Skip to content

Hasan Tiro, Siapa yang Punya?

Oktober 9, 2008

Oleh: Saiful Mahdi (Pendiri Aceh Institute)

Muhammad Hasan di Tiro (HT) pernah menjadi milik Indonesia. Setelah pindah ke Jakarta pada tahun 1946, HT kembali ke Aceh pada akhir 1948 sebagai bagian dari staf Wakil Perdana Menteri Sjafruddin Prawiranegara yang memimpin pemerintah darurat Indonesia dari Aceh sampai pertengahan 1949. Tahun 1950, HT kembali ke Yogyakarta untuk melanjutkan studinya hingga memperoleh semacam beasiswa untuk belajar di Amerika Serikat. Sambil belajar di New York, HT menjadi pegawai paruh waktu pada perwakilan RI untuk PBB (Reid, 2005:347).

Bisa jadi HT awalnya adalah seorang republiken sejati sampai dia tak dapat lagi membendung kekecewaannya terhadap pemusatan kekuasaan di Jakarta. Ini terbukti dengan polemik yang dituangkannya dalam Demokrasi untuk Indonesia (1958), satu-satunya buku karya HT yang tercetak dan beredar luas, yang berisi kegundahannya terhadap pemerintahan Indonesia yang sentralistik. Hasan Tiro, karena itu, bisa jadi pernah sangat mencintai Indonesia. Seperti halnya Kartosuwiryo, Kahar Muzakkar dan Daud Beureu’eh yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, menjadi panglima laskar republik melawan agresi Belanda, tapi kemudian menjadi “pemberontak DI/TII” berturut-turut di Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Aceh.

Hasan Tiro punya orang Aceh. Fakta sejarah Aceh yang diperolehnya di AS, termasuk lewat sebuah artikel koran The New York Times terbitan 1873 yang dibacanya di Perpustakaan Umum Kota New York, memberi inspirasi bagi gerakan nasionalisme berdasarkan sejarah yang kemudian dipimpinnya (Reid, 2005:348). Sejak 4 Desember 1976, saat kemerdekaan Aceh kembali dideklarasikan, HT dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menyadarkan dan membangkitkan kembali kebanggaan orang Aceh terhadap sejarah kebangsaannya. Adat dan budaya Aceh yang tertekan di masa Orde Baru Suharto, dapat bertahan hidup salah satunya karena terbantu ajaran nasionalisme GAM.

Hasan Tiro punya GAM. Bagi anggota GAM, Hasan Tiro adalah “Paduka yang Mulia Wali Nanggroe Aceh”. HT adalah wali negara, pemangku dan penjaga Aceh.. Militansi kesetiaan pengikut HT sangatlah fenomenal. Kepatuhan penuh disiplin, nyaris tanpa reserve, memang diperlukan dalam sebuah perjuangan revolusi. Apalagi sebuah perjuangan bersenjata. Tapi Aceh kini sudah damai. Akankah seluruh rakyat Aceh secara ikhlas dapat memanggilnya “Paduka yang Mulia”? Ataukah HT akan tetap menjadi milik eksklusif GAM/KPA? Bagaimana pula dengan sejumlah anggota GAM, termasuk angkatan deklaratornya, yang menuduh Hasan Tiro malah tinggal punya segelintir elit GAM yang terus memagarinya?

Hasan Tiro siapa yang punya perlu diperjelas. Karena Hasan Tiro juga punya para korban konflik Aceh, baik kombatan GAM, lebih-lebih lagi masyarakat biasa yang bukan anggota GAM. Para syuhada konflik Aceh menjadi korban, lainnya menjadi martir, karena HT. Karena itu mereka berhak mengatakan “Hasan Tiro punya kami!” Mereka adalah janda-janda dan yatim korban konflik. Mereka adalah orang miskin di kota dan kampung-kampung yang dimiskinkan oleh konflik. Mereka adalah orang tua yang kehilangan anak-anaknya, istri yang kehilangan suaminya, suami yang istri dan anak perempuannya dinistakan oleh konflik. Mereka adalah anak-anak negeri yang kehilangan kesempatan sekolah dan harus melupakan masa kecil yang indah dan damai. Mereka adalah pedagang besar, lebih-lebih yang kecil yang harus rugi bahkan bangkrut selama konflik. Mereka berhak mendaulat HT sebagai milik mereka.

Mungkin Hasan Tiro juga punya para serdadu yang cemerlang karirnya karena penugasan di Aceh. Tapi ini hanya contoh anekdotal. Kalau bukan karena perlawanan HT, banyak perwira serdadu yang karirnya tak secepat masa berbagai operasi militer di Aceh, khususnya 1989-2003. Belum lagi banyak yang kaya karena rente perang dan usaha ilegal yang subur akibat konflik. Yang terakhir ini bukan dominasi militer saja. Elit lokal, baik yang pro atau anti-GAM juga banyak yang menikmati rente perang ini. Yang jelas mereka berhutang sama rakyat Aceh yang terhimpit di tengah-tengahnya.

Tapi yang jelas Hasan Tiro adalah milik demokrasi nusantara, dus milik Indonesia. Karena gerakan HT, Jakarta harus berkompromi dengan Aceh dan, pada gilirannya, bagian nusantara lainnya. Lewat MoU Helsinki Aceh belajar berdemokrasi dengan calon independen pada pemilihan pemimpinnya. Juga dengan partai lokalnya nanti pada tahun 2009. Sejak sukses pemilihan 2006, hampir semua wilayah nusantara meniru dan mengijinkan calon pemimpin independen non-partai maju dalam pemilihannya. Model penyelesaian konflik Aceh dianggap paling sukses saat ini dan semua pihak berlomba membusungkan dada merasa bangga sebagai pemiliknya. Tak salah jika Hasan Tiro sendiri menyebutkan “Semua ingin seperti Aceh” (TGJ, 5 Oktober 2008).

Memang banyak wilayah yang merasa dirugikan Jakarta. Banyak daerah yang dikirimi tentara. Tapi hanya Aceh yang berani melawan dan tak berhenti melawan.. Salah satunya, perlawanan oleh gerakan yang dipimpin Hasan Tiro. Perang dan damai disertai dan menyertai berbagai peristiwa. Di tengah-tengahnya muncul orang-orang cemerlang, termasuk Hasan Tiro.

Hasan Tiro akan kembali ke Aceh pada 11 Oktober nanti. Rasa memiliki Hasan Tiro perlu dibagi. Karena kalau salah satu kelompok merasa paling memiliki HT, kelompok lainnya bisa merasa kurang memiliki bahkan antipati. Contoh faktual maupun anekdotal di atas rasanya cukup menjadi alasan. Karena HT, suka tidak suka, adalah seorang tokoh yang telah memungkinkan perubahan di Aceh, Indonesia, bahkan dunia.

Pada masa konflik, dia adalah pahlawan bagi sebagian orang, tapi musuh bagi sebagian yang lainnya. Namun pada masa damai, dia adalah saudara bagi semua. Bagi orang Aceh, beliau juga orang tua yang harus dihormati. Dan di atas semuanya, Hasan Tiro adalah milik-Nya. Usianya sudah 83 tahun. Siapapun boleh merasa sangat memiliki dan memujanya. Tapi adakah pemilik yang lebih berkuasa daripada-Nya?

About these ads
3 Komentar leave one →
  1. Oktober 9, 2008 10:22 pm

    namanya hampir sama, Hasan :D

  2. MUstofa permalink
    November 23, 2008 12:55 am

    Jika bagi warga Aceh di bagian pesisir timur, Hasan Tiro Milik Aceh yah mungkin benar, tapi bagi warga Aceh di bagian tengah, rasanya sangat berlebihan merasa memiliki Hasan Tiro. Masalahnya, mau HT atau tidak menjadi pemimpin atau ikon Aceh tetap aja sama. Toh Diskriminasi dan pembagian kelas tetap dialami warga Aceh di bagian Tengah, Tenggara dan Selatan (yang bukan suku Aceh) seperti masa lampau tetap terjadi. Lagu Pula yang paling beruntung dan paling diistimewakan HT itu khan orang KPA, bahkan saat ini dianggap sebagai warga negara kelas satu di Aceh. Liat aja pembagian kesempatan kerja dan peluang kerja, mulai dari bantuan pada masyarakat dan pekerjaan proyek milyaran, puluhan milyar dan ratusan milyar di Aceh yang dikemas lewat Otsus dan BRR.

  3. syukriy permalink*
    November 23, 2008 9:22 am

    Konflik di Aceh memang tidak merata, termasuk pengaruh HT. Namun uniknya, waktu pemilihan gubernur Aceh lalu, di wilayah pedalaman pasangan Irwandi-Nazar justru menang sampai 70% lebih. Meskipun mereka tidak didukung oleh GAM, masyarakat sudah tahu mereka dari GAM dan SIRA.

    Keadilan pembangunan di Aceh memang sangat timpang. Inilah yang menjadi alasan mengapa kemudian muncul keinginan untuk menjadi daerah otonom baru sebagai provinsi ALA dan ABAS. Meski banyak tokoh yang tidak setuju, jika dilakukan referendum (pemungutan suara untuk membandingkan yang pro dan kontra), kemungkinan besar yang pro-pemekaran akan menang.

    Ada kebijakan menarik yang dibuat Gubernur Irwandi untuk meredam isu pemekaran ini, di antaranya dengan merekrut mantan pejabat daerah sebagai pejabat eselon II di Provinsi NAD dan melaporkan pejabat daerah dari pedalaman yang melakukan korupsi ke KPK. Meskipun sebenarnya pejabat yang menjadi eselon II diprovinsi tsb bermasalah di daerah asalnya dan kemudian “ditendang” lagi melalui kebijakan mekanisme seleksi pejabat eselon II yang dilakukan pihak independen dengan ketua tim bergelar profesor (Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, MBA) yang berasal dari Aceh Selatan (wilayah yang mendukung pembentukan provinsi baru ABAS).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 80 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: