Skip to content

Etika Penulisan Makalah Akuntansi

November 11, 2009

Ketika mencermati beberapa makalah tentang akuntansi sektor publik (ASP) dan isu-isu kualitas laba/manajemen laba yang dipresentasikan dalam SNA-12 Palembang, saya menemukan beberapa pelanggaran etika dalam penulisan makalah tersebut. Meskipun belum dapat dikategorikan sebagai plagiasi, pelanggaran tersebut sudah termasuk kategori “berat”, mengingat si penulis makalah adalah dosen atau mahasiswa S2 akuntansi yang sejatinya paham apa makna etika profesi dalam akuntansi, tak terkecuali etika akademik yang harus dijunjung tinggi dalam setiap karya ilmiah (akademis).

Beberapa” pelanggaran” yang saya temukan adalah:

  1. Tidak mencantumkan referensi yang diacu dalam Daftar Pustaka/Daftar Referensi.
  2. Mencatumkan referensi yang sebenarnya tidak pernah dibaca oleh peneliti/penulis makalah.
  3. Tidak menyebutkan sumber ide penelitian di bagian awal makalah.
  4. Mencantumkan nama dosen pembimbing sebagai penulis pertama dan mahasiswa pemilik skrips/tesis sebagai penulis kedua untuk makalah yang diadaptasi dari penelitian mahasiswa bimbingan (S1 atau S2).
  5. Mengutip secara langsung satu kalimat atau satu paragraf, tetapi tidak menyebutkan sumbernya.
  6. Menggunakan alasan dan logika yang berbeda dengan artikel asli demi mendukung temuan penelitian.
  7. Memanipulasi data agar diperoleh hasil analisis statistik yang signifikan sehingga penelitian dianggap “berhasil”.
  8. Membuat rekomendasi yang “mengada-ada” karena tidak didasarkan pada alasan yang kuat dan prediksi aplikatifnya di masa mendatang.
  9. Tidak melampirkan kuisioner dalam makalah atau tidak bersedia membagi kuisioner kepada peneliti lain yang tertarik untuk menguji kembali atau mengembangkan penelitian bersangkutan.

Persoalan “pelanggaran” etika yang saya maksud dalam tulisan ini mungkin saja dipandang sangat subjektif. Namun, “godaan” yang begitu besar untuk “tampil” sebagai pembicara dalam sebuah simposium berlevel nasional, yang merupakan satu-satunya di Indonesia, memang sangat sulit untuk dihindari. Menjadi pemakalah dalam SNA memberikan credit point tersendiri bagi seorang dosen, selain tentu kredit untuk kenaikan pangkat.

Seharusnya, SNA adalah wadah untuk mengembangkan ilmu, riset, dan praktik akuntansi sehingga memberikan manfaat bagi kesejahteraan hidup umat manusia. Dibutuhkan kejujuran dan ketulusan untuk saling berbagi agar bisa berkembang dan tumbuh secara bersama-sama. Tidak ada yang lebih pintar dari yang lain dalam hal keilmuan karena sesungguhnya ilmu dan riset akuntansi yang kita pahami sangat sedikit dan kecil nilainya.

Terima kasih.

Iklan
One Comment leave one →
  1. Desember 3, 2009 3:15 am

    Satu keprihatinan moral yg memang demikian adanya. Kita ini memang baru pada taraf research for project, bukan research for science. Uang nomor satu, etika nomor 12. Tidak ada urusan dgn pengembangan ilmu, yg penting proposal masuk. Saya lama mengajar PTS di Jakarta. Dari dekat saya lihat, masalah plagiarisme sangat memprihatinkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: