Skip to content

KAS BON – Uniknya Pengelolaan Keuangan di Aceh

Juli 19, 2008
by

Kasus Kas Bon Bireuen Diserahkan ke Jaksa – Ketiga Tersangka tidak Ditahan
Sumber: Serambi Indonesia

Di kabupaten dan kota di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) lazim dikenal istilah Kas Bon atau Bon Kas. Praktik ini merupakan bentuk penyimpangan dari penggunaan anggaran dimana proses pencairan dana dari kas daerah tidak melalui mekanisme yang sebenarnya, yakni SPD-SPP-SPM-SP2D. Artinya, pencairan dana tidak menggunakan dokumen2 tersebut, kecuali melalui selembar kuitansi. Kasus yang terungkap sudah banyak, dan berikut ini adalah kasus terbaru yang menyeret mantan bupati, wakil bupati, dan sekretaris daerah.

BIREUEN – Tiga mantan pejabat Bireuen, masing-masing Drs H Mustafa A Glanggang (mantan bupati), Drs H Amiruddin Idris (mantan wakil bupati), dan Drs Hasan Basri Djalil (mantan sekda) selaku tersangka kasus kas bon, bersama sejumlah barang bukti––termasuk uang tunai––Jumat (18/7) diserahkan ke Kejari Bireuen oleh Tim Tipikor Polda NAD bersama aparat kepolisian dari polres setempat. Prosesi penyerahan tersangka dan barang bukti dimulai pukul 14.40 WIB. Para tersangka didampingi pengacara masing-masing langsung dibawa ke ruang Kasi Pidana Khusus. Pemeriksaan berlangsung mulai pukul 14.40 WIB sampai 18.00 WIB.

Barang bukti yang diboyong sekitar tiga kardus mi instan berupa berkas hasil pemeriksaan dan kwitansi pendukung. “Pemeriksaan agak lama karena setiap barang bukti harus diperiksa satu per satu,” kata Kabid Humas Polda NAD melalui Ketua Tim Tipikor AKBP Masikh dan Kapolres Bireuen melalui Kasat Reskrim, AKP Trisna.Mantan Bupati Bireuen, Drs H Mustafa A Glanggang hadir ke kejaksaan mengenakan safari abu-abu lengan panjang sedangkan H Amiruddin Idris berkemeja putih dan Drs Hasan Basri mengenakan kemeja lengan pendek warna biru bermotif garis-garis. Mustafa Glanggang didampingi pengacaranya, Yahya Alimsi SH, Ansarullah SH, dan Bai Ami SH. Sedangkan pengacara Drs H Amiruddin Idris masing-masing Saifuddin A Gani SH dan Syahrul Rizal SH. Drs Hasan Basri Djalil mempercayakan Darwis SH sebagai pengacaranya.

Sepanjang pemeriksaan selama tiga jam lebih itu, Hasan Basri Djalil dan Amiruddin Idris sempat beberapa kali ke luar ruangan, sedangkan Mustafa A Glanggang terlihat rileks. Usai pemeriksaan berkas dan ketiga tersangka, Kasie Tindak Pidana Khusus Kejari Bireuen, Faizal Moga SH dan Kasi Pidana Umum Riki SH memberikan kesempatan kepada wartawan untuk masuk ke ruangan mengabadikan peristiwa itu.

Uang tunai Rp 900 juta

Selain barang bukti yang sudah disita oleh penyidik Polri berupa uang Rp 1,4 miliar lebih (kini diamankan di Bank BPD), prosesi penyerahan berkas dan ketiga tersangka kepada jaksa, Jumat kemarin, juga ditandai penyerahan uang tunai Rp 900 juta, sertifikat tanah, dan akta jual beli.

Drs Mustafa A Glanggang didampingi pengacaranya membawa uang tunai mencapai Rp 700 juta ditambah sertifikat tanah, sementara Drs H Amiruddin Idris membawa satu sertifikat tanah dan satu akta jual beli. Tersangka lainnya, mantan Sekdakab Bireuen, Hasan Basri Djalil membawa uang tunai Rp 200 juta ditambah sertifikat tanah.

“Uang maupun sertifikat tanah yang diserahkan itu sebagai itikat baik tersangka. Bila dalam proses persidangan nantinya terdapat kerugian negara maka bisa ditutupi dengan uang tersebut,” kata Yahya Alimsi SH selaku pengacara Mustafa A Glanggang. Pernyataan serupa disampaikan Saifuddin A Gani SH selaku pengacara Drs Amiruddin Idris dan Darwis SH selaku pengacara H Hasan Basri Djalil. Di hadapan sejumlah wartawan, ketiga tersangka terlihat ceria dan saling bercengkerama sesama mereka. Ketika dimintai tanggapan, para tersangka menyatakan tidak ada masalah dan akan mengikuti proses hukum sebagaimana mestinya.

Tidak ditahan
Kajari Bireuen, Wawan Ernawan SH kepada wartawan seusai menerima para tersangka dan barang bukti pendukung, mengatakan, ketiga tersangka itu tidak ditahan dengan pertimbangan permohonan keluarga, pengacara, petunjuk Kajati, dan itikat baik dari para tersangka. “Sesuai petunjuk Kajati dan permohonan keluarga serta pengacara, mereka tidak ditahan,” kata Wawan didampingi Kasi Pidsus Faisal Moga SH. Menurut Kajari Bireuen, barang bukti berupa uang Rp 1,4 miliar lebih diajukan berupa slip penyimpanan di Bank BPD Bireuen karena tidak mungkin uang sebanyak itu dibawa ke kejaksaan. “Ini buktinya,” kata Faisal Moga sambil memperlihatkan bukti setoran uang tersebut.

Selain itu, kata Faisal, ada uang tambahan dari para tersangka yang dibawa sebagai bukti dan sekaligus memperlihatkan itikad baik mereka. Perkiraan kerugian negara seluruhnya dalam kasus tersebut mencapai Rp 3 miliar lebih. Uang yang disita sebagai barang bukti mencapai Rp 1,4 miliar ditambah uang yang dibawa para tersangka serta sertifikat, masih ada kerugian uang negara Rp 500 juta. “Nilai dari sertifikat belum bisa disebutkan karena harus dilakukan penelitian,” ujar Kajari Bireuen.

Ditambahkan Kajari Bireuen, dalam penuntasan kasus korupsi itu, pihaknya selain melakukan proses hukum terhadap tersangka, juga berkewajiban menyelamatkan uang negara. Uang tambahan dan sertifikat tanah maupun akta jual beli akan dibawa ke persidangan nantinya sebagai bukti itikat baik mengembalikan uang negara. Wawan Ernawan menjelaskan, proses penyerahan berkas perkara dan barang bukti yang berlangsung kemarin merupakan yang ketiga kalinya. Dua kali penyerahan berkas sebelumnya terpaksa dikembalikan ke penyidik karena belum lengkap.

Kejari Bireuen dalam waktu dekat akan melimpahkan perkara itu ke Pengadilan Negeri (PN) untuk disidangkan. “Paling lambat pekan depan sudah diajukan ke pengadilan,” kata Kajari Bireuen. Seperti diketahui, kasus kas bon yang melibatkan tiga mantan pejabat Bireuen itu mulai diperika September 2007. Kerugian negara akibat kasus itu ditaksir mencapai Rp 3 miliar lebih.(yus)

About these ads
One Comment leave one →
  1. Agustus 5, 2008 7:43 am

    Waaah..berita tentang kepala daerah masuk penjara karena korupsi udah biasa. Tapi, kalau Sekdanya ikut sekalian, ini baru berita. Biasanya Sekda aman-aman saja karena menyimpan semua rasahasi keuangan…. Atau Sekda di berita ini terlalu lugu kali ya?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 86 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: