Skip to content

Jeruk Makan Jeruk

Februari 14, 2010

(surat terbuka untuk Otto)

UNTUK sahabatku Otto Syamsuddin Ishak, surat inisaya tujukan setelah sekian lama tidak saling berkomunikasi karena kesibukan. Saya sibuk mengajar dan membimbing mahasiswa, sedangkan sobat saya Otto mempunyai kesibukan yang sangat padat di luar kampus Unsyiah. Makin nyata ketika janji yang disetujui oleh calon pegawai (dosen) saat diangkat menjadi dosen ternyata tak berbanding lurus dengan nilai-nilai moral dan etika, karena sistem perekrutan dosen yang notabene titipan dari para pendiri Universitas syiah Kuala.
Hal ini dapat dilihat dari berbagai aspek yang ada dalam diri dosen yang bersangkutan. Saya ingin nyatakan, bahwa kritik itu tak dilarang karena tak haram. Seperti dilakukan sobat Otto yang sudah mempunyai reputasi nasional dengan  mengkritik rezim Darni Daud. Sayangnya Otto lupa kalau ia bekerja atau memang tidak tercatat lagi sebagai sivitas akademika Unsyiah. Maka saya ingin bertanya; “apakah anda masih menganggap diri anda sebagai dosen Unsyiah?” Kenapa hal ini perlu diperjelas, karena menurut info yang saya peroleh dari  fakultas pertanian tempat anda mengajar, sudah begitu lama tidak aktif. Mungkin sesekali anda sediakan waktu untuk mengawas ujian penerimaan mahasiswa baru sebagai bentuk pengabdian kepada universitas.  Mungkin perlu bertanya, apakah gaji yang anda peroleh atau terima itu yang menurut fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) termasuk dalam  katagori halal?

Sungguh aneh jika anda masih menganggap sebagai sivitas akademika Unsyiah. Nama pembantu rektor I saja anda tidak tahu, dan saya juga masih ragu, apakah anda tahu siapa dekan dan para pembantu dekan fakultas pertanian yang sekarang ini?” Ini akan aneh jika kemudian anda tahu segala sesuatu yangterjadi di universitas , sementara anda tidak pernah terlibat di dalamnya. Baik itu dalam proses belajar mengajar, maupun membimbing mahasiswa praktikum. Apalagi kritikan itu tanpa memberikan solusi. Mengenai akreditasi Unsyiah yang mendapat nilai C, saya anggap itu wajar. Indikatornya dapat dilihat dari fasilitas yang ada di fakultas. Seperti kursi dan meja tempat duduk , penghapus papan tulis atau mimbar untuk dosen tidak tersedia .Kadang-kadang mahasiswa minta maaf kepada kami sewaktu mengajar. Maaf kursi , meja dan lainnya tidak sesuai dengan harapan bapak. Mengenai honor di fakultas tertentu di FKIP, misalnya untuk dua SKS dibayar tidak lebih dari Rp 10.000,  “wajarkah seorang dosen dihargai sebesar itu?” Karenanya, pihak fakultas jangan “menekan” dosen untuk mengajar secara maksimal di fakultas.

Fakta, bagi dosen yang selama ini aktif, sering ditekan, namun bagaimana dosen yang sudah 20 tahun tidak pernah mengajar? Jangankan mengajar sebagai kewajiban mereka, batang hidungpun tidak pernah tampak di kampus, kecuali baru ramai ketika ada pemilihan dekan atau urus kepangkatan. Banyak dosen semacam itu mereka aktif di lembaga lain (NGO atau LSM lainnya) atau mengajar di perguruan tinggi swasta tanpa ada izin perguruan tinggi, dan samasekali tidak ada konstribusi untuk Unsyiah.

Namun ini tidak pernah menjadi perhatian pimpinan di fakultas, bahkan tidak pernah menegur. Lalu, apakah gaji yang selama ini mereka terima tergolong “halal” atau “haram”. Mungkin saja dosen bersangkutan menganggap seperti Ban ka ditoeh aneuk kameng jih, peu mate  aneuk kameng loen. Maka ketika akreditasi Unsyiah saat ini nilainya C, sebenarnya karena pihak fakultas juga mempunyai andil cukup besar.  Kenapa, karena semua kegiatan dan informasi itu datang dari fakultas. Buktinya, ketika tim akreditasi datang meninjau pada pukul 09.00, tidak ada seorang pun dekanat yang menunggu di fakultas. Dan pihak fakultas yang mencurhat yang tidak begitu penting pada tim akreditasi. Maka saya yakin Otto tidak mengetahui hal ini, karena anda memang tidak pernah ada di kampus.

Rezim “politiking”
Perlu diketahui, keberadaan fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) seperti ditulis  Otto, sebenarnya wacananya sudah 30 tahun lalu ketika Prof Ibrahim Hasan (almarhum) menjabat rektor Unsyiah, dan  kita masih kuliah di Yogyakarta. Untuk membangun sebuah fakutas, bukan pekerjaan yang semudah membalik telapak tangan. Maka dari mana anda tahu yang memimpin pusat studi ilmu-ilmu sosial orang-orang yang tidak berkompeten untuk itu. Jika pun perlu kritik, seharusnya tidak seperti ala warung kopi, tapi kritik haruslah mendidik, karena sangat tidak bermoral jika kita sebagai akademisi.

* Dr. Alamsyah Taher, M.Si adalah dosen Universitas Syiah Kuala.

Sumber: Serambi Indonesia (13 Februari 2010)
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: