Skip to content

Rasa Keadilan Masyarakat

November 2, 2009

Bagaimanakah ujung dari drama penyangkaan kemudian penahanan Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah? Kedua wakil ketua nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini oleh polisi dijadikan tersangka dugaan kasus penyalahgunaan wewenang, terkait penerbitan surat pengajuan dan pencabutan pencekalan terhadap pengusaha Anggoro Widjojo dan Djoko Tjandra. Bibit dan Chandra kini ditahan di tahanan Markas Brigade Mobil Polri, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Kita belum tahu babak akhir dari drama tersebut. Termasuk, misalnya, bila aparat hukum kemudian berhasil menggiring mereka ke meja pengadilan. Lalu, pengadilan memberi keputusan mereka bersalah dan harus masuk penjara.

Kasus sangkaan terhadap Bibit dan Chandra dari awal sangat kental nuansa sosial dan politiknya. Bahkan, dendam antarlembaga. Jadi, ini bukan hanya menyangkut masalah hukum.

Semua itu terjadi lantaran KPK, sesuai tugas dan fungsinya, berhasil menjebloskan banyak orang atau pihak yang terbukti merampok uang rakyat alias korupsi ke penjara. Para koruptor yang sudah diinapkan di ‘hotel prodeo’ ini ada dari pengusaha, birokrat, pejabat negara, dan sejumlah wakil rakyat di daerah ataupun pusat. Ada aparat hukum/jaksa, juga tak sedikit yang sudah mantan. Bahkan, dalam aksinya membongkar korupsi di Bank Century, terserempet pula oknum di kepolisian.

Hal inilah yang kemudian membuat gerah banyak pihak. Lalu, ada upaya-upaya untuk mengerdilkan dan memandulkan KPK. Muncullah kemudian istilah cicak, buaya, dan godzila. Cicak untuk mengistilahkan KPK, sedangkan buaya dan godzila merupakan istilah untuk kepolisian dan kejaksaan. Intinya, nggak mungkinlah cicak melawan buaya dan godzila.

Namun, di sisi lain, keberhasilan KPK tersebut banyak mendapatkan acungan jempol dari masyarakat luas. Lembaga ini menjadi harapan terakhir pemberantasan korupsi di negeri, tempat mencuri uang rakyat sudah menjadi budaya. Sudah sangat mengakar. Sudah menjadi perilaku sehari-hari sejumlah oknum pejabat negara dari pusat hingga daerah.

Apresiasi terhadap KPK juga datang dari luar negeri. Sejumlah negara dan lembaga internasional pun menjadikan Indonesia sebagai model mengenai pemberantasan korupsi di negara berkembang. Keberhasilan KPK ini juga malah menjadi poin penting kesuksesan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selama lima tahun lalu. Hal inilah yang kemudian juga ‘dijual’ dalam kampanye-kampanye pemilihan presiden-wakil presiden.

Dengan nuansa yang demikian, mungkin bisa dipahami bila banyak pihak lalu merasa bahwa kasus yang menimpa Bibit dan Chandra, bukan hanya murni hukum. Ia sudah melebar ke ranah sosial-politik, bahkan balas dendam.

Yang kita khawatirkan adalah bahwa kasus Bibit dan Chandra barangkali bisa dipaksakan untuk diproses secara hukum. Bahkan, boleh jadi, mereka kemudian diputuskan oleh pengadilan, bersalah dan dihukum. Namun, rasa keadilan masyarakat tidak bisa dibungkam hanya dengan ketok palu pengadilan. Rakyat kita sudah sangat cerdas. Mereka bisa merasakan mana yang direkayasa dan mana yang murni kebenaran. Apalagi, kini sudah muncul istilah ‘berapa harga pasal’ dan bukan ‘dikenai pasal berapa?’.

Bila hal ini yang terjadi, kita khawatir tingkat kepercayaan masyarakat terhadap aparat hukum dan keamanan semakin rendah. Juga, kepada pemerintah. Bila ini dibiarkan, bisa saja rasa keadilan rakyat yang tercederai itu menjelma menjadi people power. Hal ini bukan tidak mungkin melihat anggota masyarakat yang memberi dukungan terhadap Bibit dan Chandra terus bertambah.

Hal yang demikian tentu tidak kita kehendaki. Karena itu, harus ada jalan keluar mengenai kasus Bibit-Chandra ini. Misalnya, dengan membentuk tim independen yang melibatkan berbagai pihak, termasuk polisi dan jaksa. Mungkin saja Bibit dan Chandra bersalah, namun yang memutuskan biarlah tim independen ini.

Sumber: Republika (2 November 2009)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: