Skip to content

Kasus Prita Mulyasari – Apa yang harus kita lakukan?

Juni 2, 2009

Berikut ini adalah surat pembaca saudari Prita Mulyasari di Detik.com yang membawa dia masuk penjara. Sebuah ironi di negara yang mengaku memiliki Presiden yang bijaksana, negawaran, dan diagung-agungkan partai politik pengusungnya. Di mana peran pemerintah untuk mengayomi rakyatnya? Di mana para politisi yang katanya akan membela konstituennya? Beberapa blog (misalnya: ndorokakung, tikabanget, masoglek, dan mahasiswa STAN) dan Facebook mengulas masalah ini dengan isu utama: bagaimana membela konsumen yang lemah.

Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@yahoo.com
081513100600

=================================

Sumber: http://mahasiswastan.wordpress.com.

Iklan
31 Komentar leave one →
  1. Agus Kristianto permalink
    Juni 2, 2009 1:57 pm

    istri saya pernah berobat ke sana pertama dan yang terakhir. mentang2 perusahaan besar, terlalu arogan. dikomplain ngadu ke polisi.

  2. mahasiswastan permalink
    Juni 2, 2009 2:12 pm

    Ayo pak syukryi,sebagai blogger kita dukung apa yang temen-temen kita.
    Sebarkan berita ini kepada semua nya. minimal keluarga kita sendiri dan teman-teman kita.

  3. Juni 2, 2009 8:21 pm

    SAya bantu doa aja ya mbak…semoga tabah dan cepet kelar masalahnya… Amin… 🙂

    http://sendit.wordpress.com

  4. Juni 2, 2009 11:01 pm

    Saya ada di Malang….ketika membaca cerita yang di tulis mbak prita, terus terang…saya MANGKEL dengan rumah akit itu….SAYA SELAKU RAKYAT INDONESIA MENDUKUNG AGAR MBAK PRITA SEGERA DIBEBASKAN….TUNTUT BALIK RUMAH SAKIT OMNI, itu namanya MALPRAKTEK.
    Untuk mbak prita semoga lekas sembuh, saya yakin RUMAH SAKIT ITU NGGAK AKAN BISA BERKEMBANG, DAN TIDAK AKAN MENDAPAT RIZKY YANG BERMANFAAT.

  5. Juni 3, 2009 11:21 am

    banyak banget emang dokter yg seperti itu !!!
    dan itu malah terjadi pada RS yg besar.

    saya turut prihatin

  6. Bedjo permalink
    Juni 3, 2009 12:36 pm

    Sungguh nasib manusia Tuhan yang tahu ! Kasus Ibu Prita Mulyasari mungkin sebagai salah satu contoh dari kesewenangan dan keserakahan dari sekian banyak mahkluk Tuhan. Dan masih banyak lagi kasus kasus yang menimpa terutama rakyat kecil dan miskin yang tidak berani berbuat apapun kecuali meng iyakan saja ! tanpa berani berontak. Ibu Prita Mulyasari salut buat anda yang berani buka suara, namun sayang keadilan belum berpihak kepada anda. Aparat penegak hukum yang seharusnya mengabdi dan mengayomi masyarakat pun sudah tidak bisa melihat konteks permasalahannya dengan baik karena faktor x , sehingga dengan sangat gampang main tahan orang seharusnya mendapat perlindungan hukum. Saya sungguh sanggat prihatin dengan kejadian ibu Prita Mulyosari . Namun saya hanya bisa titip do’a semoga msalah anda segera mendapatkan keadilan. Berdoalah Tuhan Pasti mendengar Do’a anda. Dan jangan takut menyuarakan kebenaran.

  7. Juni 3, 2009 1:09 pm

    ayo bebaskan tante prita!! kasiaann…

    salam kenal. salam ganteng dari diazhansome

  8. engeldvh permalink
    Juni 3, 2009 1:09 pm

    Memang dah…
    Gimana nih hukum, malah membantu yang melakukan kesalahan….:-(
    http://engeldvh.wordpress.com/2009/06/03/dukung-ibu-prita-solideritas-dunia-maya/

  9. takpenting permalink
    Juni 3, 2009 1:11 pm

    ya ampun, tega banget RS nya.
    kita doakan bwat prita. dia kan cuma nyebarkan e-mail itu ke teman2nya doang.
    http://takpenting.wordpress.com

  10. laluagustino permalink
    Juni 3, 2009 1:53 pm

    jgn khawatir bu prita, Allah bersama kita dan akan menurunkan pertolongan kpd ibu secepatnya…

  11. Juni 3, 2009 2:28 pm

    sudah ada perintah dari Wapres untuk segera membebaskan Prita koq…kita tunggu aja…
    info dan artikelnya ada disini :

    http://infopentingnih.wordpress.com/2009/06/03/jk-bebaskan-prita-segera/

    silahkan mampir ya….thanks… 🙂

  12. Linkz permalink
    Juni 3, 2009 7:31 pm

    Malpraktek lah i2.. Sbnrnya dokter n para staff pasti uda tau ada kslhn yg awalnya kecil, cman mreka takut aja kalo ktauan mlakukan ksalahan lalu tersebar luas, n dtuntut ber em-em rupiah,lalu turun pamor. Sbnrnya mslh kyk gini ga jrg tjd d rs2 n berakir damai, cman rs omni kalo dliat dr crt, salah langkah dlm mnyelesaikan mslh (tlalu arogan). Ckckckck.. (mudah2an kasus ini bs jd pelajaran bwat para pelaku tenaga kesehatan, terutama para calon2 dokter tentang informed-consent).
    Serangan yg dlakukan bu prita mnrt saya adlh wajar n halus,krn tdk lgsg menyewa pengacara yg ‘suka cr2 kasus, bertengger di rs2’. Shrsnya rs omni mensukuri hal itu,n tdk membesar2kan dgn melapor k aparat bwenang.

  13. Juni 3, 2009 9:18 pm

    Saya nggak tau persis kronologi sampai terjadi penahanan, dan bagaimana proses pengadilan itu berlangsung. Saya pegang saja asa praduga tak bersalah.

    Tapi dalam hal kemanusiaan, tentu lebih manusiawi kalau ibu prita bisa bebas mengasuh anak-anaknya.

    Ada pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini.

    Cara Aman Menyampaikan Opini Di Media Massa

    .

  14. end permalink
    Juni 3, 2009 10:57 pm

    mbak prita yang sabar ya…”Jika Allah akan memberi kebaikan seseorang,maka dia akan diuji”(alhadist tp teksnya saya ga apal,insyalh sahih : ) )…alhamdulillah smg mbak prita insyalah lulus ujian …dg ttp bisa bersabar…smoga RS itu mendapat balasan yg setimpal.dipikirnya dg menutupi kesalahan dan menganggap kecil perkara selesai maslah.skrg mereka merasakan akibatnya…masyarakat sudah pintar menilai sesuatu…nama RS tsb jadi lebih buruk dari perkiraan mereka…

  15. ayou3 permalink
    Juni 4, 2009 9:42 am

    saya ikut prihatin mbak…saya udah baca kasus yang menimpa anda…
    ini semacam kayak malpraktek gt..
    saya hanya bisa bantu doa mbak..bukan mbak aja yang di perlakukan kayak gini banyak orang yang disna di lakukan kayak gini…tapi apa yang bisa di lakukan ya cuma hanya diam…dan takut untuk mengadukan ya..karna hukum yang ada siapa yang kuat dia yang mana kita yang lemah ini apa lah dayaya…sekali lagi ambil aja hikmah dari semua ini mbak semoga mbak tabah dalam menjalani ini semua…amin…

  16. Juni 4, 2009 11:35 am

    Please try to hearing from the other side…dnt concept our mind before knowing the truth….tukul arwana aja tau selogan don’t judge the book just from the cover….please see the unseen….time will answering all the truth…..

  17. ekojuli permalink
    Juni 4, 2009 1:12 pm

    dukung kebebasan beropini….

    Klu OMNI nantinya menang di persidangan. Apa yang terjadi? simak disini:

    http://ekojuli.wordpress.com/2009/06/04/kasus-prita-mulyasari-2-kalau-omni-menang-apa-yang-terjadi/

  18. Juni 5, 2009 2:48 pm

    dukung CABUT.. IZIN RS OMNI.INI.!! amit-2..saya tidak mau injak kaki disitu,rumah sakit dengan kualitas menyengsarakan pasien..!

    semoga Bu Prita diberikan ketabahan dan kemudahan..Amin.

  19. jdul permalink
    Juni 5, 2009 6:34 pm

    Yang jelas jika bu Prita bebas nanti.. gantian deh masyarakat akan tuntut balik ke penguasa hukum dan omni ( polisi, jaksa, pengacara, yang ngebantu omni tentunya). Dan buat CAPRES yang peduli dengan bu PRITA dan lainnya yg senasib pasti akan dipilih rakyat. Dan Capres yg bubarkan UU ITE juga kan menjadi idola rakyat inteletual dan kaum miskin.

  20. jdul permalink
    Juni 5, 2009 6:43 pm

    Kita jadi heran nih…. katanya negeri ini suruh maju berteknologi jangan ketinggalan dengan negeri orang lain. Katanya demokrasi ditegakkan, katanya kita disuruh menghadapi era global, katanya disuruh bisa internet, katanya disuruh pinter, katanya disuruh jangan GAPTEK…. eh ujung-ujungnya PENJARA—PENJARA !!!! Kalau yang namanya negeri maju itu ya harus bebas dan demokrasi, bebas berpendapat, bebas berargumen, bebas bicara asal sopan, bebas berekspresi tentunya. Nah ketahuan kan sekarang siapa yang GOBLOK !!! Omni kah ? Jaksa kah? Polisikah ? bu Prita Kah ??? Yang bisa mengerti dan yang akan menghakimi adalah masyarakat tentunya….!!! terbukti !!!

  21. Juni 9, 2009 9:05 am

    BREAKING NEWS !!!
    TANGGAPAN KEJATI BANTEN ATAS PEMERIKSAAN JAKSA YANG MENUNTUT PRITRA:
    “Kita tidak berbicara siapa yang akan kemudian bertanggung jawab terhadap pembuatan …(BAP),yang penting, tapi siapa yang harus bertanggung jawab mereka yang melakukan tindakan pidana (PRITA). Saya berikan apresiasi kepada jaksa tersebut!!”

  22. Juni 9, 2009 11:06 am

    HASIL DENGAR PENDAPAT KOMISI IX DPR DGN MANAGEMENT RS OMNI:
    1. KOMISI SEMBILAN TIDAK PUAS DENGAN JAWABAN DARI PIHAK RS OMNI
    2. MENGUSULKAN PENCABUTAN IZIN OPERASIONAL RS OMNI
    3. MENCABUT TUNTUTAN RS OMNI KEPADA PRITA MULYASARI
    4. RS OMNI HARUS MINTA MAAF SECARA TERBUKA KEPADA PRITA MULYASARI

  23. Juni 13, 2009 12:33 am

    Perusahaan jasa apapun tolonglah untuk menjadi perusahaan jasa yang bijak, apalagi ini adalah bergerak di bidang layanan kesehatan yang tentu saja didalamnya dipenuhi orang2 pintar dan orang2 hebat di bidangnya masings yang sengaja disediakan untuk membantu orang2 yang membutuhkan penyembuhan dari sakit. Namun kehebatan, keahlian tidaklah cukup, kebijakan-kebijaksanaan, keluhuran-kelembutan budi, nurani dan pikiran menjadi hal yang tidak kalah pentingnya untuk mewujudkan layanan berbayar maupun tidak berbayar yang baik. “Keluhan pasien/pelanggan” sudah seharusnya sebagai feedback dan bahkan bisa dijadikan tools/alat untuk mengukur tingkat layanan dan bukan sebagai alat untuk membungkam atau bahkan mencelakakan orang yg pernah dilayaninya yang kemudian menyampaikan keluhan atas layanan buruk yang diterimanya secara terbuka. “Keluhan atau kompalin terbuka melalui media masa (termasuk media maya) saat ini sudah menjadi hal yang biasa, wajar dan legal. “Tolonglah ! dan bantulah Agar Mba Prita bisa segera bebas dari berbagai tuntutan dan terbebas dari tahanan !.”

  24. Juni 19, 2009 2:16 pm

    semoga Allah SWT melindungi umat nya dari sifat buruk dan kezaliman ..
    selama kita berada di jalur yg benar, jgn pnh TAKUT, terus maju …
    tegakkan kebenaran ….
    Laknat semua kemunafikan yg ada …

  25. Juni 23, 2009 3:04 pm

    ternyata curhat-curhatan di dunia maya harus hati-hati lho. padahal ada uu tentang kemerdekaan mengemukakan pendapat.buat tante prita ajukan aja uu itu

  26. Nurwanto permalink
    Desember 6, 2009 6:12 pm

    Waduh,aku orang desa yang bodoh dan sangat kurang dalam pengetahuan,tapi melihat kasus ibu Prita,aku juga geram sendiri,kenapa ya kok bisa begitu? Jika memang semua yg di katakan ibu Prita adalah benar,maka pihak rumah sakit (org2 yang bertanggung jawab menangani penyakit ibu Prita) harus bertanggung jawab secara moral. Seharusnya bisa dijadikan pelajaran agar besoknya akan lebih bijaksana dalam menyikapi suatu masalah,ini bukan tentang bisnis,tapi tentang pekerjaan yg mulia,menyelamatkan nyawa. Oh iya,satu lagi,mbok ya agak ‘familiar’ gitu napa,udah tahu ibu Prita juga orang kecil,kok malah di tindes dgn ‘keahlian-keahlian’ hukum,jelas saja bu Prita kalah. Ibarat 1 cacing melawan 1000 semut. Namun,hati nurani kita pasti tahu…’Tuhan Selalu ada dan Maha Mengetahui’. Pertanggung jawaban di akhirat akan lebih berat. Untuk ibu Prita,yang tabah ya ibu,kebenaran tetap akan menang pada akhirnya. Salam dari Blitar -Nurwanto-

  27. ana permalink
    Desember 8, 2009 2:19 pm

    Sangat jengkel bgt dengn masalh ini…buat bu prita smoga tabah jalanin ini smua, pasti ini sebuah ujian yg pasti menguntungkan semua pihak..tau kondisi Di indonesia, masalah hukum, maslah Dokter2 yg asal kerja, banyak pelajaran yg harus di kutip dari masalah ini. Melalui bu Prita di tunjukin semua nya…Good luck Bu Prita.

  28. dany permalink
    Desember 19, 2009 6:02 pm

    saya turut prihatin sekali atas kejadian yang menimpa Ibu prita… Sy hanya bisa mendoakan semoga ibu sekeluarga selalu diberi perlindungan oleh Allah SWT, dan semoga orang-orang yang bertindak memperlakukan ibu prita dg sekenaknya sendiri jg mendapatkan balasan yg setimpal dari Allah SWT dan ingatlah bahwa balasan dari Allah SWT lebih sakit daripada yang dikira. Kita sebagai manusia diciptakan Oleh Allah SWT untuk saling membantu, saling menolong bukan nya malah seperti itu..

  29. Desember 27, 2009 5:53 pm

    Semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya dari kasus mbak prita ini, bagaimanapun pahitnya.
    Kekuasaan dan kesewenang2an tidak akan berdiri dengan mudah selama kita masih perduli terhadap sesama, terutama bagi orang-orang yang membutuhkan.

Trackbacks

  1. Bebaskan Ibu Prita Mulyasari
  2. » Bebaskan Ibu Prita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: