Skip to content

Orang Tua ke Sekolah yang Mengusik Kenangan Saya

Agustus 5, 2009

Oleh: Ashadi Siregar (Catatan  di FB)

Beberapa kali saya baca di FB, ada teman menulis dalam statusnya untuk mengatur waktu guna menghadiri rapat orang tua di sekolah anaknya. Sejak punya anak, tentu saja saya juga mengalami hal yang sama. Tetapi untungnya, saya sudah membuat kesepakatan dengan isteri, untuk urusan semacam itu beliaulah yang akan menghandelnya. Soalnya, beliau lebih sabar untuk menunggui rapat yang dimulainya molor (biasa jam karet), dan perbincangan yang bertele-tele. Ada saja orang tua murid yang menikmati pertemuan untuk ajang pidato, panjang lebar mempersoalkan hal yang tidak terlalu urgen. Maka sampai anak saya selesai dari universitas, saya tidak pernah menderita akibat urusan rapat orang tua di sekolah anak. Alhamdulillah.

Tetapi tetap saja saya kepikiran, apakah sistem persekolahan sekarang memang begitu membingungkan anak, sehingga informasi persekolahan harus disampaikan langsung pada orang tua? Atau ada asumsi bahwa anak jaman sekarang memang “lemah’ daya ingat? Kalau yang yang terakhir ini saya tidak yakin, sebab saya merasa anak sekarang jauh lebih cerdas, jauh lebih ekspresif dibanding saya saat seusianya. Bahkan banyak anak sekarang, sebelum masuk sekolah dasar sudah mampu membaca atau setidaknya kenal aksara dan angka.

Mungkin sistem persekolahan lebih rumit dibanding dengan masa saya sekolah dulu. Sekarang, harus orang tua mendaftarkan anaknya, bahkan sampai ke perguruan tinggi ada calon mahasiswa masih diantar orang tua.

Saya masih ingat, lebih setengah abad yang lalu, untuk mendaftar ke Sekolah Rakyat (SR: sebutan untuk sekolah dasar) masa itu, saya hanya ikut bersama seorang saudara lebih tua 3 tahun yang sudah jadi murid di sekolah itu. Dia mempertemukan saya dengan kepala sekolah, lalu saya ditinggal, sebab dia harus masuk ke kelasnya. Saya sama sekali masih buta dunia persekolahan, sebab akibat lahir dan hidup di masa darurat revolusi, saya tidak menikmati frobel alias taman kanak-kanak. Kepala sekolah menyuruh melingkarkan lengan di kepala untuk mengecek apakah saya bisa memegang telinga saya sebagai indikasi bahwa saya memang sudah pantas masuk SR. Lalu saya memberi tahu nama saya untuk dicatat oleh kepala sekolah. Tidak ada akte lahir.

Begitu saja saya kemudian jadi murid kelas satu. Dan akibatnya, pada saat menerima rapor yang pertama, disitu nama saya tertulis tidak sesuai dengan yang diberikan oleh orang tua saya. Maklum lidah pelo saya tidak sempurna menyebut nama lengkap sendiri yang sangat berbau Arab seperti nama kakek, ayah dan seluruh paman-paman saya. Tetapi orang tua membiarkan saja, mungkin karena menganggap nama keliru itu, seperti yang saya gunakan sampai sekarang, lebih sesuai. Saya pun bersyukur dengan lidah kanak-kanak saya, sehingga hingga kini saya tidak perlu menggembol nama yang sangat Arabis itu.

Rasanya begitu mudah bersekolah. PR tidak pernah menjadi persoalan. Kalau memang ada (dan itu jarang, sebab seluruh pelajaran dapat diselesaikan pada jam sekolah), langsung dikerjakan selesai makan siang, lalu ngaji atau sekolah agama, atau ngabur bermain sampai dekat magrib. Orang tua tidak pernah mengurusi belajarnya anak. Di antara guru ada yang saling kenal dengan orang tua. Tetapi orang tua tidak pernah datang ke sekolah. Biasanya guru datang berkunjung hanya ke rumah murid yang lama absen karena sakit. Orang tua datang ke sekolah pada saat acara penerimaan surat tamat belajar. Itu pun karena anaknya ikut mengisi acara pesta perpisahan itu.

Setamat SR, masuk SMP, lalu ke SMA, tetap seperti itu. Datang sendiri ke sekolah. Mendaftar, lalu menjadi murid. Sampai menyeberang ke tanah Jawa, masuk universitas, polanya masih sama. Mendaftar sendiri, cuma sekarang pakai tes. Tapi rasa-rasanya tidak ada ketegangan seperti yang dialami anak-anak sekarang.

Saya masih beruntung, sebagai mahasiswa di Universitas Gadjah Mada, perkuliahan menumpang di Pagelaran (dan Sitihinggil), masih menikmati kuliah gratis… tis… tis… Seingat saya, tidak pernah secara khusus meminta uang kuliah pada orang tua, sehingga kiriman dari kampung hanya untuk biaya hidup.

Suasana batin saya dalam dunia pendidikan dalam kesederhanaan. Saat SR pernah bersekolah di sekolah berdinding gedek. Ini dapat dimaklumi, sebab selama perang kemerdekaan banyak bangunan tidak terurus, dan setelah pengakuan kedaulatan, gedung belum sempat direnovasi. Lumayan setelah SMP dan SMA, menempati gedung sekolah keren, bekas peninggalan sekolah jaman Belanda. Yang penting, selama di sekolah-sekolah “negeri” itu, seingat saya, tidak pernah ada “tarikan” dana dari orang tua.

Saya sepenuhnya produk asli sekolah negeri ala SR. Begitupun di UGM saya merasa sebagai produk UGM versi Pagelaran, sebab seluruh suasana batin saya terbentuk disini, sebelum Pagelaran ditinggalkan karena UGM seluruhnya berkampus di Bulaksumur, Dalam kemiskinan UGM, saya merasa lebih bahagia, sejak menjadi asisten mahasiswa mulai tahun 1968, sampai asisten dosen tahun 1970 di Pagelaran. Karenanya saya tidak pernah dapat menghayati suasana Bulaksumur itu. Saya berusaha menikmatinya secara imajiner, dengan menulis novel dengan mengambil setting kampus ini. Tetapi batin saja tetap tidak bisa memasuki alam persekolahan Bulaksumur.

Terlebih saya mengalami “tekanan batin” saat sudah menjadi dosen, pada pertengahan tahun ‘70an. Karena memang harus bergilir sebagai pengelola administrasi di kampus, saya harus ikut dalam acara “menyembelih” orang tua mahasiswa baru (maba). Saya tidak tahu dari mana istilah “menyembelih” ini, mungkin dari sarkasme pengurus fakultas yang harus menjalankan tugas mengumpulkan dana sumbangan dari orang tua maba. Acaranya adalah mewawancarai maba atau orang tuanya untuk menanyai kesanggupan memberi sumbangan untuk fakultas. Saya hanya sanggup menjalankan tugas itu satu periode penerimaan maba. Setelah itu saya kapok, walaupun tentunya dipandang tidak menjalankan tugas dengan baik. Saya sungguh merindukan masa sekolah saya, yang tidak pernah terintimidasi oleh uang.

Sekarang “penyembelihan” itu langsung berupa form yang harus diisi calon mahasiswa saat mendaftar. Saya sangat sedih, saat anak saya mendaftar di UGM, menanyakan kategori sumbangan mana yang harus diisinya, Anakku tidak menikmati kemiskinan sekolah saya, sekaligus tidak pernah merasakan kebahagiaan bersekolah.

Saya merasa beruntung sebab sebagai pegawai negeri saya adalah titipan dari negara untuk menjadi pengajar di UGM. Negara membiayai saya (betapapun selalu dikeluhkan gaji yang kecil), saya berusaha menjalankan tugas itu. Dan semakin tidak sabar menanti masa pensiun untuk segera mengucapkan selamat tinggal pada dunia persekolahan yang dijalankan semakin ala korporasi.

Dan sekarang, setiap kali ada pertemuan orang tua di sekolah mulai SD sampai PT, apakah tujuannya? Apakah yang dipersepsikan oleh pengelola sekolah dan orang tua murid? Apakah untuk memikirkan aspek pedagogis anak didik? Ataukah hanya sekadar pertemuan produsen dan konsumen, sebagaimana acara-acara customer services? Pulang ke rumahnya, orang tua membawa seberkas laporan keuangan yang tersusun canggih, bukti akuntabilitas pengelola keuangan sekolah atas dana sumbangan; dan seberkas pula proposal untuk sumbangan tahun yang akan datang. Berkas-berkas inilah yang mempertemukan orang tua dengan sekolah. Kapan orang tua dapat membincangkan dengan guru-guru masalah pedagogis anaknya?

Ashadi Siregar, penulis novel Cintaku di Kampus Biru, dosen Fisipol UGM Yogyakarta.

// <![CDATA[// // <![CDATA[//

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. Agustus 5, 2009 12:17 pm

    cerita yang luar biasa pak…. pada waktu itu anak2 kecil sudah dididik mandiri (walau tanpa sengaja) sehingga bisa berkembang seperti sekarang tanpa harus sangat tergantung dengan orang tua….
    Info yang sangat menarik, kritis dan membangun….. trim’s

  2. Agustus 5, 2009 1:48 pm

    saya kaget !

    Bukan apa2, saya gak pernah tahu bahwa sekolah dulu benar2 pernah gratis kayak pak Ashadi itu.
    Taunya bayar.

    Duuh kata2nya.. menyembelih….
    Tapi biaya yg tinggi itu memang menyembelih orang tua….

    akhirnya sekolah hanya menjadi komoditi…

  3. Mei 29, 2012 2:32 pm

    Semoga Anak-anakku dapat beasiswa sekolahnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: