Skip to content

Ironi Pelayanan Publik

Oktober 4, 2008
Media Indonesia (Jumat, 03 Oktober 2008)

SETIAP kali Lebaran, setiap kali itu pula kita disuguhkan fakta yang amat ironis. Yaitu, betapa buruknya pelayanan publik. Rakyat, masyarakat, khalayak, menjadi minimalis. Kereta api untuk rakyat berarti kereta terjelek. Bus untuk rakyat adalah bus terburuk. Pesawat udara untuk rakyat berarti pesawat dengan pelayanan dan jadwal amburadul.

Perlakuan terhadap publik seperti itu, sesungguhnya ironis, bahkan bertentangan dengan tujuan fundamental kita bernegara. Konstitusi memerintahkan dengan amat jelas bahwa seluruh sumber daya dan kekayaan di bumi, di perut bumi dan di atas bumi diabdikan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat.
Pilihan konstitusi juga betul, yaitu Indonesia memilih Republik sebagai sistem bernegara. Tidak monarki atau kerajaan.

Dengan memilih bentuk republik, negara ini mendasarkan diri pada filosofi fundamental pro bono publico. Itulah makna esensial republik yang meletakkan kemaslahatan publik–pro bono publico–sebagai roh bernegara. Tetapi di dalam praktik–seperti dipertontonkan setap kali Lebaran–yang terjadi adalah sebaliknya. Kepentingan umum menjadi komitmen minimalis dari para pemangku kebijakan publik.
Rakyat yang menjadi pemegang kedaulatan tertinggi, dalam praktik menikmati pelayanan terburuk. Negara menganut sistem elitisme dalam pelayanan. Bila rakyat ingin menikmati pelayanan terbaik, rakyat harus menjadi kaya terlebih dahulu. Tanpa menjadi kaya, pelayanan tidak menjadi hak rakyat.

Bila konsisten dengan semangat republik, pada musim Lebaran seperti ini rakyat bisa naik kereta api tanpa berdesak-desakan dan menikmati tempat duduk sambil dibelai sejuknya ruangan yang dilengkapi mesin pendingin. Toilet pun bersih dengan air yang cukup tersedia. Sehingga ketika tiba di tempat tujuan mereka adalah rakyat yang menikmati pelayanan. Rakyat yang bangga hidup dalam negara dengan sistem republik.
Tetapi, setiap kali pikiran seperti ini diutarakan, para penyelenggara negara menilai inilah pikiran utopis. Seakan-akan rakyat menikmati dan dibuai oleh pelayanan tidak mungkin terlaksana. Uang selalu menjadi alasan di balik buruknya pelayanan publik. Padahal yang sesungguhnya terjadi bukan soal uang semata, tetapi soal komitmen dan cita rasa.

Jalan untuk rakyat di suatu kampung bisa berpuluh-puluh tahun sangat buruk. Akan tetapi, ketika seorang pejabat tinggi kebetulan mempunyai rumah pribadi di kampung itu, jalan menuju kampung sampai ke halaman sang pejabat bisa berubah mulus dalam tempo satu bulan. Padahal, selama berpuluh-puluh tahun negara beralasan tidak memiliki uang untuk membangun ruas jalan tersebut. Inilah bukti elitisme pelayanan. Rakyat harus menjadi sesuatu agar bisa menikmati pelayanan. Selama rakyat adalah rakyat tanpa sesuatu, mereka hanya pantas dipinggirkan oleh penyelenggara republik.

Orientasi pelayanan yang sangat elitis terbukti juga ketika stasiun dan penumpang kereta api menjadi tertib karena Presiden atau pejabat tinggi datang meninjau. Selepas peninjauan rakyat tidak menjadi pusat pelayanan lagi. Semuanya semrawut seperti sediakala.

Setelah lebih dari setengah abad merdeka, republik ini masih mengkhianati jiwa republik yang memerintahkan pro bono publico. Ini tidak karena republik ini miskin uang, tetapi republik ini miskin komitmen dan cita rasa pada kemakmuran rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi.

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. syukriy permalink*
    Oktober 9, 2008 12:29 am

    Pelayanan publik yang buruk oleh pemerintah bukan cerita baru. Mental birokrasi yang tidak untuk mengabdi, konon lagi altruisme, oportunis, dan kultur feodalis yang sudah mengakar menyebabkan elitisme terjadi dimana-mana. Yang layakn mendapatkan pelayanan terbaik memang hanya pejabat dan penguasa serta orang-orang yang memiliki uang.

    Fungsi pemerintah seperti mati suri, seolah-olah tinggala jalan saja. Sehingga muncul kritik bahwa: apa memang kita masih butuh pemerintah? Kalau pemerintah daerah bubar, rakyat malah untuk karena DAU bisa dibagi-bagi ke mereka.

  2. Oktober 9, 2008 5:05 pm

    Mental birokrasi yang tidak untuk mengabdi, konon lagi altruisme, oportunis, dan kultur feodalis yang sudah mengakar menyebabkan elitisme terjadi dimana-mana. Yang layakn mendapatkan pelayanan terbaik memang hanya pejabat dan penguasa serta orang-orang yang memiliki uang.

    Mengapa bisa seperti itu? Salah orangnya kah atau salah aturan mainnya?

  3. Januari 26, 2009 11:00 am

    kita ambil hikmahnya saja, kita sebagai rakyat harus mandiri, karena sikap pemerintah dan elit negara ini sudah “hubbud dunya”, senag berburu harta, wanita cantik, dan kesenagan belaka.
    hayoooo …. rakyat, bangkitlah tanpa pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: