Skip to content

TNI AD Harus Bentuk “Pleton Intelijen” di Kodam dan Kodim, Manullang: Bom Marriott Operasi Intelijen

Juli 19, 2009

Sumber: pelita.or.id

Pengamat intelijen Dr AC Manullang mensinyalir bom Marriott merupakan hasil kerja operasi intelijen internasional, yang mengarahkan seolah-olah peristiwa itu dilakukan oleh Jemaah Islamiyah (JI).

Beberapa waktu lalu, kata Manullang di Jakarta, Jum’at (8/8), Al Jamirie yang mengaku sebagai orang kedua Osama Bin Laden menunjukkan suaranya di TV Al Arabia, Dubai. Di situ Al Jamirie menyatakan kepada Amerika Serikat (AS) dan seluruh negara-negara yang membantu AS, jika mengorbankan darah orang muslim akan dibalas dengan kekerasan.

“Ini disiarkan luas di AS. Itu sama halnya dengan yang dilakukan Osama, mengancam AS dan sekutunya untuk balas dendam. Bom Marriott dikaitkan dengan akan dihukum matinya Amrozi. Ini satu hal yang luar biasa, operasi intelijen Internasional,” katanya.

Mereka, telah berhasil membentuk opini masyarakat di Indonesia, termasuk dunia Internasional, bahwa Islam identik dengan teroris. “Bom Marriott pasti akan dikatakan perbuatan kelompok JI dan polisi akan membuktikan hal itu,” ucap Manullang.

Menurut Manullang, data intelijen menunjukkan tidak ada suatu indikasi yang bahwa Jemaah Islamiyah yang melakukan pengeboman di Marriott, tetapi bukan tidak mungkin bahwa kelompok JI ini dimanfaatkan atau ditunggangi kepentingan asing atau dari Al Qaeda yang dikatakan sebagai teroris.

Dikatakannya, orang menghubungkannya dengan kejadian bom bunuh diri beberapa waktu lalu di Arab Saudi dan pemerintah saudi mengatakan itu adalah perbuatan kelompok JI.

“AS menyatakan bahwa JI adalah kepanjangan tangan Al Qaeda. JI di Asia Tenggara juga dikatakan merupakan kepanjangan dari Al Qaeda, maka orang pun cenderung menganggap pengeboman (Marriott) ini adalah tindakan JI, lalu pihak polisi menduganya dari bukti-bukti nyata di lapangan,” katanya.

Pleton intelijen

Pada bagian lain, Manullang mengatakan bukan tidak mungkin aparat kepolisian mampu mengungkap kasus bom Marriott seperti halnya kasus bom Bali. Namun, ia maragukan polisi mampu mengungkap siapa aktor intelektual di balik pengeboman itu.

Dia menyebut biasanya polisi hanya mampu mengungkap pelaksana di lapangan saja. Bom Marriott, begitu AC Manullang, walau bagaimana pun bom itu bukan dibuat dengan tiba-tiba, tetapi sudah direncanakan matang dan sistematis, baik dalam hal pemilihan waktu (timing), penerapan Iptek, dan sasarannya.

“Mereka telah berhasil mencapai targetnya yaitu di kala orang terkonsentrasi pada pengamanan Gedung MPR/DPR tetapi mereka meledakkan bom di Marriott, ini kan luar biasa,” katanya.

Ia menilai kinerja intelijen masih lemah, karena seharusnya intelijen sudah bisa mendeteksi setiap tindakan yang ada. Menurut dia, hal itu terbalik karena seharusnya Intelijen tidak bisa memberi bukti, tetapi tugas intelijen adalah memprediksi dan mencegah jangan sampai peristiwa itu terjadi dulu.

Oleh karena itu, ia menyarankan kepada TNI, khususnya AD untuk memainkan peran dengan membentuk pleton intelijen di setiap Kodam dan Kodim di seluruh Indonesia untuk melakukan tugas-tugas intelijen dalam rangka menangkal aksi-aksi terorisme berkembang lebih jauh di Indonesia.

“Sekarang ini bukan lagi polisi yang mesti menangani aksi terorisme tersebut, tetapi TNI-lah yang seharusnya mengemban tugas itu,” katanya.

Dalam kaitan itu, menurutnya, sudah saatnya TNI, khususnya Angkatan Darat, memainkan peran untuk menangkal berkembangnya aksi terorisme di Tanah Air dengan membentuk Pleton Intelijen di setiap Komando Daerah Militer (Kodam) dan Komando Distrik Militer (Kodim).

“Sudah saatnya sekarang ini Jenderal Ryamizard Ryacudu (Kasad) segera membentuk ‘Pleton Intelijen’ di setiap Kodam dan Kodim di seluruh Indoensia.

“Karena hanya operasi intelijen oleh TNI saja yang bisa menghadapi aksi teroris nasional maupun internasional,” katanya.

Menurut dia, sekarang ini bukan lagi polisi yang mesti menangani aksi terorisme tersebut, tetapi TNI-lah yang seharusnya menghadapinya.

Pleton Intelijen yang akan bertugas itu, lanjut AC Manullang, harus bisa bekerja secara profesional dalam hal penyelidikan, pengamanan, dan penggalangan. Hasil kerja Pleton Intelijen itu dilaporkan kepada lembaga intelijen dan BIN (Badan Intelijen Negara).

Kemudian, BIN melaporkannya langsung kepada Presiden. “Presiden boleh percaya atau tidak, itu urusan Presiden,” katanya.

Selain itu, katanya, untuk mencegah dan menumpas aksi teroris, pemerintah perlu melakukan kerjasama Intelijen Internas, khususnya dengan Amerika Serikat (AS), seperti yang dilakukan Malaysia dengan membentuk sebuah Lembaga Anti Teroris. (ant/jon)

Iklan
5 Komentar leave one →
  1. Juli 20, 2009 8:58 am

    Pekerjaan intel sesungguhnya adalah mengamankan negara….entu yang pasti….semua cara harus dilakukan demi aman nya Indonesia….

  2. Kontra teroris permalink
    Agustus 1, 2009 10:02 pm

    saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dr.AC Manullang, ingat di negara kita sudah masuk beberapa ribu agen CIA dan Mozzad knp qta tidak curiga thd mereka? Mereka dapat mengorbankan warganya untuk sebuah kepentingan besar yakni membentuk opini publik kepada masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam agar ada pembenaran bahwa yang melakukan serangkaian tindakan pengeboman adalah orang islam (JI) padahal mungkin saja JI itu bentukan / buatan/ boneka mereka, jadi ada penanaman fitnah yang luar biasa kepada qta masyarakat indonesia bahwa JI lah pelakunya, JI memang ada tetapi agendanya saya yakin tidak menyimpang dari ajaran Islam, jadi yang melakukannya ya JI bentukan mereka sendiri , ini adalah scenario besar mereka dengan menggunakan politik Devide Et Impera (memecah belah) yang pernah dipakai Belanda pada waktu menguasai Indonesia, siapa yang dipecah belah?yang dipecah belah adalah negara yang mayoritas penduduknya Islam spt; Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, pakistan, dls.

  3. Desember 1, 2009 10:47 pm

    regu intel di satpur dan satbanpur akan lebih efektif dan efisien karena satuan tsb,disiapkan untuk operasi tempur

  4. Januari 25, 2010 12:01 pm

    Ass….., pak saya mu tanya tentang penyakit saya ini, gimana penndapat bapak tentang penyakit paracocel ?

  5. Agustus 14, 2013 9:04 am

    inti’nya kita harus slalu siap dan siaga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: