Skip to content

Polri Terperosok Memeriksa Kewenangan

September 24, 2009

Media Indonesia (24 September 2009)

KETERTIBAN dan keteraturan hanya terjadi jika semua pihak bergerak dalam jalur yang telah ditentukan. Jika ada pihak, apalagi penegak hukum, mulai menyimpang, sistem hukum akan rusak bahkan binasa. Lembaga-lembaga negara telah dibuat lengkap dengan kewenangan masing-masing agar tidak tumpang-tindih. Polisi dan jaksa adalah penegak hukum yang menyidik kasus-kasus tindak pidana umum dan khusus. Sebaliknya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) khusus menyidik tindak pidana korupsi.

Tapi dua pekan terakhir, kewenangan-kewenangan itu mulai diterabas. Polisi memeriksa dua pemimpin KPK, Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto, dengan tuduhan menyalahgunakan wewenang dalam pemberian surat cekal terhadap Anggoro Wijaya dan Djoko Tjandra. Sejak Selasa (15/9) Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto menjadi tersangka.

Pertanyaan yang mencuat adalah adakah polisi berwenang memeriksa kewenangan lembaga lain seperti KPK? Bukankah domain polisi adalah memeriksa kasus-kasus tindak pidana dan kriminalitas?

Tidak berlebihan jika Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD terang-terang mencela langkah polisi memeriksa Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto. Sejauh penjelasan polisi, tidak ada tindak pidana yang dilakukan kedua orang itu. Yang terjadi adalah pelanggaran kewenangan.

Dan itu adalah domain Pengadilan Tata Usaha Negara.

Jika polisi memaksakan diri tetap memeriksa kedua pemimpin KPK itu, polisi tidak hanya telah melampaui kewenangan, tetapi telah menyalahgunakan kekuasaannya. Itu yang merisaukan kita.

Kita ingatkan polisi agar berhati-hati dan tidak memasuki perkara yang tidak memiliki unsur pidana. Cara-cara menerabas wilayah kerja seperti itu dapat merusak sistem hukum di Indonesia. Polri hanya berada di ranah pidana dan bukan di area administrasi. Polisi bekerja berdasarkan alat bukti, bukan pesanan.

Kita gembira jika polisi mampu memperlihatkan bukti tindak pidana yang dilakukan Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto. Jika ada tindak pidana yang mereka lakukan, entah menerima suap atau memeras misalnya, hukumlah mereka seberat-beratnya. Tetapi juga sebaliknya. Jika polisi tidak memiliki bukti tindak pidana yang mereka lakukan, hentikanlah penyidikan itu. Polisi tidak boleh malu mengeluarkan SP3 (surat perintah penghentian penyidikan) terhadap keduanya.

Kita khawatir pemeriksaan Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto hanya untuk memenuhi order pihak tertentu. Polisi dipaksa menetapkan keduanya menjadi tersangka sehingga status mereka di KPK menjadi nonaktif. Dengan demikian, memuluskan jalan mengganti mereka.

Bangsa ini selalu gagal memperbaiki sistem penegakan hukum karena selalu diboncengi kepentingan pribadi dan golongan. Ketika kepentingan pribadi terganggu, perangkat hukum pun dipaksa, diperalat, dan disewa untuk menyelamatkan kepentingan pribadi.

Polisi sedang mencatat citra dan prestasi gemilang dengan menumpas terorisme. Namun, prestasi itu segera terbenam jika polisi lebih menyembah kepada kekuasaan

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. September 24, 2009 7:29 pm

    Tampaknya ada yang tersembunyi oleh mereka (KPK dan Polisi) sehingga saling unjuk gigi dulu. Dari berita surat kabar dan media masa dapat kita rasakan. KPK mulai mencurigai sesuatu ..eehh Polisi langsung memanggil KPK memeriksa lalu menyatakan beberapa org menjadi tersangka…hehehe.
    Menurutku, sebenarnya proses kebenaran sedang berlangsung dengan benar…hehehe ada tiga suku kata benar…dalam kalimat terakhir.

  2. September 25, 2009 9:47 am

    Singal

    Atau mereka sama-sama mencara kata “benar” yang lain, pak: PEMBENARAN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: