Skip to content

Mengapa Banyak Uang di Rekening Giro Bank Aceh (BPD)?

Desember 30, 2009

Jika kita amati Giro pada laporan keuangan Bank BPD Aceh, giro yang mengendap setiap waktu diatas 5 triliun rupiah, tidak pernah kurang dari nilai tersebut diatas. September 2009 ada 5,4 Triliun Rupiah, Desember 2008 6,4 Triliun Rupiah.

Nah pertanyaannya sekarang siapa pemilik giro tersebut, karena dapat dipastikan bahwa Giro tersebut bukan milik swasta, mengingat tidak ada swasta punya duit sebaik itu di Aceh, dan tidak ada jumlah perusahaan yang cukup besar di Aceh sehingga terakumulasi dana Giro sebesar itu.

Dengan asumsi diatas maka dapat diduga dana tersebut adalah milik pemerintah daerah Aceh, pertanyaan selanjutnya Pemda mana ? Jika jawabannya Pemda Pidie, Kasnya Kosong. Aceh Utara kasnya kosong melompong karena sebesar 420 Miliar Rupiah masih tersangkut perkara dugaan perampokan uang rakyat oleh “para bedebah” yang ditangani Polda Metro Jaya dan hingga kini masih dalam proses persidangan para terdakwa di Jakarta, Bireuen kosong bahkan minus, Aceh Selatan Kosong…nah pemda lain adalah pemda-pemda yang tidak memiliki anggaran besar. Jika demikian tentu besar kemungkinan giro tersebut adalah milik Pemerintah Aceh.

Mengapa Pemerintah Aceh tidak mengelola kasnya secara baik sehingga dapat mendatangkan paling tidak 200 – 300 milyar per tahun. Giro yang ditempatkan di BPD hanya diberikan jasa giro 1%, bandingkan kalo sebagaian dana tersebut (90%) ditempatakan dalam deposito dengan bunga 6% s/d 7%, maka 296,1milyar dan lebih setiap tahun dapat menjadi tambahan bagi PAD, dan dana tersebut dapat diperuntukkan untuk kesehatan, pendidikan dan perekonomian masyarakat.

Bila dana tersebut dikelola dengan baik returnnya bisa lebih dari 10% karena sebagain dapat ditempatkan di SUN dan surat berharga lain yang resikonya dapat dikelola dengan baik. Dasar pengelolaan kas adalah, menciptakan return yang baik namun likuiditas pemda terjaga, hal ini yang tidak dilakukan Pemerintah Aceh.

Kita layak mengajukan protes karena dana sebesar itu seharusnya dapat dinikmati oleh masyarakat banyak lewat APBA, bukan dinikmati oleh segelintir orang pejabat pemerintah Aceh, dan dengan dana semurah itu maka keuntungan BPD akan luar biasa, tanpa harus kerja keras, siapa yang diuntungkan yang pasti segenap jajaran BPD, komisaris utama yaitu Sekda dan pejabat lain yang kita yakini mendapat imbalan yang luar biasa dari pengelolaan kas yang sangat Dzhalim.

Data tersebuat diatas adalah berdasarkan laporan keuangan bank BPD Aceh per 31 September 2009, yang coba kita angkat kemungkinan-kemungkinnya. Dalam banyak informasi berdar Dirut Bank BPD Aceh adalah salah satu target sasaran yang akan diganti oleh Irwandi Yusuf ketika dia baru terpilih menjadi gubernur Aceh, tapi apa lacur, sampai saat ini dirut lama itu tetap bertahan, ada apa ? Ini adalah pertanyaan yang sulit terjawab, pasti ada sesuatu dan hanya mereka berdua yang paling tahu.

Rumors yang beredar ternyata bukan hanya sekedar dapat imbalan secara sepihak, tapi pemerintah Aceh membiarkan dana triliunan rupiah tersebut tetap berada dalam giro yang returnnya sangat kecil, dalam kondisi ini keuangan daerah telah dirugikan antara 200 milyar sampai 300 milyar setiap tahun karena pengelolaan kas yang tidak benar, dalam kondisi ini pemerintah Aceh telah memperkaya pihak lain, dapat diduga pemerintah Aceh telah melakukan korupsi.

Saya berharap publik terbuka matanya melihat kondisi yang terjadi di Aceh saat ini, saya tidak melihat masa depan yang cerah bagi Aceh ke depan, kita berada dalam lorong sempit tanpa cahaya. Kita tak pernah tahu apakah lorong gelap ini memiliki ujung atau tidak. Seharusnya Gubernur Irwandi Yusuf jangan hanya terpaku pada cara-cara berfikir taktis yang hanya akan mampu menyelesaikan masalah “day to day”, ketika tidak mampu menyelesaikan suatu persoalan malah marah-marah. Namun sebagai seorang pemimpin yang dipilih oleh rakyat gubernur juga harus punya cara pandang strategis yang jauh ke depan. Agak berlebihan rasanya jika penulis memberikan suatu komparasi cara berfikir masyarakat Jepang, dimana para ilmuan dan tenaga ahli Jepang sudah memikirkan bagaimana menciptakan suatu solusi jauh-jauh hari sebelum masalah datang. Singkatnya mereka sedang menciptakan obat untuk menghadapai suatu penyakit yang belum ketahuan namanya. Akankah masyarakat Aceh terus menerus dalam pembodohan ?

*Ismuha di Peusangan (Narapidana Politik Aceh yang masih ditahan di pulau Jawa).

Sumber: Sinar Aceh.

5 Komentar leave one →
  1. amrullah permalink
    Januari 15, 2010 12:05 pm

    ironis memang, pemimpin kita masih dapat diperbudak dengan benda tak bernyawa ,tak punya panca indra dan tak punya hati nurani untuk menahan sedikit hobbynya dibawah kemewahan rakyat yang menunggu kegemilangan Aceh masa lampau.

  2. Januari 16, 2010 6:13 am

    Amrullah

    Jabatan, kekuasaan, dan keadaan (yang serba materialistis) menyebabkan banyak orang lupa akan esensi kehidupan sekarang ini. Aceh yang kaya ternyata tidak berdampak pada kemakmuran rakyatnya. Aceh tak ada bedanya dengan provinsi lain yang selama ini disebut provinsi miskin…

  3. novia permalink
    Maret 9, 2010 2:21 pm

    Ciri khas Bangsa Indonesia – Damaged Mentality. LihatBangsa Lain ! Jangan hanya saling patuk di negeri sendiri. Merasa Besar Diri Sendiri, padahal dipandang rendah oleh Bangsa Lain. Rasa Patriotisme hanya saat 17 Agustus, setelah itu Buang Sampah Sembarangan dimana mana. Kenapa Singapore, vietnam lebih bersih dari Indonesia? Ironi. Sistem Lalu Lintas dijalan Raya Berantakan! Banjir dimana mana.Waktu 100 thn kedepan tdk akan cukup buat merubah Mental Bangsa! Bangsa yg tidak menghargai Kekayaan Budaya Sendiri. Semuanya Perampok !

  4. Ismuha di Peusangan permalink
    April 6, 2010 11:57 pm

    Termakasih saya kepada Bapak Syukriy Abdullah atas kesediaan mengoleksi tulisan saya. Semoga kelak dapat menjadi bukti sejarah betapa kita telah mewariskan system yang salah kepada anak cucu.

    Sekedar informasi tambahan berikut ini saya posting link beberapa tulisan yang pernah saya coba tulis dari balik terali penjara yang menghukum saya dengan hukuman pidana penjara seumur hidup:

    http://serambinews.com/news/author/31/ismuhadi-peusangan

    Sekali lagi saya ucapkan terimakasih,

    Salam,

    Ismuha di Peusangan

  5. Noval Qadafi permalink
    November 4, 2010 9:58 am

    Ngak cocok,.!!
    Itu hanya pemikiran 1 dari 1000 masyarakat Aceh,.
    Hidup BPD Aceh, Hidup BPD Aceh,
    Hidup Bank Bank BPD Aceh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: