Skip to content

NKRI Versus Papua Merdeka

Agustus 11, 2009

Petrus Pit Supardi (Kompas, 11 Agustus 2009)

Fenomena perjuangan kemerdekaan Papua tidak dapat dimungkiri. Sejak diintegrasikan ke pangkuan NKRI melalui Pepera 1969, Papua tidak pernah luput dari pergolakan politik untuk memisahkan diri dari NKRI. Ada banyak aksi dilakukan untuk menarik perhatian Pemerintah Indonesia dan internasional. Pertanyaan mendasar adalah mengapa Papua mau memisahkan diri dari NKRI?

Kesenjangan sosial

Hampir selama 32 tahun dalam era Orde Baru, Papua tetap menjadi pulau yang dilupakan. Papua dengan sumber daya alam yang melimpah hanya menjadi dapur bagi daerah lain di Republik ini. Segala kekayaan di perut bumi Papua, berupa minyak, emas, tembaga, dan lainnya serta keragaman hayati di permukaan bumi Papua, dikeruk dan dimanfaatkan untuk kepentingan kaum elite yang tinggal di pusat. Apa yang orang Papua dapatkan dari hasil kekayaan alamnya?

Orang Papua mengalami bahwa di satu sisi sumber daya alam habis dan serentak pula mobilisasi kaum imigran ke Pulau Papua kian tidak terbendung. Akibatnya, bukan hanya sumber daya alam yang habis, tetapi nilai-nilai budaya dan warisan leluhur pun ikut terkikis. Di sini muncul dilema, apa yang harus dilakukan agar orang Papua tetap eksis di atas tanahnya?

Untuk menebus dan mengembalikan citra orang Papua, maka berbagai upaya telah dan sedang dilakukan. Upaya yang sedang tenar dan menjadi wacana publik ialah dialog Papua-Jakarta.

LIPI menerbitkan hasil penelitian tentang Papua, Papua Roadmap, yang menampilkan sebagian wajah Papua. Demikian halnya buku Dialog Jakarta-Papua karya Neles Tebay yang memaparkan langkah-langkah dialog bagi Papua.

Persoalannya, belum adanya kemauan pemerintah untuk membuka ruang dialog dengan orang Papua. Alasannya beragam, di antaranya intensitas konflik di Papua terbilang rendah. Pertanyaannya, apakah harus ada pertumpahan darah lebih dulu baru dilakukan dialog di Papua?

Sejarah Papua

Tak dapat disangkal, orang Papua memiliki sejarahnya sendiri sebelum diintegrasikan ke pangkuan NKRI. Orang Papua memiliki pengalaman, mereka pernah menjadi bangsa merdeka lengkap dengan atribut kebangsaan, bendera bintang kejora, lagu kebangsaan ”Hai Tanahku Papua”, dan lambang negara Burung Mambruk. Simbol kenegaraan ini pernah ada dan dikumandangkan di atas tanah Papua.

Identitas orang Papua ini diatur dalam UU No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua. Namun, ketika nilai dan warisan masa lalu ini hendak diangkat dan ditetapkan sebagai simbol kultural orang Papua, Pemerintah Indonesia mengeluarkan PP No 77/2007 yang mengatur lambang daerah dan tidak mengizinkan bendera bintang kejora dipakai sebagai simbol kultural orang Papua. Fakta ini menunjukkan, Pemerintah Indonesia belum memiliki niat dan komitmen menyelesaikan sejarah orang Papua secara tuntas.

Ingatan akan penderitaan (memoria passionis) mengantar orang Papua kembali ke masa lalu, masa mereka mengalami kemerdekaan. Di sinilah benih-benih pergerakan kemerdekaan kembali bergema. Penderitaan membangkitkan semangat untuk berjuang merebut kemerdekaan.

Peningkatan kesejahteraan

Filosofi yang dibangun oleh Indonesia dan para pejuang pembebasan Papua Barat adalah prinsip harga mati. Bagi Indonesia, NKRI harga mati. Demikian halnya Papua Merdeka adalah harga mati bagi pejuang pembebasan Papua. Setiap pihak bersikukuh dan mengklaim pihaknya di posisi paling benar. Dalam situasi ini perlu dicarikan alternatif, jalan tengah, guna meredam sekaligus mempertemukan pihak-pihak yang mengklaim sebagai yang paling berhak atas Papua.

Pembenahan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan orang Papua merupakan alternatif penting dalam membangun Papua yang adil dan jujur. Juga peningkatan mutu pendidikan dan pelayanan kesehatan yang baik harus segera dilaksanakan.

Mengherankan, otsus Papua sudah berjalan hampir delapan tahun. Pada saat bersamaan dana yang dialirkan sebanyak Rp18 triliun lebih, tetapi tidak mampu memperbaiki nasib orang Papua yang hanya berjumlah 1,5 juta. Aneh tetapi nyata. Lalu, di mana letak kekeliruan pelaksanaan otsus bagi Papua?

Pemerintah Indonesia perlu membuka dialog bagi orang Papua. Segala kesepakatan yang terkait kehidupan dan masa depan orang Papua harus dilahirkan melalui dialog. Tanpa dialog, deklarasi Papua Tanah Damai yang dicanangkan para pemimpin agama di tanah Papua tidak akan terwujud. Karena itu, pemerintah pusat perlu mendengarkan suara orang Papua yang tiap hari berteriak meminta dialog yang adil dan jujur di Papua. Dialog merupakan solusi untuk berbagai persoalan di Papua.

Apakah perdamaian dan kesejahteraan akan lahir di atas tanah Papua yang hingga kini masih dilanda penderitaan karena ketidakadilan?

Petrus Pit Supardi Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur Abepura, Papua

Iklan
10 Komentar leave one →
  1. Agustus 29, 2009 10:40 am

    kenapa papua tidak bisa merdeka alasannya apa…???

  2. Agustus 30, 2009 3:54 pm

    @Alfa
    Karena penjajah tidak mau daerah jajahannya merdeka…

  3. Landry permalink
    Agustus 31, 2009 9:54 pm

    Dalam 8 tahun terakhir jika dirata2 dana yg digelontorkan pemerintah sebesar Rp. 2,25 trilyun hanya untuk 1,5 juta penduduk. Ini jumlah yg cukup besar, lantas knapa yg diusik masalah “KEMERDEKAAN” bukan pengelolaan keuangan di Papua? Jangan2 dengan menggunakan kata dlm tanda petik tsb. sebagai senjata untuk lepas dari pertanggunggjawaban financial dan lain-lainnya?
    Ada apa????

  4. tomoki permalink
    September 4, 2009 1:01 am

    Masyarakat Papua hanya menonton permainan yg d mainkan oleh elit pusat dan elit lokal, di atas tanah dan kekayaan merak sendiri

  5. ckris abaa permalink
    September 13, 2009 2:38 pm

    Orang akan sulit berkomentar tentang Papua, kalau hanya melihatnya dari buku2 sejarah saja. buku sejarah dapat dipolitisir. persoalan di Papua sama dengan keadaan masyarakat Jawa di jaman Belanda. Merasa tertindas dan sulit untuk hidup berkembang. ada batasan. walaupun diakui kondisi itu tidak sepenuhnya terjadi di Papua, tetapi sekian lama tertinggal selama 32 tahun membawa dampak di hati orang Papua. bukan siapa salah dan siapa benar. kita yang hidup saat ini tidak dapat memperkeruh soal dan proses damai yang dilakukan dengan opini2 tidak berarti. siapa provokasi siapa? SIapa yang berbuat jahat kepada siapa? Amin

  6. September 13, 2009 7:49 pm

    Tanah Papua

    Di sana pulauku, yang kupuja slalu
    Tanah Papua, Pulau indah

    Hutan dan lautmu yang membisu selalu
    Cenderawasih, burung emas

    Gunung-gunung, lembah-lembah
    Yang penuh misteri
    Kan kupuja selalu
    Keindahan alammu yang mempesona

    Sungaimu yang deras
    Mengalirkan emas
    Soya Tuhan, terima kasih

  7. Frans permalink
    September 18, 2009 1:34 am

    klu toh Indonesia tlh brani merebut Irian Barat (Papua) dari tgan Belanda,sdh sharusny RI mnjga dn mmlihra Papua dgn srius..Mnurut sjrah maupn ras,Papua tdk trmsuk dlm wilyh maupn rumpunny Indonesia..Jgn mentang2 byk hsl buminya maka ngotot utk mngmbil Papua msuk dlm wil NKRI smntra kesejhteraan masyrktny tdk diprhtikn

  8. CIKO. permalink
    Oktober 9, 2009 7:07 pm

    persoalan papua bukan soal makan minum, ini persoalan harga diri.

  9. Oktober 14, 2009 12:11 am

    BERIKAN AJA KEMERDEKAAN. KARNA JIKA KITA JUJUR DARI SEGI CIRI FISIK,SEJARAH DAN BUDAYA MEREKA BUKANLAH BAGIAN DARI KITA.

  10. try permalink
    November 1, 2009 7:36 pm

    Jika kita memang satu bangsa dari ikrar kita indonesia. kita harus mendukung OPM dalam menuntut hak-hak kita sebagai rakyat negeri Indonesia. kebodohaan kita diam dalam menuntut hak kita sebagai rakyat, sedangkan kepandaian OPM(saudara papua) adalah melawan/berjuang menutut hak mereka.
    freedom papua free for indonesia pepople. horas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: