Skip to content

Strategi Usaha Pemberantasan Korupsi

Juni 24, 2008
by

Sabtu, 21 Juni 2008
Oleh : Undri, Pusat Dokumentasi Informasi Sejarah-Budaya BPSNT Padang
Apa yang terjadi pada saat sekarang ini yang berkenaan dengan munculnya berbagai macam korupsi, baik yang berskala kecil sampai kepada skala yang besar merupakan bukan gejala baru di Indonesia. Hal tersebut pada masa lalu juga sudah dijalankan oleh masyarakat di Indonesia ini. Dalam khazanah kesejarahan Indonesia mencatat bahwa sejak zaman VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) saja hal tersebut sudah di praktekkan.

Di samping itu pada masa VOC tersebut juga terjadi penjualan jabatan dan juga dipraktekkan dalam sistem-sistem kerajaan di Indonesia. Dengan demikian lahirlah konsep bahwa jabatan umum di dalam suatu negara adalah juga sumber penghasilan. Dari sanalah sebenarnya gejala korupsi bisa dijalankan.

Apa yang terjadi sekarang ini, tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada masa lampau. Walaupun waktu, bentuk atau polanya berbeda, namun yang namanya korupsi tetap berjalan. Hal ini terbukti dengan adanya suatu laporan yang sangat kita inginkan. Secara mengejutkan bahwa Indonesia menurut laporan Transparancy International (TI) berada di posisi yang sangat kronis.

Sekarang adalah masa reformasi, salah satu “program” yang dicanangkan oleh orde reformasi ini adalah menghapus segala macam yang namanya korupsi tersebut. Tapi apa yang terjadi, kenyataannya menunjukkan lain. Sebab begitu kita( mahasiswa dan masyarakat) pada masa melengserkan rezim Soeharto yang sangat getol-getolnya menurunkan Soeharto karena menurut sebagian masyarakat kita kebijakan Soeharto tersebut tidak terlepas dari unsur tersebut. Namun suatu hal yang tidak dapat kita pungkiri lagi dalam realita saat sekarang ini bahwa tradisi tersebut masih dilanjutkan bahkan tidak bisa hilang dalam masyarakat kita.

Pertanyaan awal yang perlu kita cermati dalam pemahaman masalah ini adalah, kenapa yang namanya korupsi tersebut tidak bisa di “ campakkan” dari kehidupan kita. Menurut penulis ada beberapa penyebabbnya pertama. Bahwa yang namanya korupsi tersebut merupakan suatu bentuk “ warisan sejarah yang telah lama mengendap” yang mungkin tidak akan bisa ditanggalkan dalam kehidupan kita. Dan perlu pencermatan nurani serta mempertebal moral kearah untuk pencegahannya.

Kalau boleh kita berbicara secara eksterm bahwa mungkin bagi kita kata-kata upeti (zaman dulu), sogok dan sederetan istilah lainnya tidak terlepas dari unsur KKN tersebut yang pernah dilakukan baik itu pada masa kerajaan di Indonesia, masa VOC, penjahan bangsa asing serta pada masa sekarang ini. Kata seperti upeti, sogok dan sebagainya tersebut mungkin agak aneh bagi kita, tapi dalam kehidupan kita sering kita lakukan baik itu secara sengaja maupun secara tidak sengaja.

Secara harpiah upeti, sogok dan lain sebagainya sama artinya pemberian sesuatu kepada seseorang dengan tujuan tertentu baik itu berupa benda atau uang. Mungkin tujuan tersebut untuk meminta perlindungan, sebagai uang penakut dan sebagainya. Upeti mungkin saja dilakukan oleh orang kecil maupun orang “gede” sekalipun.

Begitu juga dengan halnya persoalan upeti, sogok dan lain-lainnya sudah menjadi suatu proses yang sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Terutama di dalam khazanah literatur sejarah Indonesia ( seperti yang telah dijelaskan pada bagian diatas ) menyebutkan bahwa para pedagang pada zaman kolonial telah melakukan pemberian upeti kepada pemerintah kolonial dalam rangka keberlangsungan usahanya terutama dalam segi keamanan.

Begitu juga dengan pemberian upeti pada masa kerajaan-kerajaan yang ada di Indoensia misalnya merupakan salah satu bentuk bagaimana sipemberi upeti (biasanya) daerah jajahan memberikan upetinya untuk menyenangkan hati para penguasa. Walaupun secara tidak langsung hal tersebut menunjukkan suatu bentuk pemberian dari tanah jajahan kepada penguasaa namun telah mengindikasikan suatu bentuk pemberian secara ilegal “merasa takut” bila tidak memberikan upeti tersebut kepada penguasa.

Proses pemberian sogok, nepotisme dan lain sebagainya begitu lama dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Sampai sekarang ini tradisi seperti itu masih dilakukan, atau istilah sekarang ini uang takut. Mungkin istilahnya saja berbeda namun prakteknya hampir sama. Uang takut tersebut diberikan kepada seseorang yang pada umumnya untuk mendapatkan perlindungan dari orang yang menerima uang tersebut. Terlihat dari sipemberi dan sipenerima ada semacam ikatan perlindungan . Karena biasanya segala sesuatu yang akan terjadi pada sipemberi akan dapat diselesaikan oleh sipenerima.

Kadang kala sipemberi memberikan uang tersebut hanya sebagai untuk pelapas rasa takut semata. Sebut saja dari hal yang paling kecil, seorang sopir dan kenektur mobil memberikan uang takut kepada “ orang bagak” ditengah jalan. Mungkin kedengarannya agak aneh bagi kita namun begitulah kenyataannya. Belum lagi untuk mendirikan usaha, agar usaha tersebut berjalan dengan baik salah satu caranya memberikan uang kepada orang yang memiliki otoritas terhadap hal yang berkaitan dengan usaha apalagi yang lebih besar, proyek misalnya.

Kecendrungannya sekarang ini menunjukkan bahwa budaya korupsi masih tetap dijalankan, dengan berbagi macam modus atau bentuk. Tapi ada suatu ganjalan dalam pikiran penulis yakni ketika korupsi tersebut akan kita lakukan, mungkinkah tidak pernah kita berpikir bahwa suatu saat korupsi yang kita berikan akan menjadi masalah baik bagi sipemberi maupun sipenerima. Bisa saja berdampak psikologis bagi kita, merasa takut atau bahkan lebih dari itu. Harapan kita adalah mudah-mudahan terpikir.

Sesungguhnya korupsi ini bisa saja di kikis habis dari bumi Indonesia ini, tapi dengan catatan semua elemen masyarakat mempunyai niat yang sama bahwa korupsi tersebut tidak dilakukan lagi. Disamping itu perlu kiranya pengawasan yang sangat ketat dalam hal keuangan terutama keuangan negara. Karena selama pengawasan ini kurang maka ketika itupula korupsi ini akan merajalela di Indonesia ini.

Strategi Kedepan dalam Memberantas Korupsi

Menurut penulis perlu langkah atau strategi untuk mengantisipasinya serta mengkikis habis dinegara kita ini. Mengatasi hal tersebut perlu beberapa usaha , usaha tersebut adalah sebagai berikut :

Pertama, perlu penegakkan hukum. Di era reformasi saat ini penegakkan hukum merupakan suatu keharusan. Harus dalam arti bahwa segala macam tindakan yang melanggar hukum termasuk para koruptor tersebut haruslah mendapat ganjaran sesuai dengan perbuatan yang ia lakukan tersebut. Meskipun banyak dari kalangan masyarakat yang menyangsikan dari keandalan penegakkan hukum dinegara kita dapat berjalan sesuai dengan baik, namun dalam realitanya begitu banyak kasus-kasus yang digarap oleh para penegakkan hukum tersebut yang tidak memandang bulu siapa yang ia hakimi tersebut. Sepatutnya kita berharap banyak kepada penegakkan agar dapat kiranya meningkatkan segala macam usaha untuk mengikis habis yang namanya koruptor tersebut. Sebab selama penegakkan hukum tidak tegas, tidak berwibawa maka selama itu pula para koruptor tersebut tumbuh dengan cepat.

Kedua, sebelum diadakan pemilihan suatu pemimpin mulai dari presiden, gubernur, Bupati dan pejabat pemerintah lainnya perlu dilakukan cek apakah ia atau tidak terindikasi penyakit korupsi tersebut. Karena pencekkan ini diperlukan menginggat bahwa pemimpin yang kita harapkan untuk masa depan negara ini adalah pemimpin yang bersih dari segala tuntutan hukum termasuk korupsi tersebut. Di era reformasi ini telah dilakukan ke beberapa aparat pemerintah mulai dari tingkat pusat kepada tingkat daerah dengan melaporkan segala macam kekayaan yang dipunyai oleh para penyelengara negara tersebut. Secara tidak langsung hal tersebut tidak terlepas dari usaha untuk mencegah serta memonitor usaha kearah korupsi tersebut.

Ketiga, perlu penanaman moral bagi para penyelengara negara khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Penanaman moral saat sekarang ini merupakan suatu keharusan, karena yang namanya korupsi tersebut sangat terkait dengan identitas moral seseorang, selama moralnya baik maka yang namanya korupsi tersebut tidak akan bisa terjadi begitu juga sebaliknya. Ketika kita berbicara masalah moral, kita tidak terlepas dari apa yang disebut dengan jiwa keagamaan kita sendiri. Karena dalam agama terutam agama Islam penamana moral yang baik sangat dituntut bahkan sangat diwajibkan kepada semua umatnya.

Berkenaan dengan pertanyaan, mungkinkah korupsi bisa dikikis habis dinegara kita ini. Maka jawabnya adalah bisa. Bisa dalam arti bahwa yang namanya korupsi tersebut hanya sebuah perbuatan yang dilakukan dengan mengambil sesuatu tanpa ada milik seseorang terhadap sesuatu, apakah adalam bentuk uang atau barang. Karena hal tersebut berkenaan dengan sebuah perbuatan maka hal tersebut bisa saja dicegah serta tidak dilakukan sama sekali. Tetapi untuk melaksanakan hal terswebut perlu kiranya suatu terobosan serta kejiwaan yang bersih, tanpa ada paksaan oleh sesuatupun.

Pengkikisan korupsi tersebut hanya perlu keeratan dalam segala elemen dalam masyarakat di negara kita ini. Kita bekerjasama dalam semua elemen masyarakat untuk mengikis hal tersebut. Karena dengan adanya kerjasama tersebut mungkin (sekali lagi mungkin) akan dapat mengikis habis yang namanya korupsi dinegara kita ini. Wassallam. (***)

Sumber: Padang Ekspres

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: