Skip to content

Terbitkan atau Minggirlah!

September 28, 2009

Agus M Irkham

Publish or Perish. Terbitkan atau minggirlah. Ungkapan itu populer di kalangan akademisi Amerika Serikat. Satu ungkapan yang merujuk pada kondisi: semua akademisi, ilmuwan, intelektual adalah sama, sampai satu di antara mereka menulis buku. Beruntung, cetusan itu tidak populer di kalangan akademisi kita.

Apa pasal? Jika acuan tersebut digunakan dapat dipastikan banyak perguruan tinggi di Tanah Air akan kekurangan dosen lantaran sebagian besar dari mereka belum menulis buku. Jangankan buku, jumlah dosen yang menulis di jurnal berakreditasi nasional atau artikel ilmiah populer di koran saja masih sedikit. Alih-alih menulis di jurnal berakreditasi internasional atau menulis buku yang mempunyai pasar pembaca berskala dunia.

Berdasarkan data yang dikemukakan Fasli Jalal, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, kemampuan ilmuwan kita untuk menyumbang penelitian ke jurnal ilmiah hanya 0,8 artikel per 1 juta penduduk. Padahal, di Indonesia saat ini ada 7.900 peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan lembaga penelitian di departemen, sedangkan di perguruan tinggi ada sekitar 155.000 dosen.

Karenanya, kita tak perlu heran kalau ternyata kontribusi kaum intelektual Indonesia, khususnya dosen, dalam dunia akademik di tingkat Asia Tenggara hanya menempati posisi keenam. Sejak tahun 1970 hingga 2000, produksi pengetahuan mereka hanya 10 artikel per tahun.

Kalaupun ada satu dua dosen yang menerbitkan buku, buku tersebut tidak ditulis secara sengaja. Biasanya hasil daur ulang disertasi atau tesis. Akibatnya buku itu menjadi buku pertama sekaligus terakhir. Seperti pohon pisang, ejek Ignatius Haryanto (2006). Sekali berbuah lalu mati.

Bagaimana dengan para akademisi dari perguruan tinggi negeri dan swasta (PTN dan PTS) di Jawa Tengah? Kondisinya bak pinang tak berbelah dengan yang berlangsung di tingkat nasional. Simpulan awal itu saya peroleh seusai mengunjungi pameran jurnal yang diadakan Pusat Jurnal Ilmiah Indonesia (PJII) di aula Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Widya Manggala Semarang, akhir Agustus.

Jumlah PTN dan PTS di Jateng yang mengikuti pameran (dengan asumsi yang tidak mengikuti pameran berarti tidak mempunyai jurnal ilmiah) hanya sekitar 15 perguruan tinggi, atau sekitar 6,7 persen dari total PTN dan PTS di Jateng yang berjumlah 222 perguruan. Kelima belas perguruan tersebut di antaranya Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Semarang, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Sultan Agung, Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, Institut Agama Islam Negeri Walisongo, Sekolah Tinggi Agama Islam Pekalongan, STAIN Kudus, Polines, Unika Soegijapranata, UKSW, STIE Widya Manggala, dan Universitas Muhammadiyah Solo. Dari 15 PTN-PTS itu, total jurnal ilmiah yang dipamerkan 61 jenis jurnal. Tertinggi adalah UMS (17 jenis), disusul Undip (7), dan STAIN Kudus (6). Selebihnya rerata antara 1 hingga 4 macam jurnal.

Tentu angka 61 masih terbilang sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah perguruan tinggi di Jateng, belum lagi jika kita pecah ke dalam jumlah fakultas di tiap-tiap PTN-PTS. Sudah begitu, jurnal yang dipamerkan pun tidak memuat informasi tingkatan akreditasi. Sudah mendapat akreditasi atau belum? Kalau sudah, akreditasi tingkat nasional atau internasional? Artinya, selain dari segi kuantitas masih terbilang rendah, kualitasnya pun masih menjadi pertanyaan besar. Mengejar kuota

Secara tidak langsung, fakta yang terjadi saat pameran jurnal ilmiah tersebut memberikan informasi awal kepada kita tentang apa yang tengah berlangsung di perguruan tinggi di Jateng dalam konteks gairah dosen meneliti, menulis, dan menerbitkan laporan penelitiannya ke dalam bentuk jurnal ilmiah dan media teks lainnya masih rendah.

Pertanyaannya, apa penyebab utama rendahnya budaya meneliti, menulis, dan menerbitkan tulisan di sebagian besar perguruan tinggi terutama para dosen?

Gejala yang paling tampak akibat liberalisasi (persaingan sempurna) pendidikan tinggi adalah pemassalan dan popularisme citra dan tanda. Kini, perguruan tinggi lebih disibukkan dengan mengejar kuota mahasiswa. Menambah jumlah kelas, yang artinya juga memperbesar jumlah jam mengajar. Alasan yang mengemuka lebih banyak bersifat ekonomis ketimbang akademis.

Akibatnya para dosen lebih sibuk dengan aktivitas di ruang perkuliahan. Sudah begitu yang berlangsung bukan lagi learning (pemelajaran) yang kuyup dengan dimensi sosial, moral, kultural, dan spiritual, tetapi lebih ke pengajaran (teaching). Hubungan antara mahasiswa dan dosen sekadar relasi teknis fungsional belaka.

Dalam situasi demikian, sulit mengharapkan dosen menginisiasi sendiri suatu penelitian. Kini, kecenderungan yang tengah berlangsung, keinginan meneliti timbul, begitu ada proyek. Makanya hasil penelitiannya pada akhirnya dapat ditebak: sekadar untuk melaksanakan proyek. Bukan penelitian yang lahir dari rasa cinta terhadap pengembangan ilmu pengetahuan seperti terungkap di Kompas beberapa waktu lalu.

Solusi apa yang dapat ditempuh? Karena sumber masalahnya timbul dari pertimbangan ekonomi (jumlah kelas, jam mengajar), untuk menggairahkan budaya meneliti dan menulis pada dosen, keharusan menerbitkan tulisan hasil penelitian di jurnal ilmiah dapat dijadikan sebagai syarat untuk memperoleh kenaikan pangkat. Bukankah yang sudah-sudah, kenaikan pangkat linear dengan tambahan perolehan ekonomi? Akan tetapi, tentu dengan syarat kualifikasi yang ketat.

Selain itu, baiknya ada sistem: bagi (calon) dosen yang tengah mengikuti kuliah pascasarjana (S2) dan doktoral (S3) sebagai syarat mengikuti sidang akhir kelulusan, mau tidak mau, mereka wajib memublikasikan karya ilmiahnya di jurnal ilmiah. Taruhlah untuk mahasiswa S2 minimal dua tulisan di jurnal ilmiah berakreditasi nasional, sedangkan mahasiswa S3 satu tulisan di jurnal ilmiah berakreditasi internasional.

Dengan demikian, di tiap-tiap perguruan tinggi ada mekanisme yang bersifat built in: para dosen yang malas meneliti dan menulis silakan minggir. Sehingga pemassalan jumlah mahasiswa dan perbesaran jumlah kelas tidak serta-merta menunjukkan rendahnya kualitas perkuliahan/mutu suatu perguruan tinggi.

Aus M Irkham, Instruktur Literasi Forum Indonesia Membaca, Tinggal di Semarang.

Sumber: Kompas (15 September 2009)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: