Skip to content

CIA di Balik Perang Pakistan

Oktober 29, 2009

Eramuslim.com

Alam liar Waziristan, yang melingkupi Pakistan di sepanjang perbatasan dengan Afghanistan, telah menampilkan semua ketidakmungkinan yang paling buruk untuk masa depan perang. Waziristan adalah tanah yang terjebak di masa lalu: beberapa jalan, listrik yang sangat langka, dan seluruh komunitas suku etnis Pashtun hidup seperti yang mereka jalani selama beradab-adab.

Dan semua lanskap yang indah dan menawan serta eksotis itu berakhir ketika AS telah menyebarkan mesin-mesin pembunuh yang paling canggih yang pernah diciptakan, dengan “katanya” melawan musuh yang entah siapa dan dimana. Jika al-Qaidah dan Taliban tidak dapat dihapuskan oleh tank, peswat tempur dan rudal, maka mungkin mereka bisa dicap, dilabeli, distempel dan dioperasikan oleh CIA—sebuah pesawat, predator, dan penjagal yang tak berawak.

Itulah taruhan mantan presiden AS, George W. Bush selama bulan-bulan terakhir di kantornya, ketika CIA meningkatkan semua serangan dan gempuran di Pakistan. Serangan yang lebih cepat dan ganas dilancarkan Barack Obama, presiden AS setelah Bush. Saat ini, riuh-rendahnya dengung pesawat tempur telah menjadi suara yang sangat akrab di Waziristan, yang dipanggil suku-suku di Pakistan sebagai machay, atau lebah merah.

Sengatan mematikan pesawat-pesawat tempur ini sudah terasa di desa dan dusun di Wilayah Etnis yang Diperintah oleh Federal (FATA). Tujuan utama dari kampanye ini: menghabisi pejuang Taliban dan orang-orang yang secara rutin menyelinap melintasi perbatasan untuk menyerang pasukan AS di Afghanistan. Kalau beruntung dan ada: ya Al-Qaidah.

Pesawat-pesawat tempur itu hanya sebuah video game. Ada yang memegan joystiknya dengan kuat di Creech Air Force Base, dekat Las Vegas, operator di ujung dunia yang lain. Mereka melacak target yang bergerak dari waktu ke waktu dan memencet tombol X, dan hancur-luluh lah semua yang ada di Waziristan. Murah, mudah, dan singkat, tanpa harus menumpahkan darah Amerika.

Lantas, apakah perang ini sudah menghasilkan sesuatu? Gedung Putih mengklaim bahwa pada musim gugur lalu, Sembilan dari 20 tokoh penting Al-Qaidah berhasil disapu bersih lewat serangan udara itu. Kenyataan lain (dan sebenarnya) adalah rumah-rumah penduduk sipil telah hancur. Menurut pejabat Pakistan kebanyakan serangan tidak mengenai sasaran atau, lebih buruknya, membunuh warga sipil tak berdosa.

The News, sebuah harian Pakistan, baru-baru ini melaporkan bahwa 60 serangan udara sejak awal tahun 2006 telah membunuh 687 warga sipil dan hanya 14 pemimpin al-Qaidah (dengan catatan; itu pun jika ada!). Ini semua hanya menghasilkan kampanye sentimen anti-Amerika di Pakistan yang semakin luas dan melemahkan pemerintahan Presiden Asif Ali Zardari.

Serangan udara dan lebah merah AS sama sekali tidak membuat Taliban kagum ataupun gentar. Sebaliknya, mereka menyebut AS adalah pengecut, terlalu takut untuk menumpahkan darah dalam pertempuran. “Para pejuang (Taliban) mengatakan bahwa kalau Amerika ingin datang dan melawan, Amerika harus melawan mereka secara langsung, satu lawan satu,” kata Mahmood Shah, mantan brigadir yang pernah menjadi pejabat Pakistan atas FATA. Shah, seorang Pashtun, mengatakan keluarga para korban serangan udara akan membalas dendam. Hingga tidak heran, di Paksitan saat ini, tak akan sulit untuk menjadi seorang pejuang militan. Menurut Shah, “satu serangan udara Amerika, akan melahirkan tiga atau empat pembom syahid.”

Predator dan penjagal rakyat sipil Pakistan yang Muslim itu dibuat oleh General Atomics, kontraktor pertahanan di San Diego. Predator diciptakan lebih dulu dan diperkenalkan kepada Angkatan Udara AS pada tahun 1994. Pada akhir 1990-an, CIA telah menggunakannya konon untuk melacak bin Laden. Mampu terbang untuk 40 jam tanpa pengisian bahan bakar, Predator yang juga disebut pesawat siluman adalah “perangkat kecerdasan yang brilian,” kenang Hank Crumpton, agen rahasia tinggi CIA di Afghanistan.

Meskipun CIA ingin meluncurkan si Dengung sejak awal, Angkatan Udara AS menolak gagasan itu sampai tahun 2000. Bahkan Crumpton ingat, ia pernah melihat seseorang yang dia yakini sebagai bin Laden pada video di Predator pada akhir 2000. “Tidak besar memang, tapi itu adalah bin Laden,” kata Crumpton. Tapi saat itu, “ada terlalu banyak politik, hukum dan kendala militer,” dan CIA tidak bisa begitu saja menarik pelatuk.

Namun semua itu berubah setelah 9 / 11. Predator mengambil darah untuk pertama kalinya pada 5 November 2002, ketika itu menghancurkan sebuah SUV di Yaman, menewaskan enam orang, termasuk pemimpin top al-Qaidah.

Senjata Predator sebenarnya terbatas, tetapi Reaper dapat menyimpan tambahan laser hingga 200 kilo. Bom seperti ini umum ditemukan pada jet F-16 jet, bersama dengan rudal Hellfire. Dan perangkat keras itu semua didapatkan dengan harga yang relatif murah.

Biaya si Reaper hanya $ 10 juta – bandingkan misalnya dengan Raptor F-22 yang biayanya hampir mencapai $ 350 juta. Biaya yang relatif rendah ini terutama disebabkan oleh fakta bahwa pesawat siluman tidak memiliki seorang pilot pun. “Jika kami mengirim F-16 ke FATA—pilot Amerika di wilayah udara Pakistan—mereka mungkin akan merasa sangat berbeda,” kata James Currie, seorang sejarawan militer di National Defense University di AS.

Dengan cara melihat video rekaman dari rumah-rumah, kendaraan dan orang-orang, para analis cukup hanya melihat layar di Nevada dan mereka bisa mendeteksi “pola hidup,” atau ketepatan waktu sebuah gerakan dan pertemuan di daerah tertentu. Tapi tetap saja pesawat siluman ini ada begonya juga. Untuk itu, di sinilah diperlukan peran seorang pengkhianat dari penduduk setempat. Laporan dari Waziristan menyatakan jika CIA memiliki akses jaringan mata-mata. Seorang mata-mata atau lebih kemudian memberitahukan kepada CIA lewat drop microchip (dikenal sebagai Patrai dalam bahasa loka) di dekat target; yang dapat menunjukkan si lebah mendengung menemukan para pejuang dan merudalnya dengan presisi yang tepat.

Namun, si pesawat siluman itu sebenarnya jauh dari sempurna. Mereka hanya bisa melacak wilayah kecil dari satu waktu, dan itu akan mengahbiskan ribuan pesawat untuk menutup setiap sudut dan celah dari perbatasan Pakistan yang panjang. Beberapa kecelakaan telah dilaporkan. Kamera termal terkenal sempurna.

Bahkan di bawah kondisi ideal, gambar bisa saja berbah buram. Dengung yang dihasilkan stealth (nama lain pesawat siluman) ternyata kesulitan dalam mendeteksi apakah sekelompok pria sedang shalat atau laki-laki pembentukan militan dalam pertempuran. “Masalah mendasar dengan semua pengintaian udara adalah bahwa hal itu sejalan dengan kesalahan,” kata George Friedman, yang mengepalai perusahaan keamanan Stratfor. “Tapi di tempat seperti Pakistan, kesalahan memiliki konsekuensi politik yang sangat besar.”

Biaya Politik

Tak ada gading yang tak retak. Yang paling buruk dan tak bisa dihindarkan dari setiap kali penyerangan pesawat siluman ini adalah setiap kali Amerika Serikat menggunakan pesawat ini, maka Pakistan selalu jatuh pada titik kehancuran.

“Jika kita angin membunuh musuh dan, pada saat yang sama, Pakistan juga hancur-lebur, itu bukan sebuah kemenangan bagi kami,” kata David Kilcullen, seorang ahli kontraterorisme yang memainkan peran penting dalam pengembangan strategi gelombang Irak. “Mungkin biaya politik serangan ini melebihi keuntungan taktis.”

Walaupun mantan Presiden Pervez Musharraf merestui si lebah dengung beroperasi, namun ia meletakkan batas-batas dan kerusakan seperti apa yang “boleh” dilakukan. Setelah Musharraf mengundurkan diri musim panas lalu, belenggu itu lepas. AS diam-diam tawar-menawar dengan pemerintahan baru di Islamabad: Zardari dan Kayani adem-ayem ketika si dengung membunuh ratusan warga sipil. Bahkan keblingernya Zardari, Mengunjungi Washington bulan lalu, Zardari meminta Obama untuk membiarkan Islamabad memiliki kontrol langsung terhadap pesawat siluman itu.

Toh semua itu, sudah meluluhlantakkan semua kepercayaan masyarakat Pakistan, baik bagi AS ataupun terhadap pemerintahannya sendiri. Kartun dan graffiti anti AS- dan Anti Zardari beredar di seluruh kota, dan gambar-gambar si dengung mencemooh AS yang impoten dan pengecut. \

Ttuduhan pengecut dialamatkan terutama di daerah-daerah suku, di mana keberanian dianggap sebagai sesuatu yang penting dalam persekutuan. Kilcullen memperingatkan bahwa jika AS akhirnya berharap untuk menang, seperti yang terjadi dengan pemberontak Irak, maka “kita tidak bisa dilihat sebagai orang yang berjuang dari jauh, yang bahkan tidak berani untuk menempatkan pilot di pesawat kami . Pesawat siluman hanya akan menyatukan kelompok-kelompok pejuang militan yang anti terhadap AS dan pemerintah Zardari.”

Maulvi Nazir, panglima perang nonaggresi Waziristan menandatangani perjanjian dengan militer Pakistan pada 2007 dan dikirim sebagai pejuang untuk berperang melawan Mehsud. Tapi karena ia terus-terusan berada di lapangan, ia menjadi sasaran serangan predator. Ia pun murka, dan dan akhirnya malah bergabung dengan sebuah front persatuan melawan AS, Zardari dan Presiden Afganistan Hamid Karzai.

Dengung dari machay (lebah merah) mungkin akan terdengar lebih keras di Pakistan langit musim panas ini. Kedatangan lebih banyak tentara AS di Afghanistan akan membuktikannya.Namun, ketika politik itu meminta biaya yang sangat tinggi, maka kebencian sudah membumbung meluap dalam diri rakyat. (sa/time)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: