Skip to content

Anggaran Berbasis Kinerja VERSUS Kinerja Berbasis Anggaran

Februari 12, 2009

Pernahkah mendengar dan atau ikut debat Anggaran Berbasis Kinerja versus Kinerja Berbasis Anggaran? Ini materi debat yang sering terjadi antara SKPD di satu sisi dengan Bappeda atau BPKD atau TAPD di sisi yang lain.

Bappeda atau BPKD atau TAPD memegang konsep Anggaran Berbasis Kinerja (ABK).  Sementara SKPD, awalnya memang memegang konsep ABK, tetapi di akhir debat cenderung memegang konsep Kinerja berbasis Anggaran (KBA).

Pemicu Perdebatan

Apakah pemicu perdebatan? Pemicunya adalah penolakan terhadap plafon anggaran. Di awal penyusunan RAPBD, umum terjadi bahwa TAPD menetapkan plafon anggaran untuk tiap SKPD. SKPD menolak plafon ini dengan alasan plafon yang ditetapkan untuknya terlalu kecil.

Bagaimana bila cara (metode) perumusan dan penetapan plafon sudah relatif baik sehingga plafon yang ditetapkan lebih tepat, apakah SKPD masih tetap berpandangan bahwa plafon yang ditetapkan untuknya terlalu kecil?

SKPD masih tetap menolak plafon anggaran. Mengapa? Karena SKPD berpandangan bahwa dalam ABK, plafonisasi tidak lagi relevan. Pada Anggaran Berbasis Kinerja, sisi Anggaranlah yang diubah-ubah dan disusun sedemkian rupa berdasarkan target kinerja yang sudah tertentu.

Perbedaan Pengertian

Bermula dari konsep pendekatan penganggaran berdasarkan prestasi kerja, seperti yang dikenalkan oleh Ayat (2) pasal 36 PP 58 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

Disebutkan bahwa pendekatan prestasi kerja dilakukan dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran dan hasil yang diharapkan dari kegiatan dan program termasuk efisiensi dalam pencapaian keluaran dan hasil tersebut.

Konsep awal yang diterima kedua belah pihak adalah ABK, yaitu Anggaran Berbasis Kinerja, seperti yang dikenalkan dalam ketentuan tersebut.

ABK diartikan sebagai penyusunan anggaran yang didasarkan pada target kinerja tertentu. Anggaranlah yang disusun sesuai dengan beban target kinerja. Artinya, target kinerja bersifat tetap dan menjadi dasar dari penyusunan anggaran.

Sementara Kinerja Berbasis Anggaran (KBA) diartikan sebagai lawan dari ABK, yaitu penetapan kinerja yang didasarkan pada ketersediaan anggaran.  Kinerjalah yang diubah-ubah sesuai dengan jumlah anggaran tertentu. Artinya, anggaran perbedaan-abk-dan-kba-cropanbersifat tetap dan menjadi dasar dari penentuan target kinerja.

Pilih mana?

Sesuai dengan arahan peraturan perundang-undangan, kita memilih pendekatan penganggaran berdasarkan prestasi kerja, yaitu ABK. Anggaranlah yang disusun sesuai dengan beban target kinerja tertentu.

Tetapi, setujukah dengan plafonisasi anggaran? Plafonisasi anggaran tetap penting dan relevan.

Di awal penyusunan RAPBD, plafonisasi anggaran diperlukan untuk secara cepat mengetahui kecukupan anggaran.

Selain itu, plafonisasi anggaran juga merupakan instrumen pendorong SKPD untuk memilih dan membuat prioritas.  Tidak untuk membuat SKPD menurunkan target kinerja, tetapi memilih dan menyusun prioritas.

Idealnya, target kinerja SKPD sudah bersifat tetap dan termuat dalam kontrak kinerja sebagaimana tertuang dalam RPJMD dan Renstra SKPD.  Di tingkat SKPD pun demikian, target kinerja dalam kontrak kinerja tersebut telah tertuang dalam kontrak kinerja antara Kepala SKPD dengan para pejabat di bawahnya.

Apakah ketersediaan anggaran yang besar secara otomatis akan meningkatkan prestasi SKPD dalam mewujudkan target kinerja yang ditetapkan padanya?

Belum tentu! Ketersediaan anggaran sangat perlu untuk  mewujudkan target kinerja. Tetapi ketersediaan dana saja tidak cukup. Seperti halnya besar anggaran pendidikan. Apakah otomatis berarti kinerja sektor pendidikan tinggi?

Kreatifitas dan inovasi berpengaruh pada peningkatan kinerja SKPD. Salah satu cara mengembangkan kreatifitas dan inovasi adalah dengan memandang bahwa plafon anggaran adalah kesempatan bagi SKPD untuk bekerja lebih cerdas dalam artian lebih murah dan lebih efisien, tetapi efektif. Perlu pergeseran paradigma; dari  getting money first, menjadi getting performance first !

Apakah contohnya? Misalnya target kinerjanya adalah terbudayakannya Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Pembudayaan PHBS dapat dilakukan dengan meningkatkan cakupan sosialisasi substansi PHBS kepada masyarakat. Tetapi cara seperti ini cenderung mahal dan tidak berkelanjutan dibandingkan dengan cara lain.

Cara lain untuk pembudayaan PHBS dapat juga dilakukan dengan memberdayakan kelompok arisan ibu-ibu tingkat RT. Diupayakan agar acara arisan tersebut tidak hanya sekedar arisan tetapi kita dapat menambahkan sub acara sehingga arisan tersebut juga menjadi media belajar tentang substansi PHBS, swamedikasi, serta hal lain yang terkait.

Cara pemberdayaan seperti itu, lebih murah dan efisien tetapi efektif dan berkelanjutan dalam pembudayaan PHBS di lingkungan masyarakat. Kita tidak perlu lagi melakukan sosialisasi PHBS, kecuali dalam kasus khusus.

Jadi, Anggaran Berbasis Kinerja atau Kinerja Berbasis Anggaran?

Sumber: Swamandiri.org.

About these ads
12 Komentar leave one →
  1. linggarara permalink
    Februari 12, 2009 5:22 pm

    Yang lebih tepat adalah anggaran berbasis kinerja, karena tanpa anggaran bagaimana kita bisa kerja maksimal, apakah kita mau bekerja dengan kocek sendiri?

  2. Maret 3, 2009 6:45 pm

    yup sy sepakat…

  3. Ramadhan F permalink
    Maret 4, 2009 12:18 pm

    Kalau kita perhatikan secara sepenggal stelah pagu definitif ditetapkan….
    Jadinya… Kinerja berbasisi anggaran…
    Tapi kan…
    Pagu definitif itu dibuat dari dasar Rencana Kerja dan Anggaran Pemda yang sebelumnya dibuat dan diajukan. Dengan kata lain pagu dibuat berdasarkan kinerja yang ingin dicapai.
    Namun…
    Pemda kan bukan gudang uang…..
    yang bisa memenuhi semuanya…
    Nah…..
    ditetapkanlah program kinerja prioritas…..
    Jadi pagu anggaran yang diajukan dalam rencana kerja dan anggaran mesti dibatasi dan direvisi.

    Jadi jangan pusing muter-muter bahas pengertian….
    Pahami aja prosesnya….
    Nanti juga maklum kok….

  4. syukriy permalink*
    Maret 6, 2009 4:47 am

    @Ramadhan F
    Saya sependapat, pak.

  5. Hammam permalink
    April 14, 2009 10:00 am

    Selama ini performance based budgeting (ABK) belum dilaksanakan, karena seringkali anggarannya keluar tapi kinerjanya tidak jelas. Contoh: Proyek pengendalian pencemaran, tiap tahun ada anggarannya, tapi tetap aja pencemaran lingkungan jalan terus…

  6. Ewin Putra permalink
    Agustus 31, 2009 11:31 pm

    Anggaran Berbasis Kinerja yang sekarang diterapkan di dunia profesional, memang masalah klasik terkait dengan pagu anggaran makanya seperti disebutkan diatas kita perlu kreatif dan inovatif agar pagu tidak dilampaui namum program sesuai target yang telah ditetapkan sehingga tercipta efisiensi, efektiftifitas dan ekonomis……

  7. September 1, 2009 9:50 pm

    Terima kasih atas komentar dan masukannya. Saat ini kami di swamandiri.wordpress.com. Sedangkan swamandiri.org sudah tutup, tetapi nama domain masih akan diupayakan untuk dihidupkan lagi.

    Silahkan berkunjung dan mohon masukannya. Terima kasih.

  8. ETY permalink
    Desember 7, 2009 6:57 pm

    Kalo anggaran berbasis kinerja sama lambatnya adalah kinerja karena anggaran bisa dalam waktu jangka pendek sudah bisa dicairkan tapi kinerja tak bisa ditentukanya.

  9. irianta permalink
    Maret 22, 2010 1:32 am

    Wah, tema seperti ini selalu muncul saat-saat penyusunan anggaran….apalagi bagi kabupaten/kota yang minim anggaran, poses perencanaan jadi “muspro” buang-buang waktu….lamaaaaa dan puanjaanngg. thankyu

  10. dwinta permalink
    Juli 21, 2010 7:02 pm

    setuju dengan pak Ramadhan F !

  11. elis permalink
    Februari 7, 2012 2:21 pm

    mau tanya, apagu anggaran itu apa ya?

  12. Eto Baghi Tjeme permalink
    September 25, 2012 8:07 pm

    Anggaran berbasis kinerja dapat diilustrasikan seperti ini; jika seorang sopir taksi dikasi budget Rp150.000,00 utk BBM oleh sang majikan dgn target waktu dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore; jika sang sopir dgn fulltank muter2 cari penumpang dan habiskan semua stock BBM di tankiny tanpa dapat penumpang sampai dgn jam 6 sore maka kinerjanya sangat tdk bagus walau anggaran telah habis terpakai; namun jika sang sopir rajin mencari penumpang yang dpt melipatgandakan penghasilan lebih dari Rp150.000,00 dan jangka waktunya kurang dari jam 6 sore (misalnya jam 4 sore) maka utkke depannya sang majikan akan memberikan modal BBM lebih besar sehingga keuntunganny jg lebih besar dgn kurun waktu yg sama

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 85 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: