Skip to content

Kesempatan Membuka Misteri Sebenarnya

Oktober 11, 2008

Modus Aceh, Minggu 1 Oktober 2008

Kepulangan Hasan Tiro ke Aceh, mengundang perhatian Komite Persiapan Aceh Merdeka Demokratik (KPAMD) yang bermarkas di Amerika Serikat dan Sweden. Melalui juru bicaranya Edy L Suheri, dia menjawab berbagai pertanyaan media ini, melalui surat elektronik (e-mail). Apa saja kata mantan wartawan ini? Berikut petikannya.

Apa pendapat Anda tentang kepulangan Hasan Tiro ke Aceh?

Kami rasa ada baiknya bagi rakyat di Nanggroe, atas rencana kepulangan Pahlawan Revolusi dan Pendiri Acheh Merdeka (AM), Yang Mulia Dr. Hasan M di Tiro. Semoga saja rencana itu terlaksana dan beliau dapat menjejakkan kaki kembali di tanah kelahiran.

Maksud Anda?

Kepulangan beliau diharapkan dapat membuka misteri seputar keadaan beliau yang sebenarnya. Rakyat Acheh di Nanggroe akan memperoleh kesempatan untuk melihat sendiri kondisi beliau, yang sudah tidak lagi tampil di depan publik sejak terkena serangan stroke pada tahun 1997 lalu. Di samping, kondisi beliau sebagai seorang hamba Allah yang telah berusia 87 tahun, yang secara alamiah sudah memasuki masa uzur.

Apa yang Anda dan kawan-kawan inginkan?

Keadaan yang kami inginkan untuk diketahui oleh seluruh bangsa Acheh secara terang, agar mereka maklum terhadap keadaan seorang pemimpin bangsa, namun usaha itu selama ini terhalang karena dikaburkan oleh bekas pimpinan GAM oligarkhi. Selama sepuluh tahun terakhir ini, beliau berada di dalam penjara politik pihak tersebut, beliau diisolir. Kepemimpinan beliau di masa lalu, bersama dengan pengaruh dan aura beliau, telah dijadikan komoditi oleh pihak tersebut untuk meraih kuasa politik di mata rakyat Acheh.

Apa makna dibalik kepulangan itu?

Terlalu pagi untuk menarik kesimpulan atau merangkum makna dari kepulangan itu. Ia nya masih sebatas rencana atau mungkin saja suatu siasat politik bekas pimpinan oligarkhi yang sekarang sedang memburu hasrat politik mereka melalui Partai Acheh.

Benarkah kepulangan itu atas keinginan Wali sendiri atau ada indikasi lain?

Sangat diragukan jika rencana itu adalah kehendak Yang Mulia sendiri. Apalagi kami, khususnya para anggota Komite di Sweden— termasuk yang dulunya paling dekat dengan beliau seperti saudara Yusuf Daud—tahu betul bagaimana prinsip beliau. Beberapa anggota komite yang telah bertemu beliau, telah menyaksikan kondisi beliau yang tidak lagi dalam kondisi prima dari segi daya pikir. Meskipun secara fisik masih kelihatan sehat.

Maksudnya?

Coba pikir secara logik, jika beliau masih dalam kapasiti normal seperti masa 1997 ke belakang, tentu saja beliau memainkan peranan strategik dalam masa beberapa perundingan yang telah lalu, di Geneva, Tokyo dan Helsinki. Jika pun beliau merestui perjanjian Helsinki, beliau sudah kembali ke Acheh pada tahun pertama perjanjian itu disepakati.

Indikasi lain sehingga rencana kepulangan itu dibuat karena beberapa sebab; pertama untuk mendongkrak pengaruh kaum oligarkhi dan sayap politik barunya, Parti Acheh, yang semakin menurun. Juga strategi isolasi yang sudah terlalu lama dilakukan ke atas Yang Mulia mulai tidak lagi menguntungkan. Ada sejumlah kekuatan yang mendesak pembukaan isolasi tersebut, Komite termasuk di antaranya. Rombongan pelancong DPRD Aceh, panitia Qanun WN pernah juga berusaha menerjang blokade itu. Belum lama ini, seorang peneliti dari Jerman berhasil menjumpai WN di rumahnya tanpa diketahui oleh pihak pengisolir.

Apa makna dibalik kepulangan Wali bagi keutuhan perdamaian yang sudah terajut di Aceh?

Menurut pendapat kami, hampir tak ada suatu nilai tambah bagi terciptanya sebuah perdamaian yang utuh. Malah keadaan yang berlaku di Acheh saat ini tidak dapat dikatakan suatu keadaan damai yang absolut (absolute peace). Keadaan di Acheh adalah kondisi damai negatif atau peredaan konflik semata, sedangkan core atau inti konflik belum dialamatkan. Lalu suatu ‘perdamaian’ dipaksakan untuk terwujud agar konflik bersenjata segera usai.

Dengan alasan memberi peluang kepada rakyat untuk kembali ke tahap kehidupan normal. Tapi kehidupan normal yang diimpikan itu tidak jua tercapai, lihatlah keadaan sekarang. Itu sama saja dengan melapisi dompul dan cat baru ke atas mobil yang berkarat tanpa terlebih dahulu membersihkan dasarnya. Untuk sementara memang kelihatan cantik dan baru, tak lama karat itu akan naik kembali ke permukaan.

Persoalan Acheh adalah konflik peninggalan kolonial Belanda yang beralih ke tangan kolonial Indonesia. Sepeninggalan Belanda, rakyat tidak diberi hak untuk memilih secara umum (universal suffrage) dalam suatu arena penentuan status masa depan untuk diri dan tanah mereka.

Proses pengambilan keputusan yang maha penting seperti itu hanya dilakukan oleh sekelompok orang saja, yang melakukan monopoli kekuatan dan pengaruh. Lalu mengolah atau mengangkangi hak dan sikap politik rakyat. Padahal yang menanggung resiko akibat dari keputusan yang salah itu adalah seluruh rakyat Acheh. Itulah yang terjadi ketika Acheh digabungkan dengan Indonesia, serta perjanjian Helsinki yang baru ini.

Makanya, sebelum perjanjian itu disepakati, kami berpendapat bahwa langkah perdamaian harus diawali dengan gencatan senjata paling tidak selama 2 tahun, untuk rehabilitasi korban tsunami dan konflik. Kemudian suatu referendum untuk menentukan status Acheh harus dilakukan. Hasilnya baru dapat mendamaikan Acheh secara permanen. Dengan cara demikian, inti konflik dapat dihilangkan.

KP AMD sendiri setuju Wali Hasan Tiro pulang ke Aceh?

Komite tidak dalam posisi untuk mengatakan setuju atau tidak.Tetapi kami melihat rencana itu ada baiknya bagi rakyat Acheh. Mungkin sudah masanya beliau kembali, apalagi beliau sudah terlalu lama di perantauan dan telah pensiun dari perjuangan politik aktiv sejak tahun 1997.

Berbagai pernyataan dan keputusan yang dibuat di atas tahun tersebut adalah rekayasa pihak oligarkhi dalam gerakan yang tidak mempunyai kekuatan untuk berdiri sendiri, jika tak didukung oleh pengaruh beliau. Pihak pendudukan Indonesia pun tidak lagi melihat beliau sebagai seorang tokoh yang berbahaya, hanya pengaruh dan cult beliau yang masih berbicara. Dan yang lebih penting, kesempatan ini dapat digunakan oleh press atau media massa di Acheh untuk membuat interview dengan beliau dan menyebarkan kebenaran kepada publik. Tapi kami kira hal itu sulit terjadi, dan KPA telah berkata akan ‘menyeleksi’ para journalis yang meliput.

Bukankah kepulangan itu bermakna bahwa persoalan merdeka sudah selesai, ditandai dengan MoU Helsinki?

Anggapan itu kurang tepat, malah menyesatkan. Beliau adalah seorang ideolog dan deklarator Acheh Merdeka, serta seorang pemimpin revolusi yang telah mendermakan sebagian besar masa hidupnya untuk perjuangan Acheh. Sekarang masanya beliau beristirahat dan menikmati hari tua. Sedangkan kami adalah para anak bangsa yang mewarisi perjuangan ini, menyambung kembali tekad murni Acheh Merdeka, untuk meraih tujuan yang belum sempat beliau selesaikan.

Bagi kami, beliau adalah pahlawan bangsa. Di mana potret beliau berhak diletakkan di antara deretan para Pahlawan Acheh yang telah berkorban untuk pembebasan bangsanya, mulai dari Keumala Hayati sampai ke Tjut Njak Dhien. Beliau telah memperkenalkan kembali identiti Acheh sebagai sebuah Bangsa dan Negara dan menanamkan kembali ideologi Acheh Merdeka kepada pengikutnya sejak tahun 1976. Ideologi itu terus berkembang menjadi milik rakyat, menjalar dan tumbuh subur di dalam sanubari bangsa Acheh. Ideologi itu tak pernah mati, ia akan turun dari satu generasi ke generasi yang lebih muda. Seperti di dalam tubuh Komite sekarang yang merupakan perpaduan antara generasi tahun 1976, 1980, dan 1998. Jadi perjuangan ini tidak hanya bergantung kepada deklarator, pendiri atau pemimpin.

Di sisi lain, kami selaku para pengabdi ideologi Acheh Merdeka, terus berjuang berdasarkan tuntunan ideologi itu sendiri. Kami juga taat dan setia kepada pencetus ideologi sejauh yang bersangkutan sanggup memimpin kami berdasarkan ideologi yang beliau lahirkan. Jika sang deklarator ideologi bertentangan dengan ideologi hasil karyanya sendiri, maka yang paling berhak kami ikuti adalah ideologinya, bukan individu atau personalnya. Jadi ideologi tidak sepenuhnya bergantung pada sang ideolog.

Katakanlah Adam Smith, pembawa ideologi kapitalism, ajarannya itu akan bertahan dan menjadi milik mereka yang menerimanya, sekalipun Smith memilih jadi seorang Marxist. Jadi tidak mungkin ideologinya itu berubah jadi kapitalism-sosialism hanya karena Smith berubah jadi pengikut Karl Marx. Apalagi jika kita bicara dalam konteks Acheh, di mana perjuangan bangsa kita tidak terikat seratus persen dengan status pemimpin.

Oleh sebab itu kita sanggup berperang 80 tahun lebih dengan Belanda. Lain halnya dengan budaya Jawa, jika pemimpin mereka ditangkap seperti Diponegoro, maka seluruh prajuritnya menyerah dan habislah perjuangan. Selain itu, Kami menghindari pengkultusan yang berlebihan terhadap seseorang kecuali para Nabi dan Rasul, sekalipun yang berkenaan adalah seorang pemimpin. Karena ianya bertentangan dengan agama, di samping berbahaya bagi demokrasi dan psikologi manusia, yang pada dasarnya adalah korup dan berkemungkinan menjadi tiran, jika diberi kuasa yang tanpa batas dan tiada aturan yang mengontrol.

Apa langkah dari pihak Anda selanjutnya?

Perjuangan Komite tidak terpengaruh dengan agenda pihak lain di luar spektrum Komite, termasuk rencana kepulangan Yang Mulia.Walaupun sekiranya perjuangan Komite berhasil dan beliau masih diberi umur panjang, Komite akan menempatkan beliau pada kedudukan Wali Negara yang sah. Itu karena beliau telah berjasa dalam perjuangan ini. Meskipun beliau sudah tidak mampu untuk melakukan aktiviti secara normal ketika ini. Namun kami tidak dalam rangka memperjuangkan beliau untuk menjadi Wali Nanggroe pura-pura di bawah koloni Indonesia, seperti rencana pihak oligarkhi dan kalangan pro-pendudukan. Sebab menaruh beliau dalam posisi tersebut adalah penghinaan terhadap ideologi dan pribadi Yang Mulia. Di mana semangat dan petuah yang berkenaan masih tetap kami pertahankan sampai detik ini.

Jadi, Komite terus bekerja sesuai dengan agenda yang sudah ditetapkan, yang antara lain berperan sebagai oposisi terhadap perjanjian Helsinki dan berjuang untuk self-determination rakyat Acheh. Saat ini kekuatan dan pengaruh Komite di Acheh semakin bertambah, yang bermakna pelaksanaan suatu kongres inklusif perlu dipersiapkan, untuk menghadirkan representatif yang lebih luas di dalam tubuh komite. Kongres ini nantinya yang akan menentukan kepemimpinan eksekutif dan legislatif gerakan.

Kami tidak memberi berbagai janji muluk danpropaganda, karena yang dibutuhkan oleh suatu gerakan pembebasan adalah keterlibatan semua komponen dari bangsa itu sendiri serta kerja keras dalam mencapai kehendak bersama.***

Iklan
6 Komentar leave one →
  1. Oktober 11, 2008 4:41 pm

    Menarik…

    Saya suka dengan penolakan pada pengkultusan sosok seperti yang dinyatakan dalam wawancara tersebut. Couldn’t agree more 🙂

    Tapi… tentang Aceh Merdeka… apa iya kemerdekaan seutuhnya dalam bentuk sebuah negara akan menjamin sepenuhnya kemerdekaan hakiki bagi rakyat Aceh?

    Bagi saya pribadi, kemerdekaan itu ada dalam kebebasan tiap jiwa, tiap individu. Menyerahkan nasib pada sekelompok individu utk mengelola kebebasan itu dalam bentuk sistem pemerintahan, tetap saja bukan kemerdekaan. Tak jauh beda dengan Indonesia juga, atau negara manapun di dunia ini 😆

    Mungkin karena saya cenderung anarchy maka saya pesimis dengan adanya sistem yang demikian 🙂

    Syukriy:
    Salam kenal. Terima kasih atas kunjungan anda ke blog ini, bung Alex. (Tapi, situs anda tidak bisa dibuka ya?)

    Saya sependapat dengan anda! Kemerdekaan itu adanya dalam diri kita, hati dan jiwa kita! Namun, dalam realitas kehidupan di dunia, pengelompokkan dan pengotakkan selalu terjadi, baik atas nama bangsa, negara, agama, maupun keluarga.

    Alangkah bijaknya (hati dan jiwa) kita tetap merdeka dalam kondisi dan situasi dimana kita “terlihat” terjajah oleh dokrin, negara, suku lain, partai politik, dan pemerintahan. Dalam hal paling kecil, misalnya di keluarga, barangkali pernah kita merasa “dijajah” oleh pasangan kita… Jadi, sangat abstrak apa makna “jajah” bagi kita… 🙂

  2. Oktober 13, 2008 8:20 am

    Merdeka yang bagaimana yang diharapkan?…

  3. Oktober 14, 2008 10:13 am

    Assalamu’alaikum Wr. Wb,

    Menarik sekali setelah membaca wawancara anda dengan Eddy L. Suheri sbg juru bicara WN, tapi ada wawancara yg menurut saya rancu arti dan maknanya, yaitu ..”Menurut pendapat kami, hampir tak ada suatu nilai tambah bagi terciptanya sebuah perdamaian yang utuh. Malah keadaan yang berlaku di Acheh saat ini tidak dapat dikatakan suatu keadaan damai yang absolut (absolute peace).
    Keadaan di Acheh adalah kondisi damai negatif atau peredaan konflik semata, sedangkan core atau inti konflik belum dialamatkan. Lalu suatu ‘perdamaian’ dipaksakan untuk terwujud agar konflik bersenjata segera usai…” Menurut saya, pernyataan tsb sangat tidak jelas maknanya, kalau yg memberi pernyataan tsb beranggapan seperti itu, apakah dng tetap berperang dan suatu saat, aceh merdeka yg dipimpin oleh pejuang dr AM, kedamaian hakiki tsb bisa dijamin 100%..?????? apakah tidak akan muncul penjajahan kolonial yang baru..?? Malah kalau sampai terjadi, lebih parah daripada penjajahan kolonial pendahulunya, penjajah bangsa aceh sendiri…Na’uzubillahi min zalik…

    Syukriy:
    Wa’alaikumsalam wr wb.
    Terima kasih atas kujnjungannya, bung Ridha. Blog-bisnis-nya bagus. Oya, wawancara dimaksud bukan saya yang melakukan. Tulisan ini saya ambil dari Modus Aceh (ada link artikel aslinya di bawah judul).

    Interpretasi dan analisis terhadap perkembangan kondisi di Aceh memang sangat beragam. Baik orang Aceh (tinggal, lahir, aau berdarah Aceh) maupun non-Aceh melihatnya dari banyak sudut pandang. Namun, pertanyaan yang paling mendasar adalah: kemerdekaan seperti apa yang diinginkan rakyat Aceh? Untuk pertanyaan ini pun, jawabannya pasti bermacam-macam…

  4. Oktober 15, 2008 5:01 pm

    Walau saya tidak begitu paham dengan wacananya secara keseluruhan, tapi yang terpenting saya hanya bisa berharap agar Aceh bisa damai dan tentram untuk selamanya dalam pangkuan Ibu Pertiwi. Salam kenal mas, btw mampir juga ya di kerajaan saya ;)) tq…

  5. Rizal permalink
    Oktober 15, 2008 5:18 pm

    Dear…
    saya adalah ex.perantuan aceh di nusantara (ikut ortu yang merantau) sekarang menetap di Banda aceh, Sebetulnya apa yang diperjuangkan oleh tokoh aceh sebetulnya untuk kelompok mereka sendiri bukan untuk rakyat aceh itu, (sama dengan tokoh nasional di indonesia dalam hal ini kelompok partai)mereka ingin merdeka padahal mereka ingin berkuasa setelah berkuasa mereka dengan leluasa mengkorupsi kekayaan di aceh dengan menaikan pendapatan meraka lewat undang – undang supaya diangap legal, tapi rakyat aceh mah tetap hidup miskin. begitulah sifat orang keturunan Melayu (jawa, melayu, bugis, aceh) hanya mikirin kepentingan kelompok mereka sendiri…
    jadi menurutnya lebih baik kita hidup damai berdampingan dengan suku lain di nusantara kita semua dinusantara ini asal-usulnya sama sebagai bangsa Melayu Austronesia… jadi lebih baik orang yang ingin kemerdekan aceh tidak lebih dari pengecut, yang ingin membuat kekacauan di aceh saja…. trus bersembunyi di luar negeri sana… rakyat aceh sekarang ini hanya ingin hidup damai, sejahtera, dan makmur menjadi Entreprenuer/pengusaha bukan politikus busuk makan uang rakyat… orang yang pengen merdeka adalah orang-orang busuk… buat kondisi aceh tidak tentram untuk berbisnis.. saya adalah orang yang ingin rakyat aceh jadi entreprenuer di aceh dan bisa menjadi saudagar… jangan jadi orang pengecut yang bersembunyi di luar negeri sana… klau anda ingin berjaung untuk rakyat aceh ayo datang ke tanah rencong ini bangun aceh bersama… dengan saudara kita yang lain di nusantara.. terutama orang melayu, minangkabau, bugis, dll. jangan jadi pengecut…

  6. Oktober 16, 2008 1:58 pm

    welcome mr hasan tiro …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: