Skip to content

Ironi Dispenda

Oktober 20, 2009

Dispenda adalah sebuah SKPD di Pemda yang bertugas memungut pendapatan asli daerah (PAD) berupa pajak dan retribusi. Orang-orang Dispenda menerima setoran pajak dari pengusaha hotel dan restoran dan memungut retribusi dari pedagang di pasar, juru parkir di jalanan, dan pengunjung objek wisata. Namun, ironisnya Dispenda tidak membangun fasilitas-fasilitas yang menghasilkan atau mendukung objek pajak dan retribusi tersebut.

Sebagai SKPD dengan Tupoksi untuk memungut PAD, Dispenda selalu menjadi ujung tombak dalam penentuan target PAD yang akan dicantumkan dalam KUA, PPAS, dan RAPBD. Pencantuman besaran target pendapatan akan diikuti dengan pengalokasiannya ke dalam belanja daerah untuk pelaksanaan program dan kegiatan, namun tidak dilakukan oleh Dispenda.

Hasil yang diperoleh Dispenda secara konkrit disetorkan ke rekening kas daerah yang dikelola oleh BUD (Bendahara Umum Daerah). Oleh karena telah masuk ke rekening kas daerah, maka dana dari PAD ini bercampur baur dengan dana yang berasala dari sumber lain, seperti dana perimbangan dan penerimaan pembiayaan. “Percampuran” ini sesungguhnya bukan masalah apabila pejabat pengelola keuangan daerah (PPKD) selaku BUD mengerti dan menyadari bahwa PAD adalah uang rakyat, sehingga harus dikembalikan kepada mereka dalam bentuk pelayanan.

Iklan
One Comment leave one →
  1. Oktober 24, 2009 7:40 pm

    bukan ironi pak, bukankah memang idealnya ada pemisahan wewenang antara pengumpul dan pembagi. duit bercampur? itulah gunanya akuntansi 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: