Skip to content

Mimpi jadi Gubernur Protap

Februari 23, 2009

Oleh Armin Rahmansyah Nst (Waspada, 22 Feb 2009)

Sebenarnya sudah lama saya punya niat menjadi gubernur di Provinsi Tapanuli yang sekarang sedang diributkan secara nasional. Dan inilah salah satu mimpi kalau jadi Gubernur Provinsi Tapanuli. Bagaimana tidak ini ibarat Republik Indonesia sesungguhnya versus Republik Mimpi yang tayang di stasiun televisi swasta.

Provinsi Tapanuli sebagai tanah kelahiran harus terwujud. Itulah yang ada di benak saya. Bagaimana tidak dengan kondisi sekarang saya punya ambisi besar untuk itu. Banyak yang mendukung saya andai Provinsi Tapanuli itu terwujud.

Untuk mengkampanyekan provinsi itu saya harus punya koran di Sumatera Utara. Walaupun sebagian orang kemudian sering ‘geram” membacanya tapi saya tidak perduli. Karena inilah yang banyak mengkampanyekan kalau Provinsi Tapanuli itu harus terwujud.

Orang percaya atau tidak dengan pemberitaan yang saya munculkan setiap hari, terserah mereka. Pokoknya koran laku dan opini masyaraka terbentuk untuk provinsi Tapanuli.Terlalu reseh kalau orang membaca tapi tak memahaminya. Saya juga tidak terlalu peduli berita yang saya turunkan sudah berimbang (cek dan ricek). Tokh masing-masing media punya kebijakan sendiri.

Apalagi koran yang lama saya rintis ini nantinya sudah berusia cukup tua. Kalaupun kata orang selama ini beritanya bombastis dan mengada-ada sampai sekarang tidak satu pun surat dari Dewan Pers atau petinggi pemerintah yang menegurnya.Koran ini akan berbicara banyak tentang kepentingan saya. Berita-berita pejabat yang datang ke kantor saya dimuat di halaman depan. Apalagi mereka yang nyata-nyata mendukung Provinsi Tapanuli sudah pasti dapat porsi besar. Bahkan foto bersalaman dengan saya pun bisa dimuat hingga lebar delapan kolom koran. Pokoknya saya harus mengultuskan diri dan sedikit-sedikit menyamakan diri setingkat nabi. Tujuannya agar orang respek dan percaya. Di koran ini saya akan memberikan salah satu tongkat kepemimpinan di level top manager untuk anak laki-laki saya.

Walaupun anak saya punya masalah dengan perempuan biarlah semuanya terkubur oleh waktu. Saya tak peduli. Koran saya juga harus berani memberitakan praktik-praktik miring yang dilakukan aparat pemerintah, militer dan kepolisian, juga pengusaha yang tidak mau ‘bekerjasama”. Judi yang menjadi penyakit masyarakat harus saya beritakan. Walaupun sebenarnya saya beritakan karena tidak mendapat persentase yang bagus. Masyarakat pasti mendukung saya tentang ini karena sudah pasti mereka menganggap inilah salah satu fungsi pengawasan dari media.

Koran harus jalan. Kalaupun sedikit-sedikit ada ganjalan, misalnya, salah membuat kartun saya bisa mengorbankan redaktur pelaksana untuk menginap di hotel prodeo kepolisian. Dia yang harus bertanggung jawab. Saya bisa saja lari ke Singapura dengan alasan cek kesehatan atau meminta surat dokter untuk menjelaskan kalau saya sakit jantung.

Yang penting bagi saya adalah koran harus tetap menjadi corong pembentukan provinsi Tapanuli. Pejabat dari Sumut sampai pusat saya rangkul bahkan mengakumulasi massa untuk sekali-sekali melakukan demonstrasi besar-besaran. Selain punya koran, sudah pasti saya juga harus punya lembaga pendidikan berbentuk universitas. Namanya akan saya buat Sibisuk Naoto.

Tujuannya di negeri ini selain kekuatan pers, kekuatan mahasiswa sebagai kelompok penekan masih disegani. Jadi kalau saya bawa mahasiswa untuk demonstrasi mendukung Provinsi Tapanuli ke DPRD Sumut sudah pasti didengarkan. Sisanya bisa saya rangkul dari elemen masyarakat lain. Apalagi selama ini demonstran juga sudah bisa dibayar Rp20.000 sehari. Tarifnya pun beda-beda. Kalau cuma teriak-teriak lalu pulang cukup Rp20 ribu sehari plus makan siang. Ribu-ribut sikit terus ada lempar-lempar batu dan bakar ban yang tidak menciderai orang lain bisa Rp50 ribu. Kalau yang ekstrim pun tarifnya paling mahal Rp100 ribu. Dengan donor dari banyak pertemanan, serta pengaruh media yang saya miliki sangat gampang untuk menggerakkan massa.

Saya sudah punya bayangan Provinsi Tapanuli harus lahir tahun ini. Kalau masih menunggu tahun depan makin tak jelas. Ditambah umur yang makin menua, bisa-bisa saya ‘lewat” dan tak jadi gubernur. Nanti malah anak saya yang jadi gubernur. Padahal sebenarnya dia belum pantas ada di atas saya. Jadi bersama anak, saya akan membangun kekuatan dari media, universitas dan dewan perwakilan rakyat daerah. Sebab anak saya juga sudah pandai bermain politik. Dia pasti punya pengaruh yang bisa mengarahkan orang. Kalau sedikit ‘menginjak” kaki orang untuk ikut sefaham tidaklah terlalu berat.

Terus terang Provinsi Tapanuli itu harus terwujud. Orang di kampung saya sudah mengeluh karena untuk urusan administrasi ke Medan terlalu jauh dan berbiaya mahal. Coba kalau provinsi Tapanuli itu ibukotanya di Balige, Tarutung atau Siborong-borong. Pasti lebih gampang diakses masyarakat. Tak peduli kalau pun kemudian penduduk di Mandailing Natal sana sebenarnya masih lebih jauh ke Medan kalau dibanding-bandingkan dengan yang di Tarutung.

Dalam hati saya harus mewujudkan Provinsi Tapanuli dengan cara apa pun. Kalau tidak bisa dengan media, harus dengan demonstrasi dan sedikit memaksa atau ‘menginjak” kaki para anggota dewan. Andai itu pun tak terjadi saya harus membuat unjuk rasa yang lebih garang, kasar. Pokoknya semua potensi akan saya kerahkan.

Tapi tunggu dulu, daripada saya yang terlibat langsung bagus anak saya saja yang jadi koordinir. Biarkan dia bergerak dan saya ke Singapura saja mengungsi sambil mengondisikan semuanya dari jarak jauh. Sama kasusnya waktu dulu koran saya dikejar-kejar karena kasus karikatur. Apalagi kalau saya terlibat dengan usia yang sudah tua begini rasanya masuk penjara sudah berat. Kalau anak saya masih muda, dengan hukuman 15 tahun pun dia keluar nanti masih bisa jadi penjabat di Provinsi Tapanuli yang sudah terbentuk.

Skenario harus jalan untuk mendapat rekomendasi Provinsi Tapanuli. Ini perjuangan hidup atau mati bagi saya untuk mewujudkannya. Diback up berbagai kekuatan saya pasti bisa. Kalau kelak Provinsi Tapanuli itu terwujud saya sudah punya hitung-hitungan.

Pertama kalau melihat Gubernur Sumut saja sekarang punya anggaran pendapatan dan belanja negara Rp1 triliun lebih sudah untung banyak. Bayangkan kalau dari APBD saja saya dapat 10 persen setiap tahun atau sekira Rp100 miliar dikali lima tahun. Itu belum lagi ada anggaran untuk kendaraan dinas, pemeliharaan kesehatan dan lain-lain. Paling tidak setahun saya dapat Rp250 miliar. Ditambah anak, menantu, kemenakan dan ipar bisa saya libatkan di tiap proyek. Mereka pun bisa hidup tenang. Jadi kalau dapat Rp250 miliar saja setiap tahun dikali lima setidaknya sudah dapat lebih Rp1 triliun. Dengan dana sebanyak itu saya berpeluang untuk menjadi Gubernur Protap keduakalinya.

Yang kedua, kalau sudah jadi gubernur sudah pasti koran bacaan wajib di semua instansi dan masyarakat adalah media yang saya terbitkan. Yang lain akan saya stop masuk. Ini sama dengan proteksi terhadap industri lokal. Yang lain keberatan, silakan saja. Namanya saya gubernur ya bisa suka-suka hati.

Ketiga, saya akan pastikan untuk semua lulusan mendaftar ke universitas yang saya punya. Di kampus Sibisuk Naoto mereka boleh masuk atau tidak dan lulusannya pun tidak jaminan. Soal indeks prestasi kumulatif itu urusan masing-masing. Bayangkan berapa banyak mahasiswa yang saya dapat setiap tahun dan berapa uang kuliah yang terkumpul. Bukan hanya itu jika perlu saya akan buka cabang di Provinsi Tapanuli. Apalagi lembaga pendidikan bagian dari bisnis.

Keempat yang saya lakukan adalah mengangkat semua pejabat dari orang lokal. Tak boleh ada orang Jawa, Minang, Sunda, atau yang lain masuk di kabinet saya.Tingkat homogenitas pasti akan mencapai 100 persen. Jika begini saya pasti akan sangat marah dengan penelitian Dekan Fakultas Ekonomi USU Jhon Tafbu Ritonga yang menyatakan makin tinggi tingkat homogenitas di daerah makin tinggi pula kemiskinan. Dengan homogenitas 100 persen saya bisa berpidato, berbicara dan marah dalam bahasa batak. Tak perlu pakai bahasa Indonesia. Sudah pasti pejabat dan kabinet saya akan lebih lancar bahasa batak daripada bahasa Inggris.

Paling tidak itulah mimpi saya kalau jadi Gubernur Provinsi Tapanuli. Satu lagi, kalau saya jadi Gubernur Provinsi Tapanuli saya harus sering “creambath” ke salon atau ke tukang pangkas saja untuk gunting rambung. Tidak pas rasanya dengan rambut gondrong seperti ini saya jadi gubernur. Nanti dipikir masyarakat saya pemain band.

Mudah-mudahan niat pemerintah yang membatasi pemekaran dibatalkan. Sebab selama 10 tahun otonomi daerah memang sudah ada 264 daerah yang dimekarkan. Termasuk di dalamnya provinsi, kabupaten dan kota. Tapi itulah garis besar kepemimpinan saya kalau jadi gubernur di Provinsi Tapanuli Utara. Jadi dukung saya. (wir)

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. Februari 23, 2009 10:46 am

    salam !!!

    jangan deh mending berjuang dari luar sistem aja, lebuh kongkrit n real. ntar om jadi “ancur’ juga

    wassalam

  2. Agustus 22, 2009 11:24 pm

    Kalau mimpi pak Armin Rahmansyah Nasution jadi gubernur Protap (Provinsi Tapanuli) seperti yang diartikelkan tentu tak ada yang mendukung. Begini saja, pak Armin Rahmadsyah Nasution calonkan diri jadi Gubernur Protap dengan program seperti ini:
    1. Kembalikan Mandailing Natal masuk lagi jadi Kab. Tapanuli Selatan (supaya ada nama Tapanulinya).
    2. Pastikan program anda memakmurkan rakyat Tapanuli, jangan tetap miskin selama 64 tahun.
    3. Tetapkan ibukota pemerintahan anda di Penyabungan.
    4. Bangun secara bersamaan lapangan terbang disetiap kabupaten yang bergabung dan sediakan pesawatnya supaya yang berurusan dengan anda dapat lancar dan cepat.
    5. Ajarkan rakyat Tapanuli beribadah kepada Tuhan yang menciptakan manusia. Jangan anda menganggap hanya anda yang diciptakan Tuhan sementara rakyat Tapanuli anda anggap ciptaan setan.
    6. Ajarkan rakyat Tapanuli mengerti apa arti uang, jangan hanya anda yang ada tergambar pada uang itu.
    7. Beri Anak Boru anda jabatan bendahara pemerintahan anda, jangan beri pada istri anda.
    8. Beri Kahanggi anda jabatan pekerjaan, bukan jabatan perkeliruan.
    9. Beri Mora anda jabatan yang dapat menghukum anda bila berbuat salah.
    10. Pastikan rumah rakyat Tapanuli berhalaman penuh bunga dan belakang rumah ada MCK-nya

    Itu saja. Kalau pak Armin Rahmansyah Nasution setuju, pasti banyak pendukung termasuk saya. Hidup pak Armin Rahmansyah Nasution….. ayo kita dukung Armin Rahmansyah Nasution jadi Gubernur Protap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: