Skip to content

Rendahnya Serapan APBA (Catatan Saku untuk Irwandi)

Desember 22, 2009
T. Surya Darma
Di antara alat ukur keberhasilan dari kinerja satu pemerintahan, melihat berapa besarnya kemampuan untuk menyerap anggaran yang telah direncanakan di dalam ABPD tersebut. Dalam konteks kedaerahan, maka satu daerah dapat dikatakan berhasil melaksanakan program dan kegiatan pembangunan apabila anggaran belanjanya dapat diserap secara maksimal. Catatan, bahwa kegiatan yang dihasilkan harus memiliki kualitas sesuai dengan standar pekerjaan yang baik.

Terkait dengan daya serap anggaran belanja dalam APBA, khususnya untuk anggaran dalam empat tahun terakhir sejak tahun 2006 sampai berakhirnya masa tahun anggaran 2009 ini, maka kita dihadapkan pada realitas bahwa pemerintah Aceh belum mampu memaksimalkan dana yang  “berlimpah” untuk membiayai program dan kegiatan yang telah direncanakannya. Setiap tahun prestasi yang terus menurun ditunjukkan oleh pemerintah Aceh dalam capaian prosentase serapan anggaran.

Meskipun dalam berbagai kesempatan Irwandi Yusuf selalu menyampaikan bahwa serapan anggaran belanja dalam APBA bila dilihat dari nominal mengalami peningkatan. Namun, sangat disayangkan sekaligus menjadi kekhawatiran kita, adalah apabila anggaran belanja yang tidak terserap tersebut bersumber dari pendapatan dana otonomi khusus (otsus) dan dana perimbangan yang memiliki prosentase terbesar dalam sumber pendapatan daerah.

Pascakonflik dan tsunami Aceh masa lalu, sudah pasti sangat membutuhkan perhatian besar dalam optimalisasi pembangunan semua sektor. Patut kita sampaikan rasa syukur kepada Allah swt yang telah memberikan berkah dan rezekiNya kepada rakyat Aceh melalui anggaran penerimaan yang besar dari program rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh, serta alokasi penerimaan tambahan yang bersumber dari pemerintah pusat atas status Otsus Aceh yang akan diterima selama 20 tahun dengan nilai sebesar 2 persen  setara DAU nasional untuk 15 tahun dan sebesar 1 persen untuk 5 tahun berikutnya (sejak tahun 2008).

Artinya,  upaya pembangunan dan pemulihan kondisi Aceh pasca konflik dan tsunami tidak akan mengalami hambatan berarti dari sektor finansial. Nah, tinggal apakah kita sebagai komponen rakyat Aceh mampu mendorong dan sekaligus mengawasi program dan kegiatan yang telah direncanakan dan dilaksanakan oleh pemerintah Aceh.

Tentunya pemerintah Aceh harus benar-benar memahami filosofi pemberian status otonomi khusus sebagaimana yang telah dinyatakan di dalam UU No. 11 Tahun 2006 yaitu “Pemberian otonomi seluas-luasnya di bidang politik tersebut kepada masyarakat Aceh dan mengelola pemerintahan daerah sesuai dengan prinsip good governance yaitu transparan, akuntabel, profesional, efisien, dan efektif dimaksudkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat di Aceh”.

Dalam pengelolaan dana otsus, pemerintah Aceh harus mempedomani bahwa “Dana otonomi khusus yang diterima oleh masyarakat Aceh bertujuan untuk membiayai pembangunan yang sesuai dengan batas wilayah Aceh, terutama pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi rakyat, pengentasan kemiskinan, serta pendidikan, sosial dan kesehatan”.

Kekhawatiran terhadap tidak optimalnya penggunaan dana otsus untuk program dan kegiatan pembangunan di  Aceh bukanlah tidak beralasan. Karena seorang Anggota Badan Anggaran DPR-RI Kahar Muzakkir yang melakukan kunjungan kerja ke Aceh beberapa saat yang lalu telah menyampaikan kekhawatirannya atas informasi mengenai dana otonomi khusus yang dialokasikan pada tahun anggaran 2009 baru mampu diserap oleh pemerintah Aceh hanya pada kisaran 40 persen. Realitas serapan dana otsus yang kecil ini juga diperkuat dari hasi monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh Bappeda Aceh setelah melakukan kunjungan ke berbagai daerah kabupaten/kota di Aceh.

Karenanya, tidaklah terlalu berlebihan bila ada pendapat yang mengatakan bahwa kapasitas kemampuan Pemerintah Aceh dalam serapan anggaran  sangat rendah. Artinya hal ini dapat juga dipahami bahwa program dan kegiatan pembangunan di Aceh tidak mencapai target dari yang telah direncanakan pada setiap tahunnya. Sehingga banyak kalangan yang menilai bahwa aparatur pemerintahan yang duduk didalam kabinet hasil fit and proper test oleh Gubernur Irwandi Yusuf memiliki prestasi yang buruk, bila tidak ingin dikatakan gagal. Walaupun Pemerintah Aceh telah mendapatkan penghargaan dari Menteri Dalam Negeri terkait dengan upaya reformasi birokrasi didalam tubuh pemerintahan daerah.

Reformasi sungguh-sungguh
Harus menjadi koreksi kita, sebagai rakyat Aceh agar senantiasa mengawal proses pembangunan sejak awal perencanaan sampai dengan pelaksanaan dan pertanggungjawaban pembangunan. Rakyat Aceh harus memiliki kemampuan dan kekuatan yang besar dikarenakan proses pembangunan masih berjalan dalam waktu yang sangat panjang hingga sampai pada tujuannya.Begitupula bagi Kepala Pemerintah Aceh harus selalu melakukan koreksi terhadap aparatur pelaksana satuan kerja pemerintahan mengenai rendahnya daya serap APBA pada setiap tahunnya.

Kepala pemerintah Aceh harus melakukan tindakan tegas terhadap “pembantu” -nya yang memang nyata tidak mampu menjalankan tugas pembangunan yang telah direncanakan. Sebaliknya perlu diberi “penghargaan”bagi kepala satuan kerja yang telah berhasil menyukseskan program pembangunan sehingga visi dan misi Kepala Daerah terpilih dapat terwujud. Langkah reformasi birokrasi harus dilakukan sungguh-sungguh, jangan kamuflase. Pemerintah Aceh bukan hanya diakui dan diberikan penghargaan oleh seorang Menteri, tapi juga diakui dan diberikan penghargaan oleh rakyat Aceh.

* T Surya Darma SE Ak adalah pemerhati keungan Aceh, anggota DPRA periode 2004-2009.

Sumber: Serambi Indonesia (21 December 2009)
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: