Skip to content

Koin Prita

Desember 22, 2009

Putu Setia

Konon, manusia dari sononya sudah dibekali dua pikiran yang berseberangan. Ada pikiran buruk, ada pikiran baik. Saat ini, pikiran buruk saya meminta Prita Mulyasari menolak tawaran berdamai dengan manajemen Rumah Sakit Omni. Bahkan Prita saya sarankan tidak naik banding atas putusan Pengadilan Tinggi Banten, yang mengharuskannya membayar Rp204 juta.

Jika saran saya itu diikutinya, ada kesempatan lahir sebuah drama yang mungkin sangat unik. Saya membayangkan diri saya ikut dalam rombongan orang-orang yang mengantar koin senilai Rp 204 juta ke RS Omni, bersama tukang becak, pemulung, anak-anak sekolah, entah siapa lagi. Saya sudah mengirim koin dalam kaleng bekas roti ke Jakarta, yang nilainya terus terang lebih rendah ketimbang ongkos kirimnya. Koin berasal dari anak-anak dan tetangga sekitar, persis yang dilakukan sejumlah anak di berbagai daerah.

Membayar denda dengan koin adalah ide cemerlang dari sang penggagas. Hormat saya tak kurang kepada mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris, yang menyumbang separuh denda yang harus dibayar Prita, juga kepada anggota Dewan Perwakilan Daerah. Namun saya mengusulkan, uang itu disimpan. Prioritaskan koin yang dikumpulkan sopir angkot, murid taman kanak-kanak, pengamen, orang-orang desa dari berbagai penjuru. Beri mereka kesempatan menunjukkan perlawanan kepada kekuasaan, khususnya melawan kebobrokan hukum di Nusantara ini. Perlawanan yang sangat sederhana, lewat koin.

Mereka mungkin tak bisa berteriak di jalanan melakukan aksi unjuk rasa, perlu biaya untuk transportasi dan membuat poster. Pengumpul koin mungkin pula tak bisa berteriak lewat Facebook, perlu keterampilan khusus dan alat yang mahal. Tetapi mereka ingin berteriak tentang ketidakadilan dan, alhamdulillah, saluran itu terbuka lewat koin. Dengarkan tetangga saya ketika mencemplungkan dua recehan koin: “Pak Hakim dan Pak Dokter, makan ini uang, tak bosannya menyiksa rakyat.”

Hakim dan lembaga peradilan menjadi “musuh bersama” sebagian besar rakyat saat ini. Nenek pencuri tiga buah cokelat diproses ke pengadilan, Anggodo, yang diduga makelar kasus, gentayangan bebas–dan kini berangsur-angsur dilupakan media massa gara-gara ada berita Century yang lebih “seksi”. Seorang sopir membawa satu ekstasi dihukum berat, jaksa menjual ratusan ekstasi bisa bebas. Mata kuliah apa yang diajarkan di fakultas hukum untuk menjelaskan kasus ini? Jangkankan rakyat yang awam, yang tak awam pun–tapi bukan sarjana hukum–bisa bingung.

Lalu kenapa dokter ikut dimaki tetangga saya? Ya, tentu saja karena Prita, yang dia bela, “bermusuhan” dengan dokter, khususnya dokter RS Omni yang mengadukan hal itu. Bagi rakyat desa, dokter itu orang kaya (“Cuma pegang-pegang saja minta bayaran Rp 50 ribu”) dan tak pantas menuntut ganti rugi demikian besar. Inilah pikiran yang sederhana. Di balik kesederhanaan itu, kini tersimpan magma perlawanan yang gigih dan solidaritas sosial yang demikian tinggi melewati batas wilayah dan sekat-sekat primordial.

Ya, itu pikiran buruk saya, berharap ada “tsunami koin” yang menggerujuki Rumah Sakit Omni. Lalu pikiran yang baik seperti apa? Tentu saja perdamaian antara Prita dan Omni terwujud. Tak ada bayar-membayar ganti rugi, tak ada pula yang masuk penjara. Hikmah perdamaian lalu dijadikan introspeksi kedua belah pihak, tanpa ada yang merasa malu dan dipermalukan–kecuali pihak ketiga, yakni hakim. Kasus ini memberi pelajaran yang berharga buat negeri ini: berhentilah melecehkan rakyat kecil.

Sumber: Tempointeraktif (13 Desember 2009)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: