Skip to content

Mengenali Modus Kecurangan Pemilu

April 8, 2009

Media Indonesia, Rabu, 08 April 2009.

PEMILU legislatif digelar besok. Selama 5 jam, sejak pukul 07.00 hingga pukul 12.00, bagaimana wajah DPR kelak ditentukan di 519.920 tempat pemungutan suara (TPS).
Akan tetapi, pemilu yang dilaksanakan untuk ke-10 kalinya sejak 1955 itu penuh ketidakpastian. Sebab persoalan daftar pemilih tetap dan distribusi surat suara tak kunjung tuntas.

Ketidakpastian itu mencuatkan kekhawatiran bahwa pemilu bakal dilaksanakan dengan penuh tipu muslihat untuk kepentingan partai tertentu dan pada gilirannya untuk orang tertentu. Padahal, Pemilu 2009 ini menelan biaya APBN paling fantastis, yaitu Rp21,8 triliun, atau lebih sembilan kali biaya Pemilu 2004 yang cuma Rp2,3 triliun.

Semua itu tidak boleh sia-sia. Harus menghasilkan pemilu berkualitas.

Kualitas pemilu pun tidak hanya ditentukan oleh hasil akhir. Bagaimana proses pencentangan surat suara yang berlangsung selama 5 jam justru sangat menentukan. Karena itu, semua warga harus memastikan pemilu berlangsung secara jujur.

Jangan hanya menyerahkan tugas pengawasan kepada lembaga pemantau dan saksi dari parpol peserta pemilu. Semua warga harus ikut mengawasi sebab pemilu ini menentukan perjalanan negara lima tahun ke depan.

Warga perlu mengenali modus kecurangan pemilu.

Pertama, serangan fajar. Harus diwaspadai pemberian uang atau sembako menjelang fajar menyingsing untuk memilih partai atau caleg tertentu. Itulah modus klasik yang dilakukan setiap kali pemilu.

Berilah mereka pelajaran. Yaitu ambil uang atau sembakonya, tapi jangan pilih partai atau caleg yang melakukan serangan fajar. Dengan demikian, warga menunjukkan hati nurani tidak bisa dibeli.

Kedua, waspadailah pemilih fiktif yang jumlahnya banyak sekali. Itu potensi kecurangan yang luar biasa. Fiktif, tapi masih tercantum dalam daftar pemilih tetap. Modusnya bermacam-macam. Ada orang yang sudah meninggal, tapi dibikin hidup kembali. Ada anak kecil yang mendadak dewasa mempunyai hak pilih. Ada pula anggota TNI dan Polri, serta pemilih ganda yang namanya tercatat lebih satu kali.

Ketiga, pastikanlah apakah setelah mencontreng, ada tanda tinta atau tidak di jari tangan pemilih. Bahkan, lebih jauh lagi, apakah tintanya gampang hilang atau tidak. Semua yang telah memilih wajib mencelupkan jarinya ke dalam botol tinta yang tidak mudah luntur.

Keempat, awasi surat suara. Jumlah surat suara yang disiapkan di setiap TPS sebanyak jumlah pemilih ditambah cadangan sebanyak 2%.

Catatlah jumlah kertas suara di tempat pemungutan suara masing-masing, catat pula jumlah suara yang batal, dan jumlah suara yang tidak hadir memilih. Periksalah surat suara sebelum digunakan. Jangan mau menggunakan surat suara yang sudah rusak.

Kelima, penghitungan suara. Sesuai ketentuan undang-undang, pemungutan suara dan penghitungan suara dilakukan pada hari yang sama. Hanya ada waktu 12 jam untuk menghitung suara di TPS.

Pastikan pelaksanaan penghitungan suara tanpa jeda yang memungkinkan petugas berbuat curang. Hasil penghitungan suara itu harus dikawal secara ketat sehingga tidak ada perbedaan angka hasil penghitungan di lapangan dengan laporan hasil suara ke tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, dan tingkat nasional.

Pemilu legislatif yang curang sangat berbahaya. Sebab hasil pemilu legislatif menjadi dasar apakah sebuah partai dapat mengajukan calon presiden. Bila suara itu diperoleh dengan curang, akibatnya bisa sangat panjang, yaitu legitimasi presiden terpilih akan terus digoyang. Bahkan sang presiden bisa diturunkan di tengah jalan bila kecurangan itu dapat dibuktikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: