Skip to content

Garuda Indonesia Lupa Sejarah: Diskriminasi Penumpang Aceh

Maret 26, 2009

BANDA ACEH – Mantan Penjabat Gubernur Aceh, Mustafa Abubakar, yang kini menjabat sebagai Kabulog RI, mengeluhkan peraturan yang diterapkan penerbangan Garuda Indonesia di Bandara Polonia Medan. Ia menilai ketentuan harus menurunkan barang-barang di dalam kabin, saat transit yang hanya 25 menit di Bandara Polonia Medan, oleh pihak penerbangan PT Garuda sangat menyulitkan penumpang tujuan Banda Aceh.

Keluhan yang sama juga dikeluarkan Profesor DR Bachtiar Aly, tokoh Aceh lainnya yang kerap terbang bersama Garuda. “Ini peraturan yang mendiskreditkan penumpang tujuan Bandara Sultan Iskandar Muda yang sebagian besar adalah orang Aceh. Ketentuan seperti itu tidak ada di bandara lain. Betapa repotnya penumpang tujuan Aceh harus turun dan menggotong barang-barang untuk transit selama 25 menit,” katanya pada acara peluncuran lima buku sejarah Aceh, di Hotel Hermes Palace Banda Aceh, Selasa (30/12).

Mustafa mengatakan dulu peraturan seperti itu pernah diberlakukan bagi penumpang tujuan Aceh, dan ia melayangkan surat memprotes ketentuan tersebut. “Saat saya menjabat Gubernur Aceh, berkali-kali saya melayangkan surat protes menyatakan keberatan akan kebijakan yang terkesan pilih kasih itu kepada Dirut Garuda Indonesia. Surat saya mendapat tanggapan baik dan Garuda tidak lagi menerapkan ketentuan itu. Penumpang tujuan Aceh sempat menikmati kemudahan dan kenyamanan penerbangan tanpa harus turun saat transit dan tak perlu menggotong barang-barang di kabin saat transit,” paparnya.

Menurut Mustafa, keadaan tersebut selain sangat merepotkan dan membuat penumpang tidak nyaman, juga mengindikasikan pihak penerbangan masih menganggap Aceh tidak kondusif. “Pemberlakuan aturan seperti itu menunjukkan Aceh kembali tidak aman. Siapa saja yang berangkat ke Banda Aceh dicurigai dan barang-barangnya mesti diperiksa lagi. Harusnya Garuda melihat sejarah cikal bakal lahirnya penerbangan tersebut, Aceh adalah investor pertama penerbangan Garuda. Dengan sejarah seperti itu seharusnya Garuda tidak pantas menyulitkan peumpang tujuan Aceh, meskipun penumpang sedikit yang terbang ke Aceh, Garuda tetap wajib terbang melayani rakyat Aceh,” ulas Mustafa geram.

Ia mengharapkan Gubernur Aceh sekarang, Irwandi Yusuf, agar melakukan protes terhadap ketentuan yang diberlakukan Garuda. “Saya harap Gubernur Aceh protes lagi ke Dirut Garuda, layangkan surat minta peraturan yang mendiskreditkan penumpang tujuan Aceh menurunkan barang di kabin saat transit untuk dihapuskan,” ujarnya.

Demi keamanan

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Telekomunikasi (Kadishub Komintel) Aceh, Prof DR Ir Yuwaldy Away mengatakan, dua bulan lalu ia sudah pernah menanyakan kepada pihak Garuda di Banda Aceh dan Medan tentang kebijakan tersebut. “Mereka katakan Aceh masih berada pada amber status (status keamanan yang masih bermasalah di Polonia). Penumpang tujuan Aceh sering mengalami kehilangan barang di kabin saat transit di Polonia. Makanya mereka menetapkan peraturan penumpang harus turun dengan membawa barang di kabin bersama saat transit. Alasannya demi keamanan barang penumpang tujuan Aceh,” papar Yuwaldy Away.

Menurut Yuwaldy, GM Garuda Banda Aceh sudah menyurati Garuda Jakarta mempertanyakan peraturan itu. “GM Garuda di Medan pun sudah menunjukan pada saya Inter-office Memorandum dari Garuda Jakarta untuk Garuda Medan yang isinya memang menyebutkan pihak Garuda menetapkan Amber status dan mewajibkan penumpang tujuan Aceh menurunkan kabin saat transit. Saya kira ada masalah internal di Garuda sendiri, sehingga mereka menerapkan kebijakan yang menyusahkan penumpang tujuan Aceh,” prediksi Yuwaldy.

Senada dengan keinginan Mustafa Abubakar, Yuwaldy juga mengharapkan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf segera menyurati kembali Dirut Garuda di Jakarta. “Sebaiknya Gubernur Aceh tetap mengusahakan menyurati Dirut Garuda, jika perlu berkali-kali hingga didengarkan. Ini demi kenyamanan penumpang tujuan Aceh,” pungkas Yuwaldy. (ami)

Sumber: Serambi Indonesia, 31 Desember 2008.

Iklan
One Comment leave one →
  1. Maret 27, 2009 8:04 pm

    kalau tidak Ada pesawat yang di Blang Padang, gak jadi merdeka bangsa ini.

    kok jadi narsis nyoe lon tuan 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: