Skip to content

BLT Itu Hak dan Punya Siapa?

April 6, 2009

Oleh: Arief Turatno

BANTUAN langsung tunai (BLT) dari awal diluncurkan sampai dengan saat ini terus menuai polemik. Ada yang setuju, banyak pula yang menolak. Dan polemik itu semakin keras terjadi, ketika menjelang Pemilu dilaksanakan. Karena BLT yang mestinya dikucurkan bulan Januari 2009, ternyata baru dicairkan Maret. Persoalan itu semakin meruncing karena adanya tudingan, jika pengucuran BLT kali ini bermotifkan Pemilu. Pertanyaannya, benarkah begitu? Jika benar begitu, lantas BLT ini punya siapa dan siapa yang berhak?

Banyak jalan menuju Roma, banyak cara dilakukan dan dalam dunia politik dikenal jargon yang bunyinya antara lain “tujuan menghalalkan segala macam cara”. Apakah karena ingin memenangkan partai tertentu, maka BLT dikucurkan sekarang? Entahlah! Namun yang jelas sudah ada dua pihak yang mengklaim bahwa BLT itu adalah produk mereka. Dua pihak itu, yakni para pendukung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atau Partai Demokrat dan satunya lagi Partai Golkar.

Klaim itu semakin santer didengungkan, setelah melihat kenyataan, ternyata rakyat miskin lebih suka mendatangi pembagian BLT daripada menyaksikan para tokoh politik berorasi di panggung kampanye terbuka yang sudah digelar sejak 16 Maret. Dan itulah kenyataan, potret diri masyarakat kita yang sesungguhnya, yang lebih perhatian kepada kenyataan daripada sekedar obral janji.

Hanya pertanyaan dan persoalannya adalah siapakah atau pihak manakah sebenarnya yang berhak atas klaim BLT itu? Jika kita melihat dari kacamata awam bahwa pembagian BLT itu berlangsung sekarang, ketika pemerintahan dipimpin Presiden SBY dan Wakil Presiden (Wapres) HM Jusuf Kalla, maka wajarlah jika kedua pihak mengklaim kebijakan tersebut adalah buah karyanya. Namun bagaimana kalau kita melihat hal tersebut dari kacamata lain?

Berdasarkan pasal dan ayat yang ada di UUD 1945 antara lain disebutkan bahwa semua kekayaan yang ada di bumi pertiwi (Indonesia) adalah milik rakyat Indonesia. Karenanya segala hasil yang didapat dari kekayaan alam Indonesia harus digunakan untuk kesejahteraan atau kemakmuran rakyat seluas-luasnya. Jadi jika pijakan kita adalah UUD 1945, maka semua orang, tidak terkecuali dan bukan hanya yang sedang memerintah saja, berhak atas klaim itu.

Maka atas dasar asumsi inilah, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP, Megawati Soekarnoputri yang juga mantan Presiden RI berhak mengklaim BLT itu adalah haknya pula, termasuk hak semua warga banteng moncong putih. Karena itu tidak heran, jika Mega pun merasa berkepentingan terhadap penyaluran BLT yang dalam pelaksanaannya ternyata tidak sesuai yang diharapkan. Mengapa?

Sebab dalam prakteknya, penyaluran BLT yang diharapkan berlangsung sesuai peruntukannya, tanpa melihat latar belakang aliran politik si penerima bantuan tersebut. Kenyataanya tidak demikian, para penyalur, terutama yang diberi tugas membagi-bagikan kupon atau kartu miskin, bermain sendiri. Mereka hanya memberikan kartu miskin itu kepada orang-orang yang dianggap menjadi pendukung partai yang berkuasa saat ini.

Sementara mereka yang dianggap bukan segolongan, atau bukan pendukung partai yang sekarang tengah berkuasa tidak mendapatkan bantuan. Sehingga tidak heran jika disana-sini terjadi protes, seperti protes yang terjadi di Makasar, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan lainnya. Karena banyak rakyat miskin yang mestinya menerima BLT gara-gara ditengarai sebagai partisan partai lain tidak mendapatkan kupon atau kartu miskin. Di lain pihak, banyak warga yang secara ekonomi cukup mampu malah mendapatkan BLT karena mereka diketahui adalah pendukung partai yang tengah berkuasa.

Ini semua terjadi karena salah mengartikan atau malah sengaja memutarbalikan isi dari UUD 1945. Di samping itu, ini juga mencerminkan sikap pemimpin yang tidak memberi tauladan, tetapi justeru mengumbar kekuasaan. Seorang pemimpin yang tidak mendudukan jati dirinya sebagai tokoh anutan. Namun mencetak atau menciptakan dirinya sebagai penguasa yang dapat menguasai semua hasil bumi dan kekayaan bumi pertiwi.

Semua ini mestinya harus segera kita kritisi agar pemimpin yang kita percaya dan kita pilih tidak menjadi penguasa yang siap memangsa rakyat sendiri. Dengan dikritisi kita berharap pemimpin yang kita percaya dan kita pilih akan menjadi pengayom yang mampu melindungi rakyatnya dari segala macam bencana, marabahaya, dan segala macam ketidakadilan.

Dengan begitu akan tercapai kemakmuran, keadilan dan kesejahteraan. Rakyat bisa hidup rukun dan damai, tanpa kurang suatu apapun. Dalam bahasa yang lebih mapan, negara sampai pada kondisi “tata tentrem, kerta raharja, gemah ripah, loh jinawi”. Rakyat “tan kurang sandang pangan”. Dalam bahasa kekinian, tercapainya masyarakat “madani”.

Sayangnya, rakyat yang mestinya adalah pihak yang paling tepat untuk mengkritisi pemimpinnya sekarang terjebak dalam kemiskinan. Sehingga masalah politik yang mestinya bakal mengatur harkat dan hajat hidup orang banyak tidak lagi mereka pedulikan. Karena ternyata, mereka– rakyat– lebih peduli kepada BLT yang sesungguhnya telah meninabobokan rakyat dari kekritisannya. (*)

Sumber: http://www.jakartapress.com/news/id/5083/BLT-Itu-Hak-dan-Punya-Siapa.jp

Iklan
One Comment leave one →
  1. kris permalink
    April 22, 2009 10:03 am

    “Mereka hanya memberikan kartu miskin itu kepada orang-orang yang dianggap menjadi pendukung partai yang berkuasa saat ini.”
    Saya sering berada di daerah-daerah minus di NTT dan NTB, saya tidak melihat hal ini terjadi…. Yang ada, seseorang MERASA berhak dapat BLT tapi ternyata tidak masuk daftar. Hal seperti ini yang dengan mudah disimpulkan sebagai “saya partisan partai A, jadi gak masuk daftar penerima BLT….”

    “Karena ternyata, mereka– rakyat– lebih peduli kepada BLT yang sesungguhnya telah meninabobokan rakyat dari kekritisannya”
    Untuk yang ini saya setuju….rakyat miskin sangat mendambakan bobo dengan tenang, perut terisi, sedikit melupakan hidup mereka yang memang sudah kritis…..

    waduh… baru tadi tau kalo ada http://www.jakartapress.com…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: