Lanjut ke konten

Gaji Dosen UGM

September 6, 2009

Oleh Bambang Purwoko

PROTES terhadap berbagai kebijakan rektorat yang dianggap tidak adil, tidak membuahkan dialog. Salah satu yang diprotes adalah ketimpangan kenaikan insentif. Dosen dan karyawan hanya mendapatkan kenaikan 35% tetapi pengurus fakultas dan universitas mencapai 400%. Total pendapatan karyawan dan dosen akan berkisar antara Rp 700 ribu sampai dengan tertinggi Rp 3 juta, sedangkan penghasilan dekan mencapai Rp 12,5 juta atau lebih.

Berapa gaji rektor dan para wakil rektor di UGM? Belum jelas. Tetapi sudah lama berhembus khabar bahwa gaji rektor akan ditetapkan sekitar Rp25 juta, sedangkan gaji para wakil rektor sekitar Rp 20 juta. Kelompok elite lain yang juga beruntung dengan gaji besar adalah para direktur dan para asisten wakil rektor yang semuanya berasal dari dosen juga. Berapakah sebenarnya gaji ideal yang pantas untuk seorang dosen UGM?

Sejak ditetapkan sebagai BHMN, UGM nampaknya mulai menerapkan
prinsip-prinsip corporate governance (CG) dan new public management (NPM). Intisari CG adalah manajemen organisasi publik yang dilakukan secara profesional sebagaimana lazimnya dilakukan perusahaan swasta. Sedangkan NPM mengasumsikan bahwa masyarakat berperilaku rasional sehingga pilihan masyarakat sebagai pelanggan akan ditentukan oleh daya tarik program. Universitas harus menata ulang struktur insentif dan disinsentif yang memungkinkan pelayanan terhadap pelanggan bisa dilakukan secara kompetitif.

Dengan asumsi di atas, dosen sebagai komponen terdepan dalam
berhadapan dengan mahasiswa sebagai “pelanggan” memang menjadi komponen penting yang harus diperhatikan dengan sangat serius. Dalam manajemen pengembangan SDM, memberikan kompensasi yang sesuai dengan standar pasar adalah sebuah keharusan.

Selama ini universitas justru relatif tidak peduli terhadap dosen. Para dosen harus berjuang sendirian (atau hanya dibantu kolega terdekat) agar bisa melanjutkan studi S2 dan S3. Universitas tidak merancang sistem karir yang jelas. Lebih dari semua itu, gaji dosen memang sangat rendah jika dibanding dengan kebutuhan yang harus dicukupi, sehingga mustahil menuntut kinerja yang tinggi dari para dosen.

Jika universitas hendak menerapkan manajemen profesional sesuai dengan semangat CG dan NPM di atas, dosen harus mendapatkan insentif tinggi tidak jauh beda dengan para dekan atau rektor dan wakil rektor. Tetapi karena jumlah dosen sangat banyak (dibanding pengurus fakultas dan universitas) maka tentulah sulit mencari sumber keuangan yang mencukupi untuk memenuhi kebijakan tersebut.

Karena itu, kebijakan menaikkan pendapatan dosen hendaknya dilakukan secara selektif sehingga penerimaan dosen bisa mendekati penghasilan para dekan. Untuk saat ini, angka Rp 10 juta mungkin cukup layak untuk pendapatan per bulan seorang dosen, walau pun di beberapa Program Studi atau Fakultas, angka ini mungkin termasuk kategori rendah.

Bagaimana mekanismenya? Biarkan gaji dan tunjangan fungsional
dosen sebagai PNS tetap seperti sekarang. Kenaikan pendapatan diberikan dalam bentuk variabel (misalnya mengajar, meneliti, membimbing mahasiswa, menulis buku, dll). Artinya, kenaikan ini memang merupakan fungsi dari kinerja dan prestasi riil yang dilakukan dosen. Para pengurus universitas dan fakultas pasti tahu bahwa saat ini terdapat ratusan dosen UGM yang hanya tercantum namanya tetapi tidak pernah jelas kehadirannya di depan mahasiswa (S1) di Fakultas. Terhadap dosen biasa di luar semacam ini tentu saja tidak perlu ada kenaikan insentif.

Kenaikan insentif juga harus dikaitkan dengan sistem penilaian kinerja. Memang benar, semua dosen bisa mengajar. Tetapi apakah yang diajarkan bisa dicerna dan bermanfaat bagi mahasiswa? Apakah tingkat kehadiran dosen dan waktu yang diberikan kepada mahasiswa sudah memadai? Apakah dosen mengajarkan materi yang sesuai dengan rancangan kurikulum dari Program Studi di masing-masing Fakultas? Apakah setiap Jurusan atau Program Studi sudah merancang kurikulum berbasis pengembangan keilmuan sekaligus akomodatif terhadap tuntutan “pasar”?

Dalam hal ini, para mahasiswa sebagai “pelanggan” bisa menjadi
salah satu tim penilai terhadap kinerja dosen, tentu saja dikombinasikan dengan komponen penilaian lain dengan standar akademik maupun parameter yang jelas.

Dengan model kebijakan semacam ini universitas bisa memberikan penghasilan tinggi bagi dosen. Implikasinya, penghasilan dosen tidak akan merata, juga tidak berbanding lurus dengan pangkat, golongan dan masa kerja. Penghasilan dosen akan ditentukan oleh kreativitas, inovasi dan produktifitas. Apakah Rektor berani mencoba?

*Penulis adalah Dosen Fisipol UGM.

About these ads
3 Komentar leave one →
  1. September 6, 2009 12:57 pm

    dulu dosen saya ada yang naik motor, tapi ada juga yang naik cr-v..pemandangan miris..meski yang naik motor memang menurut saya dosen yang tidak enak ngajarnya..tapi mudah-mudahan sekarang dah punya mobil..hehe

  2. September 6, 2009 4:53 pm

    Hmmm saya gak nyangka gaji dosen dan rektor nantinya bisa timpang begitu
    hadoooh…
    makin pontang – panting dan jelas ada kecemburuan sosial

  3. Merah Itu Berani permalink
    Mei 25, 2010 2:20 am

    Kecemburuan sosial diantara mahasiswa fisipol ugm aja udah banyak pak, lihat aja sekarang kampus fisip ugm. Kaum-kaum freak(aneh/tertinggal/ndeso), masih tetap bertahan di lantai 2 gembel-gembel. Karena saya tidak mau memilih-milih dalam berteman, terserah mereka yang trendy dan gaul itu yang tidak mau berteman dengan saya dan anak2 lainnya. Lihat kebawah dulu pak, baru nanti lihat ke atas…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 79 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: