Skip to content

Risiko Fiskal dan Transparansi Anggaran Daerah

Juli 11, 2009

Dalam Nota Keuangan dan RAPBN 2008 Pemerintah memasukkan risiko fiskal (fiscal risk) sebagai isu yang cukup penting untuk dipertimbangkan dalam pembuatan kebijakan penerimaan dan pengeluaran negara. Hal ini merupakan langkah bagus, meskipun sudah agak terlambat karena negara-negara lain sudah menerapkan beberapa tahun lebih awal.

Di dalam Kerangka Konseptual Pengungkapan Risiko Fiskal dalam Nota Keuangan dan RAPBN 2008, Badan Kebijakan Fiskal (2007) menyatakan bahwa risiko fiskal dapat diartikan sebagai peristiwa-peristiwa tertentu yang dapat mempengaruhi posisi fiskal Pemerintah.

Pada prinsipnya risiko fiskal dapat diartikan sebagai ketidakpastian di masa depan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan kebijakan fiskal yang telah dibuat sebelumnya. Dalam praktik pengelolaan keuangan pemerintah di Indonesia, setelah tahun anggaran berjalan melampaui satu semester, dilakukan perubahan anggaran atau rebudgeting sebagai respon terhadap tidak terpenuhinya asumsi-asumsi yang ditetapkan sebelumnya.

Perubahan anggaran, baik pada Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah, merupakan konsekuensi dari risiko fiskal yang melekat (inherent) dalam peramalan pendapatan (revenues) dan belanja (expenditures). Namun, tidak berarti setelah dilakukan perubahan anggaran risiko fiskal tidak terjadi selama sisa tahun anggaran berjalan. Hal ini dapat dilihat dalam laporan atas pelaksanaan anggaran yang dibuat setelah tahun anggaran berakhir. Di pemerintah daerah laporan ini disebut Laporan Realisasi Anggaran (LRA), yang memuat komponen pendapatan, belanja, dan pembiayaan beserta besaran anggaran, realisasi, dan selisih anggaran dan realisasinya.

Selisih antara anggaran dan realisasi untuk ketiga komponen tersebut (yakni pendapatan, belanja dan pembiayaan) menunjukkan ketidakakurasian dalam penganggaran. Ketidakakurasian ini merupakan salah satu “pengukur” risiko fiskal dalam penganggaran.

Risiko Fiskal dan Penganggaran Tradisional

Ada beberapa faktor yang menyebabkan risiko fiskal selalu ada, salah satunya adalah penerapan pendekatan anggaran konvensional atau tradisional. Allen Schick (2006) menyatakan bahwa anggaran konvensional sudah tidak memadai lagi, karena:

  1. Masih menggunakan basis kas, dimana pengeluaran (expenditures) dicatat ketika pembayaran dilakukan, tidak ketika kewajiban (liabilities) timbul.
  2. Definisi dan kriteria pengakuan. Aturan dalam akuntansi tradisional menghalangi pengakuan risiko yang belum pasti.
  3. kewajiban implisit: banyak risiko yang masih implisit (moral atau politis), bukan kewajiban yang legal (legal obligations)
  4. Anggaran sering menyalahi kondisi fiskal pemerintah: kewajiban (seperti tunggakan2) dikeluarkan, seperti dilakukan terhadap dana-dana off-budget dan extra-budgetary.
  5. Anggaran tidak melihat ke depan (the budget is not forward looking). Horison waktu terbatas pada satu tahun dan kebputusan pengeluaran dibuat tanpa melihat implikasi ke depan.
  6. Anggaran tidak memasukkan contingent liabilities: Pembayaran-pembayaran pada masa yang akan datang untuk skema penjaminan dan asuransi hanya dimasukkan dalam tahun dimana pembayaran dilakukan.

Mengendalikan Risiko Fiskal

Menurut Schick (2006), ada beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk membatasi risiko fiskal pemerintah (limiting the government’s fiscal risk), yakni:

1. Melakukan penilaian atas risiko (risk assessment) sebelum komitmen dibuat. Waktu paling tepat untuk mengontrol risiko adalah sebelum pemerintah menerimanya.

2. Risk assessment dipisahkan dengan risk commitment. Di pemerintah, assessment dan commitment ditangani oleh entitas yang sama. Sementara di bisnis, keduanya dipisahkan.

3. Kewajiban yang diperkirakan akan terjadi dilaporkan dalam lampiran laporan keuangan. IMF code of good practice on fiscal transparency merekomendasikan pelaporan secara eksplisit atas contingent liabilities.

4. pemerintah berbagi risiko dengan perusahaan atau rumah tangga. Para pengambil risiko (risk-takers) biaya-biaya yang timbul sebagai konsekuensi yang telah diambil bersama.

Masalah Moral Hazard

Dalam teori keagenan (agency theory), ada dua perilaku yang melekat dalam diri individu, yakni adverse selection (pre-contract) dan moral hazard (post-contract). Moral hazard terjadi ketika seseorang menggunakan informasi atau kedudukan yang dimilikinya untuk kepentingan dirinya sendiri (self-interest). Hal ini juga menjadi faktor penentu dalam risiko fiskal.

Esensi dan efek perilaku moral hazard ini terhadap risiko fiskal adalah (Schick, 2006):

  1. Moral hazard terjadi ketika risiko berpindah dari satu orang atau entitas ke orang atau entitas lainnya, seperti dari rumah tangga (households) ke pemerintah.
  2. Dengan pooling risk, skema asuransi menghasilkan moral hazard, tetapi hal ini dapat dibatasi dengan meminta risk-takers menanggung sebagian risiko dari tindakan yang diambilnya.
  3. Dengan membantu korban bencana, pemerintah memberikan dorongan (incentives) untuk membangun atau berpindah dari lokasi yang terkena bencana. Insentif ini dapat dikurangi dengan pembebanan risk-adjusted premiums atau mengatur pembangunan di area tersebut.
  4. Moral hazard meningkat ketika pemerintah mengalihkan implicit obligations ke explicit liabilities.
  5. Akhirnya, pemerintah memang harus mengambil tanggung jawab terhadap implicit obligations hanya ketika ketika dampak yang timbul berbalikan dengan yang diharapkan.

Tulisan-tulisan yang terkait:

Kerangka Konseptual Pernyataan Risiko Fiskal (Fiscal Risk Statement)

Fiscal Risk Statement.

Irfa Ampr. 2006. Manajemen Risiko di Lingkungan Pemerintah: Pengantar Aplikasi pada Unit-unit Departemen Keuangan. Jurnal Akuntansi Pemerintah. Vol. 2, No. 1, Mei 2006 (Hal 79 – 91)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: