Skip to content

Saya blogger, apakah saya hacker?

April 6, 2008

Saya blogger, apakah saya hacker? Saya pemula dalam dunia blogging. Banyak pelajaran menarik yang saya dapatkan saat berupaya mencurahkan ide pikiran menjadi sebuah tulisan. Ada kenikmatan tersendiri di dalamnya. Tetapi, saya agak terperanjat dengan sebuah pertanyaan: apakah saya termasuk hacker?

Berikut adalah pengalaman dari Bapak Yusril Ihza Mahendra, yang saya rasa ternyata mewakili para blogger baru seperti saya.

PENGALAMAN MENULIS BLOG: SAMAKAH BLOGGER DENGAN HACKER? Oleh Yusril Ihza Mahendra — April 6th, 2008 Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

Saya mulai melibatkan diri dalam dunia blog sejak 1 November 2007, lebih kurang lima bulan yang lalu. Sebelumnya saya tidak mengerti seluk-beluk blog, karena saya tergolong awam di dunia jagat maya. Saya mulai tertarik terlibat dalam dunia yang satu ini, karena pernah menulis tanggapan tentang pembuatan film Laksamana Cheng Ho. Banyak pertanyaan yang ditujukan kepada saya, sehingga atas saran berbagai teman, saya memutuskan untuk membuat blog saya sendiri. Sejak itu saya disebut oleh teman-teman sebagai “Blogger”. Saya menggunakan blog itu untuk menulis apa saja yang rasa rasa dan saya pikir perlu untuk saya tulis. Tulisan itu bukan saja berguna bagi saya pribadi, namun mungkin pula berguna bagi orang lain. Ada orang yang ingin membaca saja. Ada yang ingin menyampaikan komentar. Ada pula yang mengajak berdiskusi.

Saya sering pula membaca blog orang lain. Dalam membaca blog itu, kadang-kadang saya menjumpai hal-hal yang secara spesifik mengenai diri saya. Kalau ada hal-hal yang saya rasa perlu diluruskan, maka saya meluruskannya. Kalau ada hal-hal yang saya anggap perlu diperdebatkan, saya memperdebatkannya. Kadangkala saya menarik perdebatan itu ke blog saya sendiri, agar saya lebih leluasa menanggapinya. Saya juga menggunakan blog ini untuk meluruskan berbagai pemberitaan melalui media massa, yang saya anggap sepihak dan tidak proporsional. Meskipun undang-undang pers kita telah mengatur bahwa pemberitaan haruslah berimbang, namun dalam pengalaman saya, hal itu seringkali dilanggar. Pers seringkali menulis sesuatu yang tidak benar tentang seseorang, dengan hanya berpegang pada keterangan satu sumber saja. Padahal orang yang diberitakan harus pula dimintakan keterangannya, agar berita menjadi berimbang. Kalau orang yang dirugikan membantah, tidak jarang bantahan itu hanya dimuat di surat pembaca. Itupun bahasanya telah diedit sedemikian rupa.

Saya menyadari bahwa jangkauan blog tidaklah seluas jaringan televisi atau media cetak lainnya. Namun paling tidak, ada sarana bagi saya untuk memberikan penjelasan atau mengemukakan sesuatu dari sudut pandang saya sendiri, untuk menjaga keseimbangan informasi. Akhirnya terserah kepada penonton atau pembaca untuk mengambil kesimpulan. Saya tidak ingin membiarkan hal-hal negatif – disengaja maupun tidak – dibiarkan begitu saja tanpa ada penjelasan dan tanggapan. Orang mungkin akan menganggap hal negatif itu sebagai sebuah kebenaran, karena kita mendiamkannya.

Menjadi blogger memang membuat seseorang berkesempatan menulis apa saja yang dimauinya. Meskipun di berbagai negara telah ada aturan hukum yang dapat dijadikan sebagai norma untuk menindak penyalahgunaannya, namun bagi saya pribadi, etika adalah diatas segala-galanya. Meskipun saya sadar bahwa saya memiliki kebebasan, namun saya tak ingin menggunakan kebebasan itu untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma etika. Kebebasan saya dibatasi juga oleh kepentingan orang lain. Blog ini menggunakan nama saya sendiri dan saya terbuka untuk itu. Saya tidak menggunakan nama samaran karena saya ingin bertanggungjawab terhadap apa yang saya lakukan. Saya tak ingin menggunakan topeng dan melakukan sesuatu secara tersembunyi, apalagi sampai merugikan kepentingan orang lain. Saya mengajak orang lain, memanfaatkan blog menjadi sarana yang berguna bagi pencerahan.

Apakah seorang blogger dengan serta merta menjadi seorang hacker? Ada banyak definisi tentang hacker tentunya. Namun kalau hakcer diartikan sebagai sebagai seorang yang bermotif dan berprilaku buruk untuk mengganggu komputer dan keamanan jaringan internet, merusak blog atau website orang lain, secara normatif blogger tentu bukanlah manusia sejenis itu. Blogger adalah blogger, hacker adalah hacker. Sepanjang pemahaman saya, seorang blogger bisa saja menulis hal yang bukan-bukan yang melanggar norma-norma etika dan melanggar norma-norma hukum, melalui tulisan-tulisan atau apa saja yang dimuat di dalam blognya. Seorang komentator – yang bukan blogger – bahkan dapat melakukan hal yang sama dengan cara menulis komentar di blog orang lain. Namun seorang blogger tidak otomatis akan menjadi hacker. Bahwa ada blogger yang merangkap hacker, hal itu mungkin saja terjadi dalam kenyataan. Peluang untuk berbuat sesuatu yang melanggar etika, dan bahkan melakukan kejahatan, akan selalu ada di mana saja. Dunia memang penuh dengan segala kemungkinan.

Sekarang, kita telah memiliki Undang-Undang tentang Teknologi Informasi, yang sedang menunggu pengesahan dari Presiden. Kalau ada kesempatan, saya ingin membahas undang-undang ini dari berbagai aspeknya. Saya tidak ingin bersikap a-priori, sebelum menelaah undang-undang itu dengan seksama. Insya Allah saya akan memiliki kesempatan untuk itu..

Wallahu a’lam bissawwab.

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: