Skip to content

PP 60/2008 tentang SPIP: Upaya Membentuk Internal Control Culture

Februari 21, 2009

Setya Nugraha

“…Ketika internal control system yang dijabarkan dalam SPIP bekerja secara otomatis melakukan fungsi pengawasan, maka setiap insan birokrasi pemerintah suka tidak suka akan bekerja “under control”. Selanjutnya, apabila kondisi ini dipertahankan maka terciptalah internal control culture, artinya sistem pengendalian intern menjadi bagian dari budaya organisasi pemerintahan di Indonesia…

Penantian yang Cukup Lama

Setelah terkatung-katung selama beberapa tahun, akhirnya pada tanggal 28 Agustus 2008 PP 60/2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) diterbitkan oleh Pemerintah untuk menjawab tantangan birokrasi pemerintahan di Indonesia. PP ini adalah penjabaran pasal 58 ayat (1) dan ayat (2) UU nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, yakni Presiden selaku Kepala Pemerintahan mengatur dan menyelenggarakan sistem pengendalian intern di lingkungan pemerintahan secara menyeluruh. Meski dikatakan sangat terlambat, tapi better late than never kiranya cukup relevan untuk menggambarkan delay yang cukup lama ini.

Saatnya Pemerintah mengejar ketertinggalannya dan berbenah diri mengimplementasikan PP ini ke dalam manajemen pemerintahan.

Esensi PP SPIP

Spirit yang mendasari PP ini diadopsi dari pengertian pengendalian intern menurut Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission (COSO) yang merincikan pengendalian intern ke dalam 5 unsur yakni lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi serta pemantauan/monitoring.

Satu hal yang menarik dalam konsep pengendalian intern menurut COSO ini adalah munculnya soft control yaitu aspek si pelaku sistem yang tercermin dalam komponen lingkungan pengendalian, antara lain integritas dan nilai etika, filosofis manajemen dan gaya operasi. Dalam pasal 5 PP ini, disebutkan penerapan integritas dan nilai etika perlu diterapkan suatu aturan perilaku yang berisi praktik yang dapat diterima dan praktik yang tidak dapat diterima termasuk benturan kepentingan.

Sebagai contoh, batasan “ucapan terimakasih” yang boleh diterima dari pihak yang menerima jasa pelayan birokrasi pemerintah memang cukup sulit untuk ditentukan dan dibuktikan dalam praktiknya. Hal ini mendorong unsur soft control ini juga perlu dibarengi dengan mekanisme pengawasan dan penerapan sanksi apabila terjadi pelanggaran etika.

Selain itu, diuraikan juga dalam pasal 7, mengenai aspek kepemimpinan yang kondusif antara lain komitmen pimpinan instansi pemerintah dalam mempertimbangkan risiko dalam pengambilan keputusan, menerapkan manajemen berbasis kinerja serta respon positif terhadap pelaporan terkait keuangan, penganggaran, program dan kegiatan.

Untuk aspek hard controlnya, adalah berbagai kebijakan dan pedoman sebagai alat pengendali dalam manajemen pemerintahan. Salah satunya adalah kegiatan pengendalian yang terdiri dari beberapa item antara lain review atas kinerja instansi pemerintah, pengendalian atas pengelolaan sistem informasi, pengendalian fisik atas aset, penetapan dan review atas indikator dan ukuran kinerja serta pemisahan fungsi.

Internal Control Culture

PP 60 tahun 2008 ini adalah langkah konkrit untuk membentuk built in control artinya pengawasan by system. Siapapun pemegang amanah birokrasi pemerintahan, maka dengan sendirinya sistem yang akan melakukan pengawasan guna mencapai visi, misi dan tujuan organisasi dalam arti sempit dan mencapai visi, misi dan tujuan bernegara dalam arti seluas-luasnya sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, antara lain untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, dan seterusnya.

Ketika internal control system yang dijabarkan dalam SPIP bekerja secara otomatis melakukan fungsi pengawasan, maka setiap insan birokrasi pemerintah suka tidak suka akan bekerja “under control”. Selanjutnya, apabila kondisi ini dipertahankan maka terciptalah internal control culture, artinya sistem pengendalian intern menjadi bagian dari budaya organisasi pemerintahan di Indonesia.

Upaya membudayakan SPIP tergambar dalam PP SPIP antara lain, dalam hal hal sebagai berikut:

1. Menjaring SDM yang capable dan berintegritas sebagai modal awal

Mengingat pentingnya SDM sebagai motor penggerak internal control, dalam pasal 10 PP ini kebijakan SDM sangat diperhatikan melalui penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang SDM dengan memperhatikan penetapan kebijakan dan prosedur sejak rekrutmen sampai dengan pemberhentian pegawai, penelusuran latar belakang calon pegawai dalam proses rekrutmen serta supervisi yang memadai terhadap pegawai.

Hal ini selaras dengan pandangan yang mengatakan pentingnya the man behind the system. Secanggih-canggihnya suatu sistem, maka masih tergantung kepada siapa yang menjalankan sistem tersebut. Sistem yang handal bisa rusak oleh beberapa gelintir orang yang menjalankan sistem tersebut. Contoh sudah cukup banyak, salah satunya adalah pelelangan proyek-proyek pemerintah, yang notabene sudah dipayungi peraturan, sistem dan mekanisme kerja yang rinci, namun tetap saja terjadi “sandiwara lelang”, mark up, kualitas pekerjaan yang rendah, kebocoran di sana-sini, dan sebagainya oleh orang-orang dalam birokrasi pemerintahan sendiri.

Upaya merekrut orang-orang yang berkemampuan baik dan memiliki integritas diharapkan mampu menjaring good man untuk menjalankan good system. Internal control culture hanya dapat tercipta oleh orang-orang yang memang memiliki integritas serta komitmen yang kuat terhadap pencapaian visi, misi dan tujuan organisasi.

2. Budaya pengendalian intern melalui awareness akan pentingnya berbagai risiko

PP ini menekankan pentingnya penilaian risiko yang disajikan dalam Pasal 13 s.d.pasal 17 tentang penilaian risiko yang mewajibkan pimpinan instansi pemerintah untuk melakukan penilaian risiko yang mencakup identifikasi dan analisis risiko. Sebagaimana diketahui krisis dunia yang mendera perekonomian global tentu saja berdampak pada perekonomian dan pemerintahan di Indonesia pada umumnya termasuk munculnya berbagai risiko dalam birokrasi pemerintahan. Langkah antisipatif sekaligus proaktif menyikapi dampak krisis harus diambil dengan menerapkan manajemen risiko dalam setiap pengambilan keputusan, jika tidak ingin gagal dalam menjalankan visi, misi dan tujuan organisasi.

Dengan pasal ini, setiap Kementerian/lembaga (K/L) sudah harus mengidentifikasikan dan memetakan berbagai risiko yang dihadapi, melakukan analisis seberapa mungkin risiko tersebut bakal terjadi, sekaligus melakukan action plan untuk mengatasi jika risiko tersebut benar-benar terjadi. Departemen Kehutanan, misalnya, sudah saatnya melakukan langkah-langkah konkrit untuk mengatasi risiko kebakaran hutan, risiko pembalakan liar, risiko perusakan hutan sebagai hutan lindung,dsb. Membudayakan manajemen risiko dalam manajemen pemerintahan adalah salah satu bagian membudayakan sistem pengendalian intern pemerintah di Indonesia.

3. Meningkatkan kualitas proses pengawasan sebagai bagian dari upaya meningkatkan budaya pengendalian intern

Pertama, pengawasan lintas sektoral serta koordinasi antar instansi pemerintah. PP ini mengangkat ide baru dalam mekanisme proses pengawasan yakni pengawasan terhadap akuntabilitas keuangan negara atas kegiatan yang bersifat lintas sektoral serta perlunya koordinasi antar instansi pemerintah.

Selama ini, pemeriksaan cenderung “selesai” pada tataran sektoral artinya setelah diaudit oleh inspektorat di level masing-masing dianggap permasalahan sudah selesai. Padahal beberapa permasalahan yang mengemuka di suatu K/L seringkali terkait dengan beberapa K/L yang lain. Sebagai contoh permasalahan angka kemiskinan dan pengangguran yang belum kunjung surut merupakan permasalahan strategis nasional yang terkait dengan beberapa K/L. Belum lagi masalah ketahanan pangan tentu juga melibatkan beberapa K/L yang saling terkait.

Inilah perlunya pengawasan lintas sektoral yang belum tersentuh selama ini serta perlunya koordinasi integrasi, dan sinkronisasi antar K/L terkait. Diharapkan, pengawasan terpadu lintas sektoral ini semakin menyadarkan pada pimpinan instansi pemerintah untuk tidak simplify permasalahan sehingga mengabaikan akar permasalahan secara nasional. Bisa jadi permasalahan yang muncul di suatu K/L adalah fenomena “gunung es” yang ternyata muncul di seluruh K/L.

Kualitas proses pengawasan yang lebih baik secara langsung akan meningkatkan kualitas pengendalian intern dan pada gilirannya budaya pengendalian intern juga akan meningkat seiring dengan peningkatan kesadaran birokrat pemerintah terhadap hadirnya pengawasan yang holistis, integral dan bersinambungan. Pengawasan lintas sektoral yang efektif serta adanya koordinasi yang baik akan membangkitkan internal control culture di lingkungan instansi pemerintah.

Kedua, peningkatan mekanisme proses pengawasan Laporan Keuangan. Spirit PP SPIP untuk meningkatkan kualitas proses pengawasan terjabar dalam Pasal 57, yakni masing-masing inspektorat baik di level Pemerintah Daerah maupun di tingkat K/L wajib melakukan review secara internal sebelum diaudit oleh pihak auditor eksternal. Secara teoritis, ini baik sekali untuk peningkatan laporan keuangan sekaligus pada gilirannya akan meningkatkan internal control culture dalam birokrasi pemerintahan di Indonesia.

4. Pembinaan Penyelenggaraan SPIP

Sebagai upaya “membumikan” SPIP, PP ini juga mewajibkan BPKP sebagai Auditor Presiden untuk melakukan pembinaan penyelenggaraan SPIP meliputi penyusunan pedoman teknis, sosialisasi, pendidikan dan pelatihan SPIP, termasuk pembimbingan dan konsultansi serta peningkatan kompetensi auditor APIP, sebagaimana dinyatakan dalam pasal 59.

SPIP yang baru terbit dan belum genap 6 bulan tersebut, tentunya perlu dilakukan sosialisasi/diseminasi tidak hanya ke dalam lingkungan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) namun juga ke seluruh komponen pelaku manajemen pemerintahan, tanpa terkecuali. Justru para key persons dalam penyelenggaraan pemerintahan harus “melek” SPIP untuk melindungi agar tidak terjerumus ke dalam salah urus manajemen atau bahkan “terpeleset” ke ranah Tindak Pidana Korupsi.

Melalui komitmen dan upaya nyata menerapkan SPIP secara konsisten dan berkesinambungan, kiranya SPIP menjadi suatu kebutuhan dan bahkan suatu budaya. Masing-masing pihak akan dengan senang hati menjalankan sistem pengendalian ini dan tunduk pada “built in control” yang ada di dalam sistem ini. Efektivitas SPIP sangat ditentukan oleh berhasil tidaknya SPIP menjelma menjadi internal control culture organisasi pemerintahan di Indonesia guna menciptakan good governance dan clean government.

*Penulis adalah Kasubag TU Pimpinan BPKP

Sumber: BPKP.

About these ads
12 Komentar leave one →
  1. zulfa permalink
    Maret 15, 2009 5:39 pm

    pak Syukriy saya Zulfa (cewe’) ^_^
    sedang sangat membutuhkan ide / inspirasi untuk skripsi tentang akuntansi pemerintahan daerah.. terutama kab magelang..
    mohon bantuannya dengan sangatttt… :)
    trimakasih…

  2. syukriy permalink*
    Maret 16, 2009 4:17 am

    @Zulfa
    Ada dua saluran untuk mencari ide penelitian, yakni:
    1. Mengembangkan penelitian yang telah ada atau rekomendasi dari peneliti/pakar lain.
    2. Mendisain penelitian berdasarkan fenomena yang ada saat ini.

    Untuk saluran yang pertama, cara paling mudah adalah dengan menambah variabel penelitian atau mengubah proxy untuk variabel penelitian. Persoalan utama adalah sulitnya menemukan penelitian di Indonesia yang secara khusus menganalisis akuntansi pemerintahan. Oleh karena itu, pendekatan eksploratif dengan menggunakan data primer (misalnya dengan merancang kuisioner khusus) menjadi pilihan utama agar hasil penelitian lebih useful.

    Untuk saluran yang kedua, persoalannya adalah sulitnya memperoleh landasan teoretis dan empiris yang perlu dikumpulkan untuk membangun sebuah hipotesis (jika penelitian menggunakan pendekatan mainstream, yakni positivism. Namun, jika data sudah diperoleh dan tujuan penelitian sudah jelas, masalah perancangan model penelitian menjadi lebih mudah.

  3. Fauziah permalink
    Juli 2, 2009 2:25 pm

    Pak,saya fauziah.. sebelumnya saya sudah membaca artikel-artikel Bapak mengenai keuangan sektor publik khususnya tentang audit. Salut sekali saya sama Bapak, bisa membuat materi audit yang selama ini tidak saya mengerti menjadi lebih “down to earth” buat dicerna.
    Mengenai tulisan mengenai SPIP ini saya tertarik untuk mengangkatnya sebagai skripsi saya pak.
    Saya mohon ijin untuk menjadikan tulisan ini sebagai salah satu bahan acuan (no plagiarism lho).
    Cuma saya masih bingung pak, terutama:
    1. beda SPI dahulu dan SPIP?
    2. apakah SPIP ini memiliki kapabilitas untuk meningkatkan keamanan instansi pemerintah terutama dalam mencegah adanya pelanggaran keuangan?
    3. apakah pemeriksa BPK sendiri, dalam tugas pemeriksaannya menguji SPIP? Padahal sebelumnya telah ada SPI, dan pemeriksa BPK sudah terlebih dahulu menggunakannya?
    4. apa SPIP mampu meningkatkan kualitas LKPP dan opini LKPP?
    5.apa di tahun anggaran 2008 lalu, SPIP ini sudah diterapkan?

    Terima kasih pak atas perhatiannya, maaf jika pertanyaannya lancang…

    Wass.wr.wb

  4. dedy ardiansyah permalink
    Desember 30, 2009 7:41 pm

    pp ini baik sekali sebagai kontrol,

  5. Januari 12, 2010 9:46 am

    kalau dari sisi bapak sendiri bagaimana tanggapan bapak dengan PP ini?
    mungkin Pa Setya sebagai Pegawai BPKP melihat PP ini adalah sebagai hal positif untuk membangun good governance di pemerintahan kita.
    Nah sebagai pihak yang tidak terlibat dalam pemerintahan, bagaimana pendapat anda?

  6. Januari 12, 2010 9:48 am

    @fauziah :
    saya rasa tulisan di atas adalah tulisan bapak Setya di mana beliau adalah salah satu pejabat eselon di BPKP. mungkin ada bisa ijin langsung ma penulisnya langsung.
    Nah, PP 60 Tahun 2008 kan baru saja dikeluarkan pada tahun 2008. Tentu saja implementasinya ya tahun 2009 kan?

  7. gilang permalink
    Juli 26, 2011 5:35 pm

    assalamualaikum wr wb pak syukriy, saya gilang seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan ilmu pemerintahan unpad. kebetulan ibu saya adalah salah satu auditor di BPKP Jabar. kebetulan pula tulisan bapak diatas mengenai SPIP berkaitan dengan judul skripsi yg akan saya angkat. dalam skripsi saya, saya ingin mengaitkan pengaruh SPIP ini terhadap kinerja birokrasi lokal. apakah tema tersebut cukup menarik menurut bapak? saya mohon saran dari bapak. terima kasih sebelumnya.

  8. Desember 29, 2011 11:51 am

    Iya Pak, dgn adanya.PP tentang SPIP ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja pemerintah, khususnya dalam pengelolaaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah

  9. Maret 21, 2012 9:59 pm

    pak, saya budi, saat ini sedang menyusun proposal penelitian tesis, berminat untuk mengambil tentanng SPIP terkait dengan pemerintah daerah, kira-kira bapak punya pemikiran variabel dependen dan independen terkait yang masuk untuk dibahas dengan SPIP.
    terima kasih,

  10. Dewi Lestariani permalink
    Mei 3, 2012 9:25 pm

    saya ingin mengangkat masalah tesis saya mengenai SPIP pak, sepertinya menarik karena kebanyakan tesis yang saya jumpai sangat jarang mengarah ke Sektor publik, tapi saya masih bingung kira-kira faktor dependen, independe dan moderat apa (jika ada) yang bisa saya angkat ya pak?mohon pencerahannya…terimakasih…

  11. Dian Herlambang Putra permalink
    Juni 27, 2012 9:19 am

    Pak,saya mahasiswa di Jogja yang sedang mengambil skirpsi..dan saya mengangkat SPIP..saya berniat untuk mengembangkannya karena saya concern di Sektor Publik, khususnya Audit Intern..
    karena SPIP ini masih tergolong baru, saya mengangkat variabel independen Kompetensi dan Profesionalisme Auditor Intern Pemerintah terhadap variabel dependennya Pembinaan Penyelenggaraan SPIP..skripsi saya ini dilatarbelakangi karena masih kurangnya auditor yang mampu untuk membina SPIP ini..kurangnya jumlah auditor ini karena kebanyakan auditor disana belum siap untuk melakukan pembinaan karena belum memenuhi kualifikasi kompetensi dan pengalaman untuk consulting..selain itu subjek penelitian saya,sekarang tidak membina di wilayah kerja DIY saja,namun beberapa kab/kota di Jateng,jadi saya menilai pembinaan disana masih kurang optimal bila kita tandingkan dengan Inpres No.4 tahun 2011 yang memerintahkan bahwa penyelenggaraan SPIP harus dipercepat..apakah saya tepat untuk mengangkat variabel-variabel tsb. Pak?terima kasih

  12. November 1, 2012 1:53 pm

    Reblogged this on kopiitam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 80 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: