Skip to content

Mudik dan Lebaran

Oktober 7, 2008

Pengantar. Mudik adalah peristiwa sejuta makna, selaksa rasa, dan penuh warna. Namun, mudik sesungguhnya bukan hanya urusan silaturrahmi dengan sanak saudara, tetapi juga berkaitan dengan penyelenggaran pemerintahan dan negara. Berikut beberapa opni tentang mudik yang dimuat di media nasional.
Indonesia Mudik
Oleh: Satjipto Rahardjo (Kompas, Jumat, 3 Oktober 2008)

Mudik adalah tema yang tepat untuk menggambarkan hiruk pikuk Idul Fitri saat ini. Orang berebut tiket bus, kereta api, dan pesawat untuk kembali ke kampung halaman dan dilakukan dengan ”mati-matian”. Magnet kampung halaman amat kuat sehingga sering mengabaikan akal sehat. Mangan ora mangan, anggere kumpul (biar tidak makan yang penting kumpul ngariyung).

Mudik mencari fitrah

Kampung halaman bagai magnet besar karena tidak sekadar kembali ke rumah, tetapi ke suasana mistis yang mengelilingi rumah atau kampung halaman. Di situ ada pemuasan kerinduan kepada masa lalu yang penuh tawa dan polos, sebuah daya tarik yang tak dapat dijelaskan dengan akal. Kampung menjadi simbol otentisitas kehidupan. Mudik adalah simbol pergerakan ”dari- masyarakat-ke-komunitas”. Jakarta itu masyarakat, tetapi Kebumen, Sragen, Tuban, Grobogan, dan Trenggalek adalah komunitas yang dirasakan lebih otentik, lebih kental daripada masyarakat.

Mudik Lebaran tahun ini sebaiknya menjadi inspirasi bagi bangsa tentang perlunya menemukan otentisitas kehidupannya. Banyak tanggal pada tahun 2008 berbicara tentang mudik atau kembali ke kampung. Kita mudik ke tahun 1908 saat organisasi Boedi Oetomo (BO) didirikan. Mudik ke tahun 1928 saat ”Sumpah Pemuda” (SP) dikumadangkan. Kembali ke BO dan SP untuk menemukan, mencium, dan menghirup kembali aroma berbangsa yang otentik dan segar. Kita ingin mudik karena banyak hal otentik yang sudah hilang dari kehidupan berbangsa. Kita ingin kembali ke ”sangkan paraning (asal muasal) Indonesia”.

Semua hari itu memalingkan hati ke belakang. Jika para Tofflerian (dari futurolog Alvin Toffler) berbicara tentang ”guncangan masa depan”, kita ingin mundur ke belakang karena kekuatan ”magnet masa lalu” itu.

Bangsa kita memiliki banyak kearifan dan filsafat lokal untuk mengekspresikan suasana mistis, seperti sangkan paraning dumadi (dari mana dan ke mana kehidupan manusia). Almarhum Prof Soemantri Hardjoprakoso, ahli ”psikiatri Jawa” dan seorang Jungian (dari Carl Gustav Jung), menggunakan kata oergreest, Suksma Kawekas, jiwa dan zat yang menjadi asal segalanya.

Mudik itu mencari fitrah, keaslian, sesudah kesasar dalam hidup. Dalam sindrom mudik, berdesak-desakan konsepsi yang berputar di sekitar otensitas atau keaslian itu. Saat manusia terlempar ke dunia dengan centang-perenangnya, mereka juga kehilangan kompas kehidupan. Maka, orang memburu kompas yang sudah hilang. Jung mengatakan, sesudah muncul ”kesadaran individual” dengan berbagai akibat yang menderitakan, orang merindukan ”kesadaran kolektif”, ke suasana damai.

Fitrah manusia

Indonesia menghadapi aneka krisis. Kita bingung, mau ke mana dan apa yang salah? Pada saat seperti itu, fenomena mudik menjadi sumber inspirasi.

Puasa sebulan menjadi momentum untuk tafakur atau berkontemplasi. Ujung tafakur membawa kita kembali kepada sangkan paraning dumadi/urip. Diterjemahkan secara lain, kita ingin hidup fitri, jujur, dan beramanah. Bagi manusia yang hidup dalam ”comberan dunia”, sangkan paran itu menjadi suatu oase penuh keindahan, kejujuran, dan kesalehan di tengah ”zaman edan” yang penuh kepalsuan dan keserakahan. Filsafat urip mung mampir ngombe (hidup hanya singgah untuk minum) sudah dirobek menjadi hidup untuk makan minum sekenyangnya dan menimbun kekayaan sebanyak mungkin dengan segala cara.

Kontemplasi yang jujur membawa kita kepada pengakuan, banyak orang Indonesia tidak hidup dan bekerja secara otentik dan beramanah. Mengapa harus korupsi jika hidup ini hanya sebentar? Mengapa harus menjadi kepala daerah jika otentisitas kita adalah ahli dalam menjahit atau bercocok tanam? Korupsi mengabaikan kejujuran dan keamanahan menjalankan pekerjaan. Menjadi presiden, menteri, gubernur, dan kepala daerah dianggap lebih gemerlap daripada petani, guru, atau penjaga pintu kereta api. Akibatnya orang melecehkan pekerjaan guru, petani, penyapu jalan, dan lainnya. Pekerjaan asal dijalankan. Orang meninggalkan fitrahnya sebagai tukang jahit, petani, dan guru. Pekerjaan menjadi palsu.

Senyampang dalam suasana Idul Fitri, kita harus kembali kepada fitrah, otentisitas masing- masing. Kita bertindak otentik dan beramanah dalam pekerjaan masing-masing. Pekerjaan sekecil apa pun dijalankan dengan penuh martabat (dignity). Mari menjadikan Indonesia mudik dan kembali menjadi bangsa yang penuh otentisitas.

Satjipto Rahardjo Guru Besar Emeritus Sosiologi Hukum Universitas Diponegoro, Semarang.

—————————————————————————-

Optimalisasi Dana Mudik

Oleh: Mukhaer Pakkanna (Kompas, Jumat, 3 Oktober 2008)

Arus mudik tahun 2008 diperkirakan bertambah. Jumlah pemudik dengan angkutan umum tahun ini 15.799.853 orang, naik 6,14 persen dibandingkan dengan tahun 2007 atau 14.885.490 orang (Kompas, 25/9/2008). Pemudik dari Jakarta diprediksi naik sembilan persen, dari 2.184.502 orang (Lebaran 2007) menjadi 2.485.165 orang (Lebaran 2008). Dari jumlah itu, 18 persen menggunakan motor.

Peningkatan jumlah pemudik paling tidak disebabkan, pertama, kondisi ekonomi sebagian pemudik relatif stabil. Kedua, tingginya ikatan batin pemudik dengan kampung halaman. Jika selama ini terjadi spillover akibat membesarnya arus urbanisasi sejenak menjelang dan sesudah Idul Fitri, arus itu berbalik arah. Arus mudik menandakan adanya redistribusi pendapatan dari wilayah perkotaan ke pedesaan.

Kegagalan desa

Besaran arus urbanisasi nyaris berbanding lurus dengan arus mudik. Membesarnya arus urbanisasi, menurut Michael Lipton (1977), merupakan refleksi kegagalan ekonomi di desa yang ditandai sulitnya mencari lowongan pekerjaan dan gagalnya revitalisasi pertanian yang ditandai maraknya alih fungsi lahan sebagai push factors. Di sisi lain, daya tarik kota dengan penghasilan tinggi sebagai pull factors. Dalam teori pasar kerja, preferensi itu logis sehingga berimplikasi pada besarnya suplai tenaga kerja di perkotaan.

Masalahnya, disparitas ekonomi antarwilayah perkotaan dengan pedesaan memunculkan ”urbanisasi prematur”. Hal ini ditandai deformasi struktural dalam proses ekonomi. Menurut Raoul Prebisch (1982), tenaga kerja yang pindah ke perkotaan yang mengalami pertumbuhan tinggi tidak bisa semua masuk sektor industri. Implikasinya, deformasi struktural terjadi dalam bentuk meluasnya secara drastis sektor jasa dalam penyerapan tenaga kerja yang bukan diakibatkan lonjakan permintaan atas jasa-jasa oleh sektor industri, tetapi semata-mata diakibatkan ketidaksanggupan sektor industri untuk menyerap mereka.

Kondisi ini menyebabkan menjamurnya sektor jasa informal di perkotaan, yang menyerap hampir 80 persen. Mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga, pedagang kaki lima, tukang bangunan, ojek, karyawan rendahan, dan lainnya. Tidak mengherankan Kabupaten Gunung Kidul, terutama Kecamatan Karangmojo, Playen, Pathuk, dan Wonosari—dianggap ”lumbung” pekerja informal—mendapat limpahan pendapatan dari arus mudik. Data Pemda Gunung Kidul (2006) menunjukkan, sekitar 10 persen dari 752.000 warga merantau dan bekerja, terutama di Jakarta dan sekitarnya. Diperkirakan putaran uang mencapai Rp 150 miliar-Rp 200 miliar pada masa Idul Fitri jika satu orang rata-rata membawa Rp 2 juta.

Limpahan redistribusi pendapatan terutama pada daerah ”lumbung” pekerja informal pada masa Idul Fitri menimbulkan dilema. Di satu sisi cukup membanggakan karena pendapatan asli daerah (PAD) meningkat. Di sisi lain, menandakan pembangunan desa gagal karena daya absorbsi dan sustainabilitas lapangan kerja tidak terjadi.

Membangun kelembagaan

Dalam UU Pemerintahan Daerah disebutkan, otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat. Kepentingan masyarakat seyogianya ditafsir membangun kapasitas masyarakat lokal, didasarkan pada prakarsa dan aspirasi masyarakat. Semakin meningkat urbanisasi di desa, misalnya, menunjukkan kapasitas masyarakat lokal terabaikan karena akses terhadap pasar tenaga kerja di wilayah pedesaan untuk kepentingan pembangunan desa semakin mengerut.

Karena itu, meningkatnya arus mudik ke desa seharusnya dijadikan peluang membangun masyarakat desa. Tujuannya, menciptakan lapangan kerja di pedesaan. Redistribusi dana seyogianya dioptimalisasi melalui pembangunan kapasitas dan kelembagaan ekonomi desa. Membuat lembaga keuangan mikro sederhana, yang bisa menampung dana arus mudik, bisa menjadi solusi. Maka, diperlukan inisiasi masyarakat lokal untuk mengundang pemudik berkumpul di balai desa, masjid, atau tempat pertemuan warga.

Selama ini, pola kerja lembaga keuangan mikro (LKM) dipraktikkan di Kabupaten Gianyar, Bali. Merujuk riset Lincolin Arsyad (2008), dibutuhkan pendekatan informal dan formal dalam membangun ekonomi desa. Pola informal melalui penguatan nilai, norma, dan sanksi sosial. Pola ini sudah terpatri dalam kearifan lokal di berbagai kehidupan masyarakat desa.

Pola formal melalui pembangunan tata kelola LKM yang mencakup organisasi, prosedur rekrutmen, mekanisme simpan pinjam, dan sistem renumerasi. Pola Gianyar ini berhasil mengakselerasi peningkatan PDRB daerah dan mampu mendukung pembangunan pedesaan melalui peningkatan kebiasaan menabung, menciptakan kesempatan kerja, dan lainnya.

Optimalisasi dana mudik melalui LKM menjadikan dana itu bisa diproduktifkan. Melalui sistem pembagian saham, pemudik bisa menyetorkan saham untuk kepentingan usaha LKM. Dana yang terkumpul bisa merangsang dan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan produktif masyarakat desa. Untuk itu, dibutuhkan peran pemerintahan desa dan tokoh teladan untuk menjadi pelopor pembangunan kelembagaan ekonomi desa.

Mukhaer Pakkanna Peneliti CIDES; Wakil Rektor STIE Ahmad Dahlan Jakarta.

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. Desember 30, 2008 9:57 pm

    Salam Hormat, Salam Senyum Kanggo Sedulur Kabeh
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Perkenalkan, Saya H.M.Jamil,SQ,MPd ingin meminta dukungan Saudara dalam pemilihan Caleg DPR RI PPP 2009 Dapil Kebumen, Banjarnegara & Purbalingga.
    Semoga bermanfaat bagi kita semua.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  2. syukriy permalink*
    Desember 31, 2008 5:06 am

    Selamat berjuang, pak. Semoga niat baik dan keinginan untuk memberikan yang terbaik kepada masyarakat bisa terealisasi. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: