan kredit ke kelompok sendiri. Kredit itu kemudian macet dan rasio modal CIC jeblok sampai minus 60 persen. Praktek ini sebetulnya sudah diketahui Bank Indonesia pada 2002, tapi entah bagaimana caranya bank ini selamat dan bahkan bank sentral menyetujui rencana merger Century pada 2005.

Peribahasa “api kecil baik padam”rupanya tak populer di Bank Indonesia dalam kasus Century. Karena tak ditumpas sejak awal, praktek buruk menjadi-jadi. Semua ini sangat disesalkan luput dari pengawasan Bank Indonesia. Dengan riwayat perilaku pemilik bank yang belepotan pelanggaran aturan, bank sentral mestinya lebih waspada.

“Kealpaan”Bank Indonesia ini terus terang mencurigakan. Jangan-jangan perilaku tercela keluarga Robert sengaja dibiarkan oleh para pengawas Bank Indonesia. Dalam sejumlah kasus terlihat bahwa para pengawas sudah menjalankan pekerjaannya dengan baik, tapi laporan mereka ternyata “beku”di meja pimpinan. Ini saat yang tepat bagi bank sentral untuk melakukan evaluasi internal. Praktek tercela harus disingkirkan. Good governance tak bisa ditawar-tawar. Bank Indonesia harus mereformasi diri.

Bila ditemukan indikasi suap atau korupsi dalam kasus Century, aparat hukum harus bertindak. Satu kasus Century sudah lebih dari cukup untuk mengharuskan Bank Indonesia berbenah diri.

Sumber: Koran Tempo (1 Maret 2010)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: