Skip to content

KPK

Agustus 31, 2009

Oleh Putu Setia (Tempo Interaktif, 28 Juni 2009)

Di tengah riuh gemuruh kampanye calon presiden, di antara ribuan kata diumbar para tim sukses, banyak yang mencemaskan keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi. Lebih tepatnya, bukan keberadaan Komisi–disebut begitu saja supaya singkat–itu yang dipersoalkan, tetapi ada upaya yang membuat Komisi makin busuk. “Memangnya mangga, yang bisa busuk?” kata hati saya.

Namun, saya ikut cemas kalau benar ada upaya yang sistematis untuk memperlemah kerja Komisi. Berbagai cobaan dihadapi Komisi. Ibarat pepatah, makin tinggi pohon makin keras mendapat terjangan angin. Dan “terjangan angin” itu saya rasakan ketika Wakil Ketua Komisi Chandra M. Hamzah diperiksa polisi selama tujuh jam dalam kasus penyadapan telepon seluler Rhani, cewek yang jadi saksi kunci pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

Diperiksa tujuh jam? Ini yang mencemaskan, lebih-lebih bagi mereka yang tak tahu lika-liku pemeriksaan oleh penyidik kepolisian. Banyak muncul pertanyaan di masyarakat, bagaimana teknik polisi memeriksa seorang “terperiksa” begitu lama. Apakah pertanyaan diajukan dengan begitu pelannya dan “terperiksa” menjawab dengan terbata-bata? Atau mungkin diselingi nonton tayangan gosip di televisi? Apalagi dalam kasus Chandra M. Hamzah ini pertanyaannya–mestinya–amat sederhana.

Dari sini muncullah kekhawatiran di masyarakat, sepertinya Chandra mau “dibidik”, jika tidak, kenapa mesti berlama-lama diperiksa? Kalau Chandra sampai “kena bidik” dan kemudian menjadi “tersangka”, berkurang lagi pimpinan Komisi setelah Ketua Komisi (Antasari Azhar) dinyatakan nonaktif. “Di sinilah pembusukan itu,” kata seseorang, entah siapa.

Apa pentingnya dan siapa yang berkepentingan dengan “busuknya” Komisi? Oh, banyak. Para koruptor, baik yang sudah merasa akan diseret maupun yang masih gentayangan di tim sukses masing-masing calon presiden, berharap Komisi tidak hanya “busuk”, tapi juga “lumpuh”. Ketika seorang anggota Dewan yang terhormat berkoar-koar di televisi dalam kapasitas sebagai tim sukses calon presiden, seorang teman menelepon saya: “Lihat orang itu, dia kan disebut-sebut menerima cek saat memenangkan Miranda Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, kapan ditangkap, ya?”

Masih ada puluhan teman anggota Dewan itu yang seharusnya sudah dipanggil Komisi–atau langsung diperiksa tujuh jam dan ditangkap–jika semua pihak mendorong Komisi lebih semangat. Jadi ini dugaan beberapa teman dan saya setuju, anggota Dewan banyak yang sebenarnya ingin Komisi lumpuh, bukan hanya busuk. Bukti lainnya, Rancangan Undang-Undang Pengadilan Tipikor belum juga dibahas, padahal sebentar lagi anggota Dewan berganti.

Tapi apakah kepolisian ingin juga Komisi itu “busuk”? Saya tak mau berkomentar, takut kena masalah dan nanti “diperiksa tujuh jam”. Saya hanya ingin mengatakan, memang asal-usul adanya Komisi itu adalah para penyidik–kepolisian dan kejaksaan–dianggap “kurang semangat” dalam memberantas korupsi di negeri ini, meskipun kedua penegak hukum ini punya wewenang menangkap koruptor dan sudah dijalankan. Kalau saja polisi dan jaksa bersemangat “maju tak gentar” memberantas korupsi tanpa melihat “ada bulu atau tidak”, tak akan ada Komisi, apalagi Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Teorinya begitu, para hakim di pengadilan negeri sudah cukup menghukum koruptor.

Sayangnya, ketiga calon presiden tak jelas betul bagaimana sikapnya. Mereka bisa bilang, pemberantasan korupsi harus dilanjutkan lebih cepat lebih baik untuk tegaknya ekonomi kerakyatan, tapi mau diapakan KPK ini?

Iklan
One Comment leave one →
  1. Eva permalink
    Agustus 6, 2011 9:54 pm

    Kepada Ketua KPK
    Di
    Jakarta

    Selamat Malam Bapak Ketua KPK yang terhormat. Jika anda dipercayakan untuk memegang jabatan sebagai ketua KPK, saya sebagai rakyat kecil berharap supaya Bapak Ketua KPK jangan takut dalam memberantas korupsi. Bila Presiden RI terlibat kasus, bapak berhak mengankap beliau. Jangan takut di kecam. Kami semua mendukung kerja bapak dalam memberantas Korupsi di Indonesia ini.

    Disini saya ingin meminta bantuan kepada KPK, dimana uang Sertifikasi Guru dan uang Nonsertifikasi guru yang di setorper bulan sejumlah 250.000 , dan uang kesejateraan guru sejumlah 213.00/ bulan untuk Kodya Siantar (Provinsi Sumatera Utara) belum ada di terima. Mohon bantuan nya pak, supaya Kepala Dinas Pendidikan Pemko SIantar dan PPKAD di periksa, karena dana Sertifikasi guru dan Nonsertifkasi belum dicairkan hingga saat , termasuk Kesra Guru di daerah Siantar.

    Sebelumnya Pidato Presiden R pada bulan Januari 211 tentang Gaji guru, Bapak Presiden mengatakan bahwa gaji guru terendah minimal Rp. 2.564.000/ bulan. AKan tetapi hasilnya tidak ada, terbukti uang non sertifikasi dan uang sertifikasi belum diberikan hingga saat ini.

    Jika masih saja Indonesia seperti ini, saya yakin pendidikan di Indonesia tidak akan maju….

    Besar harapan saya bapak mau memperhatikan keadaan ini.

    Terimakasih.

    Tuhan Memberkati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: