Skip to content

Shahnaz Haque: Mengapa tidak Ada Hari Cut Nyak Dhien?

November 11, 2008

Serambi Indonesia, 09/11/2008.

BANDA ACEH – Artis dan presenter ibukota, Shahnaz Haque mengaku jatuh hati dan mengidolakan pahlawan nasional perempuan asal Aceh Cut Nyak Dhien sejak kecil. Ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ia bertanya pada guru di sekolahnya, kenapa Indonesia tidak memperingati Hari Cut Nyak Dhien? Shahnaz kecil kritis bertanya mengapa Indonesia hanya punya Hari Kartini.
“Apa karena selama ini presidennya orang Jawa? Kalau presidennya orang Aceh mungkin ada Hari Cut Nyak Dhien. Itu pertanyaan saya waktu umur 10 tahun,” kata istri Gilang Ramadhan itu, usai bertindak menjadi moderator talkshow “Tetap Sehat dengan Diabetes Mellitus” yang diselenggarakan oleh Prodia, di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, Sabtu (8/11).

Adik dari Marissa Haque dan Soraya Haque ini mengetahui banyak tentang Cut Nyak Dhien lewat ibunya. Mieke, sang ibu suka membacakan buku-buku pahlawan sebagai pengganti dongengan fiksi. “Hebat engga tuh ibu saya. Dia ceritakan tentang Dewi Sartika, Kartini, Cut Nyak Dhien, Christina Martha Tiahahu, sebelum tidur. Di antara semua pahlawan wanita itu, saya paling jatuh hati sama Cut Nyak Dhien,” sebut wanita kelahiran Jakarta, 1 September 1972 ini.

Bagi Shahnaz yang energik sejak kecil, cenderung memilih perjuangan seperti Cut Nyak Dhien yang menurutnya trengginas. Ia kagum Cut Nyak Dhien sebagai perempuan punya multitalenta, lebih banyak berbuat daripada menulis-nulis saja. “Begini nih pikiran aku dari kecil, kayaknya jika aku jadi pahlawan aku pasti pengen yang kayak Cut Nyak Dhien,” kenangnya.

“Hingga sekarang Indonesia belum menjadikan Hari Cut Nyak Dhien diperingati secara nasional. Indonesia baru punya Hari Kartini, padahal Cut Nyak Dhien kan inspiratif sekali,” tuturnya bersemangat dan mendukung adanya peringatan Hari Cut Nyak Dhien secara nasional.

Menurutnya untuk lebih maju, perempuan Aceh hanya perlu diberikan banyak kesempatan. “Kita punya Cut Nyak Dhien bukan? Seratus tahun Cut Nyak Dhien baru saja diperingati. Malulah sama almarhumah Cut Nyak Dhien dan Laksamana Malahayati kalau perempuan Aceh tidak maju,” gugahnya.

Di masa sekarang ia juga mengagumi sosok Eli Risman, ahli parenting asal Aceh. “Saya melihat bagaimana ibu Eli Risman yang sangat Aceh itu maju aktif dan inspiratif sekali. Buat saya tidak ada alasan perempuan Aceh tidak maju. Karena dari nenek moyangnya perempuan-perempuan Aceh punya energi lebih banyak, lebih kuat dan tabah daripada perempuan lain,” simpul penyuka ayam tangkap, kuliner khas Aceh ini.

Kedatangan pemilik nama lengkap Shahnaz Natasya Haque kali ini, sudah lebih dari 25 kali ke Aceh. Dibalut busana muslimah hijau dipadu kerudung, ia tampil cerdas dan memikat memandu kegiatan yang diikuti ratusan peserta talkshow Kendali Diabetes Cegah Komplikasi bersama Prodia tersebut. “Waktu tsunami saya menjadi relawan bersama Imam Prasodjo dengan Nurani Dunia sampai satu bulan. Saya sudah mengelilingi Aceh, termasuk ketempat-tempat terpencil,” ujar lulusan Fakultas Tehnik Sipil UI 1996 itu.

Ditanya tentang adanya piagam Women Charter di Aceh sebagai event pertama di dunia, ia merasa memang sudah waktunya perempuan-perempuan diberikan penghargaan, apalagi perempuan di Aceh. “Perempuan mesti mendapatkan pendidikan yang jauh lebih baik, mendapat kesempatan meningkatkan potensi secara optimal supaya dapat melakukan banyak hal,” papar bungsu dari pasangan Allen dan Mieke ini.

Ibu tiga anak, Prustin Aisha, Charlotte Fatima, dan Mieke Namira ini ingin membentuk anaknya menjadi pribadi mandiri. Ia suka membawa anaknya mengenal alam dan menumbuhkan pribadi petualang. “Saya lebih suka mengajak anak-anak saya main ke alam daripada ke mall. Ke pantai, sungai, main dengan sapi atau kerbau. Saya ingin anak-anak saya punya pribadi adventurer, yang berani mengambil resiko. Punya kecerdasan emosional yang baik, dan temannya banyak,” pungkasnya. (ami)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. November 11, 2008 1:22 pm

    Kan sudah ada peringatan satu abad cut nyak dhien. http://samanui.wordpress.com/2008/11/10/pergelaran-seni-budaya-aceh-serantau-2008/

  2. karna permalink
    November 12, 2008 10:55 am

    wajar aja dia mengusulkan hari cut nyak dhien, kan bicara di depan audiens orang aceh
    kalo di depan orang jawa barat pasti dia bicara hari dewi sartika, dll.
    itu kan salah satu teknik merebut hati audiens, biasa lahhh
    lagipula buat apa ada hari cut nyak dhien, kalo hari ibu kartini karena dia kebetulan diyakini sekelompok orang pada masa penetapan hari itu sebagai tokoh yang menginspirasi wanita
    kalo ada hari cut nyak dhien, maka ada 2 hari peringatan untuk wanita, nanti pasti ada permintaan penetapan untuk hari kakek, nenek, bapak, anak, balita, cucu, cicit… dst. pahlawan A, pahlawan B, pahlawan C, dan akan banyak orang ingin ditetapkan jadi pahlawan
    what for? it’s just some kind of wasting money, to realize, many of kindergartens push their students to wear traditional costume at that day, if there more days kind like that… so what we are doing is just celebrating.. I’m too tired on kind like that

  3. Desember 15, 2008 1:44 pm

    apa sih untung ruginya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: