Jeruk Makan Jeruk
(surat terbuka untuk Otto)
Sungguh aneh jika anda masih menganggap sebagai sivitas akademika Unsyiah. Nama pembantu rektor I saja anda tidak tahu, dan saya juga masih ragu, apakah anda tahu siapa dekan dan para pembantu dekan fakultas pertanian yang sekarang ini?” Ini akan aneh jika kemudian anda tahu segala sesuatu yangterjadi di universitas , sementara anda tidak pernah terlibat di dalamnya. Baik itu dalam proses belajar mengajar, maupun membimbing mahasiswa praktikum. Apalagi kritikan itu tanpa memberikan solusi. Mengenai akreditasi Unsyiah yang mendapat nilai C, saya anggap itu wajar. Indikatornya dapat dilihat dari fasilitas yang ada di fakultas. Seperti kursi dan meja tempat duduk , penghapus papan tulis atau mimbar untuk dosen tidak tersedia .Kadang-kadang mahasiswa minta maaf kepada kami sewaktu mengajar. Maaf kursi , meja dan lainnya tidak sesuai dengan harapan bapak. Mengenai honor di fakultas tertentu di FKIP, misalnya untuk dua SKS dibayar tidak lebih dari Rp 10.000, “wajarkah seorang dosen dihargai sebesar itu?” Karenanya, pihak fakultas jangan “menekan” dosen untuk mengajar secara maksimal di fakultas.
Fakta, bagi dosen yang selama ini aktif, sering ditekan, namun bagaimana dosen yang sudah 20 tahun tidak pernah mengajar? Jangankan mengajar sebagai kewajiban mereka, batang hidungpun tidak pernah tampak di kampus, kecuali baru ramai ketika ada pemilihan dekan atau urus kepangkatan. Banyak dosen semacam itu mereka aktif di lembaga lain (NGO atau LSM lainnya) atau mengajar di perguruan tinggi swasta tanpa ada izin perguruan tinggi, dan samasekali tidak ada konstribusi untuk Unsyiah.
Rezim “politiking”
Perlu diketahui, keberadaan fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) seperti ditulis Otto, sebenarnya wacananya sudah 30 tahun lalu ketika Prof Ibrahim Hasan (almarhum) menjabat rektor Unsyiah, dan kita masih kuliah di Yogyakarta. Untuk membangun sebuah fakutas, bukan pekerjaan yang semudah membalik telapak tangan. Maka dari mana anda tahu yang memimpin pusat studi ilmu-ilmu sosial orang-orang yang tidak berkompeten untuk itu. Jika pun perlu kritik, seharusnya tidak seperti ala warung kopi, tapi kritik haruslah mendidik, karena sangat tidak bermoral jika kita sebagai akademisi.
* Dr. Alamsyah Taher, M.Si adalah dosen Universitas Syiah Kuala.



