Skip to content

Tipu Aceh

Mei 22, 2009

Oleh Murizal Hamzah, Serambinews (13 Mei 2009)

PAGI lempar senyum, malam lempar granat. Boleh jadi warga yang lempar senyum itu, dia juga yang lempar granat ke markas ini. Jadi jangan sekali-kali percaya pada warga yang hilir-mudik. “Mereka itu semua penipu,” ketus seorang kopral kepada saya ketika masa Darurat Militer tahun 2003. Ucapan senada kembali dilontarkan oleh seorang perwira kepada saya pada masa damai 2008.

Saya tidak tahu pasti, sejak kapan istilah tipu Aceh mencuat. Belum ada ashbabul nuzul yang sahih tentang gelar tipu Aceh yang mulai muncul pada era imprealis Belanda. Bila ada yang bertanya mau ke mana, penduduk bilang hendak ke timur. Namun faktanya dia ke barat. Ini berkaitan dengan taktik perang agar selamat dari pertempuran. Begitu juga yang dilakukan oleh Teuku Umar yang sukses menjalankn siasat perang dengan pura-pura bekerjasama Belanda. Setelah amunisi dan peralatan perang dimiliki, Umar kembali bertempur dengan kaphe. Bukankah ini namanya senjata makan tuan?

Hakikat perang adalah tipu-menipu. Siapa yang menjamin kalau yang sekedar bertanya itu adalah intel alias cuak Belanda. Sejarah membuktikan, kerapkali pemimpin gerilyawan Aceh ditaklukan oleh orang dalam yang antara lain karena diumpan harta oleh Belanda. Siapa saja yang mencatat aksi tipu Aceh ini? Saya merujuk pada buku De Atjehers yang ditulis oleh Prof Snouck Hurgronje. Penasihat kolonial Hindia Belanda itu menulis bahwa orang Aceh sangat fanatik pada agama dan terkenal dengan siasat tipunya. Agaknya, Tuan Snouck gemilang melabelkan pejuang Aceh sebagai bangsa yang mahir dalam perkara tipu-menipu. Dan kini tanpa sadar, stigma itu terus bergemuruh. Tentu saja, klaim itu sangat merugikan warga Serambi Mekkah.

NGO tipu warga

Seorang pekerja NGO internasional di Banda Aceh pada Mei 2009 lalu, tanpa perasaan bersalah menunding para peserta pelatihan yang diadakan oleh lembaganya tidak bisa dipercaya. Mereka suka menipu pihaknya. Dan ini sangat mengelikan. Sebab sebelumnya puluhan peserta dan panitia mendengar langsung dia obral janji bahwa lembaganya siap memberikan fasilitas kerja. Namun giliran ditagih, justru mereka menyatakan pihaknya tidak pernah berjanji apapun. Jadi, siapa tipu siapa?

Ada yang menyebut, satu faktor Jenderal Mayor Tituler Teungku Muhammad Daud Beureueh mengangkat senjata pada 1953 karena Soekarno melanggar janji. Bahasa kasarnya, ayah Megawati ini telah menipu rakyat Aceh. Ketika presiden pertama Indonesia itu mengemis dibelikan pesawat udara di Kutaraja (Banda Aceh), Beureueh menyodorkan secarik kertas agar Aceh diberikan hak khusus. Namun Soekarno menolak memberi tanda tangan setuju di selembar kertas. Ada faktor lain mengapa Beureueh melawan Jakarta karena Aceh harus tunduk ke Sumatera Utara yang sebelumnya sebagian daerah Sumatera Utara berada dalam wilayah administrasi Aceh.

Kisah tipu yang dilakukan oleh seorang warga Aceh yang menyebabkan geger sejagat Indonesia terjadi pada masa Wakil Presiden Adam Malik (1978-1983). Cut Zahara Fona yang tidak tamat SD ini mengakui janin di perutnya bisa mengaji. Bukankah itu hal yang spetakuler pada era tahun 1970-an. Fona memiliki ide jenius yang tidak terpikir oleh ratusan juta jiwa penduduk kala itu. Penduduk rela antri menempelkan telinganya ke perut si ibu demi mendengarkan suara janin mengaji. Namun sepandai-pandai tupai melompat, aksi tipu ini terbongkar setelah ditemukan tape kecil yang ditempel di perut Fona. Ibarat syair lagu, dunia ini panggung sandiwara.

Tim Irwandi ditipu

Akis tipu-meniipu bisa dilakukan oleh siapa pun tanpa terikat oleh suku, ras atau agama. Semua orang bisa menipu dengan sejuta dalih. Semua bisa kena tipu tanpa melihat status sosial. Monopoli tipu-menipu bisa dilakukan oleh rakyat atau pemerintah. Sebab ini tak berkaitan suku atau aliran darah yang mengalir dalam nadi hingga ke otak seseorang. Masih ingat penasihat ekonomi gubernur Aceh yang ditipu oleh mafia penipu dari Afrika sehingga nyaris jadi masalah di Amerika? Orang cerdas pun bisa hilang logika karena terbuai dengan limpahan dolar.

Pascapemilu legislatif 2009, belasan caleg menuturkan kepada saya betapa dirinya telah ditipu oleh pemilih. Pada mulanya, caleg itu yakni warga yang sudah akrab ini, pasti menconteng dirinya. Namun apa lacur, begitu diumumkan suara, pemilih itu tidak memilih dirinya. Ah memang, dalam dunia politik, mengutip sabda Machieveli yakni tidak ada teman sejati dan tidak ada musuh yang abadi. Yang ada hanya kepentingan. Akibat kini, sebut rekan saya, jika warga itu meminta bantuan atau hal lain, mantan caleg itu hanya berujar, silakan minta bantu pada caleg yang Anda conteng. Kita tidak mungkin bermitra jika tidak saling mempercayai. Satu pukulan telak yang mematikan untuk mengajari arti sebuah solidaritas.

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengklaim Jakarta (Pemerintah Indonesia) tidak transparan pada hasil Migas Aceh. Dari prediksi anggaran Aceh untuk tahun 2009 yakni Rp 1,3 triliun namun yang diterima hanya Rp 553 miliar. Terkesan, Jakarta mempermainkan Aceh alias mengunting dalam lipatan. Bahasa kasarnya, Aceh sudah ditipu oleh Jakarta karena ketidakmahiran elit Pemerintah Aceh mengantisipasi trik-trik Jakarta.

Efek domino anjloknya bagi hasil Migas ini yakni kemungkinan jatah beasiswa kepada mahasiswa di dalam dan luar negeri pun berkurang. Jika tahun 2008, Aceh mendapat Rp 1,3 triliun yang digunakan Rp 75 miliar untuk beasiswa 480 mahasiswa S1-S3 serta 544 beasiswa untuk jenjang spesialis dan PhD di luar negeri. Maka ada alamat untuk tahun 2009, jumlah penerima atau nominal beasiswa itu bisa menurun. Tentu saja, ini bukan kabar baik bagi masa depan pendidikan Aceh di masa kini dan depan.

Agar tidak ditipu berulangkali – baik karena bodoh atau senang ditipu – dan bukan berarti halal menipu orang lain, maka langkah mujarab yakni kembali ke gerbang pendidikan. Dunia tipu-menipu bisa merasuk ke mana-mana hingga ke tulang sumsum. Namun dengan kadar intelektual yang mantap, pemikiran yang rasiona dan bermunajat kepada Allah, warga bisa membentengi dari kiat-kiat tipu yang tidak pernah tidur dalam khazanah dunia criminal

* Penulis adalah wartawan dan editor buku Aceh di Mata Urang Sunda.

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. Mei 22, 2009 4:04 pm

    Wah, ini editornya Aceh Di Mata Urang Sunda? 😯

    Saya belum baca bukunya tapi sudah sering dengar itu buku.

    BTW, masalah tipu Aceh itu, memang belum ada buku-bukunya. Tapi kalau nggak salah ingat, di buku Aceh Pungo-nya Taufik Mubarak ada disinggung 😕

  2. agam permalink
    Juni 26, 2009 9:42 am

    Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengklaim Jakarta (Pemerintah Indonesia) tidak transparan pada hasil Migas Aceh. Dari prediksi anggaran Aceh untuk tahun 2009 yakni Rp 1,3 triliun namun yang diterima hanya Rp 553 miliar. Terkesan, Jakarta mempermainkan Aceh alias mengunting dalam lipatan. Bahasa kasarnya, Aceh sudah ditipu oleh Jakarta karena ketidakmahiran elit Pemerintah Aceh mengantisipasi trik-trik Jakarta.

    kutipan di atas kurang akurat saya kira. Karena harga minyak sempat mencapai puncak ketika prediksi dilakukan, dan berangsur0angsur harga menurun ketika APNN disyahkan dan saat ini, maka dana migas memang akan berkurang.
    tapi perhitungannya memang harus lebih detil lagi supaya kita tahu berapa penurunan yang wajar

  3. viviane permalink
    Juli 16, 2014 8:29 pm

    tapi emang org aceh terkenal banyak nipunya……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: