Skip to content

APBA dalam Qanun No.1/2008: Apa Istimewanya?

November 2, 2008

Apakah Aceh memang sudah “merdeka”? Belum, sama sekali belum! Aceh adalah sebuah negeri yang jangankan mengurus rakyatnya, mengurus keuangannya sendiri tidak becus. Kok bisa? Lihat saja apa yang sudah terjadi selama ini: terlalu banyak pejabat darah yang masuk penjara karena korupsi. Ada gubernur, bupati, mantan bupati, anggota DPRD (di aceh = DPRK dan DPRA), kepala bagian keuangan, pemegang kas/bendahara, dan PNS yang kadang cuma staf biasa.

Bukti lain: tunjangan guru terlambat dibayarkan, “tulah” keuchik (kepala desa atau gampong) tidak dicairkan selama setahun, bantuan untuk korban bencana alam diselewengkan pejabat daerah, untuk perkawinan bupati dibuat SK seolah-olah itu kegiatan Pemda sehingga bisa dibiayai dari APBD, dll. Lalu, apakah Qanun No.1/2008 tentang Pengelolaan Keuangan Aceh akan mampu meminimalisir perilaku buruk ini?

Tidak ada jaminan bahwa Qanun Keuangan akan dilaksanakan dengan baik karena qanun ini sendiri memiliki banyak celah untuk ternjadinya perilaku menyimpang (moral hazard) dalam pengelolaan keuangan daerah. Perilaku oportunis pejabat daerah, khususnya DPRA dan Eksekutif (Gubernur beserta jajaran kepala SKPD-nya), tetap akan bisa berjalan karena kelemahan dalam qanun ini. Mungkin ini bermuasal dari kelahiran qanun yang memang “disepakati” format, substansi, dan konsekuensi-nya oleh keduanya.

Khusus tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA), saya mencoba menganalisis Qanun No.1/2008 ini. Artinya, dengan melihat kondisi dan kebutuhan di Pemda Provinsi NAD, saya mencoba menafsirkan makna yang terkandung di dalam pasal 14 s/d 111 (98 pasal), yang berkaitan dengan pengertian, komponen, proses penyusunan, dan penetapan APBA.

Iklan
4 Komentar leave one →
  1. November 2, 2008 5:04 pm

    waduh saya no comment deh kalau ditanya APBA, susah ngomongnya Pak. Apalagi menyangkut pendidikan…..:-)

  2. November 3, 2008 10:42 am

    @Aulia
    Karena kepedulian akan masyarakat Aceh, saya mencoba menulis secara kritis… Bukan cuma pendidikan, kok. Bahkan di semua sektor aspek pengelolaan keuangannya tidak beres, yang mana memang sudah “diawali” dari kebijakan dan perencanaan yang tidak fair.

    Ada diskriminasi, politik, dan korupsi yang meraja lela dan sudah sangat masif. Baca saja apa yang ditulis oleh Taufik Al Mubarak dengan judul Mengungkap Korupsi Berjama’ah di Aceh, diberitakan di Serambi dengan judul Korupsi di Serambi Mekkah, dan Catatan Umar Said. Bahkan dengan sangat bagus, di Kompas dimuat sebuah tulisan tentang Memoar Seorang Koruptor yang menceritakan bagaimana “perjalanan hidup seorang koruptor” (ditulis oleh Sjamsoeir Arfie, seorang Wartawan dan juga Pengamat Masalah Sosial Budaya).

    Kita mungkin sekedar mengamati, mengingatkan, dan mengkritik. Sekiranya para elit politik dan elit birokrasi masih punya teling, dia akan mendengar dan jika masih punya nurani, dia akan introspeksi diri. Dari luar lingkaran kita “berteriak” untuk sebuah perbaikan, demi masa depan….

  3. jeliteng pribadi permalink
    Desember 17, 2008 6:36 pm

    Waktu konflik menerjang Aceh, beberapa alim ulama telah ‘ditarik’ kembali menghadap Allah. Seperti Prof. Syafwan Idris (Rektor IAIN), Prof. Dr. Dayan Dawood (Rektor Unsyiah), Letjen TNI (Purn) H.T. Johan (mantan Wagub), dll. Belum usai konflik, bencana tsunami kembali ‘menarik’ alim ulama kembali kepada Allah. Prof. Dr. Mas’ud D. Hilliry, Prof. Dr. Isa Sulaiman, Prof. Dr. Ramlan Ilyas, dll. Saya jadi teringat pesan ulama, ketika Allah hendak menghancurkan suatu kaum, maka Allah akan menarik alim-ulama dari kaum tersebut. Kemudian, mereka akan memilih bandit-bandit dan perampok sebagai pemimpin-pemimpinnya. Nauzubillah, tsumma nauzubillah. Apakah Aceh benar-benar hendak dihancurkan oleh Allah? Semoga kita termasuk orang-orang yang dilindungi. Amin.

  4. mukhtar permalink
    Oktober 10, 2009 2:43 pm

    Salam kenal
    saya anak aceh dan kuliah di aceh, saya rasa anda semua keliru, masalah korupsi bukan menjadi milik orang aceh saja anda bisa lihat dari catatan siapa banyak orang aceh dengan non aceh yang dipenjara.
    saya ingin komentar masalah pendidikan anda kiliru saya dan teman2 lain mungkin anda sendiri bukan akuntan kalau memang akuntan reg. anda diatas 10ribu. universitas syiahkuala enam universitas yang memperoleh gelan akuntan pada masanya jadi pendidikan akuntan/ekonomi telah jauh lebih maju dari daerah lain. jadi anda jangan mendiskridikan pendidikan di aceh. saya setuju oknum yang memanfaat kesempatan.
    Saya auditor di pemerintah pusat jadi lebih banyak tahu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: