Skip to content

Qanun Jinayat Aceh

September 22, 2009
by

Oleh Tgk.Teuku Zulkhairi

Di tengah pro-kontra, DPRA mensahkan raqan Jinayat dan raqan acara jinayat bersama empat raqan lainnya menjadi qanun Aceh (Serambi, 15/9/2009). Menarik dicermati karena realitas Aceh yang sedang berusaha menerapkan hukum Islam, ternyata masih ada segelintir pihak yang kontra dalam menyambut disahkannya qanun-qanun penunjang terlaksananya syaria’t Islam itu. Padahal hadirnya qanun-qanun itu sebagai upaya mengembalikan kejayaan Islam di Aceh seperti era Sultan Iskandar Muda.

Peluang penarapan syariat Islam sebagai peluang emas untuk merealisasi qanun-qanun tersebut. Artinya jika kelima qanun yang telah disahkan oleh DPRA itu harus didorong. Selayaknya kita tidak perlu mengkhawatirkan atau mempersoalkan alasan apa atau siapa yang menyususun qanun-qanun tersebut, misalnya seperti yang dikhawatirkan oleh aktivis LBH Banda Aceh, Sdr.Kamaruddin,SH (Serambi, hal 4, edisi 12/9/20090), yang menolak pengesahan rancangan qanun-qanun yang dibuat oleh anggota DPRA demisioner pada saat berakhirnya masa tugas mereka tersebut akan direvisi kembali oleh DPRA baru (periode 2009-2014). Itu akan berakibat tidak efektifnya realisasi kelima rancangan qanun tersebut.

Beliau juga berspekulasi bahwa qanun-qanun tersebut hanya trik anggota legislativ sekarang (periode 2004-2009) yang bermaksud menghasilkan produk mereka lewat qanun-qanun tersebut. Saya kira kekhawatiran ini sangat tidak beralasan cenderung antitesis dengan harapan masarakat Aceh saat ini yang mengingikan agar syariat Islam tegak secepatnya secara total di Aceh yang mayoritas umat Islam ini. Seharusnya bersyukur, dan mendukung serta memantau agar qanun-qanun tersebut bisa diterapkan dengan lancar setelah disahkan, sudah saatnya kita meninggalkan prasangka buruk. Apalagi rancangan qanun tersebut sudah dibahas sejak lama dan matang.

Jika kit abaca sejarah, puncak kejayaan Aceh itu ketika pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang memberlakukan norma hukum berlandaskan syariat Islam. Harapan kejayaan Islam inilah yang menjadi tolak ukur dan landasan perjuangan Daud Beureueh bersama para ulama lain pada zamannya, mereka berjuang untuk mengibarkan dan menegakkan panji-panji kejayaan Islam di bumi Aceh. Sebagaimana dituturkan Daud Beureueh kepada Boyd R. Compton dalam sebuah wawancara, “Anda harus tahu, kami di Aceh ini punya sebuah impian dan harapan. Kami mendambakan masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda, pada masa Aceh kini menjadi Negara yang menerapan syariat Islam. Di zaman itu, pemerintahan memiliki dua cabang, sipil dan militer. Keduanya didirikan dan dijalankan menurut ajaran agama Islam. Pemerintahan semacam itu mampu memenuhi semua kebutuhan zaman moderen. Sekarang ini kami ingin kembali ke sistem pemerintahan semacam itu”.

Bila kita cermati secara mendalam, problematika Negara berkembang dalam banyak masalah sosial masyarakat pada dasarnya juga terjadi pada Negara-negara maju. Di banyak negara Eropa dan Amerika, saat ini semakin berkembang trend enggan mempunyai anak bahkan enggan untuk menikah. Hubungan laki-laki dan wanita sekadar hubungan seks bebas tanpa ada ikatan, selanjutnya mereka menuntut agar dilegalkannya aborsi sebagai dampak langsung dari merebaknya budaya seks bebas yang berdampak meningkatnya angka kriminalitas dengan sangat tajam, mereka juga semakin aktif menuntut agar dilegalkannya pernikahan sesama jenis yang telah dilaknat oleh Allah.

Berbagai kemorosotan moral itu terjadi. Misalnya, pada tahun 1998 tingkat kriminalitas di Amerika mencapai angka yang sangat fantastis setiap 6 menit, penembakan terjadi setiap 41 detik, pembunuhan setiap 31 menit. Dana yang dikeluarkan untuk menanggulangi tindakan kejahatan saat itu mencapai 700 juta dolar per tahun. Bahkan, di Eropa dan Amerika, hampir pada setiap 15 detik terjadi kekerasan atas wanita. Belum lagi jika ditambah dengan aksi pemerkosaan setiap harinya. Sehingga Amerika tercatat sebagai negara tertinggi dalam hal kekerasan terhadap wanita.

Menurut catatan UNICEF, 30 persen kekerasan pada wanita terjadi di Amerika dan 20 persen di Inggris. Kejahatan perbudakan terjadi di Amerika, CNN pernah menyiarkan laporan bahwa pada tahun 2002 jutaan anak-anak dan wanita dijualbelikan di Amerika setiap tahunnya. Lebih dari 120 ribu wanita berasal dari Eropa Timur dan beberapa negara miskin lainnya dikirim ke Eropa untuk dipekerjakan sebagai budak seks. Lalu lebih dari 15 ribu wanita yang mayoritas berasal dari Meksiko dijual ke Amerika untuk dipekerjakan di komplek-komplek pelacuran. Sidang Umum PBB pada pertemuan yang ke 54 mengeluarkan keputusan pada 25 Mei 2000 tentang pencegahan agar tak lagi terjadi jual beli anak kemudian dipekerjakan sebagai budak seks.

Buku ‘Benturan Barat-Islam” disebutkan, “ bahwa dunia muslim saat ini sedang melintasi suatu krisis yang belum pernah dialami sepanjang sejarahnya. Krisis ini diciptakan oleh dampak peradaban Barat atas Dunia Islam, hal ini dimulai ketika secara politik memperbudak Dunia Islam, kekuatan-kekuatan imprealisme barat melaksanakan rencananya yang halus untuk mengahancurkan semangat penentuan budaya dan hukum sendiri di kalangan umat Islam di satu pihak, sembari memperkenalkan sistim hukum dan pendidikan yang memperbudak pikiran umat Islam di lain pihak. Sifat bermusuhan dan terencana mereka dapat diukur sekalipun hanya dengan melihat laporan Mac Aulay mengenai pendidikan di daerah jajahan Inggris, hukum-hukum yang di gariskan Kolonial Perancis untuk merendahkan Islam di Afrika, dan kebijakan-kebijakan menindas dari kaum Imprealis Belanda di Indonesia, kekuatan-kekuatan Imprealis Barat melaksanakan strategi mereka dengan semua kebrutalan yang ada.

Untuk melakukan suatu perubahan menuju yang lebih baik, ataupun untuk mengembalikan sebuah asa kejayaan yang dahulu pernah hadir, maka elemen-elemen terpenting yang terlibat dalam kontruksi komunitas masyarakat haruslah bersama-sama menjadi komunitas yang baik dan saling mendukung, sampai kebatas bahasa hati, pikiran. Alquran adalah kitab suci sebagai sumber menjadi sumber lahirnya qanun-qanun syariat Islam tersebut, meskipun dalam prosesnya harus tadarruj (bertahap). Maka mempermasalahkan legalitas penerapan syariat Islam dengan apapun dalihnya, misalnya dengan alasan qanun-qanun tersebut bertentangan dengan nilai-nilai universal, pada dasarnya adalah mempermasalahkan otoritas yang merupakan hak petrogratif Allah sebagai penguasa dan Pencipta alam semesta dimana kita berada di dalamnya.

*Penulis adalah alumnus Dayah Babussalam Putra Matangkuli-Aceh Utara, mahasiswa Pascasarjana IAIN Ar-Raniry.

Sumber: Serambi Indonesia, 16 September 2009.

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: