Skip to content

Tragedi Thierry Henry

November 26, 2009

Anton Sanjoto

Duka ini sebenarnya bukan cuma milik Republik Irlandia, tetapi milik Eropa, bahkan seluruh dunia. Saat sportivitas dan kejujuran dikorbankan hanya demi sebuah kemenangan, olahraga sepak bola menampakkan parasnya yang paling buruk. Tragis dan membuat gentar.

Di Stade de France, tragedi ini bermula. Kapten Perancis, Thierry Henry, dua kali dengan sengaja, memegang bola, untuk kemudian mempersilakan William Gallas mencetak gol ke gawang Irlandia yang dikawal Shay Given. Gol sundulan Gallas hasil assist kecurangan Henry mengubur impian Irlandia tampil di Piala Dunia 2010 dan mengantar ”Les Bleus” ke Afrika Selatan.

Dalam dua laga play off, Perancis unggul agregat 2-1 atas Irlandia dan badan tertinggi sepak bola dunia, FIFA, kemudian menolak permintaan Federasi Sepak Bola Irlandia (FAI) untuk tanding ulang. Dalam Rules of the Game FIFA, hasil laga memang final, betapapun jelasnya kecurangan Henry, dan betapapun insiden memalukan itu lolos dari penglihatan wasit Martin Hansson, betapapun hancurnya hati publik Irlandia, dan betapapun sportivitas dan fairplay sudah dinodai.

Bagi FIFA, case close! Tetapi tidak demikian dengan Perancis, dan terutama Henry. Publik Perancis malu bukan kepalang, bukan saja oleh ulah Henry, tetapi juga cara Les Bleus menembus putaran final Piala Dunia. Jajak pendapat stasiun televisi France 2 mengatakan, 8 dari 10 orang Perancis menyatakan kesebelasan mereka tak layak ke Afsel. Lebih buruk, 88 persen responden menyatakan Henry berbuat curang!

Mantan bintang Perancis, Eric Cantona, pun tak ketinggalan. Maestro yang menjadi legenda di Manchester United ini tidak saja mengecam perilaku Henry, tetapi juga Raymond Domenech. ”Saya pikir, Domenech adalah pelatih terburuk dalam sejarah sepak bola Perancis sejak (Raja) Louis XVI,” ujar Eric yang saat di Old Trafford dijuluki ”The King”.

Henry sendiri menolak stigma itu. Berkali-kali mantan bintang Arsenal itu mengatakan, dia melakukan gerakan tangan yang sangat instingtif. ”Bola bergerak sangat cepat di dalam kotak penalti yang sangat padat. Saya bukan penipu dan tidak pernah berbuat seperti itu,” paparnya.

Cantona mungkin berlebihan, tetapi soal Henry, ia berkata seakan mewakili jutaan orang Irlandia yang terluka hatinya. ”Yang sangat membuat saya terkejut, pemain ini (Henry), sesaat setelah pertandingan usai, di depan kamera televisi, duduk di dekat pemain Irlandia dan menghibur mereka. Padahal, beberapa menit sebelumnya, ia menghancurkan mereka,” ujar Cantona.

Meski dikecam publiknya sendiri, termasuk Cantona, banyak pula yang membela Henry. Mereka antara lain Zinedine Zidane, Gary Neville, dan Patrice Evra. Zidane, yang mengakhiri karier gemilangnya dengan menyundul dada Marco Materazzi di final Piala Dunia 2006, mengatakan, Henry bukanlah tipe pemain curang. ”Saya sangat mengenal dia. Ia berbuat salah. Saya pun demikian. Kita semua berbuat salah,” papar Zidane yang enggan membandingkan insiden Henry dengan dirinya di final Piala Dunia 2006.

Tertekan dengan reaksi publik, Henry menyatakan dia berpikir untuk pensiun dari sepak bola meski masih berniat mengantarkan Perancis ke Afsel. Ia memang terkesan sangat menyesal, meski terlambat, dan berkali-kali menyatakan, laga ulang melawan Irlandia kemungkinan bisa menjadi solusi. Namun, penyesalan selalu datang belakangan. FIFA jelas tidak akan mengabulkan permintaan ini meski memberi isyarat, mereka akan menggelar sidang khusus membahas masalah ini.

Puncak gunung es

FIFA pasti cemas. Dua pekan terakhir, sepak bola mendapat cobaan sangat berat. Kasus Henry hanyalah puncak sebuah gunung es. Beberapa hari lalu, polisi Jerman membongkar konspirasi pengaturan pertandingan yang melibatkan sekitar 200 laga di Eropa, mulai tingkat amatir hingga kancah paling prestisius, Liga Champions.

Selama bertahun-tahun, sepak bola Eropa selalu memandang ke arah Asia: China, Hongkong, Singapura, bahkan Indonesia jika berbicara mengenai masalah judi dan pengaturan hasil laga. Namun, hantu bandar judi kini hadir di depan hidung mereka saat polisi Jerman mengumumkan telah menahan 15 tersangka bandar judi di Jerman dan 2 tersangka di Swiss.

Hantu hooligan pun masih bergentayangan di Eropa dan sekali lagi memakan korban jiwa. September lalu, pendukung Toulouse, Brice Taton (28 tahun), tewas setelah koma selama 12 hari akibat dikeroyok pendukung Partizan Bergrade. Taton dihajar secara brutal oleh sekitar 30 pendukung Partizan saat keluar dari sebuah kedai minum di ibu kota Serbia itu.

Tidak heran, FIFA begitu terpukul dengan rangkaian kejadian ini. Sang presiden, Sepp Blatter, menginstruksikan sidang darurat Komite Eksekutif pada tanggal 2 Desember mendatang, menjelang undian Piala Dunia 2010.

Kembali ke soal handball Henry yang sangat kontroversial, persoalan bagi sepak bola memang bukan sekadar hasil di Stade de France itu sah atau tidak, atau apakah perlu laga ulang. Atau juga perlukah penggunaan teknologi rekaman video untuk membantu kinerja wasit. Isu besar dalam kasus Henry adalah soal bagaimana sepak bola bisa memberi contoh paling buruk bagi generasi muda. Perdana Menteri Irlandia Brian Cowen mengatakan, Henry membuat generasi muda berpikir, jika ingin menang, boleh berbuat apa saja, termasuk curang.

Henry memang menyesal, tetapi juga selayaknya patut bersyukur. Rakyat Perancis ternyata masih menjunjung tinggi kejujuran dan sportivitas. Mereka tidak termakan nasionalisme buta yang mendewakan kemenangan dan sukses serta menghalalkan segala cara. Respons dari rakyat Perancis inilah yang seharusnya menjadi panduan, benchmark bukan saja bagi Henry, atau atlet sepak bola, tetapi juga bagi seluruh umat manusia.

Sumber: Kompas (26 November 2009)

One Comment leave one →
  1. November 26, 2009 1:21 pm

    Henry juga manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: