Skip to content

“Pil Saridon” Untuk Otto (Menanggapi Unsyiah Bernilai Santing)

Februari 11, 2010

Ishak Hasan

TULISAN Otto Syamsuddin Ishak (Serambi, 8 Februari 2010) berjudul “Akreditasi Tidak Penting? Unsyiah Bernilai Santing!”, bagi sebagian orang mungkin mempesona. Tapi bagi sebagian yang lain, menilainya sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Karena memang Otto memiliki gaya menulis seperti itu. Kecuali bagi pihak-pihak yang senang dan apalagi ingin memetik manfaat dengan gaya tulisannya.

Otto kali ini seperti mengulangi kembali “gaya menelanjangi” yang pernah dibuatnya beberapa tahun lalu yang juga dimuat di harian ini. Tulisan bergaya “menelanjangi”, tanpa solusi telah pernah pula ditanggapi  oleh Profesor Jasman J. Makruf saat itu yang mengatakan Otto “bagaikan menelanjangi orangtuanya sendiri” ketika Otto mengkritisi kepemimpinan Almarhum Profesor Alibasyah Amin dengan judul; “Unsyiah, Universitas Walak-walak”.

Ketika itu, tulisan Otto masih bisa dimengerti, walau sarat dengan nafas emosional, tendensius, dan bahkan bombastis, mungkin saat itu ia relatif masih muda yang masih mencari jatidirinya di dunia akademik, tentu gaya seperti itu sangat mempesona. Akan tetapi bagi saya tulisan Otto kali ini bernilai merah, jauh berada di luar frame pemikirannya yang sehat. Entah ia ingin “peuglah urat” atau “Otto ka salah jeup ubat”. Maka sangat pantas kali ini “Pil Saridon diberikan untuk Otto”.

Saya mengenal Otto Syamsuddin Ishak ketika masih berstatus sebagai Dosen FKIP Universitas Syiah Kuala. Isteri beliau Dyah P. Rahmani si penulis buku “Rumoh Geudong” adalah teman saya di program studi Pendidikan Ekonomi.  Saat itu beliau mengampu mata kuliah Geografi Ekonomi. Mereka berdua alumnus Universitas Gadjah Mada Yoyakarta  bidang Ilmu Geografi. Sebelum pindah ke Fakultas Pertanian Otto tercatat sebagai Dosen pada Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unsyiah. Saat ini ia banyak mendalami kajian bidang Sosiologi. Dalam bidang terakhir inilah Otto mendapat tempat dan aktualisasi diri. Tulisannya kemudian banyak tersebar di media massa, khususnya menulis tentang dinamika sosial untuk konteks masyarakat Aceh.

Ada catatan penting dari diri seorang Otto sebagai  seorang dosen. Sejak diangkat menjadi tenaga edukatif di Unsyiah, baik di FKIP maupun di Fakultas Pertanian, dalam pantauan teman-teman, Otto lebih banyak berkontribusi di luar institusinya dibandingkan mengabdikan dirinya di dunia akademik secara sungguh-sungguh di Universitas Syiah Kuala. Padahal dengan jalan pikirannya yang demikian ia dapat menjadi inovator di lembaganya. Tentu paling tidak dapat mencalonkan diri menjadi pimpinan tertinggi semisal menjadi dekan atau rektor di Unsyiah, agar lembaga ini semakin lebih maju lagi. Akan tetapi sangat disayangkan dalam perjalanannya ia lantas kemudian bermetamorfosa sebagai sosok “lagee seungko peuceuko paya” (bagaikan ikan lele mengeruhkan payau). Akibat kondisi yang demikian maka Otto sangat kurang menularkan semangat inovasinya dalam perbaikan institusi, dan bahkan juga kurang membekali mahasiswanya untuk menjadi mahasiswa yang santun, berilmu, dan menularkan akhlak terpuji.

Di masa konflik Aceh, Otto banyak mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah pusat dengan berkedok “HAM”, demokratisasi dan lain-lain menurut seleranya Otto. Setelah mengkritisi, Otto kurang memberi solusi,  apalagi terlibat dalam perbaikan situasi yang ada. Ia bahkan mengasingkan diri di luar Aceh. Ini merupakan tingkahlaku Otto yang kurang layak untuk diikuti. Seharusnya ia bersama-sama memperbaiki situasi yang ada menuju kepada kehidupan yang lebih baik, bukannya memojokkan pihak-pihak tertentu.

Prasangka buruk

Tulisan ini tidak hendak memojokkan Otto, dan di sisi yang lain tidak hendak membela pihak universitas (?) Tulisan ini semata-mata hanya ingin menanggapi beberapa catatan penting dalam tulisan Otto yang dianggap bernada miring dan bahkan merugikan beberapa pihak. Entah Otto menulisnya dalam kondisi “Santing, Pening atau juga kehilangan Taring”.  Lebih baik kita lupakan saja apa motifnya Otto.

Catatan penting itu diantaranya; Pertama, Otto dengan kurang santun mengatakan kepemimpian Unsyiah  Darni Daud sebagai sebuah rezim, dengan konotasi negatif. Pemberiaan label ini tentu kurang tepat. Diperkirakan konsep ini diadopsi dengan begitu gamblang oleh Otto dalam dunia sosiologi yang ia tekuni. Ia lantas mendrive karakter dan ciri-ciri yang luas ini ke dunia yang begitu sempit. Ini memperlihatkan kedangkalan pisau analisis Otto.

Sebenarnya Otto dapat mengatakan bahwa perkataan “rezim” dapat dicari kata yang lebih beretika, misalnya di bawah “Kepemimpinan Darni” perlu ada perubahan-perubahan yang mendasar, agar Unsyiah dapat menuju menjadi perguruan tinggi yang bermutu dan disegani. Tetapi hal ini tidak pernah didiskusikan secara terbuka dengan senat, akademisi dan pengambil-pengambil kebijakan di Unsyiah. Dalam hal ini Otto tentu masih perlu diberikan pendidikan lanjutan guna memperbaharui pengetahuan teori sosiologinya agar tidak ketinggalan kereta.

Kedua, berkaitan dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang penempatan pimpinan dan beberapa jabatan di dalamnya tidak sesuai dengan bidang ilmu yang ada. Dalam hal ini tentunya Otto bisa bercermin dengan kondisi yang ada, bahwa sebagai sebuah fakultas yang baru tumbuh tentu sumberdaya manusia yang tersedia belumlah mencukupi. Dalam kondisi keterbatasan yang demikian tuntutan idealisme tidaklah selalu mutlak, dan lagi pula yang mau bekerja dalam kondisi keterbatasan sangatlah sedikit pula. Ketika semua sudah ada hasil  barulah ada orang-orang yang mau menampakkan diri untuk memetik hasilnya, ini tentu tidak pantas terjadi. Sebaliknya yang harus tejadi adalah bagaimana dalam keadaan susah payah secara bersama-sama bersinergi memperbaiki keadaan, bukannya menghujat, berprasangka buruk.

Memang diakui masih banyak hal yang perlu diperbaiki di Unsyiah sebagai sebuah institusi pendidikan tinggi. Unsyiah perlu melakukan instrospeksi diri dalam hal; (a) Kekompakan pada semua lini, terutama antara Dekan dengan Rektorat  dan juga senat bukan dengan cara menampakkan egosektoral; (b) Perlu perbaikan sistem keuangan yang lebih lebih baik dengan  otonomi fakultas dalam merencanakan sumberdayanya, termasuk penggunaan dana secara desentralisasi; (c) Perlu dipikirkan subsidi silang dana dari fakultas yang surplus dengan yang minim agar fakultas yang kecil dan baru tumbuh dapat berkembang menjadi lebih baik, hal ini tidak lain karena semua fakultas dan bidang ilmu yang kita kembangkan merupakan aset kita bersama. Jangan memandang fakultas yang baru sebagai bidang yang tidak perlu untuk dikembangkan, pandangan ini perlu disampaikan karena ada teman di Unsyiah saat ini memangku sebagai pimpinan tetapi pikirannya jauh masih sangat lokal; (d) Perlu penataan keindahan, kebersihan dan kenyamanan lingkungan kampus secara profesional.

* Dr Ishak Hasan MSi adalah dosen pada Pendidikan Ekonomi FKIP Unsyiah.

Sumber: Serambi Indonesia (10 Februari 2010)  

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: