Skip to content

Besar Mana Uang Lapindo atau Century?

Desember 22, 2009

Arief Turatno

BESAR mana antara uang negara yang digunakan untuk nomboki kasus PT Lapindo Brantas di Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim), dengan uang yang ‘ditilep’ Bank Century? Mengapa masalah ini harus kita pertanyakan. Karena kedua-duanya berujung kepada kerugian negara. Bahkan jika kita mau jujur, masalah Lumpur PT Lapindo Brantas lebih dasyat daripada kasus Bank Century. Namun, mengapa DPR tidak mencoba membuat Pansus untuk mengungkit kembali kasus Lapindo?

Sebagaimana asumsi yang muncul saat ini, keterlibatan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dan mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono adalah dalam meloloskan bailout senilai Rp 6,7 triliun. Dan tindakan tersebut dinilai menyalai prosedur, hal yang sama juga terjadi pada saat melakukan pengeboran gas bumi di daerah Sidoarjo oleh PT Lapindo Brantas. Berdasarkan keterangan, dalam pengeboran tersebut, PT Lapindo Brantas dianggap menyalahi prosedur yang berlaku selama ini.

Akibat kesalahan prosedur itu, rakyat di kawasan Sidoarjo harus kehilangan tempat tinggal dan lahan mata pencaharian mereka. Berapa kerugiannya? Yang jelas lebih besar dari dana misterus yang sekarang dipersoalkan di Bank Century. Begitu besarnya dana yang harus dikeluarkan, sehingga PT Lapindo Brantas sepertinya angkat tangan. Dan anehnya, pemerintah lantas mengambil alih persoalan tersebut sebagai masalah pemerintah (bencana nasional).

Pertanyaannya adalah apakah karena hutang budi ini, sehingga anak buah Abrizal Bakrie di dewan tidak berani menyinggung sama sekali Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mereka hanya mencecar Menkeu Sri Mulyani dan Wakil Presiden (Wapres) Boediono dalam kasus Bank Century. Padahal kita ulangi lagi, bahwa pengucuran dana senilai Rp6,7 triliun itu awalnya dilakukan melalui rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang diketuai Menkeu Sri Mulyani.

Pada setiap rapat dan rapat-rapat yang menentukan, dihadiri utusan Presiden SBY, seperti Marsilam Simanjuntak. Sehingga logika yang berlaku, sangat tidak mungkin masalah tersebut tidak diketahui Presiden SBY. Pertanyaannya adalah mengapa selama ini Pansus Hak Angket DPR yang diketuai anak Buah Ical alias Aburizal Bakrie, Idrus Marham tidak pernah menyinggung atau meminta kehadiran SBY untuk didengar keterangannya? Maka sebagaimana kita ungkapkan tadi, masalah Lumpur Lapindo sesungguhnya lebih dasyat dibanding Bank Century.

Dampak yang paling dirasakan Bank Century adalah para nasabah mereka sampai saat ini belum mendapatkan kembali uangnya. Dan jika kita telusuri lebih cermat, umumnya para nasabah Bank Century adalah orang-orang kaya. Bandingkan dengan kasus Lumpur Lapindo, mereka yang menerima dampak dan akibat langsung adalah orang-orang kecil dan miskin, yang akibat kejadian tersebut warga Porong Sidoarjo bertambah miskin. Mengapa?

Selain mereka kehilangan mata pencaharian, sampai saat ini pun gantirugi yang dijanjikan, belum sepenuhnya para warga terima. Beberapakali mereka berunjukrasa baik di Sidoarjo maupun ke Jakarta. Namun sejauh ini belum ada perubahan yang berarti. Dan anehnya, mengapa dewan sepertinya tertidur terhadap penderitaan para warga di Sidorajo tersebut. Dan mengapa mereka begitu antusias menggasak Sri Mulyani dan Boediono? Jangan-jangan seperti pendapat beberapa pengamat, bahwa mereka sengaja memojokkan Menkeu dan Wapres untuk merebut jabatannya.

Sumber: Jakartapress.

One Comment leave one →
  1. Desember 22, 2009 7:05 pm

    Tampaknya pemerintah yang dapat menjawab ini dengan tepat, tangkas dan cermat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: