Skip to content

Pimpinan Komisi

September 29, 2009

Putu Setia

Seorang teman membocorkan, nama saya masuk nominasi calon pelaksana tugas pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi. Tinggal menunggu konfirmasi apakah saya mau atau tidak. Mau? Ini tak semudah memilih kartu telepon seluler. Harus dipertimbangkan dari sisi kepastian, baik kepastian hukum, kepastian jabatan, maupun kepastian tidak melanggar moral. Pertimbangan saya begini:

Pertama: jika saya mau, berapa lama saya menjadi pelaksana tugas pimpinan Komisi? Jangan-jangan cuma seminggu. Ini bisa terjadi kalau polisi sadar akan kekeliruannya menjadikan dua pimpinan komisi itu sebagai tersangka, karena memang masalah kewenangan tugas sebuah lembaga bukanlah urusan polisi memperkarakannya. Kalau polisi mau memperbaiki citranya di masyarakat, lalu menerbitkan surat penghentian penyidikan atas dua pimpinan Komisi itu, selesailah tugas saya sebagai pimpinan sementara Komisi.

Langkah polisi memperbaiki citra, saya kira, sangat luhur. Sebagai aparat penegak hukum yang pernah mendapat predikat instansi terkorup versi Transparency International, polisi tak selayaknya membela dua koruptor yang dicekal oleh Komisi. Ikut aktif memberantas korupsi justru akan membuat nama polisi tambah moncer setelah berhasil memberantas teroris. Nah, kalau ini terjadi, bukankah dua pimpinan Komisi itu aktif lagi, lalu bukankah saya diberhentikan? Belum sebulan jadi pimpinan Komisi sudah berhenti, tentu risi terima gaji.

Kedua: jika polisi ngotot, bahkan status tersangka dinaikkan jadi terdakwa, ini tetap jadi masalah. Katakan, di pengadilan negeri keduanya bebas, kejaksaan sebagai penuntut–karena “berteman” dengan polisi dalam menggembosi KPK–naik banding. Lalu, di pengadilan tinggi terdakwa juga bebas, jaksa mengajukan kasasi. Di Mahkamah Agung, kedua pimpinan Komisi juga bebas, jaksa mengajukan peninjauan kembali. Pokoknya segala upaya hukum ditempuh karena telanjur “basah”. Misalnya, setelah satu atau dua tahun proses ini berjalan baru ada ketetapan hukum, di mana kedua pimpinan Komisi tetap tak bersalah, tentu keduanya balik lagi memimpin KPK. Pada tenggang waktu itu, saya sebagai pimpinan komisi (meski berstatus sementara) ternyata berbuat banyak, puluhan koruptor–baik yang berbulu maupun tak berbulu–saya sikat. Ini sesuai dengan prinsip saya, memberantas korupsi tanpa pandang bulu. Rakyat memuji saya sebagai “pahlawan antikorupsi”, saya dipuja-puji, bahkan ada yang mau mencalonkan saya sebagai presiden pengganti SBY, kelak. Lalu apakah tak jadi masalah, tiba-tiba saya mundur untuk memberi kesempatan kepada dua pimpinan Komisi yang sudah bebas itu? Coba direnungkan.

Ketiga: kasusnya idem dito dengan kasus kedua. Dua pimpinan Komisi butuh waktu lama untuk mendapatkan kepastian hukum, saya bekerja keras, puluhan koruptor masuk penjara hanya enam bulan setelah saya bekerja. Cuma, pada bulan ketujuh, ternyata saya menyadap petinggi polisi dalam kaitan dengan korupsi–ini hanya misal. Nah, tentu polisi marah besar, dan saya pun akan dijadikan tersangka atau istilah yang populer sekarang dikriminalisasi. Ini kan ajaib. Saya memberangus koruptor kok disalahkan, bukankah itu job-nya?

Kesimpulan: saya menolak jadi calon pimpinan sementara Komisi sebelum Presiden SBY menerbitkan perpu, yang isinya: melarang kepolisian merecoki urusan KPK jika dalam tugas memberantas korupsi. Polisi hanya boleh menyidik pimpinan KPK jika menyetir mobil tanpa SIM, atau ketahuan mencopet, atau hal-hal lain yang tergolong pidana–masak ini harus dijelaskan lagi. Yang penting, jangan mengkriminalisasi masalah kewenangan tugas. Wassalam.

Sumber: Tempo Interaktif (26 September 2009).

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: