Skip to content

Studi atas Belanja Modal pada Anggaran Pemerintah Daerah dalam Hubungannya dengan Belanja Pemeliharaan dan Sumber Pendapatan

Oktober 20, 2008

Tulisan ini telah dimuat dalam JURNAL AKUNTANSI PEMERINTAH Vol. 2, No. 2, November 2006 (hal 17-32) yang diterbitkan oleh Departemen Keuangan republik Indonesia dan versi lain dimuat dalam situs www.swamandiri.org. dengan judul Pengalokasian Belanja Fisik dalam Anggaran Pemerintah Daerah: Studi Empiris atas Determinan dan Konsekuensinya Terhadap Belanja Pemeliharaan. Tulisan ini ditampilkan kembali dalam blog ini untuk memudahkan rekan-rekan pembaca membaca dan menyimpan file-nya serta berdiskusi langsung dengan penulisnya.

Studi atas Belanja Modal pada Anggaran Pemerintah Daerah dalam Hubungannya dengan Belanja Pemeliharaan dan Sumber Pendapatan

Oleh:

Syukriy Abdullah & Abdul Halim

Abstrak

Pembuatan kebijakan pengalokasian anggaran belanja modal berbeda dengan pengalokasian belanja pemeliharaan untuk aset tetap yang dihasilkan dari belanja tersebut (Bland & Nunn 1992). Selain itu, untuk belanja modal tentu terkait dengan sumber pendapatan atau pendanaan yang tersedia. Hasil studi yang dilakukan dengan model yang sederhana menunjukkan bahwa alokasi untuk belanja modal berasosiasi positif terhadap belanja pemeliharaan untuk konteks pemerintahaan daerah di Indonesia setelah otonomi daerah dilaksanakan. Besaran belanja modal berasosiasi dengan pendapatan daerah yang bersumber dari pemerintah pusat, tapi tidak dengan pendapatan sendiri.

Kata-kata kunci: belanja modal, belanja pemeliharaan, dana perimbangan, pemerintah daerah, anggaran daerah.

A. LATAR BELAKANG

Pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia yang didasari UU Nomer 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, sejak tahun 2001 berimplikasi pada perubahan dalam sistem pembuatan keputusan terkait dengan pengalokasian sumberdaya dalam anggaran pemerintah daerah.[1] Sebelumnya pendekatan penentuan alokasi lebih mengacu pada realisasi anggaran tahun sebelumnya dengan sedikit peningkatan (incremental) tanpa merubah jenis atau pos belanja (line-item). Pendekatan atau sistem tersebut disebut sebagai sistem anggaran tradisional (line-item and incremental budgeting). Setelah otonomi daerah, tepatnya pada tahun 2003, pendekatan anggaran yang digunakan adalah anggaran berbasis kinerja (performance-based budgeting).[2]

Peraturan Pemerintah (PP) No. 105/2000 dan Keputusan Menteri Dalam Negeri (Kepmendagri) No. 29/2002 sebagai penjabaran dari UU No. 22/1999 memberikan penegasan bahwa daerah memiliki kewenangan untuk menentukan alokasi sumberdaya ke dalam belanja-belanja dengan menganut asas kepatutan, kebutuhan, dan kemampuan daerah. Pemerintah daerah, bekerjasama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sebagai lembaga legislatif, terlebih dahulu menentukan arah kebijakan umum (AKU) dan prioritas anggaran sebagai guidance dalam pengalokasian sumberdaya dalam APBD. AKU dan prioritas anggaran merupakan sintesa dari hasil penjaringan aspirasi masyarakat sehingga diperoleh gambaran yang cukup tentang kebijakan jangka pendek (tahunan) dan kebijakan jangka panjang (lima tahunan) yang berkaitan dengan kebijakan pengelolaan keuangan daerah.

Sejalan perubahan peraturan perundangan yang mendasari pengelolaan keuangan daerah yakni dengan diamandemennya UU No. 22/1999 dengan UU No. 32/2004 yang diikuti dengan amandemen atas PP No. 105/2000 dengan PP No. 58/2005 maka Kepmendagri No. 29/2002 juga diamandemen dengan Permendagri No. 13/2006. Terlepas dari perubahan peraturan perundangan tersebut pengalokasian sumberdaya ke dalam anggaran belanja proyek pembangunan atau belanja modal (capital expenditure) merupakan sebuah proses yang sarat dengan kepentingan-kepentingan politis. Anggaran ini sebenarnya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan publik akan sarana dan prasarana umum yang disediakanoleh pemerintah daerah. Namun, adanya kepentingan politik dari lembaga legislatif yang terlibat dalam proses penyusunan anggaran menyebabkan alokasi belanja modal terdistorsi dan sering tidak efektif dalam memecahkan permasalahan di masyarakat (Keefer dan Khemani, 2003; Ablo dan Reinikka, 1998).

Dalam konteks pengelolaan keuangan daerah, pengalokasian belanja modal sangat berkaitan dengan perencanaan keuangan jangka panjang, terutama pembiayaan untuk pemeliharaan aset tetap yang dihasilkan dari belanja modal tersebut. Konsep multi-term expenditure framework (MTEF) menyatakan bahwa kebijakan belanja modal harus memperhatikan kemanfaatan (usefulness) dan kemampuan keuangan pemerintah daerah (budget capability) dalam pengelolaan aset tersebut dalam jangka panjang (Allen dan Tommasi, 2001). Hal ini berarti bahwa pengelolaan aset terkait dengan belanja pemeliharaan, dan sumber pendapatan atau lebih luas sumber pendanaan.

Tulisan dari hasil penelitian empiris ini menganalisis keterkaitan belanja modal terhadap belanja pemeliharaan dalam anggaran pemerintah daerah dengan menggunakan data realisasi anggaran setelah otonomi daerah dengan tujuan untuk memberikan bukti empiris tentang (1) asosiasi alokasi belanja modal terhadap belanja pemeliharaan dan (2) asosiasi sumber pendapatan terhadap belanja modal. Manfaat yang diperoleh adalah sebuah rekomendasi tentang pembuatan kebijakan alokasi anggaran belanja modal bagi pemerintah daerah, legislatif, dan pemerintah pusat selaku legislator dalam pengelolaan keuangan daerah.

B. LANDASAN TEORITIS DAN HIPOTESIS PENELITIAN

1. Belanja Modal dan Belanja Pemeliharaan dalam Anggaran Daerah

Aset tetap yang dimiliki sebagai akibat adanya belanja modal merupakan prasayarat utama dalam memberikan pelayanan publik oleh pemerintah daerah. Untuk menambah aset tetap, pemerintah daerah mengalokasikan dana dalam bentuk anggaran belanja modal dalam APBD. Alokasi belanja modal ini didasarkan pada kebutuhan daerah akan sarana dan prasarana, baik untuk kelancaran pelaksanaan tugas pemerintahan maupun untuk fasilitas publik. Biasanya setiap tahun diadakan pengadaan aset tetap oleh pemerintahan daerah, sesuai dengan prioritas anggaran dan pelayanan publik yang memberikan dampak jangka panjang secara finansial.

Belanja modal dimaksudkan untuk mendapatakan aset tetap pemerintah daerah, yakni peralatan, bangunan, infrastruktur, dan harta tetap lainnya. Secara teoretis ada tiga cara untuk memperoleh aset tetap tersebut, yakni dengan membangun sendiri, menukarkan dengan aset tetap lain, dan membeli. Namun, untuk kasus di pemerintahan, biasanya cara yang dilakukan adalah dengan cara membeli. Proses pembelian yang dilakukan umumnya dilakukan melalui sebuah proses lelang atau tender yang cukup rumit.

Menurut Halim (2004a:73), belanja modal merupakan belanja yang manfaatnya melebihi satu tahun anggaran dan akan menambah aset atau kekayaan daerah serta akan menimbulkan konsekuensi menambah belanja yang bersifat rutin seperti biaya pemeliharaan. Munir (2003:36) juga menyatakan menyatakan hal senada. Belanja modal memiliki karakteristik spesifik yang menunjukkan adanya berbagai pertimbangan dalam penegalokasiannya. Pemerolehan aset tetap juga memiliki konsekuensi pada beban operasional dan pemeliharaan pada masa yang akan datang (Bland & Nunn, 1992).

Belanja pemeliharaan adalah belanja yang dialokasikan untuk menjaga agar aset tetap senantiasa dalam kondisi siap digunakan sesuai dengan estimasi umur ekonomisnya. Dalam perspektif akuntansi, anggaran untuk pemeliharaan dihitung berdasarkan lamanya waktu atau periode pemakaian aset tetap, seperti halnya dalam penghitungan biaya depresiasi aset tetap. Artinya, jika suatu aset tetap diperoleh pada awal tahun, maka biaya pemeliharaan yang dialokasikan adalah untuk satu tahun, pun jika aset tetap diperoleh pada pertengahan tahun, maka alokasi biaya pemeliharaan juga dialokasikan untuk setengah tahun atau satu semester.

Alokasi belanja modal yang didasarkan pada kebutuhan memiliki arti bahwa tidak semua satuan kerja atau unit organisasi di pemerintahan daerah melaksanakan kegiatan atau proyek pengadaan aset tetap. Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) masing-masing satuan kerja, ada satuan kerja yang memberikan pelayanan publik berupa penyediaan sarana dan perasarana fisik, seperti fasilitas pendidikan (gedung sekolah, peralatan laboratorium, mobiler), kesehatan (rumah sakit, peralatan kedokteran, mobil ambulans), jalan raya, dan jembatan, sementara satuan kerja lain hanya memberikan pelayanan jasa langsung berupa pelayanan administrasi (catatan sipil, pembuatan kartu identitas kependudukan), pengamanan, pemberdayaan, pelayanan kesehatan, dan pelayanan pendidikan.

Berbeda dengan belanja modal, belanja pemeliharaa terjadi pada semua satuan kerja atau unit organisasi pemerintah daerah karena semua memiliki aset tetap. Karena bersifat rutin, belanja pemeliharaan tidak tergantung pada Tupoksi satuan kerja, tetapi pada jumlah aset yang dimiliki.

Belanja modal berbeda dengan belanja operasional dan pemeliharaan dalam hal pembuatan keputusan. Anggaran operasional dan pemeliharaan melibatkan para eksekutif, bagian anggaran, dan pimpinan dinas, badan, bagian, dan kantor, sementara belanja modal, terutama infrastruktur sangat tergantung pada masukan dari insinyur, arsitek, dan perencanaan. Di sisi lain pembiayaan untuk kedua anggaran tersebut juga berbeda. Belanja modal pada umumnya berasal dari dana bantuan (fund), sedangkan pendanaan untuk belanja operasional cenderung bersumber dari pendapatan, misalnya biaya pelayanan (service charges) dan pajak yang dibebankan kepada masyarakat. Perbedaan yang lain adalah anggaran operasional biasanya dirancang untuk satu tahun belanja, sementara kebanyakan anggaran modal untuk beberapa periode atau tahun anggaran (Bland dan Nunn, 1992).

Secara teoritis apabila suatu organisasi melakukan suatu kebijakan untuk membelanjakan dana dari anggaran yang sudah ditetapkan untuk belanja modal, maka hal tersebut akan berpengaruh terhadap anggaran operasional dan pemeliharaan organisasi tersebut. Bland dan Nunn (1992) juga menemukan bahwa capital outlays memiliki implikasi positif yang tidak ambigu terhadap operasi di masa yang akan datang.

2. Hubungan Belanja Modal dan Belanja Pemeliharaan

Pada pemerintahan daerah, proses penyusunan anggaran mencakup dua komponen belanja yang memiliki siklus berbeda, yakni siklus anggaran operasional yang menghasilkan rencana keuangan bagi aktivitas pemerintahan yang berjalan terus menerus dan siklus anggaran belanja modal, yang merupakan perencanaan untuk mendapatkan peralatan, bangunan, infrastruktur, dan aset tetap lainnya (Bland & Nunn, 1992). Meskipun kedua belanja memiliki tujuan yang sama, yakni meningkatkan pelayanan kepada publik, namun terdapat beberapa perbedaan mendasar diantara keduanya. Keduanya relatif independen satu sama lain, termasuk dalam format dokumen anggarannya. Bland & Nunn (1992) menyatakan bahwa capital budgets are project specific, usually providing details on project location and design, funding sources, the time frame for completion, and the percentage of the project completed to date. Sebaliknya, anggaran operasional mencerminkan bagaimana struktur organisasi pemerintahan dan membandingkan pengeluaran setiap departemen antara tahun berjalan dengan tahun lalu untuk mendapatkan estimasi pengeluaran untuk tahun yang akan datang.

Perbedaan lainnya adalah banyaknya pihak yang terlibat dalam pembuatan keputusan. Meskipun keduanya melibatkan negosiasi di antara eksekutif, untuk pengeluaran modal (khususnya untuk infrastruktur), mendapat masukan sangat besar dari insinyur, arsitek, dan perencana. Sumber pendanaan (funding) untuk keduda belanja juga berbeda. Belanja modal biasanya didasarkan pada one-time sources, seperti obligasi dan grants, sementara anggaran operasional umumnya berasal dari sumber pendapatan yang bersifat rutin, seperti pajak (taxes) dan retribusi (service charges). Perbedaan berikutnya adalah time-frame yang dimasukkan dalam setiap anggaran. Anggaran operasional biasanya hanya dianggarkan untuk satu tahun anggaran, sementara hampir semua belanja modal mengandung komitmen adanya pengeluaran dalam waktu melebihi satu tahun.

Perbedaan tersebut memiliki konsekuensi terhadap penganggaran di pemerintahan daerah. Pagano (1984) berpandangan perlunya menghubungkan diantara keduanya. Dia menyatakan:

Over time, crosswalking of capital budget expenses to operating expenses has eroded, in part due to the separateness of the deliberations of those budget. State and local governments usually schedule separate budget hearings for the operating budget and for the capital budget… decisions for each set of outlays, then, are made separately.

Kamensky (1984) yang melakukan penelitian atas kota-kota yang menjadi anggota National League of Cities menemukan bahwa sebanyak 57% kota di Amerika Serikat tidak mempertimbangkan biaya pemeliharaan dan perbaikan terhadap expected life dari suatu project. Menurutnya manajer publik perlu memahami lebih jauh biaya total dari belanja modal, bukan hanya pengeluaran untuk konstruksi dan pengadaan.

Thomassen (1990) juga memberikan catatan penting bagi penganggaran belanja modal ini. Ia menyatakan bahwa paling tidak setengah dari state yang melaporkan item belanja modal dan non belanja modal secara terpisah gagal menggabungkan anggarannya untuk melakukan evaluasi secara simultan dan komparatif untuk kedua item belanja tersebut. Dia juga menyatakan bahwa the adoption of capital budgeting is a tacit admission that outlays for the purchases of capital are fundamentally different from other government purchases. Their effects linger whereas those of other outlays fade.

Keputusan untuk meningkatkan belanja modal merupakan bagian dari keinginan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan publik, yang diikuti dengan peningkatan belanja-belanja lain, yakni operasional dan belanja modal. Namun, tidak berarti belanja modal selalu sebagai penyebab atau predictor bagi kenaikan belanja operasional. Beberapa argumen yang menyatakan perlunya kehati-hatian dalam melihat hubungan belanja modal dan belanja operasional dan pemeliharaan diuraikan berikut ini.

Pertama, pengaruh belanja modal terhadap belanja operasional dan pemeliharaan tidak seragam karena tergantung pada apakah belanja modal tersebut kebijakan menggantikan tenaga manusia (labor) dengan mesin (capital) atau semata-mata untuk meningkatkan kapasitas pelayanan pemerintah melalui pembangunan failitas yang baru. Kedua, pengaruhnya bervariasi di antara berbagai pelayanan yang diberikan pemerintah daerah, tergantung pada sifat pelayanan tersebut: apakah padat modal atau padat karya. Ketiga, adanya kesenjangan waktu (lag of time) antara realisasi belanja modal dan pengaruhnya yang terasa dalam kenaikan atau perubahan dalam belanja operasional dan pemeliharaan yang berbeda diantara berbagai bentuk pelayanan. Keempat, hubungan investasi modal kemungkinan ditutupi oleh kehadiran budget slack (excess resources) dalam suatu pelayanan publik, khususnya jika slack tersebut digunakan untuk meningkatkan biaya yang muncul dari peningkatan belanja modal. Terakhir, mengukur magnitude dan timing belanja modal merupakan pekerjaan yang rumit karena tidak lengkapnya data dan tidak terhitungnya kontribusi pihak swasta dalam pengadaan infrastruktur pemerintah daerah (Bland & Nunn, 1992).

Belanja modal memiliki konsekuensi diperolehnya aset tetap (fixed asset) pada saat belanja tersebut direalisasi sepenuhnya atau output-nya sudah diperoleh. Hal ini bermakna adanya penambahan aset tetap yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Dalam perspektif manajemen keuangan dan akuntansi, selain diperhitungkan cost untuk penggunaan aset tersebut dalam operasional organisasi dalam bentuk depresiasi, juga harus diperhitungkan cost untuk pemeliharaan aset tersebut sehingga dapat dimanfaatkan secara efektif sesuai dengan kegunaannya. Biaya pemeliharaan dikeluarkan secara rutin atau terjadi berulang-ulang setiap tahun (recurrent) atas aset tetap yang dimiliki oleh pemerintah daerah.

Berdasarkan regulasi yang berlaku di pemerintahan daerah di Indonesia, yang mengatur tentang pengelolaan keuangan dan anggaran daerah, setiap realisasi atas kebijakan yang berhubungan dengan cost atau belanja (expenditure) harus didasarkan pada peraturan resmi yang disebut peraturan daerah (Perda). Perda tentang anggaran daerah (Perda APBD) merupakan penentu boleh tidaknya dilakukan pengeluaran dana atau kas untuk membayar biaya-biaya, termasuk biasa untuk memperoleh aset tetap (belanja modal) maupun biaya untuk memelihara aset tetap tersebut. APBD merupakan rencana keuangan untuk mendapatkan aset tetap dan pendanaan untuk pemeliharaan aset tersebut.

Kepmendagri 29/2002 tidak secara eksplisit menyatakan bahwa belanja pemeliharaan harus dialokasikan berdasarkan estimasi atas kondisi keseluruhan aset tetap yang dimiiki oleh pemerintah daerah. Bahkan dalam peraturan yang harus dipatuhi oleh pemerintah daerah ini belanja pemeliharaan terdapat dalam dua jenis belanja, yakni dalam belanja administrasi umum (BAU) dan belanja operasional dan pemeliharaan (BOP). Pemeliharaan dalam BAU bersifat rutin atau terjadi terus menerus, sementara dalam BOP merupakan kegiatan (insidentil). Namun, tidak ada penjelasan lebih jauh batas di antara kedua objek belanja pemeliharaan ini.

Beberapa studi di luar Indonesia telah menganalisis hubungan belanja modal dengan belanja pemeliharaan. Bland dan Nunn (1992) menyatakan bahwa terdapat perbedaan dalam proses pembuatan keputusan pengalokasian antara anggaran belanja modal dengan anggaran belanja pemeliharan. Perbedaan tersebut terjadi karena sifat kedua belanja yang berbeda. Belanja modal adalah belanja variabel, yakni belanja yang terjadi karena adanya kebutuhan atau aktivitas untuk menghasilkan aset tetap, sementara belanja pemeliharaan bersifat rutin dari tahun ke tahun, sesuai dengan keadaan aset tetap yang dimiliki oleh pemerintah.

Studi mengenai hubungan belanja modal dan operasional dan pemeliharaan di Indonesia masih langka. Sebuah studi yang dilakukan adalah Karo-Karo (2006) menemukan bahwa tidak terdapat korelasi di antara belanja modal dan belanja pemeliharaan. Dia menggunakan sampel kabupaten/kota di pulau Jawa untuk anggaran 2003-2004 dan menemukan bahwa ketika pemerintah daerah membuat kebijakan untuk mengalokasikan anggaran belanja modal, tidak diiringi dengan pengalokasian untuk belanja operasional dan pemeliharaan yang seimbang. Diduga penyebabnya adalah tidak akuratnya pemerintah daerah dalam mengalokasikan anggaran terhadap proyek/kegiatan. Namun, pengalokasian belanja secara signifikan berbeda untuk belanja aparatur daerah dan pelayanan publik, meskipun sesungguhnya kualitas keberpihakan pemerintah daerah kepada publik dengan didasarkan pada jumlah alokasi dalam belanja pelayanan publik masih perlu diperdebatkan.

3. Hipotesis Penelitian

a. Asosiasi Belanja Modal terhadap Belanja Pemeliharaan

Studi Bland & Nunn (1992) memberikan bukti empiris yang cukup lengkap tentang hubungan antara belanja modal dengan belanja operasional dan pemeliharaan. Meskipun para manajer di sektor publik, termasuk pemerintahan, menyadari bahwa realisasi belanja modal memiliki konsekuensi akan adanya belanja pemeliharaan, namun dalam pembuatan keputusan pengalokasian dan belanja modal merupakan hal yang terpisah. Hal ini menunjukkan seolah-olah tidak ada kaitan antara belanja modal dengan belanja operasional dan pemeliharaan.

Berdasarkan temuan Bland & Nunn (1992), prediksi atas pola hubungan belanja modal-belanja operasional dan pemeliharaan tergantung pada beberapa faktor, seperti sifat dari belanja modal bersangkutan (sebagai pengganti aset tetap yang telah ada atau sebagai peningkatan kapasitas). Mereka berpandangan bahwa belanja modal akan berpengaruh terhadap belanja operasi dan pemeliharaan setahun ke depan dan mungkin saja hal ini bermakna adanya upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas pelayanan kepada publik. Artinya, konsekuensi fiskal belanja modal adalah signifikan dan dampaknya terhadap belanja pemeliharaan dan operasional dapat terasa selama beberapa tahun ke depan. Sementara Kamensky (1984) berargumen perlunya menghubungkan keputusan belanja modal dengan keputusan belanja operasional. Karo-Karo (2006) justru menemukan bahwa di Indonesia tidak ada hubungan belanja modal dengan belanja operasional dan pemeliharaan.

Pendapat-pendapat di atas memerlukan pembuktian empiris lebih jauh tentang hubungan atau asosiasi belanja modal terhadap belanja pemeliharaan untuk konteks pemerintah daerah Indonesia. Oleh karena itu, hipotesis yang akan uji dapat dinyatakan sebagai berikut:

H1: Belanja modal berasosiasi positif terhadap belanja pemeliharaan.

b. Asosiasi Sumber Pendapatan Terhadap Belanja Modal

Secara konseptual, perubahan pendapatan akan berpengaruh terhadap belanja atau pengeluaran, namun tidak selalu seluruh tambahan pendapatan tersebut akan dialokasikan dalam belanja.[3] Secara empiris juga ditemukan adanya flypaper effect dalam hubungan pendapatan dengan belanja (Moisio, 2002) yang menyatakan bahwa orang akan lebih hemat dalam membelanjakan pendapatan yang merupakan hasil dari effort-nya sendiri dibanding pendapatan yang diberikan pihak lain (seperti grants atau transfer).

Abdullah & Halim (2004) menemukan bahwa sumber pendapatan daerah berupa pendapatan asli daerah (PAD) dan dana perimbangan berpengaruh terhadap belanja daerah secara keseluruhan. Meskipun proporsi PAD maksimal hanya sebesar 10% dari total pendapatan daerah, kontribusinya terhadap pengalokasian anggaran cukup besar, terutama bila dikaitkan dengan kepentingan politis (Abdullah, 2004; Abdullah & Asmara, 2006). Sementara dana perimbangan merupakan sumber penerimaan utama pemerintah daerah (sekitar 90-95%), namun bersifat contingent karena ditentukan oleh pemerintah pusat.

Berdasarkan temuan tersebut, dan mengingat masih langkanya penelitian untuk menganalisis hubungan sumber pendapatan atau pendanaan dengan pengalokasian anggaran belanja dapat dinyatakan sebagai berikut:

H2: Pendapatan sendiri berasosiasi positif terhadap belanja modal.

H3: Pendapatan dari pemerintah atasan berasosiasi positif terhadap belanja modal.

C. METODOLOGI PENELITIAN

1. Sampel dan Data Penelitian

Sampel dalam penelitian ini adalah kabupaten dan kota di beberapa Provinsi di pulau Sumatera termasuk Bangka-Belitung. Pemilihan sampel ini didasarkan pada aspek kewilayahan dan akuntabilitas publik secara regional yang sebagian diatur oleh pemerintah provinsi, sehingga diharapkan variansi data tidak terlalu besar karena variansi yang terlalu besar dapat menimbulkan bias dalam interpretasi atas hasil pengolahan data. Metode pengambilan sampel bersifat convienience sampling. Jumlah kabupaten/kota yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah 32 daerah, yang terdiri dari 20 kabupaten dan 12 kota seperti tersaji dalam tabel berikut:

Kabupaten/Kota yang Menjadi Sampel Penelitian

Nama Kabupaten/Kota

Nama Kabupaten/Kota

Kab. Aceh Tenggara

Kab. Aceh Utara

Kab. Bireun

Kota Banda Aceh

Kota Langsa

Kab. Aceh Barat Daya

Kab. Aceh Tamiang

Kab. Labuhan Batu

Kab. Lima Puluh Kota

Kab. Agam

Kab. Padang Pariaman

Kab. Pasaman

Kab. Pesisir Selatan

Kab. Sawahlunto Sijunjung

Kab. Solok

Kab.Tanah Datar

Kota Bukit Tinggi

Kota Padang Panjang

Kota Padang

Kota Solok

Kota Dumai

Kota Pekanbaru

Kab. Musi Banyuasin

Kab. Muara Enim

Kab. Ogan Komering Ilir

Kota Palembang

Kota Lubuk Linggau

Kab. Bengkulu Selatan

Kota Bengkulu

Kab. Bangka

Kab. Belitung

Kota Pangkal Pinang

Data yang dianalisis dalam penelitian ini bersumber dari realisasi APBD yang diperoleh dari situs Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah (http://www.djpkpd.or.id) tahun anggaran 2003 dan 2004. Pemilihan data untuk kedua tahun anggaran tersebut dengan pertimbangan bahwa saat tersebut merupakan tahun-tahun awal pelaksanaan Kepmendagri 29/2002. Data yang diambil adalah realisasi pendapatan asli daerah (PAD), dana perimbangan, belanja modal, dan belanja pemeliharaan.

2. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Variabel bebas (independent variable) dalam penelitian ini adalah belanja modal yang diukur dengan dua cara, yakni (1) jumlah realisasi anggaran belanja modal tahun 2004 dan (2) perubahan realisasi anggaran belanja modal tahun 2004 dibanding realisasi tahun 2003, dan pendapatan daerah yang bersumber dari pendapatan sendiri (PAD) dan pemerintah pusat (dana perimbangan). Untuk variabel terikat (dependent variable) adalah belanja pemeliharaan, yang juga diukur dengan dua cara, yakni (1) jumlah realisasi anggaran belanja pemeliharaan tahun 2004 dan (2) perubahan realisasi anggaran belanja pemeliharaan tahun 2004 dibanding realisasi tahun 2003.

3. Model Regresi

Pengujian atas hipotesis penelitian menggunakan model regresi sederhana dengan persamaan sebagai berikut:

Y = a + b1X1 + e,

dimana Y adalah belanja pemeliharaan, dan belanja modal, a adalah konstanta, b1 adalah koefisien regresi, X1 adalah belanja modal, PAD atau dana perimbangan, dan e adalah kesalahan estimasi.

D. ANALISIS HASIL

1. Hubungan Belanja Modal terhadap Belanja Pemeliharaan

Untuk menguji asosiasi belanja modal terhadap belanja pemeliharaan (hipotesis1) digunakan dua bentuk data, yakni data level dan data change. Data level merupakan data interval yang diambil langsung dari laporan realisasi, sementara data change merupakan data rasio, yakni perubahan belanja modal dan belanja pemeliharaan dari tahun 2003 ke tahun 2004. Penggunaan kedua data ini dimaksudkan untuk memberikan bukti yang menguatkan bahwa spesifikasi model dalam hubungan asosiatif belanja modal-belanja pemeliharaan sangat kuat (robust).

a. Data Level

Dengan menggunakan data level, hasil pengolahan data menunjukkan bahwa belanja modal berasosiasi terhadap belanja pemeliharaan pada derajat signifikansi 5%, seperti tersaji antara lain dalam tabel-tabel berikut.

Dengan demikian dihasilkan Persamaan Regresi:

BPEM = 663.631,3 + 0,153BM

dengan t-value sebesar 2,515, dan sig.value sebesar 0,017. Sementara nilai R adalah sebesar 0,417, R-square sebesar 0,174, dan Adjusted R-Square sebesar 0,147.

Hasil ini menunjukkan bahwa besaran belanja modal berasosiasi positif terhadap belanja pemeliharaan, namun dengan asumsi bahwa secara keseluruhan nilai aset tetap pemerintah daerah mengalami kenaikan dengan adanya belanja modal dalam tahun bersangkutan.

Dalam hal ini kebijakan pengalokasian belanja modal tidak dikaitkan dengan apakah belanja modal tersebut dimaksudkan untuk menggantikan aset yang telah ada, bersifat lebih capital-intensive, ataupun adanya tambahan aset tetap yang bersumber dari non-APBD, seperti bantuan dari pihak lain berupa donasi.

b. Data Changes

Sama seperti hasil dalam analisis untuk data level, hasil pengolahan data change menunjukkan bahwa belanja modal berasosiasi positif terhadap belanja pemeliharaan pada derajat signifikansi 5%.

Persamaan regresi yang dihasilkan adalah:

SPEM = 59810,120 + 0,210SBM

dengan t-value sebesar 3,747dan sig.value sebesar 0,001. Sementara nilai R adalah sebesar 0,565, R-square sebesar 0,319, dan Adjusted R-Square sebesar 0,296.

Hasil ini memberikan pemahaman bahwa pembuatan keputusan pengalokasian belanja modal berasosiasi positif terhadap pengalokasian belanja pemeliharaan. Artinya, pemerintah daerah mengantisipasi konsekuensi kenaikan belanja modal terhadap kenaikan belanja pemeliharaan. Hasil ini juga menunjukkan bahwa perubahan belanja modal merupakan penyebab utama kenaikan aset tetap dan kalaupun ada perubahan yang bersumber dari non-belanja modal atau non-APBD, perubahan tersebut tidak terlalu berarti.

Hasil analisis ini membuktikan bahwa hipotesis1 didukung secara empiris dan menunjukkan bahwa hubungan asosiatif antara belanja modal dan belanja pemeliharaan adalah robust. Artinya, baik data level maupun data change yang digunakan, hubungan tersebut tetap signifikan. Apakah data level atau data change yang lebih bermakna, perlu dilakukan pengujian yang lebih mendalam.

Temuan ini berbeda dengan yang diungkapkan Karo-Karo (2006) yang menyatakan bahwa tidak terdapat korelasi antara belanja modal dan belanja operasional dan pemeliharaan (BOP). Perbedaan ini terjadi karena konsep belanja pemeliharaan dalam studi ini berbeda dengan BOP dalam Karo-Karo (2006). Belanja pemeliharaan adalah belanja rutin, sementara BOP adalah variabel atau belanja aktivitas. Korelasi antara BOP dengan belanja modal harus mempertimbangkan adanya konsensus di antara para pembuat keputusan anggaran tentang proporsi antara BOP dengan belanja modal mengingat keduanya merupakan belanja yang bersifat langsung.

2. Hubungan Sumber Pendapatan terhadap Belanja Modal

a. Hubungan Pendapatan Sendiri Terhadap Belanja Modal

Secara teoritis pendapatan sendiri merupakan salah satu sumber pendapatan yang dapat digunakan untuk membiayai pelayanan publik. Namun, untuk kasus pemerintah daerah di Indonesia, persentase tersebut hanya sekitar 5-7% dari total penerimaan pemerintah daerah. Hasil pengolahan data atas pengaruh pendapatan sendiri (yang diukur dengan PAD) dapat dituliskan dalam bentuk persamaan regresi berikut:

SBM = 1241.292 + 1,479SPAD

yang dihasilkan antara lain dari tabel-tabel berikut:

Dengan t-value sebesar 1,608 dan sig.value sebesar 0,118. Sementara nilai R adalah sebesar 0,282, R-square sebesar 0,079, dan Adjusted R-Square sebesar 0,049. Hasil ini memberi bukti bahwa pendapatan sendiri tidak berasosiasi terhadap belanja modal atau hipotesis 2 tidak terdukung.

b. Hubungan Pendapatan dari Pemerintah Pusat Terhadap Belanja Modal

Pendapatan dari pemerintah pusat berupa dana perimbangan di pemerintah daerah di Indonesia merupakan sumber pendapatan utama, yang berkisar antara 90-95% total penerimaan pemerintah daerah dalam APBD. Ini menunjukkan tingginya ketergantungan fiskal pemerintah daerah kepada pemerintah pusat. Oleh karena itu, perubahan dana perimbangan akan sangat berpengaruh terhadap pengalokasian anggaran belanja dalam APBD, termasuk anggaran belanja modal

Hasil pengolahan data tercermin antara lain dalam tabel-tabel berikut:

Persamaan regresi yang diturunkan dari hasil analisis data adalah sebagai berikut:

SBM = -619.123 + 0,290SDP

dengan t-value sebesar 3,651 dan sig.value sebesar 0,001. Sementara nilai R adalah sebesar 0,555, R-square sebesar 0,308, dan Adjusted R-Square sebesar 0,285. Besaran angka sig. Value yang lebih kecil dari 5%, yakni 0,001, bermakna bahwa perubahan dalam dana perimbangan berpengaruh terhadap perubahan dalam belanja modal pada derajat signifikansi 5%.

Hasil ini menunjukkan bahwa pendapatan daerah berupa dana perimbangan, terutama bagi hasil pajak/bukan pajak, dana alokasi umum (DAU), dan dana alokasi khusus (DAK) berpengaruh terhadap pengalokasian belanja modal. Artinya, kenaikan sebesar satu satuan dalam dana perimbangan akan akan mengakibatkan kenaikan dalam belanja modal sebesar 0,29 satuan. Dengan demikian, hipotesis 3 terdukung secara empiris. Namun, hasil ini dapat menimbulkan spekulasi bahwa pengalokasian belanja modal tidak didasarkan pada kebutuhan masyarakat yang ril di lapangan, tetapi karena ketersediaan dana belaka.

E. SIMPULAN DAN REKOMENDASI

1. Simpulan

Simpulan dari hasl pengolahan dan analisis data adalah sebagai berikut:

a. Belanja modal berasosiasi positif terhadap belanja pemeliharaan dan menunjukkan bahwa hubungan asosiatif antara belanja modal dan pemeliharan adalah robust.

b. Sumber pendapatan daerah berupa dana perimbangan berasosiasi positif terhadap belanja modal, sementara PAD tidak.

2. Rekomendasi dan Keterbatasan

a. Konsekuensi langsung dari belanja modal adalah bertambahnya aset tetap pemerintah daerah, yang disajikan di neraca daerah per tanggal akhir tahun anggaran. Besaran aset tetap inilah yang kemudian menentukan berapa besar belanja pemeliharaan. Untuk penelitian berikutnya perlu menguji pengaruh nilai aset tetap daerah terhadap anggaran pemeliharaan untuk mengetahui proporsi belanja pemeliharaan atas nilai aset daerah.

b. Perlu dikaji lebih jauh bagaimana prose pengalokasian belanja modal dalam anggaran pemerintah daerah. Hal ini untuk memberikan bukti apakah belanja modal merupakan manifestasi dari kebijakan untuk menambah kapasitas aset, meningkatkan efisiensi, mengganti aset yang telah usang dan tidak ekonomis, atau pelaksanaan kebijakan padat karya (labor intensive) atau padat modal (capital intensive).

c. Aspek politik berperan besar dalam pengalokasian anggaran belanja modal (Keefer & Khemani, 2003, 2004). Selain itu ada juga masalah keagenan (Smith & Bertozzi, 1998). Untuk itu, perlu penelitian lebih mendalam bagaimana faktor politik berperan dalam penentuan besaran belanja modal, sehingga dapat dipahami lebih jauh faktor-faktor lain yang mempengaruhi hubungan belanja modal dengan belanja pemeliharaan.

d. Menurut Mauro (1998), pengalokasian anggaran belanja terkait dengan perilaku korup politisi dan birokrasi, dimana belanja yang memberikan lucrative opportunities lebih tinggi untuk korupsi lebih disukai. Abdullah (2004) dan Abdullah & Asmara (2006) mendukung pandangan Mauro (1998) tersebut. Untuk mengungkap perilaku korup politisi dan birokrat ini, perlu dilakukan kajian lebih lanjut dengan menggali apakah pengalokasian dalam belanja modal dan realisasi belanja modal tersebut tidak terkait dengan perilaku oportunistik pihak-pihak yang terlibat dalam penganggaran.

e. Pemerintah pusat perlu memberikan guidance yang tegas untuk mendefinisikan belanja pemerliharaan yang bersifat rutin dan yang non-rutin. Demikian juga untuk membedakan belanja langsung yang berhubungan dan tidak berhubungan langsung dengan publik. Hal ini untuk menghindari kerancuan dalam penyusunan anggarannya di pemerintahan daerah.

f. Penelitian ini masih sangat sederhana dengan segala keterbatasannya termasuk model dan data yang digunakan mengingat masih langkanya penelitian-penelitian topik di bidang yang dibahas.

REFERENSI

Abdullah, Syukriy. 2004. Perilaku oportunistik legislatif dalam penganggaran daerah: Pendekatan principal-agent theory. Makalah disajikan pada Seminar Antarbangsa di Universitas Bengkulu, Bengkulu, 4-5 Oktober 2004.

_________ & Abdul Halim. 2004. Pengaruh dana alokasi umum (DAU) dan pendapatan asli daerah (PAD) terhadap belanja pemerintah daerah: Studi kasus kabupaten/kota di Jawa dan Bali. Jurnal Ekonomi 13 (2): 90-109.

_________ & Jhon Andra Asmara. 2006. Perilaku oportunistik legislatif dalam penganggaran daerah: Bukti empiris atas aplikasi agency theory di sektor publik. Kertas kerja.

Ablo, Emmanuel & Ritva Reinikka. 1998. Do budget really matter? Evidence from public spending on education and health care in Uganda. World Bank, Policy Research Paper 1926.

Allen, Richard & Daniel Tommasi. 2001. Managing Public Expenditure: A Reference Book for Transition Countries. Paris: SIGMA-OECD. http://www.oecd.org/puma/sigmaweb.

Bland, Robert & Samuel Nunn. 1992. The impact of capital spending on municipal operating budgets. Public Budgeting & Finance (Summer): 32-47.

Coate, 1981. The case for a national capital budget. Public Budgeting & Finance (Winter): 21-26.

Halim, Abdul. 2004. Akuntansi Sektor Publik Akuntansi Keuangan Daerah, Jakarta, Salemba Empat.

Kamensky, John M. 1984. Budgeting for state and local infrastructure: Developing a strategy. Public Budgeting and Finance (Autumn): 3-17.

Karo-Karo, Syukur Selamat. 2006. Hubungan belanja modal dengan belanja operasional dan pemeliharaan pada pemerintah kabupaten/kota di pulau Jawa. Program Magister Sains – Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Tesis (tidak dipublikasikan).

Keefer, Philip & Stuti Khemani. 2003. The political economy of public expenditures. Background paper for WDR 2004: Making Service Work for Poor People. The World Bank.

_________ & _________. 2004. Democracy, public expenditure and the poor. World Bank Research Observer (forthcoming).

Mauro, Paolo. 1998. Corruption and the Composition of Goverment Expenditure. Journal of Public Economics 69: 263-279.

Moisio, Antti. 2002. Essays on Finish Municipal Finance and Intergovernmental Grants. Helsinki: Government Institute for Economic Research. Donlod di sini: http://www.vatt.fi.

Mueller, Bernardo & Carlos Pereira. 2003. Democratic governance and budget allocation in Latin America: Electoral rules and legislative organization-two complementary dimension of the cost of governing. Universidade de Brasilia & University of Oxford, Working paper.

Pagano, Michael. 1984. Notes on capital budgeting. Public Budgeting & Finance 4 (Autum): 31-40.

Smith, Robert W. & Mark Bertozzi. 1998. Principal and agents: An explanatory model of public budgeting. Journal of Public Budgeting, Accounting and Financial Management (Fall): 325-353.

Thomassen, Henry. 1990. Capital budgeting for a state. Public Budgeting & Finance 10 (Winter):72-86.


[1] Anggaran pemerintah daerah di Indonesia disebut anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Istilah anggaran daerah atau anggaran pemerintah daerah dan APBD digunakan bergantian dalam makalah ini tanpa ada perbedaan arti.

[2] Anggaran berbasis kinerja, disebut juga anggaran kinerja, adalah pendekatan dalam pengalokasian sumberdaya yang didasarkan pada hasil atau kinerja yang akan dicapai. Kinerja yang menjadi target merupakan solusi atau pemenuhan bagi permasalahan atau kebutuhan yang ada di masyarakat. Dengan demikian, menggunakan pendekatan partisipatif untuk mengidentifikasi berbagai hal di masyarakat sebelum membuat sebuah kebijakan publik.

[3] PP 105/2000 menyatakan bahwa pendekatan anggaran yang digunakan adalah anggaran surplus-defisit, yakni jumlah pendapatan tidak harus sama dengan jumlah belanja, dan ada komponen pembiayaan dalam pelaksanaan operasional pemerintah daerah. Artinya, jika pendapatan tidak dapat menutupi seluruh belanja, maka bisa dicarikan sumber penerimaan lain melalui pembiayaan, seperti pinjaman, penjualan aset yang dipisahkan, sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu, dan sebagainya. Sebaliknya, jika pendapatan lebih besar dari belanja, terjadi surplus, maka selisihnya akan dimasukkan ke dalam pembiayaan, misalnya untuk membayar hutang, membentuk dana cadangan, menjadi sisa perhitungan anggaran tahun berjalan, dan sebagainya.

Iklan
21 Komentar leave one →
  1. Oktober 20, 2008 12:57 pm

    wow…mantap artikelnya

    sangat bermamfaat buat saya yg juga seorang accounting baru

  2. Oktober 20, 2008 5:51 pm

    Tulisan (hasil penelitian) ini masih menggunakan peraturan lama (Kepmendagri N.29/2002), sedangkan yang saat ini berlaku di Daerah adalah Permendagri No.13/2006 (telah direvisi dengan Permendagri No.59/2007). Selain itu, Pemerintah Pusat telah menerbitkan peraturan terbaru tentang belanja modal serta perbedaannya dengan belanja pemeliharaan (dapat dilihat dalam tulisan lain di blog ini).

    Perbedaan dalam nama adn kode rekening yang digunakan dalam Kepmendagri 29 dan Permendagri 13 (=59) barangkali dapat digunakan untuk “mengembangkan” penelitian ini. Mungkin terlalu sederhana, tapi saya kira untuk tujuan penulisan skripsi mahasiswa S1 (yang notabene masih dalam tahap “belajar meneliti setelah lulus mata kuliah metodologi penelitian”) sudah cukup memadai.

    Dalam hal ini, selain belajar mengaplikasikan statistik dan metode-metode penelitian, mahasiswa harus juga belajar tentang keuangan daerah, paling tidak proses penyusunan APBD, dengan membaca peraturan perundangan terkait. Seperti yang kita tahu, mahasiswa fakultas ekonomi sangat jarang membaca peraturan perundangan, sementara dalam perkuliahan (akuntansi sektor publik atau akuntansi pemerintahan) sang dosen jarang atau tidak pernah memberi tugas berupa analisis terhadap peraturan perundangan (misalnya PP, Kepmendagri, atau permendagri).

    Sekali lagi, tulisan ini hanya lah sebuah “awal” yang diharapkan dapat mendorong dan merangsang rekan-rekan pembaca, khususnya mahasiswa fakultas ekonomi, untuk “memasuki” sektor publik melalui penelitian. Pengembangan konsep dan kebijakan di sektor publik (terutama pemerintahan daerah) sangat ditentukan dengan kualitas hasil penelitian yang dihasilkan para akademisi dan mahasiswa…

  3. nita permalink
    Oktober 28, 2008 4:03 pm

    huehehehe…. terimakasih Pak…:D

  4. November 22, 2008 3:49 pm

    asslm p’ syukri sy mhs akt FE Univ Andalas… sy tertarik dengan penelitian bpk n sy ingin mereplikasi penelitian ini dengan tahun yang berbeda…sy cb buka situs yg bpk kasih “www.djpkpd.or.id” tp g bs..gmn t p’?apa ada situs yg lain yg bs diakses?sebelumnya terima kasih pak..

  5. syukriy permalink*
    November 22, 2008 5:22 pm

    @Elfi
    Alamatnya sudah berubah, mbak. Ini alamat yang baru: http://www.djpk.depkeu.go.id/
    Semoga sukses selalu.

  6. d-nee permalink
    Januari 8, 2009 11:05 am

    Ass pak syukriy..senang bertemu blog bapak.mohon tidak keberatan menerima konsultasi maupun sharing dari saya.membaca artikel bapak pada kenyataannya hampir tidak ada hubungan antara besarnya belanja modal dengan belanja pemeliharaan dan sumber pendapatan, sayang sekali ya..walaupun seharusnya untuk pengelolaan keuanga daerah yang efektif efisien dan akuntabel semua penganggaran mustinya melalui perhitungan yang logis. moga ke depan APBD kita, baik dalam penganggaran, pelaksanaan maupun pertanggung jawaban terus lebih baik

  7. hasan al-mubarok permalink
    Januari 26, 2009 3:16 pm

    saya mahasiswa fakulatas ekonomi UNPAD jurusan akuntansi konsentrasi akuntansi pemerintahan. saya sekarang lagi nyusun skripsi dan saya tertarik untuk mereplikasi judul artikel anda dg objek dan tahun yang berbeda. namun saya lumayan kesulitan mendapatkan referensi2nya, khususnya mengenai belanja pemeliharaan dan juga mengenai hubungan sumber pendapatan daerah dengan belanja modal. kalau di permendagri 13 sumber pendapatan daerah ada 3 kelompok. jadi kira2 bapak bisa bantu ga? terima kasih

  8. syukriy permalink*
    Januari 27, 2009 6:50 pm

    @d-nee
    Sebenarnya justru tidak adanya hubungan tersebut yang menjadi fokus masalah: kok bisa? Nah, ada komentar yang bagus dari Sdr Rusmanik (www.swamandiri.org), seorang konsultan perencanaan pembangunan dan anggaran daerah tentang kaitan belanja modal dan pemeliharaan di Halaman Penelitian di blog ini (https://syukriy.wordpress.com/penelitian/).

    Sebagai contoh adalah kasus sederhana beriku:
    Belanja modal tahun 2008 adalah pengeluaran yang menghasilkan aset tetap dalam tahun 2008. Misalnya pembelian mobil dinas. Kalau mobil dinas tsb diterima bulan Februari 2008 dan lagsung digunakan untuk operasional kepala dinas pada bulan yang sama, maka akan ada biaya pemerliharaan dan operasional untuk bulan Maret s/d Desember tahun 2008. Tetapi, kalau mobil dinasnya diterima bulan November, maka biaya pemeliharaannya mungkin tidak ada. 😕

    Di dalam setiap Pendapatan sesungguhnya tersirat kegunaan dananya. Misalnya PAD (Pendapatan Asli Daerah), yang berasal dari masyarakat selaku wajib pajak dan wajib retribusi). Nah, oleh karena PAD dibayar oleh rakyat, maka seharusnya digunakan juga untuk membiayai proyek2 yang nantinya bermanfaat bagi rakyat, misalnya jalan, jembatan, irigasi, saluran pembuangan, jaringan air bersih, pasar, dll.

    @hasan al-mubarok
    Beberapa referensi dapat ditemukan di internet, misanya dicari lewat Google. Untuk referensi tulisan saya di atas, ada beberapa yang saya miliki softcopynya. Jika anda membutuhkan, silahkan menyebutkan artikel yang mana, nanti saya uploadkan di Rapidshare atau di Ziddu.

  9. Eny Jfs permalink
    Maret 10, 2009 5:54 pm

    Assalaamu’alaikum ww
    Terimakasih banyak p Sukrie atas tulisannya tsb. Sontak ide tuk nulis tesis terjawab. Begini pak, saya adalah mahasiswa maksi uns kls internasional yg dl pernah ikut orientasi sektor public di FKIP UNS. Bapak mungkin masih teringat kesulitan yg kami alami. Untuk itu pak, setelah membaca tulisan bapak tersebut di atas saya berniat menggunakan tulisan bapak untuk mereplikasi penelitian tersebut yg tentunya disesuaikan dg permendagri 2007 dan saya aplikasikan di DIY dan surakarta yg notabene sbg daerah kerajaan di masa lalu. Bgaimana pak?
    Terus terang saya butuh saran dan bimbingan dari bapak. Maturnuwun

  10. Maret 10, 2009 8:43 pm

    @Eny Jfs
    Monggo, bu. Dengan senang hati saya siap berdiskusi. Silahkan ibu buat propsoalnya dulu, nanti bisa kita kembangkan lebih jauh.

  11. Merry permalink
    Maret 11, 2009 7:21 pm

    asslm Pak Syukriy, saya Merry mhsw PTN di Padang. Saya memerlukan referensi untuk skripsi saya, bisa g’ bapak bantu saya. Saya butuh artikel yg berjudul Asymmetries in the response to increases and decreases in intergovernmental grants: some emperical findings. National Tax Journal 49 (4):501-512 serta Non linear and asymmetric adjustment in the local revenue expenditure models: some evidence from the Italian municipalities. University of Milan, Working Paper.Terimakasih sebelumnya Pak.

  12. Eny Jfs permalink
    Maret 14, 2009 2:16 pm

    Terimakasih pak atas perhatian dan ketersediaan waktu bagi saya. Just confirm saja, alamat email masih sama to pak. Insya Allah kalau sudah jadi proposal kami kirim via email.

  13. syukriy permalink*
    Maret 14, 2009 3:30 pm

    @Merry
    Artikel pertama bisa didonlod gratis di sini:
    http://ntj.tax.org/wwtax%5Cntjrec.nsf/dockey/5AA58D5DF650F37085256863004B1F43?OpenDocument

    Artikel kedua bisa didonlod gratis di internet. Ini linknya: http://www.ecomod.net/conferences/ecomod2001/papers_web/legrenzi_asy%20local%20adjustment.pdf

    Terima kasih.

  14. Eny Jfs permalink
    Maret 27, 2009 9:11 pm

    Maaf pak Syukriy. Lagi2 draft proposal saya ttg belanja modal ditolak dosen pembimbing. Jadi saya harus ganti judul ne pak. Judul yg baru adl “Analysis of the influence of Fiscal Decentralization to the PAD and Public Expenditure”. Bagaimana pak, ada saran buat saya nih. Terus terang saya belajar dulu ttg desentralisasi fiscal karena semasa kuliah gak pernah disinggung soal itu. Bapak punya referensinya gak? saya tetap berharap bapak bisa bantu saya. Maturnuwun.

    @Eny Jfs
    Saya memiliki beberapa referensi tentang DF, terutama berupa e-book dan arikel yang published. Anda membutuhkan judul yang mana?

  15. Juli 22, 2009 2:19 pm

    Pak Sukriy, saya buat proposal penelitian tentang pengaruh DAU dan PAD terhadap Belanja Daerah, mereplikasi juga dari penelitian di jurnalnya Maimunah (2006). Tapi ditolak pembimbing saya karena modelnya yang sangat sederhana, ada referensi lain buat judul skripsi yang menginternasional?

    @Hanifa Karima
    Penolakan sebuah proposal sebenarnya bukan karena model yang sederhana, tetapi karena faktor lain, seperti isu yang tidak relevan, teori yg tidak kuat, metodologi yang tidak tepat, pemilihan alat statistik atau pengujian yang tidak sesuai, dan ketersediaan data.
    Pemilihan model tergantung pada isu yg ingin diteliti. Jika model sederhana bisa dan tepat untuk sebuah isu, ya… ndak apa2. Artinya, pemilihan dan disain model tergantung pada pendekatan penelitian yang digunakan.
    Bukan berarti model yang rumit lebih baik daripada model yang sederhana…

  16. budi s permalink
    Agustus 5, 2009 1:11 pm

    terima kasih atas bagi2 ilmunya pak..
    sy bisa dapat artikel ato ulasan ttg hubungan kebijakan fiskal/keuangan pemerintah (pusat) dg kebijakan fiskal/keuangan pemda..di mana ya?
    terima kasih.

  17. syukriy permalink*
    Agustus 9, 2009 9:51 am

    @Budi S.
    – Sama-sama, pak.
    – Saya belum memiliki referensi terkait hubungan kebijakan fiskal Pempus-Pemda ini. Namun, di salam setiap Permendagri tentang Pedoman Penyusunan APBD selalu disebutkan bahwa Pemda harus “mensinkronkan” kebijakan umum anggaran (KUA) dan PPASnya dengan kebijakan fiskal Pempus. Coba dilihat pada Permendari No.32/2008 (Pedoman Penyusunan APBD 2009).

  18. yenni permalink
    April 5, 2010 3:46 pm

    Ass..pak, sy sangat tertarik dgn studi bpk ini, sy mau mcoba utk mengembangkan nya mjdi bahan penelitian utk tesis sy…mgk thn dan kota/kab. yang berbeda, mhn izin bpk ya.dan sy jg sangat mengharapkan bantuan bpk, sbelum dan ssudah nya sy ucapkan terima kasih, wass.

    Yenni
    Silahkan, bu Yenni. Oya, ibu kuliah dimana?

  19. arye permalink
    Juni 16, 2010 1:36 am

    Assalamua alaikum. Wr.Wb.
    Pak.. ada yang mau ditanyakan
    untuk mendapatkan jurnal mengenai pengelolaan atau evaluasi tentang manajemen aset
    harap masukakn dari bapak
    terima kasih,

    Wassalam….

  20. Dian wasesa permalink
    Oktober 23, 2014 7:52 am

    Ass.Wr.Wb
    Pak mohon arahan dan masukan terkait kajian atau studi yang sering di adakan di bappeda tingkat kota..yg ingin sy tanyakan
    1. Kriteria dan peraturan apa saya yang mengatur tentang kajiian yang boleh di anggarkan menggunakan APBD?
    2. Kajian atau studi apa saja yang yang di perkenankan dan yg tidak diperkenankan?
    3. Apakah seluruh jenis kajian/studi yang telah direalisasikan sudah pasti masuk dalam kode rekening Belanja Modal dan termasuk Aset?

    Sebelumnya saya ucapakan banyak banyak terimakasih atas tulisan bapak di atas,,sy mohon referensi dan informasi terkait kajian kajian yang banyak sekali sekaranf dinadakan di pemerintah kota namun masih sangat abu2 penerapannya.
    Wass.

  21. Februari 10, 2016 11:19 pm

    Terimakasih pak atas tulisannya, saya mahasiswi akuntansi usu dan saya lg nyusun tesis dengan topik belanja pemeliharaan, saya mereplikasi pnelitian bapak, tetapi pak saya ingin melihat pengaruh dana perimbangan dan pad terhadap belanja pemeliharaan dengan belanja modal sebagai variabel moderating, namun saya kesulitan menemukan teori hubungan dana perimbangan dengan belanja pemeliharaan, apa bapak bisa bantu kendala yg saya hadapi? Atau memang tidak ada pak hubungan langsung dana perimbangan terhadap belanja pemeliharaan? Saya sngat mgharapkan masukan dari bapak. Terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: